Anak Pelayan Belajar Melayani

“SEBAGAIMANA aku tidak sudi menjadi seorang budak, aku pun tidak sudi menjadi seorang tuan” (Abraham Lincoln)

Memimpin adalah melayani. Pemimpin bukanlah orang yang pekerjaannya menciptakan situasi untuk menumpuk dan mengembangbiakkan hak-hak istimewa seorang manusia atas manusia lain, sehingga tercipta kenyataan saling menguasai. Memimpin adalah melayani kehendak orang lain, apalagi orang lain itu adalah mayoritas, atas kewajaran dan kemaslahatan. Pemimpin adalah pelayan.

Itulah kira-kira filosofi hidup yang dipegang teguh oleh Tokoh Kita, kapan dan di mana pun berada.

Suatu saat, seorang jenderal polisi datang mengunjungi daerah. Kami yang sedang belajar meneladani para pemimpin, menjemputnya di bandara. Ketika menunggu sang jenderal turun dari pesawat, bergabunglah Tokoh Kita setelah entah dari mana.

Kami tidak mengenalnya, tapi ia berusaha akrab. Merasa dalam suasana kurang sopan berhadapan dengan tamu penting, ia segera minta diri, ke toilet. Keluar-keluar, penampilannya sudah berubah lumayan: baju sudah rapi ujungnya masuk ke balik pantalon, rambut sudah klimis, dan topi adidas yang tadi nempel di kepala dibuang entah ke mana.

Begitu sang jenderal masuk ke ruang tunggu VIP, kami segera sambut, dengan salaman dan sapa-sapaan yang standar.

Jenderal berdarah Arab ini rupanya perokok juga. Lumayan juga hisapannya. Melihat tidak ada asbak di atas meja, ia toleh kanan-kiri mencari tempat layak untuk buang puntung. Tokoh Kita ambil peranan, ia segera menghilang, lumayan juga lamanya, sampai kemudian ia kembali membawa sebuah asbak – sebenarnya bukan asbak, tapi lepekan – yang kemudian diketahui ia ‘rampok’ di cafe sebelah. Ia letakkan asbak itu di atas meja dengan tingkah mirip seorang pelayan restoran, tanpa bicara apa-apa.

“Lho, kok bapak yang ambil?” kata Jenderal.

“Tidak apa, Jenderal. Sudah biasa,” jawab Tokoh Kita singkat, lalu berlalu.

Begitulah. Jenderal saja merasa agak kikuk dengan tingkah kegesitan Tokoh Kita, apalagi kami. Tapi Tokoh Kita rupanya tahu kata batin kami, maka tak lama kemudian, ia menjelaskan.

“Bung-bung tidak usah salah sangka. Ia memang adik tingkat saya waktu sekolah, tapi garis tangan kami berbeda. Ia bisa jadi jenderal, saya hanya baru calon walikota, belum tentu menang juga. Tak dosa melayani orang seperti ia.”

“Tapi, Tokoh Kita tendensius nih, ada maunya, kan mau jadi calon walikota,” kata saya.

Tokoh Kita ketawa. Menyembunyikan arti-arti.

Di hari-hari berikutnya, arti-arti itu sedikit demi sedikit terungkap. Ternyata, melayani orang lain adalah kebiasaan reflektif yang terpupuk sejak masa kanak-kanak dulu.

Ketika menjadi walikota, kebiasaan itu tidak surut. Jika anda bertamu kepadanya, entah di rumah atau di balkon hotel, pasti Tokoh Kita sendirilah yang sibuk membagi jajan dan minum. Atau kalau anda sempat bersamanya bergi berbelanja di swalayan, anda tidak perlu repot menawarkan kebaikan hati untuk menjinjing keranjang atau mendorong kereta belanja.

Seringkali siapa yang melihat perilaku melayani seperti itu, mengeluarkan kesan: “Walikota kok begitu? Kan ndak pantas penguasa sibuk-sibuk. Mestinya ia duduk memerintah atau menunggu dilayani. Jaga wibawa-lah.”

Apa kata Tokoh Kita jika mendengar komentar itu? Pasti gaya khasnya keluar: “E, mas-e, kau pikir walikota itu apa? Ia itu pelayan masyarakat, siapa pun warga kota. Saya melayani orang sebagaimana ibu melayani anak-anaknya. Who do you think I am?”.

Tapi, kepada penulis ia berbisik: “Tau ndak, ibu saya dulu pelayan di istana. Itu masalahnya!”[]

Ilustrasi : Mohamed_Hassan/Pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *