Tauhid: La Ilaha Illallah atau La Ilaha Illa Huwa?

TULISAN ini berawal dari sebuah diskusi antara sosok Baba dengan dosen yang mengajar ilmu tafsir dalam sebuah cerpen berjudul “Baba” yang ditulis oleh penulis sendiri. Diskusi tersebut di awali dengan pertanyaan ‘menggelitik’ Baba tentang kata Allah, lalu dosenya menjawab;

“Allah itu adalah sesembahan. Sebelum muncul istilah Allah, manusia telah sadar akan Dzat transendental yang menciptakan alam semesta ini—dan untuk melakukan penyembahan, tentu yang disembah haruslah memiliki nama dan per-istilah-an agar memudahkan kita (manusia) melafaz-kan Dzat yang transendenta itu saat sedang melakukan permohonan dan do’a,” jawab dosenya.

Mendengar jawaban tersebut, Baba merasa belum puas dan kembali mengajukan pertanyaan dengan membenturkan tafsiran tentang kata Allah dengan potongan ayat dalam QS. al-Asyura’ :11. Lalu ia berkata;

“Maaf pak dosen, saya ingin bertanya lagi sedikit tentang potongan QS. al-Asyura’: 11, yang sempat dijelaskan oleh bapak di awal diskusi. Ayat itu mengatakan “Tiada yang serupa dengan-Nya, Dia Bukan sesuatu, tapi segala sesuatu berasal dari-Nya.” Hemat saya, ayat ini telah membantah dan meruntuhkan segala konsep, gagasan, pikiran, dan penafsiran kita tentang-Nya.” (Baba, 2018: 2). Demikian gambarannya.

Dalam Al-Qur’an, kita memang lebih banyak melihat penggunaan kata Allah daripada Huwa (Dia). Sebagian ulama mengatakan bahwa penggunaan kata Huwa (Dia) dalam Al-Qur’an menunjukkan Ketinggian dan Ketak-terjangkauan Realitas-Nya. Misalnya, Firman Allah SWT dalam QS. al-Ikhlas, “Katakanlah: Dia-lah Allah yang Esa: Allah yang bertumpu kepadan-Nya segala sesuatu: Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan: dan tiada serupa apapun yang menyertai-Nya”.

Imam Muhammad al-Baqir, saat menafsirkan kata Huwa (Dia) dalam QS. Al-Ikhlas, mengatakan, “Kata (ha) bermakna penegasan atas sesuatu yang nyata, sedangkan kata (waw) bermakna sesuatu yang tidak tampak oleh indera (Muhsin, 1373: 74). Jadi, dalam istilah Huwa (Dia) mengandung makna penegasan atas sesuatu yang Nyata sekaligus penafsiran atas ketampakan-Nya secara inderawi (Kazhim, 2003: 128).

Dalam ayat lain juga, Dia berfirman, “Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia, bersifat hidup dan terus-menerus Tegak (mengurusi mahluk-mahluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Dia tanpa seizing-Nya? Dia mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali yang dikehendaki-Nya. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi, dan Dia tidak keberatan memelihara keduanya. Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” (QS. al-Baqarah: 225).

Dalam dua contoh ayat di atas, kita bisa lihat pada penggunaan kata Dia (Huwa) merupakan penegas atas Ketinggian, Ketakerjangkauan dan Kekuasan-Nya yang tak ada batas. Kita juga bisa lihat dalam kata penutup pada QS. al-Baqarah “Dan Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar” dalam arti bahwa Dia tidak bisa dibandingkan dengan segala yang ada, sebab Dia-lah yang menciptakan segala di atas segalanya.

Dalam menjelaskan ayat di atas, al-Ghazali berkata, kata Huwa pada lafadz “La ilaha illa huwa” merupakan ungkapan tentang segala sesuatu yang kepadanya diarahkan penunjukkan kecuali kepada-Nya. Bahkan setiap kali kita menunjuk ke rah tertentu, sebenanrnya dalam hakikatnya kita menunjuk kepada-Nya, meskipun kita tidak mengenal-Nya ­- yang disebakan oleh kelalaian kita tentang “Hakikat segala hakikat”.

La ilaha illallah (tiada tuhan kecuali Allah) bersifat umum dan sekaligus tauhidnya kaum awam, sedangkan la illaha illa huwa (tak ada dia kecuali Dia) bersifat khusus, juga sekaligus tauhidnya kaum khusus, karena lebih meliputi, lebih benar, lebih tepat, serta lebih dekat kepada “ketunggalan dan keesaan murnih”(Ghazali, 1993: 47-48).

Hubungan antara Allah dengan Huwa juga terdapat dalam QS. Ali ‘Imran: 18, Dia berfirman,“Allah telah bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Meneggakan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu, juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” Dalam konteks lain misalnya, pada saat pertempuran Badar, bahwa Imam Ali bin Abi Thalib as senantiasa mengucapkan kalimat, “Wahai Dia yang tiada dia kecuali Dia” (Muhsin, 1373: 73-74).[]

 

Ilustrasi: pixabay.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *