Penulis Antimainstream, Saya atau Anda?

DI awal bulan ini, tepatnya 4 Juli 2020, sebuah media cetak baru lahir. Jenis kelaminnya tidak jelas. Bukan koran, tapi harian. Enggan juga disebut majalah. 

Lahirnya media cetak baru, bukan berita baru. Namun kali ini, agak sedikit heboh. Bukan hanya karena dibidani Dahlan Iskan, sang sesepuh jurnalistik Indonesia. Tapi karena kelahirannya seolah dipaksakan, di tengah pandemic covid-19. Itulah harian Di’s Way. 

Ada hal lain yang menarik di balik lahirnya harian Di’s Way. Yakni teknik penulisannya yang bisa dikatakan antimainstream jika dibandingkan kebanyakan media lainnya. Teknik penulisan yang menonjolkan deskripsi, agar pembaca seolah-olah melihat kejadian yang ditulis sang wartawan. Penonjolan deskripsi ini dilakukan habis-habisan, sampai mengikis ruang untuk kalimat kutipan. Beberapa artikel bahkan dibuat tidak memiliki kutipan sama sekali. 

Deskripsi memang selalu ditekankan Dahlan Iskan, pada para wartawannya, saat masih memimpin Jawa Pos dulu. Berita apapun, harus dibumbui dengan deskripsi. Tanpa deskripsi, berita itu menjadi hambar. Tapi, hampir semua wartawan, tidak hanya di Jawa Pos dan keturunannya, kesulitan untuk menulis deskripsi. Bukan karena teknik penulisannya yang harus detail di tengah ruang yang sempit. Tapi juga sulit jika harus mempelototi narasumber berlama-lama untuk mengintip kelakuannya. Atau merekam kondisi di sekitar narasumber dan menggambarkannya dalam sebuah tulisan. Bagi wartawan koran harian, waktu adalah kalimat. Semakin sedikit waktu (menatap komputer) semakin pendek kalimat yang bisa diketik. Tek heran deskripsi pun ditulis apa adanya. 

Dahlan tidak puas. Geregetan. Setelah keluar dari Jawa Pos, Dahlan meledak. Ia tunjukkan bagaimana menulis berita dengan deskripsi yang benar. Setiap hari, tanpa sekalipun putus, sejak 2018, sampai hari ini, ia menulis. Sendirian, tanpa bantuan orang lain di usia mendekati 70 tahun. Di facebook.

Teknik menulisnya antiminstream saat itu. Satu kalimat dibuat sangat-sangat pendek. Bahkan kerap hanya terdiri dari satu atau dua kata. Istilah-istilah baru di luar ejaan yang disempurnakan (EYD) dilahirkannya. Seperti misalnya, akhiran -nya untuk laki-laki dan -nyi untuk perempuan. Atau kata ia sebagai sebutan orang ketiga laki-laki dan dia untuk sebutan orang ketiga perempuan. Dahlan ingin mengadopsi he dan she dalam Bahasa Inggris. 

Lahirnya harian Di’s Way, adalah satu ledakan lagi dari geregetannya Dahlan Iskan. Ia menciptakan jenis kelamin baru di media cetak. Tidak mau disebut sebagai koran atau majalah, tapi harian. Dan memang Di’s Way tidak sama dengan koran atau majalah. Bentuk dan kertasnya memang lebih mirip dengan majalah; 48 halaman. Namun harganya seperti harga sebuah harian. Rp 10 ribu per eksemplar. Proyek rugi. Apalagi Dahlan hanya mengambil 5 persen saham dari industri yang dibiayainya sendiri itu. Sisa sahamnya ia hibahkan untuk semua karyawan Di’s Way. Ledakan yang dibuatnya sekaligus. 

Artikel dalam harian Di’s Way mengingatkan pembaca teknik jurnalisme sastrawi yang digagas Tempo. Ini tidak mengherankan, mengingat Dahlan Iskan sebelumnya adalah wartawan Tempo. Namun karena Di’s Way adalah sebuah harian, teknik penulisannya tidak sedalam jurnalisme sastrawi ala Tempo. Apalagi jika dibandingkan dengan jurnalisme sastrawi ala Chik Rini dengan “Sebuah Kegilaan di Simpang Kraft” yang dalam satu artikel saja mengutip hasil wawancara lebih dari 30 orang. Kehadiran Di’s Way menggambarkan adanya tempat bagi media antimainstream. Dan itu bisa dijual. Artinya bisa diterima publik. 

Selama ini publik, disuguhi oleh berita atau artikel dengan teknik tulisan yang mapan, dalam artian sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa umum. Pandangan mapan ini tentu berbeda, karena subjek pembacanya berbeda-beda. Kiblat tulisan mapan ini boleh saja kita contohkan seperti artikel yang ditulis akademisi. Kalimatnya mengikuti kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Isinya kaya dengan ilmu. Satu artikel bisa mengutip pendapat puluhan ilmuwan. Meski kebanyakan ilmuwan kuno, bahkan yang hidup di masa prasejarah.

Bagi kebanyakan pembaca, tulisan para akademisi ini terlalu antimainstream. Sulit dipahami. Sehingga kerap hanya bisa dikonsumsi olah kalangan intelektual, yang segaris dengan ilmu dalam artikel tersebut. Tak heran kebanyakan pembaca apatis. Kalimatnya terlalu njelimet, sulit dipahami. Sampai AS Laksana mengiistilahkannya sebagai gelembung sabun. Pembaca merasa tidak penting memahami tulisan gelembung sabun ini. Apalagi kandungannya juga melampaui nalar orang kebanyakan yang memandang segala sesuatu secara sederhana.

Makanya, difinisi antimainsteram ini –bagi kebanyakan pembaca- tidak berlaku untuk tulisan ala wartawan. Bagi wartawan tulisan ideal adalah tulisan yang bisa menjangkau banyak kalangan. Tidak terbatas kalangan intelektual saja, namun juga kalangan rakyat jelata, bahkan anak-anak sekalipun. Hal ini wajar, mengingat wartawan menjual tulisannya. Menulis sesuatu yang tidak diminati publik, adalah sia-sia. Bisa merugikan industri media yang menaunginya. 

Namun tulisan antimainstream yang sesungguhnya, adalah tulisan para wartawan. Banyak kaidah berbahasa Indonesia yang dilanggar. Istilah-istilah baru dilahirkan. Bahkan -agar enak di lihat pembaca- beberapa kata dimodifikasi, disederhanakan. Antimainstream dalam hal ini, ternyata lebih bisa diterima. 

Sulit memang untuk bisa mencari titik temu antara dua jenis tulisan “antimainstream” itu. Yang bisa dilakukan adalah mengawinkannya. Akademisi, boleh sedikit menurunkan level intelektualnya, dan wartawan boleh sedikit lebih pintar. Mirip-mirip seperti ajakan Jusuf Kala pada Muhammadiyah agar menaikkan patokan tinggi bulan saat hisab, agar bisa di atas 0 derajat. Di sisi lain, meminta NU menurunkan patokan tinggi bulan agar di bawah 3 derajat. Tujuannya untuk kemaslahatan ummat, agar tidak lagi berbeda saat memulai puasa Ramadan, dan merayakan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. 

Terlepas dari contoh tersebut, di sisi positifnya, teknik tulisan antimainstream sesungguhnya diperlukan. Semua orang tidak memiliki rasa yang sama dalam menikmati sebuah tulisan. Orang di masa lalu, akan nyaman membaca novel angkatan Balai Pustaka, seperti karya Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Abdoel Muis, Hamka dan sebagainya. Namun, kebanyakan anak muda saat ini, akan terganggu dengan teknik tulisan klasik tersebut. Kebanyakan anak muda, justru tertarik dengan tulisan ala mereka sendiri. Tulisan bertutur kekinian, vulgar, bahkan dengan kata-kata baru yang sebelumnya tidak dikenal sama sekali. 

Kalau mau pasrah, biarkan secara alami, tulisan-tulisan itu menemukan dialektikanya. Toh, beragamnya teknik penulisan, sesungguhnya memperluas khazanah literasi bangsa ini. Tidak ada yang bisa mengklaim, teknik penulisannya adalah yang paling ideal. Ada ranah-ranah tersendiri dalam memandang sebuah karya literasi. Yang baru, bolehlah kita sebut sebagai antimainstream yang menuju kemapanan. Jika sudah mapan, maka yang lama-lah yang nanti disebut sebagai antimainstream.[]

Ilustrasi: disway.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *