Ihwal Relasi Agama dan Sains

Identitas Buku
Judul               : Sains Religius Agama Saintifik

Penulis             : Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla

Penerbit           : Mizan

Cetakan           : Agustus, 2020

Tebal               : 172 Halaman

ISBN               : 978-602-441-178-7

Perdebatan antara agama dan sains sudah berlangsung sejak lama. Perdebatan ini dipicu oleh pertanyaan apakah agama yang bersumber pada wahyu Tuhan tidak cukup untuk menjawab fenomena alam yang tengah terjadi? Atau, agama menjadi salah satu fase dalam hidup manusia yang harus ditinggalkan setelah ditemukannya sains? Kedua pertanyaan ini santer kita dapati ketika membaca buku-buku yang membahas pertautan antara agama dan sains.

Salah satunya buku yang ditulis oleh Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla dengan judul besar Sains Religius Agama Saintifik ini. Meski terbilang buku yang belakangan baru terbit, namun pembahasan yang dimuat di dalamnya memiliki kedalaman refleksi dan ketajaman analisis. Buku ini sekaligus berkontribusi terhadap saling silang wacana antara agama dan sains (polemik sains) yang disulut oleh Goenawan Mohamad dan mendapat tanggapan panjang dari sastrawan AS. Laksana. Belakangan muncul Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla di masa pandemi Covid-19 ini.

Baca juga: Dua Pendengaran Manusia: Catatan untuk Dua Suara Tuhan

Buku setebal 172 halaman ini dipilah menjadi dua bagian. Bagian pertama memuat esai-esai kritik metodologi sains dari Haidar Bagir, pendiri penerbit Mizan. Sedangkan bagian kedua memuat esai-esai reflektif antara agama dan sains dari Ulil Abshar Abdalla, kyai yang mengampu ngaji Ihya’ Ulumuddin di media sosial.

Secara garis besar, buku ini mencoba menguliti bahwa agama yang bersumber pada wahyu Tuhan tidak serta merta bisa menyelesaikan masalah dan memajukan peradaban manusia tanpa terlebih dahulu diterjemahkan dalam laku dan bahasa manusia. Bahwa wahyu Tuhan itu suci dan sakral, memang iya. Hanya saja agar bisa relevan dengan semangat zaman, harus ada kontekstualisasinya.

Prototipe yang digunakan oleh buku ini ialah persepsi kaum agamawan yang radikal-fundamentalis dalam menyikapi kasus pandemi Covid-19. Mereka menggiring kasus ini pada ranah politis. Karena menurut mereka, pandemi Covid-19 ini datang tidak lain sebagai azab dan peringatan kepada suatu kaum yang telah melakukan dosa besar. Maka solusi yang paling mujarab ialah mendirikan negara berbasis agama.

Selain itu, sikap yang mereka pilih cenderung fatalistik. Sederhananya, pandemi Covid-19 ini merupakan ciptaan-Nya, sehingga hilang dan langgengnya pun tergantung dari-Nya. Manusia tidak memiliki kuasa untuk menolak, melawan, dan melenyapkan virus ini, yang bisa dilakukan oleh manusia hanya bertahan dan pasrah terhadap kehendak-Nya semata.

Kedua sikap kaum agamawan di atas secara tidak langsung membuat para saintis muak. Sebab segala problematika hidup manusia melulu dikembalikan kepada ayat-ayat di kitab suci tanpa terlebih dahulu dikaji, diteliti, dan dicari sebab-musababnya kemudian dirumuskan solusi penyeleseiannya.

Di sisi lain, keberadaan sains sendiri juga memiliki peran yang amat signifikan dalam memajukan peradaban manusia. Beragam riset dan temuan memiliki nilai guna yang memudahkan segala urusan manusia, mulai dari mesin diesel, listrik, mesin ketik, lampu, dan masih banyak lagi lainnya.

