Perkenalkan, Saya Juga Orang Pesantren!

SAYA cukup ‘asing’ dengan institusi pesantren baik berinteraksi secara langsung maupun yang diakses melalui publikasi media. Kecuali pada beberapa keluarga yang secara tradisional memasukan anaknya di pesantren, hingga awal 1980-an, ketika saya duduk di sekolah dasar, nama pesantren masih samar-samar dibandingkan madrasah. Kebetulan saya menempuh pendidikan dasar pada lembaga terakhir tersebut. Jelang akhir 80-an nama pesantren baru terdengar jelas setelah beberapa  teman angkatan saya  merantau ke Jawa, jadi santri di Pesantren Wali Songo, Jawa Timur. Merekalah  generasi pertama di desa saya yang jadi santri, kemudian disusul angkatan berikutnya. Dibandingkan Lombok, di daerah saya—Kabupaten Dompu, bahkan mungkin Pulau Sumbawa (Bima dan Sumbawa), lembaga  pesantren masih tergolong baru, sehingga pengetahuan dan memori saya tentangnya nyaris tidak ada.

Karena itu, sering dikeluhkan Zamaksyari Dhofier dalam beberapa tulisannya, sebagai orang luar semula saya pun menganggap pesantren sebagai lambang kejumudan dan konservatifisme. Pesantren, dalam kata-kata Dhofier, seolah merupakan sebuah gugusan pulau terpisah dari dunia sosial, anti perubahan dan sulit diajak maju. Saat kuliah di IAIN Alauddin Ujung Pandang (kini UIN Alauddin, Makassar) banyak teman di kelas saya anak pesantren. Mereka jago dalam bidang ilmu Islam klasik atau ilmu alat seperti bahasa Arab atau Fiqih. Tetapi kesan saya mereka miskin wacana keislaman. Nama pesantren masih tetap asing bagi saya. Begitu pula ketika  melihat sepintas aktivitas anak-anak santri tidak cukup mampu memberikan gambaran utuh tentang ‘isi perut’ pesantren.

Kali pertama saya melihat suasana pesantren dari dekat sekitar 1993. Saat itu saya tidak pulang kampung saat libur kuliah. Saya memilih libur di rumah kerabat di Kabupaten Barru, sekitar 80 KM dari Makassar. Hampir sepekan saya dan dua teman sekampung menghabiskan waktu di sana. Karena rumah kerabat dekat dengan sebuah pesantren saya bisa merasakan dari dekat denyut nadi kehidupan pesantren: penampilan khas para santri—selalu bersarung dan berkopiah, santri yang mendapat hukuman dari ustadz karena melanggar, menenteng kitab, berburu dengan waktu jelang salat berjamaah, keriuhan ngantri makanan di dapur, celoteh dan canda khas santri dan lainnya.

Keputusan saya mengambil tugas akhir tentang pesantren menjadi titik balik. Bermula dari sebuah artikel di majalah Panjimas, akhirnya saya memutuskan meneliti tentang pesantren. Saya nekad saja sebenarnya meski dunia pesantren masih gelap bagi saya. Apalagi saya meneliti tentang posisi kitab kuning dalam tradisi pesantren, meski bahasa Arab saya pas-pasan. Tetapi fokus saya memang bukan bahasa Arab an sich melainkan melihat keberadaannya dalam konteks keilmuan di pesantren. Hal ini menarik perhatian saya karena dalam  tradisi pesantren, termasuk ketika berelasi dengan dunia luar selalu bertolak dari kekayaan khazanah ini. Bagaimana pesantren merespons perubahan-perubahan di luar dirinya selalu starting point-nya ya kitab kuning—entah itu soal Keluarga Berencana, isu lingkungan hidup, gender, kepemimpinan politik, ekonomi dan perbankan dan lainnya.

Studi saya yang cukup ekstensif pada berbagai bahan bacaan akhirnya mulai membuka cakrawala saya tentang lembaga pendidikan Islam tertua ini. Saya membaca dengan intens buku Abdurrahman Wahid yang melegenda “Pesantren Sebagai Subkultur“, beberapa karya Martin van Bruinessen, Mastuhu, peneliti Jerman, Dawam Rahardjo maupun sejumlah buku terbitan LP3S dan P3M yang banyak menerbitkan publikasi tentang pesantren. Tentu saja buku Dhofier “Tradisi Pesantren” yang menjadi kutipan klasik soal pesantren. Saya juga memburu buku Clifford Geertz “Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi”.

Saya melakukan penelitian di Pesantren An-Nahdlah di Kelurahan Layang, Ujung Pandang, sebuah pesantren kecil di pemukiman padat penduduk dekat Pasar Sentral, pasar terbesar di ibu kota Sulsel ini. Berhari-hari saya mengumpulkan data, tidur di pesantren dan bergaul dengan para santri, termasuk mengikuti jadwal kajian kitab kuning bakda Isya dan subuh yang disampaikan pengasuhnya, KH Harisah.

Perkenalan saya dengan pesantren akhirnya membawa saya pada kekaguman akan daya tahan dan adaptasi pesantren, di samping tentu kekurangannya seperti kritik tajam Ulil Abshar Abdalla soal romantisasi pesantren dalam bukunya “Membakar Rumah Tuhan”. Namun hal itu sama sekali tidak mengurangi kecintaan saya pada lembaga pendidikan Islam ini. Bukan hanya dari sisi jumlahnya yang banyak melainkan fakta bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan paling  populis. Terlepas dari persoalan mutu, pesantren adalah lembaga pendidikan rakyat dan menjadi katup pengaman di tengah ketidakberdayaan negara memenuhi hak-hak  konstitusional warganya di bidang pendidikan. Karena banyak tersebar di wilayah rural dan kantong-kantong kemiskinan pesantren bahkan cukup berjasa dalam mendorong mobilitas sosial anak-anak pedesaan.  

Kini pesantren, seperti dikatakan Kuntowijoyo dalam bukunya “Paradigma Islam” sudah berkembang  jauh. Ciri-ciri pesantren tidak hanya ditandai dengan adanya mesjid, kyai, kajian kitab kuning dan santrinya bermukim tapi sudah cukup beragam seperti sudah memiliki stasiun radio, laboratorium komputer maupun perangkat teknologi lainnya. Lebih dari itu pesantren tidak semata berkutat  sebagai lembaga pendidikan dan dakwah dalam pengertian tradisional, tetapi juga telah bertransformasi menjadi pusat pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Termasuk  keterlibatannya dalam pelestarian lingkungan hidup.

Semuanya itu menggambarkan bahwa sejatinya pesantren adalah lembaga yang dinamis dan tidak menolak modernisasi. Jika pun terlihat sikap resisten pesantren maka hal itu, seperti diingatkan Dhofier, lebih mencerminkan sikap kehati-hatian pesantren dalam menerima perubahan yang ada. Menurut Dhofier, sebagai agen tunggal di pesantren  kyai tidak akan bersikap serampangan mengakomodasi setiap perubahan—sebelum memastikan bahwa perubahan tersebut membawa kemajuan dan kemaslahatan bagi lembaga yang dipimpinnya. Yang pasti bahwa setiap pilihan sikap pesantren merespons semua perubahan harus tetap setia kepada tradisi pesantren, terutama atas interpretasi maupun reinterpretasi mereka atas kitab kuning.    

Setelah saya tamat kuliah takdir kemudian menuntun saya terlibat dalam perintisan pesantren di kampung saya, Ponpes Al-Kautsar Ranggo, Pajo. Sebuah pesantren modern yang kini terus maju. Kedua anak saya bahkan nyantri di sini. Alhamdulillah. Selamat Hari Santri Nasional![]

Ilustrasi: dok. PP. Al-Kautsar, Dompu

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *