Wangsyah

Mahasiswa Studi Agama-agama, Eksponen Kalikuma Mataram: Penyuka Musik dan Buku

Menata Masjid, Merenda Peradaban

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada-Nya dan hari kemudian..”At-Taubah: 18 Dalam sejarah Islam, tepatnya pada era Nabi Muhammad dan para sahabat setelahnya, masjid memainkan peran yang sangat penting bagi tumbuh kembangnya peradaban Islam. Hampir semua aktivitas yang berkaitan dengan tata kelola keagamaan dan kepemerintahan diperbincangkan di masjid. Sehingga ruang masjid merupakan titik […]

Menata Masjid, Merenda Peradaban Read More »

Kegenitan dan Gosip Komunal: Duka-Duka Kemanusiaan Kita

Bagi sebagian orang dengan kebiasaan berpergian, bertemu di beberapa tempat yang tidak direncanakan kerap kali terjadi. Semacam siklus, yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian berulang-ulang secara tetap dan teratur. Itulah pengalaman yang sering saya rasakan saat beberapa kali berjumpa dengan beberapa kenalan.Suatu waktu saat menghadiri resepsi pernikahan salah seorang kerabat. Saya berjumpa dengan salah seorang

Kegenitan dan Gosip Komunal: Duka-Duka Kemanusiaan Kita Read More »

Pancasila Sebagai Civil Religion: Paradigma Alternatif Menuju Indonesia Harmoni (2)

Dalam kesempatan beberapa bulan yang lalu, kita telah membahas empat model relasi agama dan negara dari pemikiran Wogman, dan pada bagian ke dua ini kita akan masih mengulas kembali satu model relasi agama dan negara dalam pemikiran Robert N. Bellah, yakni agama sipil (civil religion). Jika pada pembahasan sebelumnya kita menemukan keselarasan antara konsep civil

Pancasila Sebagai Civil Religion: Paradigma Alternatif Menuju Indonesia Harmoni (2) Read More »

Sosiologi Kopi: Memaknai Ngopi dan Kesetaraan

TULISAN ini pada dasarnya terilhami dari pertanyaan salah satu mahasiswa sosiologi agama akhir semester. Dalam suasana tenang mahasiswa itu bertanya,”kira-kira judul riset untuk skripsi yang bagus buat saya menurut abang, apa bang?” Tanya nya!Karena berhubung malam itu kami sedang duduk di salah satu kedai kopi, yeah sudah muncul lah ide untuk membincangi fenomena ngopi dengan

Sosiologi Kopi: Memaknai Ngopi dan Kesetaraan Read More »

Pancasila Sebagai Civil Religious: Paradigma Alternatif Menuju Indonesia Harmoni (1)

INDONESIA merupakan salah satu negara paling majemuk di dunia—dengan jumlah penduduk kurang lebih 200 juta jiwa, 1.300 suku, 300 etnis dan 250 bahasa serta beragamnya agama yang dianut. Keadaan yang pluralistik tersebut menimbulkan dilematis bagi negara dalam mengatur keseimbangan kehidupan berdemokrasi, sehingga meniscayakan adanya semacam reinterpretasi dan reorientasi untuk memposisikan agama dan negara dalam relasi

Pancasila Sebagai Civil Religious: Paradigma Alternatif Menuju Indonesia Harmoni (1) Read More »

Matinya Imajinasi dalam Beragama

HAMPIR kebanyakan orang memahami bahwa agama sebagai aturan yang mengatur kehidupan manusia dengan seperangkat hukum yang tertuang di dalam teks-teks kitab suci atau sabda Nabi. Teks-teks keagamaan tersebut kemudian ditafsirkan oleh pihak-pihak yang dianggap memiliki otoritas keagamaan dan kapasitas keilmuan dari berbagai disiplin.Pembacaan dan penafsiran terhadap teks-teks keagamaan pun kemudian melahirkan berbagai macam hukum yang

Matinya Imajinasi dalam Beragama Read More »

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (4)

DARI apa yang telah saya paparkan di beberapa bagian sebelumnya, tidak lain merupakan segenap keresahan dan kegalauan yang kemudian berusaha menimpali segala paradoksnya kehidupan. Kesenjangan demi kesenjangan yang dirasakan, pada titik tertentu melahirkan kekhwatiran yang amat menguras tenaga dan pikiran—atau bahkan menuju keadaan yang amat pesimis. Bagaimana mungkin kita memalingkan dari segala bentuk materi di

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (4) Read More »

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (3)

TRAGEDI seperti kejahatan kemanusiaan sebagaimana yang telah saya singgung merupakan implikasi terhadap kesadaran obyektif (kebendaan) manusia yang lahir dari prespektif “keluasan”. Padahal manusia adalah subyek—yang seharusnya juga memilik kesadaran subyek. Namun bukankah pada banyak kenyataan, kita cenderung menganggap dan memposisikan manusia lain sebagai obyek (benda)?Menempatkan dan memperlakukan seseorang sebagai obyek (benda) merupakan kejahatan kemanusiaan—karena telah

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (3) Read More »

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (2)

SEJAK beberapa dekade lamanya, kehidupan diselimuti dan didominasi oleh aspek duniawi yang sangat mekanistik dan materialistik. Melalui kecanggihan teknologi, menyebabkan aspek ruhani-spritual kita terkikis. Namun dari segala peningkatan kemakmuran dan kecenderungan materialistik juga—menegaskan bahwa kebahagiaan tidak terletak pada kehidupan yang bersifat serba fisik dan duniawi semata.Di balik derasnya arus globalisasi dan kemajuan zaman yang meluluhlantahkan

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (2) Read More »

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (1)

SESUATU yang tak saya pahami; tentang satu hal yang tak dapat dijangkau atau dijelaskan oleh kemampuan akal. Beberapa tahun lalu, saya sangat percaya tentang gagasan relativitas—yang membawa saya pada satu pemahaman; “bahwa tidak ada yang menetap dan semua mengalami perubahan.” Keraguan demi keraguan mengalir bersama aliran darah—dan menganggap bahwa segala sesuatu dapat dijelaskan dengan prinsip

Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (1) Read More »