Baca juga: Menjaga Eksistensi Islam

Hanya saja, ada beberapa saintis seperti Sam Harris, Daniel Dennet, Christopher Hitchens, dan Ricard Dawkins yang memandang sinis terhadap keberadaan agama. Bagi Ricard Dawkins misalnya, orang-orang yang masih percaya kepada Tuhan, pada dasarnya (mereka) gagal dewasa. Kenapa? Karena baginya masyarakat beragama cenderung statis dan tidak mengalami perkembangan ke arah yang lebih baik. Selain itu, Dawkins percaya bahwa sains dengan sendirinya akan bisa menegasikan agama, cepat atau lambat.

Maka dari itu, new atheism menurutnya menjadi pilihan yang proporsional untuk saat ini. Tidak tanggung-tanggung, ia turut menerbitkan beberapa buku seperti The Selfish Gene, The Blind Watchmaker, The God Delusion, dan Outgrowing God yang muatannya berjejal argumen baik tentang new atheism.

Haidar Bagir menandai sikap saintis seperti Ricard Dawkins dan kawan-kawannya ini sebagai bagian dari kepongahan intelektual. Sedangkan Ulil Abshar Abdalla memberi istilah unik yang disebut dengan Qutbisme. Istilah ini diambil dari sosok ideolog Ikhwanul Muslimin, Sayyid Qutb. Dua hal yang menjadi indikasi bagi para saintis -maupun pemuka agama- yang sedang mengidap gejala Qutbisme ialah adanya perasaan bahwa kebenaran yang diperolehnya telah mutlak tidak bisa dibantah lagi, sekaligus memandang orang lain berada pada kesesatan.

Maka dari itu, ada persoalan yang menarik untuk diketengahkan, apakah relasi agama dan sains ini melulu didapati dalam kondisi yang terus-menerus berseteru? Ataukah ada relasi lain yang lebih kooperatif-konstruktif, mengingat keduanya menjadi pondasi bagi keberlangsungan peradaban manusia? Karena yang satu menggarap di ranah intelektual, dan satunya lagi mengasah kepada yang spiritual.

Dalam konteks historis, ternyata ada sejumlah nama-nama yang bergelut dalam dunia sains secara serius dengan tidak melepaskan keyakinan beragamanya. Misalnya Ali al-Hasan ibn Haitsam ahli optika, Abu Musa Jabir ibn Hayyan ahli kimia, Abu Bakar Muhammad ibn Zakariya al-Razi ahli kedokteran, Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi perintis aljabar, dan seabrek nama-nama muslim lainnya yang gandrung dengan sains sekaligus bertuhan.

Baca juga: Agama dan Cerita-ceritanya

Sedangkan dari kacamata Al-Ghazali, sains disikapi dengan cara yang khas. Ia membagi sains menjadi enam bagian. Mulai dari riyadhiyyat (matematika), manthiqiyyat (logika), thabiiyyat (fisika), illahiyat (ketuhanan), akhlaqiyyat (moral), dan siyasiyyat (politik). Tiga bagian awal, muslim diajak menerima total karena sifat ketiganya netral. Kemudian dua bagian akhir, muslim juga dianjurkan untuk menerima dengan catatan harus diramu secara proporsional dari peradaban yang datang sebelumnya. Nah yang menjadi persoalan di bagian ketiga, illahiyat (ketuhanan). Sebab menurut Al-Ghazali, muslim memiliki prinsip yang tidak bisa ditawar terkait ini. Maka anjurannya harus dibaca kritis dilengkapi dengan catatan kaki.

Demikian. Buku ini bisa menjadi salah satu representasi dari ihwal relasi antara agama dan sains yang mungkin akan kembali mencuat pada beberapa dekade mendatang. Bukan tidak mungkin, selama masih ada dua kubu dengan karakter fanatik, pembahasan agama dan sains niscaya tidak akan bertemu dengan kata “rampung”.

Ilustrasi: Bukabuku.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *