Kegenitan dan Gosip Komunal: Duka-Duka Kemanusiaan Kita

Bagi sebagian orang dengan kebiasaan berpergian, bertemu di beberapa tempat yang tidak direncanakan kerap kali terjadi. Semacam siklus, yang di dalamnya terdapat rangkaian kejadian berulang-ulang secara tetap dan teratur. Itulah pengalaman yang sering saya rasakan saat beberapa kali berjumpa dengan beberapa kenalan.

Suatu waktu saat menghadiri resepsi pernikahan salah seorang kerabat. Saya berjumpa dengan salah seorang senior kemudian kami memutuskan singgah di salah satu kedai kopi yang letaknya tak cukup jauh dari acara. Suasana asri nan sejuk di kedai saat itu mengiringi perbincangan kami tentang berbagai banyak hal, dari “kegenitan” hingga “gosip komunal”.

Kegenitan yang dimaksud adalah sikap ketidaksabaran mendengarkan satu sama lain, sedangkan gosip komunal adalah ketidakmandirian pikiran sehingga perkataan orang selalu dijadikan stok argumen saat melakukan diskusi di beberapa tempat. Antara kegenitan dengan gosip komunal ini merupakan dua hal yang tak terpisahkan dan telah menjadi karakter dalam ruang-ruang diskusi di kalangan mahasiswa.

Kegenitan semacam ini sebenarnya fenomena klasik dan merupakan salah satu tahap bagi evolusi kematangan kepribadian seseorang. Secara psikologis, fenomena kegenitan ini merupakan tahap “kanak-kanak” dalam evolusi kepribadian, kemudian pada kondisi tertentu akan menuju tahap “keremajaan” dan “kedewasaan”. Sedangkan gosip komunal adalah ketidakmatangan atau ketakmandirian pikiran lantaran selalu mengedepankan “kata orang”.

Baca juga: Spiritualitas dan Modernitas: Tantangan Agama di Masa Depan (1)

Fenomena kegenitan ini seringkali dilakukan oleh kalangan terdidik dan terpelajar atau orang-orang yang secara umur tidak bisa lagi dikatakan sebagai anak-anak. Sedangkan gosip komunal itu sendiri telah menjadi syarat untuk menyampaikan isi pikiran dan bahkan menjadi standar kebenaran yang terlegitimasi. Sehingga di dalam gosip komunal selalu ada kegenitan yang terjadi.

Sebenarnya gosip komunal adalah hasil dari konstruksi sosial masyarakat primordial yang primitif. Seperti halnya pada zaman pramodern yang sangat identik dengan ungkapan-ungkapan (lisan) yakni zaman dengan kebiasaan mengandalkan “kata orang”. Namun mirisnya, tradisi keilmuan masyarakat primordial di zaman pramodern ini masih dianut oleh kalangan mahasiswa, yang saat ini justru memiliki akses pendidikan sangat maju.

Kuatnya tradisi gosip komunal ini disebabkan oleh keterkungkungan yang berkepanjangan dalam ranah kolektivitas. Kebiasaan komunal tersebut telah menyebabkan nalar terpenjara oleh pikiran orang lain atau pendapat suatu kelompok. Sehingga pada keadaan tertentu, individu seolah merasa tidak bisa eksis, ketika individu tersebut bukan bagian dari suatu kelompok atau sekawanan.

Pandangan yang dipakai juga adalah pandangan-pandangan kelompok, karena individu tidak dilatih untuk memiliki pikiran yang mandiri. Pada puncaknya, gosip komunal ini melahirkan pribadi-pribadi yang tidak memiliki ciri khas. Karena kemandirian pikiran tidak dipupuk dan dirawat  sehingga lahirlah kelompok-kelompok yang seragam – bagai “sekawanan itik” yang digiring kesana kemari – dan terombang-ambing oleh pendapat orang lain demi mendapatkan sebuah pengakuan.

Baca juga: Ketika Duo Peneliti Bertemu: Antara Deradikalisasi dan Moderasi

Ciri dari gosip komunal ini adalah wacana yang disampaikan dari mulut ke mulut (dari forum ke forum). Meski apa yang disampaikan sebenarnya tidak dipahami sepenuhnya. Karena dari mulut ke mulut, maka wacana tersebut dianggap benar, lalu kemudian menolak wacana-wacana yang disampaikan oleh kelompok lain. Sehingga pada saat yang sama, lahirnya budaya kompetisi (konflik) yang disebabkan oleh adanya penguatan identitas pada masing-masing kelompok.

Masing-masing kelompok saling ingin menunjukkan eksistensi—dan berebutan untuk menyampaikan gosip-gosip komunalnya. Tidak ada yang saling membuka diri, karena terlanjur menganggap bahwa gosip komunal kelompoknya lah yang paling benar. Sehingga tak ada yang saling mendengarkan, yang ada justru saling menunggu kapan kelompok lain selesai menyampaikan gosip komunal-nya. Alhasil “kegenitan-kegenitan” terjadi sepanjang diskusi berlangsung.

Padahal diskusi bukan hanya tentang apa yang hendak disampaikan atau siapa yang lebih benar dan siapa yang salah, tapi bagaimana cara kita menahan “kegenitan” dan mau membuka diri untuk mendengar siapa pun yang sedang bicara. Sehingga dapat dikatakan bahwa satu dari sekian indikator kualitas seseorang itu dapat dilihat dari seberapa “genit” ia saat berdiskusi. 

Krisis Mendengarkan

Mungkin salah satu masalah (problem) terbesar di Indonesia adalah krisis saling mendengarkan. Memang dalam hal mendengarkan, terlintas sangat mudah untuk diucapkan, namun pada kenyataanya sangat sulit untuk dipraktikkan. Yang lebih memprihatinkan lagi, krisis nilai mendengarkan ini tidak hanya dialami oleh kalangan nonakademis atau masyarakat biasa, tetapi juga dari kalangan terpelajar seperti mahasiswa dan kalangan akademisi itu sendiri.

Dari segi bahasa, mendengarkan dalam kamus bahasa Inggris terdapat dua kosa kata. Pertama, listening (mendengarkan). Kedua, hear (dengar). Perhatikan antara kata mendengar(kan) dan “dengar”. Perbedaan mendengar(kan) dengan “dengar” teletak pada keinginan (intention) dan kesadaran (awareness) yang dilibatkan pada saat seseorang mendengarkan. Berbeda dengan hanya “dengar” —yang tidak melibatkan kesadaran (awareness) dan keinginan (intention). Misalnya seperti saat ketika kita sedang berbaring santai di kamar, dari kejauhan kita bisa “dengar” suara kendaraan yang lewat.

Baca juga: Sampul Belakang Kemerdekaan: Mural, Billboard, dan Masyarakat Adat

Krisis mendengarkan ini sebebarnya disebabkan karena nilai-nilai mendengarkan itu sendiri telah dibatasi oleh status, jabatan, serta motif-motif lainnya. Sehingga orang-orang yang memiliki status sosial rendah, seperti orang-orang yang tidak memiliki jabatan cenderung tidak didengarkan. Bagaimana kita ingin memajukan suatu negara, sedangkan suara-suara petani, pedagang, pemulung, tukang parkir dan masyarakat yang dianggap kecil lainnya tidak didengarkan? Padahal suatu perubahan harus diawali dengan mendengarkan suara-suara wong cilik.

Nilai mendengarkan kita seakan telah terpangkas dan ditutupi oleh motif-motif materialistik, sehingga relasi yang terbangun sama sekali tidak menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Karena relasi yang dibangun adalah antara manusia dengan benda (subjek-objek) bukan relasi antar manusia dengan manusia (subjek-subjek). Dari sinilah cikal bakal lahirnya kejahatan kemanusiaan yang tidak kita sadari. Nilai-nilai kemanusiaan seperti apa yang diharapkan jika dalam hubungan sosial kita telah didominasi oleh kepentingan materialistik?

Beberapa contoh lain, saat kita mengadakan silahturahmi alumni angkatan misalnya, tak jarang pada masing-masing sibuk dengan gadget dan dunia mayanya. Paadahal di hadapannya ada realitas yang harus dihadapi dan dijalani. Atau, saat ketika murid sedang menerima pelajaran dari gurunya atau mahasiswa yang sedang mengikuti perkuliahan. Jika dilihat, hanya beberapa orang saja yang benar-benar fokus menerima pelajaran atau perkuliahan yang disampaikan.

Mereka tidak lagi fokus terhadap realitas yang sedang berlangsung. Memang jasad mereka ada di kelas, namun keinginan (intention) dan kesadaran (awareness) tidak ikut serta saat menerima pelajaran atau perkuliahan yang sedang disampaikan. Materi yang disampaikan oleh guru atau dosen tadi hanya sedikit yang masuk di kepala lantaran tidak mendengarkan, melainkan hanya sebatas dengar. Lalu muncul pertanyaan, bagaimana cara mendengarkan dengan baik?

Faktor Penyebab

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu kita harus tuntaskan dulu apa yang menyebabkan kita tidak bisa fokus saat ketika mendengarkan orang yang sedang berbicara. Paling tidak dua faktor penyebab. Pertama, pada saat orang berbicara kita tidak sedang berada pada waktu eksistensial, melainkan sedang berada pada waktu psikologi. Sehingga pikiran kita “liar” dan berada di mana-mana (unfocused). Seperti halnya ketika seorang murid dan mahasiswa yang sedang berada di kelas tadi. Jasadnya ada di kelas, namun pikirannya ada di mana-mana.

Kedua, nilai mendengarkan kita telah dibatasi oleh status, gelar, jabatan atau ditentukan oleh motif-motif lainnya. Sehingga mendengarkan sangat syarat dengan kepentingan-kepentingan materialistik. Seperti contoh, kita akan lebih memilih mendengarkan si pejabat daripada mendengarkan masyarakat biasa. Apalagi yang bicara adalah junior kita, atau bahkan guru dan dosen yang tidak kita sukai. Bahkan yang lebih parah, hingga menganggap bahwa pendapatnya saja yang paling benar dengan sedikit dalil-dalil keagamaan yang dicantumkan.

Baca juga: Moderasi dan Tantangan Agama di Era Digital

Dari sinilah munculnya sikap tidak saling menghargai, memandang orang lain rendah dan tidak layak untuk berbicara. Padahal ketika kita tidak menghargai dan mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, secara tidak langsung kita sedang melanggar nilai-nilai hak asasi manusia (HAM). Minimal kita tidak mengganggu si pembicara kalau tidak ingin mendengarkannya.

Apa Solusinya?

Lalu apa solusi terkait pertanyaan bagaimana cara mendengarkan dengan baik? Pertama, antara pembicara dan pendengar harus saling mengada, sehingga terjadi transformasi kesadaran antara si pembicara dengan si pendengar. Intinya harus dari hati ke hati dengan mengedepankan empati dan simpati. Kedua, pendengar yang baik itu ketia ia mampu mengelolah hati (emotional) dengan mengedepankan nilai (empati rasa) agar pembicara dan pendengar terjadi penyatuan (intersubyektivitas)

Mendengarkan artinya menghargai, sekaligus sebagai syarat untuk mempertahankan hubungan dengan menggunakan prinsip yang saling membangun. Itu juga yang menjadi alasanya, mengapa setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah dan setiap momen adalah pembelajaran, karena setiap perjumpaan merupakan wahana pembelajaran.

Dengan begitu, nilai-nilai pembelajaran pada setiap perjumpaan dapat kita terapkan dalam melatih diri untuk berkata tulus, berprasangka baik, mengajak kepada kebaikan, mengelolah hati (emotional), saling menghargai dan menerima tampa syarat—serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap perjumpaan yang berlangsung. 

Ilustrasi: Lazuardi.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *