Kisah Dua Insan Berbeda dan Bercinta

Judul               : Dawuk; Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu

Penulis             : Mahfud Ikhwan

Penerbit           : Marjin Kiri

Cetakan           : 2017

Tebal               : vi +182 Halaman

ISBN               : 978-979-1260-69-5

Pada masa sekarang, buku menjadi salah satu alat untuk mengenalkan cerita di daerah tertentu. Buku pun dituntut untuk memberi edukasi pada pembaca dengan sejumput pengetahuan, agar generasi yang datang belakangan tidak luput mengenal peristiwa kelam yang pernah terjadi. Mahfud Ikhwan melalui bukunya yang bertajuk Dawuk; Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu berupaya mendokumentasikan cerita tertentu di daerahnya. Judul buku mengundang rasa penasaran pembaca. Diksi ‘kelabu’ menyiratkan kejadian nahas yang menimpa tokoh dalam buku ini.

Cerita oleh Warto Kemplung

Di pagi hari, Warto Kemplung datang ke warung kopi langganannya. Ia ingin mewartakan cerita kepada seisi warung. Tapi sayang, kedatangannya tak disambut antusias. Bahkan  Siti si pemilik warung terlihat jutek, tak bersemangat melayani kopi. Hutang Warto telah menumpuk. Ia pun memutuskan keluar warung dengan pelan, jejak malunya tidak ingin diketahui orang. Hingga akhirnya bertemulah Warto Kemplung dengan pendengarnya. Dan mulailah ia bercerita.

Baca juga: Ihwal Relasi Agama dan Sains

Warto Kemplung memulainya dari keberadaan seorang pria yang berwajah jelek. Pria itu dipanggil Mat Dawuk. Julukan yang lebih akrab ketimbang nama aslinya, Muhammad Dawud. Ayahnya seorang pemabuk yang meninggal kelindas truk. Sedangkan ibunya meninggal usai melahirkannya ke dunia. Ia kecil diasuh sebentar oleh kakeknya Mbah Dullawi yang akhirnya menghilang ke hutan. Kehadirannya banyak dicibir dan disemogakan agar anak keturunannya tidak mengkuti wajah Mat Dawuk. Kisah kelam Mat Dawuk ini terus membuntuti selama hidupnya. Kita boleh membayangkan Mat Dawuk sebagai artis sinetron terburuk yang ditindas masyarakatnya, teraniyaya, dan dikucilkan lingkungan sosialnya secara terstruktur.

Lain halnya dengan Inayatun. Ia lahir dari keluarga dengan status sosial tinggi dan berpengetahuan. Parasnya cantik. Inayatun kecil memboyong beribu pujian saat ada mata memandang. Kita akan tertipu kalau menuduh Inayatun dewasa menjadi perempuan cantik, sholehah, dan baik budi pekerti. Ia malah sering membuat keluarganya sesak karena ulahnya. Hingga akhirnya, ia mengamini ucapan ayahnya untuk pergi ke Malaysia. Bukan melancong, bukan juga ingin bekerja, tapi pilihan untuk bebas menurut Inayatun.

Di Malaysia, Inayatun tidak dibuntuti keburuntung. Ia disunting dan menjadi istri dari empat pria secara berurutan. Pria terakhir adalah Mat Dawuk yang menjadi penyelamat dengan membunuh pria sebelumnya. Pertikaian merebutkan perempuan dengan dalih peduli, melindungi, dan cinta ternyata belum basi untuk dibaca. Toh, Inayatun cantik, jadi bukan hal ganjil jika ada pria yang berani mati memperolehnya secara utuh.

Baca juga: De Oots dan Nasib Film Sejarah

Akhirnya keduanya menikah dan memutuskan untuk balik menetap di tanah kelahiran, Rumbuk Randu. Jangan anggap semuanya gembira mendengar kabar bahagia dua insan yang memiliki ikatan sah. Justru makian dari keluarga Inayatun, dan protes dari masyarakat setempat mendera keduanya. Persis cerita dongeng seribu satu malam atau cerita legenda yang dituturkan emak sewaktu saya kecil, si cantik dan si buruk rupa.

Cinta dan pernikahan Mat Dawuk dengan Inayatun ini bisa menjadi prototipe dari ungkapan Gabriel Marcel, bahwa cinta itu misteri. Bahwa yang cantik, tidak selalu dapat yang tampan. Justru seringnya terbalik. Atau kita boleh menafsiri kisah keduanya ini sebagai prototipe falsafah Jawa yang akrab diutarakan, tresno jalaran soko kulino. Karena keduanya sering bersua, rasa suka pun tak bisa ditolak.

Ya namanya lagi berbunga karena cinta, menetap di bekas kandang sapi, tepat di pinggiran hutan dan jauh dari tetangga pun tidak jadi persoalan bagi keduanya. Malahan tanpa ada yang mengusik, keduanya sering melakukan hal-hal asyik. Kalau cinta sudah mendekat, di mana pun terasa nikmat. Kenikmatan tak berhenti di situ, Inayatun pun mengandung. Layaknya kepala keluarga yang peduli, Mat Dawuk jadi protektif, semua laku Inayatun dibatasi.

Kita akan salah besar jika menerka cerita lanjutannya melahirkan anak, keduanya direstui, dan hidup bahagia sampai akhir. Justru Inayatun hamil ini menjadi gerbang awal dari rangkaian penjabaran diksi ‘kelabu’, seperti yang saya sebut di awal tulisan ini. Namanya orang hamil, ngidam mesti dialami oleh tiap perempuan. Dan ngidamnya ini kadang nyleneh dan aneh, tapi kadang juga mudah dan murah. Inayatun ngidam kecacil. Saya luput tidak tahu jenis buah apa dan rasanya bagaimana, atau malah sudah tahu tapi hanya beda sebutannya. Entahlah.

Mat Dawuk mengiyakan mencari buah itu. Di jalan ia bertemu Mandor Har dan Blandong Hasan. Kecurigaan dimulai dari obrolan tentang rasanya jadi suami Inayatun. Mat Dawuk cueg dan melanjutkan perjalanan ke hutan mencari buah itu. Beberapa kali, Mat Dawuk mendapat isyarat aneh, mulai disengat kalajengking dan dipatok ular gadung. Hingga akhirnya ia ingat dengan Mandor Har, Blandong Hasan, dan istrinya Inayatun. Ia pun melesat kembali ke rumahnya.

Inayatun ditemukan sudah terkulai lemas dengan darah bercucuran. Menyelamatkan dengan membawanya ke puskesmas bukan solusi mutakhir untuk mengembalikan nyawa Inayatun dan bayinya. Di sisi lain, Mandor Har terbunuh oleh ayunan kapak dari Blandong Hasan. Tapi kematian dua orang ini dialamatkan pada Mat Dawuk sebagai pelaku. Padahal dua orang terakhir menjadi pelaku awal pembunuhan melalui niatnya untuk menjamah Inayatun.

Baca juga: Menjaga Eksistensi Islam

Mat Dawuk pun diamuk massa Rumbuk Randu, diadili dan dijebloskan ke penjara. Ia hampir dihabisi oleh orang suruhan di penjara, meski upaya ini gagal. Keluar dari penjara, warga Rumbuk Randu mufakat untuk mengucilkan dan melenyapkan Mat Dawuk, dan ini diamini oleh ayah Inayatun. Apalagi usai kematian Blandong Hasan. Murka warga Rumbuk Randu membara, meski fakta benar ada pada Mat Dawuk sebagai bukan pembunuh dari ketiga orang tersebut. Tapi ya namanya benci sudah pada tataran maksimal, pilihannya hanya lenyapkan Mat Dawuk. Mat Dawuk pun dihabisi di dalam rumahnya sendiri. Terbakar bersama kesumringahan warga di Rumbuk Randu.

Usai cerita begitu, Warto Kemplung jejaknya senyap ditelan bumi. Kisah ini akhirnya dimuat dalam koran di cerbung (cerita bersambung). Sampai kemunculan orang yang mendaku Mat kepada Abdul Wahab Mustafa, seorang reporter di koran yang mengisi rubrik cerita bersambung tersebut, Warto Kemplung tidak ditemukan batang hidungnya.

Akhirnya…

Begitu isi buku ini. Cerita yang merepresentasikan keberadaan manusia terdiskriminasi karena buruk rupa, dipandang sebelah mata, dan bahkan kehadirannya ‘sangat’ tidak dikehendaki. Meski hikmah kebaikan di sisi lain juga tidak bisa dialpakan. Tapi yang pasti, di belahan bumi mana pun, manusia berwajah jelek seperti Mat Dawuk ini hampir selalu mendapat perlakuan buruk, kecuali jika ia punya status sosial yang tinggi. Ingat, hampir selalu!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *