Ibu, Rahim Peradaban

PERNAHKAN kita renungkan secara mendalam satu mahfuzhat yang dulu pernah terngiang di telinga tatkala kita ngaji sarungan, “Annisa’ imadul bilad, idza sholuhat sholuhal bilad waidza fasadat fasadal bilad.” Wanita adalah tiang negara, apabila wanita itu baik, maka baiklah negara, dan apabila wanita itu tidak baik, maka rusaklah negara.

Mahfuzhat ini sangat indah dan kalimat penghargaan yang sangat tinggi terhadap para perempuan yang faham. Begitu mulianya perempuan terutama ibu, nasib baik dan buruknya suatu bangsa berada didalam rahimnya.  

Semenjak seorang perempuan mengikhlaskan dirinya menjadi istri, maka sejak saat itulah dia memiliki kematangan spiritual, kematangan psikis, dan kematangan pisik. Kematangan spiritual bermakna kesiapan untuk lepas dari tanggung jawab orang tua kandungnya dan beralih menjadi tanggung jawab suami pilihannya dalam urusan ibadah dan tanggung jawab kepada Tuhannya.

Kematangan psikis artinya siap mental untuk menjadi pendamping laki-laki yang dikenal tatkala dewasa dan tidak pernah dia kenal seutuhnya serta mengikhlaskan dirinya siap untuk patuh dan siap untuk mengabdi. Sementara kematangan pisik artinya kesiapan dirinya untuk memberikan keturunan dari rahimnya yang kokoh lagi terpelihara.    

Pada saat seorang perempuan mulia (yang bernama istri atau ibu) mengandung jabang bayi hingga menyapih dan mengawal tumbuh kembang anak-anaknya, ikatan emosional dan watak seorang ibu dapat ditularkan melalui prilaku selama mengandung, mengasuh dan mendidik. Al qur’an banyak mengabarkan kepada kita bahwa anak dan ibu itu adalah belahan jiwa.

Selama sembilan bulan di dalam kandungan proses pembentukan calon manusia itu sepenuhnya berada dalam tanggungan ibu; apa yang dimakan ibu, apa yang dibisikkan dalam hati ibu, apa yang disuarakan ibu, apa yang dikhayalkan, apa yang diinginkan, apa yang didengar, sampai kepada apa yang dilakoni setiap waktu dan setiap saat oleh ibu, itulah yang diterima jabang bayi, dan semua aktivitas itu membersamai proses pembentukan calon manusia yang berada dalam kandungan ibu.

Jika seluruh aktivitas itu bernilai mulia, baik, berakhlak, halal, bersih, taat, dan patuh, maka calon manusia yang sedang berproses itu diproses dengan muatan kebaikan dan kemuliaan. Sebaliknya jika saat proses membentuk calon manusia itu sang ibu tidak melakukan hal-hal baik dan terhormat, maka seorang ibu sedang memproses calon manusia itu dengan proses yang tidak terhormat.

Kemudian dalam proses penyapihan, saat bayi masih terbatas kemampuannya, sejak matahari terbit, kemudian terbenam, dan terbit lagi, seluruh pengasuhan itu adalah dibawah kasih dan sayang seorang ibu. Dapat kita bayangkan bahwa manusia yang menjadi makhluk baru itu tidak memiliki daya dan kekuatan selain dari daya dan kekuatan seorang ibu.

Seorang ahli mengatakan bahwa ibu adalah pencelupan pertama bagi watak dan kepribadian anak, ibu merupakan bayangan yang paling mendekati dengan kepribadian anak, jika ia baik maka baiklah anaknya, demikian sebaliknya jika dia buruk maka buruklah anaknya.

Menyimak tugas mulia seorang ibu dalam pengasuhan awal, konon ada dialog ruh yang menjadi cikal bakal manusia itu dengan Tuhan. Kata ruh, wahai Tuhanku, aku akan terlahir dalam keadaan tidak berdaya, sementara Engkau tidak mungkin secara pisik dan prilaku nyata akan menemaniku, siapakah yang akan mengurus aku saat menjadi makhluk baru di pelanet baru nanti?

Tuhan memberikan semangat optimis dalam menjawab kerisauan ruh. Tahukah kamu wahai ruh kata Tuhan, Aku akan menaruh dan menugaskan seorang Malaikat yang akan menjaga tidurmu, menjaga melekmu, menjaga malammu, menjaga soremu, menjaga siangmu, dan menjaga keamanan jiwa dan ragamu. Malaikat mulia itu bernama “Ibu“.  

Subhanallah, sungguh tugas dan kepercayaan yang amat luar biasa yang diberikan Tuhan kepada para ibu. Tugas mulia itulah yang memberikannya sebagai posisi wajar untuk menyandang nama sebagai rahim peradaban atas tanggung jawab besar yang diemban semenjak mengandung dan mengawal tumbuh kembang putra-putrinya.

Pantaslah apabila Nabi kita Muhammad SAW menguntai kalimat indah sebagai penghargaan terhadap ibu, “Aljannatu tahta aqdamil ummahat”. Surga itu terletak di bawah kaki ibu.

Wahai para ibu dan calon ibu, bekalilah diri dengan bekal terbaik buat pengasuhan manusia sebagai titipan Tuhan, dan bekal terbaik itu adalah ilmu, akhlak, dan kesabaran. Dengan ilmu menjadikan kalian pantas menjadi madrasah pertama, membuat kalian akan menjadi lebih bijak menyikapi semua keadaan, lebih hati-hati menghadapi tantangan, lebih merdeka menyikapi perkembangan dan lebih logis dalam memberikan perlakuan.

Dengan akhlak akan mampu memberikan sesuatu yang pantas, akan berupaya memberikan sesuatu yang benar dan baik, akan berusaha memberikan sesuatu yang halal, akan mampu memberikan perlakuan yang jujur dan ikhlas.

Dengan kesabaran membuat kalian menjadi pribadi yang pantas digugu dan ditiru, membuat kalian menjadi optimis dalam pengasuhan, membuat kalian lebih memahami tugas dan tanggung jawab, membuat kalian lebih mendahulukan kasih sayang ketimbang emosional, dan membuat kalian menjadi lebih adil dan bijaksana.

Maka untuk membangun monumen peradaban yang kokoh dalam pengasuhan seorang anak diperlukan pondasi yang ideal yakni seorang ibu yang berilmu, berakhlak, dan sabar.[]
Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *