Pergulatan Menjadi HMI

KETIKA berangkat kuliah ke IAIN Sunan Ampel Surabaya, 1989, saya menyandang identitas bawaan sebagai anak NU. Bukan karena saya sebagai aktivis IPNU, karena organisasi itu tidak terdengar di telinga saat saya di MA atau MTs. Tetapi karena bapak saya dikenal sebagai salah seorang tokoh NOe di Bima. Ke-NOe-an beliau bahkan genuine, ditimba dari sumbernya langsung, Pesantren Tebuireng, tahun 1950an awal saat pesantren itu dipimpin KH Wahid Hasyim. Nama saya bahkan dicopas dari nama idolanya itu. Adik saya diberi nama Subhan untuk mengenang tokoh muda NOe yang cemerlang, Subhan ZE.

Ke-NOe-an keluarga saya bahkan dirunut sampai kepada buyut. Kartu anggota NOe sang buyut bahkan masih tersimpan baik sampai sekarang di lemari peninggalan bapak. Meski tidak jelas benar bagi saya beliau masuk di struktural apa di NOe, yang jelas bapak adalah pegiat khalaqah keagamaan yang diselenggarakan Ittihad ai-Muballighin dari kampung ke kampung. Kecintaannya pada NOe beliau ekspresikan dengan cara mengikuti setiap pemberitaan terkait NOe, terutama pada momen-momen kongres atau konferensi.

Baca Juga: Terbitnya Guru Kampung

Karena identitas bawaan itu maka saya segera akrab dengan teman-teman sesama mahasiswa baru dengan latar ke-NU-an. Ada kode-kode kultural tertentu yang membuat sesama penyandang tradisi NU bisa saling akrab. Alamiah proses keakraban itu, sampai terbentuk komunitas pertemanan yang intens. Sampai berlanjut ke Mapaba (masa pengenalan anggota baru), fase orientasi awal menjadi PMII, organisasi mahasiswa anak NU.

Pilihan saya jelas, menjadi aktivis PMII. Tetapi saat LKD (Latihan Kepemimpinan Dasar) dilaksanakan untuk rayon fakultas saya, saya belum dapat wesel dari kampung. Saya pantang berhutang untuk urusan selain dalam situasi hidup-mati.  Saya bilang ke teman-teman, kalian pergi duluan, saya tahun depan saja. Tetapi betapa merananya saya ditinggal sendirian oleh teman-teman akrab. Saya hanya bisa sering tepekur di pojok masjid kampus.

Semingguan saya tepekur. Saat itulah senior HMI menemukan saya. Saya dirayu untuk mengikuti Maperca (masa pengenalan calon anggota) dan Batra (Basic Training) atau Latihan Kepemimpinan (LK) I di HMI. Agak lama dia merayu. Kesabaran dan ketelatenannya akhirnya membuat saya luluh. Saya harus menghargai setiap usaha keras dan keyakinan akan sukses. Lagi pula wesel pos sudah sampai. Kenapa tidak dicoba?

Pergilah saya ke medan Batra, dibayangi senyuman teman-teman yang lebih dulu pergi ke LKD. Nada senyum mereka sinis. Tetapi keputusan telah saya ambil. Selama Batra saya mulai menemukan diri saya, terutama pada sesi-sesi sejarah dan pemikiran (NDP – Nilai Dasar Perjuangan), dua materi favoit saya. Oleh para senior HMI saya dianggap punya bakat untuk menghidupkan kembali HMI Komisariat yang pernah mati – hal yang dua tahun kemudian terbukti saat saya menjadi ketua umum komisariat.

Di kampung menjadi perbincangan bahwa anak NU menjadi HMI. Para orangtua NU yang mengirim anaknya kuliah ke kampus saya kuliah, mewanti anaknya untuk tidak mengikut jejak saya. Bagi mereka, saya ini macam Maling Kundang saja. Mereka takut anak mereka “tersesat”. Sebagian dapat saya HMI-kan, dan mereka militan.

Saya baru paham di kemudian hari tentang kekhawatiran ini. Ketika saya lacak, ternyata di kampung saya di Bima, menjadi HMI sama dengan menjadi Muhammadiyah, “musuh” NU. Dua segmen ini kerapa berseteru dalam wacana dan praktik keagamaan. Yang satu modernis (puritan), sedang yang lain moderat (“sinkretik”). Saya diuntungkan dengan mulai dikenalnya IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Pertemuan langsung dengan Cak Nur, Ridwan Saidi, Komaruddin Hidayat, Dawam Rahardjo, Fuad Amsyari, dan senior-senior HMI yang memang dikenal artikulatif dalam forum-forum HMI, membuat saya semakin tergiur secara intelektual. Ulasan Fachri Ali dan Bahtiar Effendi di buku Jalan Baru Islam tentang geliat para pemikir baru Muslim di Indonesia membuat saya semakin tenggelam. Sampai saya menemukan mutiara tersembunyi HMI. Ialah Ahmad Wahib.

Ahmad Wahib segera menjadi tokoh dan sosok imajiner bagi saya. Meski mati muda dan tak pernah bertemu, sosok ini menjadi begitu hidup dalam pikiran saya. Catatan hariannya Pergolakan Pemikiran Islam adalah buku paling sering saya baca – selain Magdalena-nya al-Manfaluthi – dan membuat saya betah di kamar kos.

Buku itu sakral bagi saya, karena langka dan terlarang. Cara berpikirnya yang berani dan tanpa ampun menyihir saya. Pada akhirnya tokoh ini saya hidupkan dengan cara catatannya itu saya kaji dalam tesis magister saya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hasilnya diterbitkan oleh Resist Book, Ahmad Wahib: Pergulatan Doktrin dan Realitas Sosial (2004).

Otokritik Wahib yang begitu tajam terhadap HMI, terutama mengenai geliat pembaharuan pemikiran Islam, membuat saya “berjarak” dengan HMI, tetapi juga semakin intens mengamatinya. Hasilnya, saya menolak lanjut ke Badko, dan lebih memilih ikut menghidupkan lembaga otonom LDMI (Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam) bersama teman-teman yang segaris.

“Perselingkuhan” tokoh HMI – juga tokoh PMII – dengan Porkas/SDSB membuat saya apatis. Persaingan yang mengarah ke konflik antara HMI-PMII di ranah kampus, memurukkan intelektualisme kedua organisasi harapan umat ini. Saya akhirnya lebih memilih jadi single fighter.

Saya mulai strategi itu dengan menyingkir ke Pare, Kediri, menyepi di samping sebuah pesantren tua tak terurus. Sebagian dari isi buku Catatan Perlawanan (Insist Press-Pustaka Pelajar, 2000) dihasilkan di sini.

Apakah dengan pilihan itu saya tidak bertotalitas?

Saya bertotalitas dan amat serius dengan visi-misi HMI. Menjadi insan akademis, pencipta, dan pengabdi adalah jalan yang harus tetap ditempuh. Menjadi Islam sekaligus menjadi Indonesia adalah pilihan perjuangan. Slogan Yakusa (yakin usaha sampai) adalah jalan metodis yang mistis.

Bagi saya, kadar karat menjadi HMI terletak pada lapisan penghayatan itu. Sebegitu merasuknya sampai saya tidak bisa lagi berkata: “saya NU lho, ya!” atau “bapak saya nggendong Gus Dur kecil, lho, ya!”

Itu tidak penting sama sekali, walau saya juga tidak terima jika menjadi HMI lantas tidak bisa menjadi NU atau menjadi Muhammadiyah atau lainnya. Hal yang saya alami kemudian hari, yang membuat saya tetap setia menjadi – katakanlah – “intelektual bebas!”

Yang penting, saya bisa merasakan “nafas” ke-PMII-an – yang saya gagal masuki karena takut berhutang itu – dengan cara mempersunting aktivis Kopri (Korps PMII Putri). Itu jelas lorong kembali yang keren![]

Ilustrasi: doc. pribadi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *