Menepis Mitos Menjadi Penulis

HAMPIR  dalam setiap pelatihan dan lokakarya kepenulisan hal pertama yang sering dikeluhkan peserta adalah kebingungan cara memulai menulis atau perasaan malu dengan mutu tulisan yang dihasilkan.

Keluhan yang sama muncul dalam acara “Workshop Pengembangan Metodologi Penelitian Dosen” STIT Sunan Giri Bima yang diselenggarakan di Kalikuma Educamp and Libarary, Bima, Sabtu (23/1/2021). Bagi para pemula keluhan dan kesulitan tersebut wajar belaka.

Kendati demikian, ketakutan itu tidak boleh dibiarkan karena akan menyebabkan seseorang melakukan apa yang disebut Abdul Wahid (2020: ix) sebagai “self-lock-dawn”. Mereka malu tulisannya dicibir dan dinilai tidak bermutu.

Menulis pada dasarnya adalah sebuah aktivitas dan proses pemadatan ide-ide yang bersifat kompleks. Bahkan di dalamnya melibatkan semacam perasaan asketis yang lain. Irwan Abdullah (2009: v) menyatakan “Ketika sebuah buku (atau karya tulis khususnya, red) ada di tangan kita, jarang sekali sekali kita membayangkan betapa panjang jalan untuk sampai ke kalimat terakhir pada halaman terakhir sebuah buku.

Buku (atau tulisan) yang molek dan enak dibaca sesungguhnya dihasilkan oleh suatu proses yang sangat bertolak belakang: bangun tengah malam, isolasi diri di ruang baca, jatuh sakit, bahkan kehilangan orang-orang terdekat. Suatu buku merupakan pemadatan dari keseluruhan proses yang melibatkan banyak sekali perasaan, nilai-nilai dan komitmen.

Lahirnya sebuah buku hampir selalu berarti tidak kenal lelah, tidak kenal menyerah, tidak kenal waktu, tidak kenal lingkungan, tidak kenal tempat, dan tidak jarang melibatkan serangkaian semangat asketisme yang lain”.

Meski begitu menulis, seperti halnya aktivitas lain, sesungguhnya dapat dilatih. Menulis itu mirip seperti orang belajar sepeda motor. Pada awalnya orang mungkin agak kesulitan mencari keseimbangan apalagi untuk kendaraab roda dua. Tetapi jika terus berlatih maka kesulitan tersebut dapat teratasi.

Bila latihan terus dilakukan maka orang bahkan dapat mengendarai motor dengan satu tangan, tanpa memegang setir sama sekali atau malah sambil tengkurap di atasnya. Bagi pembalap profesional mereka malah  mampu melakukan aksi-aksi yang berbahaya dan ekstrem. Apa kuncinya? Latihan! Menulis pun demikian.

Orang-orang yang sudah terbiasa menulis maka mereka tidak memerlukan waktu khusus seperti harus menyendiri atau bangun tengah malam untuk menulis. Mereka dapat melakukan aktivitas tersebut kapan dan dimana saja: di kantor, di stasiun, di bandara atau bahkan di atas kendaraan seperti kebiasaan Mahfud MD.

Demikian pula, jika aktivitas itu sudah menjadi habit maka hampir tidak memerlukan peralatan harus memiliki komputer pribadi atau laptop untuk menulis. Berjilid-jilid otobiografi Prof Mulyadhi Kartanegara, guru besar filsafat Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, malah dilakukan secara manual dengan tulis tangan pada buku kertas. 

Menurut Mulyadhi, secara umum terdapat dua hambatan dalam menulis yakni teknis dan psikologis. Hambatan teknis berkaitan dengan aspek teknis kepenulisan (dimana menempatkan ide pokok, ide pendukung, pembuka, penutup termasuk tata bahasa), sedangkan aspek psikologis berhubungan dengan  melawan diri sendiri; ketakutan sendiri. Hambatan kedua ini jauh lebih berat daripada yang pertama.

Kalau hambatan psikologis sudah berhasil disingkirkan maka selanjutnya “akan semakin baik-baik saja”. Ada beberapa penulis yang berhasil menerbitkan buku, padahal kalau diperhatikan isinya biasa-biasa saja. Lalu, apa yang membuat mereka terus semangat dan produktif berkarya? Salah satunya karena  mereka berhasil mengatasi “self-lockdawn” tadi. 

Pada awal-awal belajar menulis saya sendiri selalu menggelorakan pentingnya memiliki semacam ‘kegenitan intelektual’ alias ‘sok tau’ untuk menjaga passion menulis saya. Menurut saya modal ini sangat penting bagi penulis pemula.

Di ruang kuliah maupun saat berbagi dengan sesama dosen muda, provokasi itu  selalu saya sampaikan. Saya sendiri  mengawali karir menulis dengan menulis surat pembaca di koran, menulis di mading (majalah dinding) maupun buku harian.

Di era digital sekarang, tersedianya beragam pilihan media sosial seperti facebook, WhatsApp, twitter, instagram dan lainnya sebenarnya dapat digunakan untuk menyalurkan ‘kegenitan intelektual’ itu tanpa mempedulikan penilaian orang lain atas tulisan kita.

Pertanyaannya, apakah semua orang bisa menulis? Secara teoretis iya. Menulis itu sama dengan berbicara. Logikanya, kalau seseorang bisa bicara berarti pasti bisa menulis (padahal tunarungu pun bisa menulis, bukan?). Menulis maupun berbicara itu sama-sama bagaimana cara mengekspresikan pikiran dan gagasan.

Bedanya, yang satu secara lisan satunya lagi secara tertulis. Karena itu, dalam sebuah kolomnya di majalah Ummat dulu penyair Taufik Ismail mengingatkan agar jangan percaya dengan mitos “tidak dilahirkan sebagai penulis”. Yang diperlukan, seperti kata Abdul Wahid, adalah konsistensi dan konfidensi.

Ada banyak alasan seseorang menulis. Dalam webinar dan peluncuran buku “Satu Birokrat Satu Buku: Bukan Birokrat Biasa#2”, Sabtu (30/1/2021) Yanuardi Syukur, Presiden Rumah Produktif Indonesia (RPI) menjelaskan, menulis memiliki 5 fungsi yakni sebagai terapi, membangkitkan produktivitas kerja, mencari makna, social movement dan menggerakkan berbagai sumberdaya, serta framing yakni dapat memengaruhi dan mengubah mindset orang lain.

Menulis adalah kerja keabadian, sementara di tengah masyarakat terdapat banyak elit baik agamawa, politisi, budayawan, pengusaha, birokrat, cendekiawan, profesional, pendidika, pekerja sosial, penegak hukum dan lainnya. Kalau para elit itu mau dan mampu mendokumentasikan gagasan dan apa-apa yang telah mereka lakukan sungguh sebuah legacy yang berharga bagi generasi berikutnya.

Lantas, kapan seseorang disebut ‘penulis’? Jawabannya jelas, selama dia menulis. Jadi predikat itu hanya melekat selama yang bersangkutan menulis. Tidak ada jurus jitu bisa menulis, termasuk berulangkali mengikuti pelatihan, kecuali kesabaran dan ketekunan merangkai huruf demi huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi alinea, dan alinea menjadi paragraf.

Ada macam-macam trik dan tips menulis, tetapi para ahli memberikan resep sederhana yakni “start your write with your heart and rewrite with your reason” (mulailah menulis dengan mengikuti kata hati, kemudian perbaiki tulisan anda dengan pikiran). Artinya syarat pertama untuk bisa menulis adalah anda memiliki bahan untuk ditulis. Setelah itu tulislah!

Kalau sudah selesai baru melakukan perbaikan/edit seperlunya. Seperlunya? Iya. Ini perlu diperingatkan agar tidak kebablasan dan selalu merasa tidak puas  sehingga justru merusak seluruh struktur tulisan yang ada. Yakinlah bahwa tidak ada tulisan yang benar-benar sempurna, termasuk tulisan yang sedang anda baca ini.   

Saya sudah membuktikan kemanjuran jurus ‘kegenitan intelektual’ itu. Dengan cara itu saya merawat energi, semangat dan self confidence saya dalam menulis. Bagaimana dengan Anda?[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *