Program Desa Binaan La Rimpu Roi-Roka Resmi Di-Launching

LA RIMPU secara resmi me-launching desa binaan baru di Desa Roi, Palibelo dan Desa Roka, Belo, Kabupaten Bima. Kegiatan ini dilakukan di Desa Roka, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima pada Sabtu, 4 Maret 2023 lalu.

Sebagai sekolah perempuan pertama di Bima, Desa Roi dan Roka merupakan desa binaan ke-7 dan ke-8 La Rimpu setelah berhasil membentuk enam desa binaan sebelumnya yang tersebar di Kabupaten Bima yakni Desa Ngali dan Renda (2019), Desa Kalampa dan Dadibou (2020), dan Desa Wora dan Nangawera (2021).

Kegiatan launching ini dihadiri langsung oleh Direktur La Rimpu, Prof. Hj. Atun Wardatun, M. Ag, M.A, Ph.D dan Pembina La Rimpu, Prof. Dr. H. Abdul Wahid, M. Ag, M.Pd. Tak hanya itu, turut hadir juga Ketua Lembaga Bina Damai dan Resolusi Agama (Lembidara), Kabis DP3AP2KB Kab. Bima, Kepala Desa Roi dan Roka serta jajarannya, BABINSA, BABHINKAMTIBMAS Desa Roi dan Roka, fasilitator, volunteer La Rimpu, anggota La Rimpu Desa Ngali-Renda, Kalampa-Dadibou dan peserta 20 orang perempuan muda dan ibu-ibu dari Desa Roi dan Roka yang secara resmi dikukuhkan menjadi anggota La Rimpu Roi-Roka.

Perempuan sebagai agen perdamaian adalah misi besar di balik sekolah perempuan La Rimpu. Oleh karenanya, La Rimpu terus membuka sekolah-sekolah binaan baru untuk menjangkau lebih banyak perempuan di desa-desa dan memperkuat simpul-simpul La Rimpu di Kabupaten Bima.

Harapannya, suatu saat dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan memberi dampak yang lebih luas dan mimpi yang jauh lebih besar untuk mentransformasi perubahan ke arah yang  lebih baik untuk kemajuan bersama. Dan, mimpi besar itu dimulai dari perempuan!

Menyadari pentingnya peran dan partisipasi perempuan dalam perdamaian, selama beberapa tahun terakhir, La Rimpu sangat fokus terhadap program pemberdayaan perempuan sehingga mereka dapat berdaya secara individu, keluarga, hingga memberi dampak ke masyarakat.

Hal tersebut bertujuan agar kelompok masyarakat, khususnya perempuan dapat menyebarkan nilai-nilai perdamaian melalui berbagai kegiatan pendampingan dan capacity building di sekolah perempuan La Rimpu sebagai wadah perjumpaan.

Baca juga: Tim La Rimpu Lakukan Assesment untuk Desa Binaan Baru

Baca Juga  Kuliah Kerja Nyata di Desa Pandan Duri; Mahasiswa Unram Fokus Promosi Produk Lokal

Kegiatan-kegiatan yang dimaksud bertujuan untuk mendorong dan menggali potensi diri yang ada pada perempuan, sehingga mereka dapat berdaya dan dapat memberi inspirasi dalam keluarga, masyarakat, dan negara.

La Rimpu menyadari bahwa sudah saatnya perempuan mengambil peran dan menjadi aktor penggerak dalam masyarakat (the leading actors). Sehingga, dalam menciptakan perdamaian dan perempuan berdaya, La Rimpu memberi perhatian besar terhadap perempuan-perempuan di wilayah rawan konflik.

Oleh karena itu, La Rimpu terus mengkaji desa-desa yang rawan terjadi konflik maupun desa yang telah terjadi konflik kekerasan di Bima untuk kemudian menghadirkan perempuan sebagai agen perdamaian dengan tujuan  besar menjadi agen yang manggawo (pendingin), mahawo (peneduh), dan marimpa (menginspirasi).

Dalam sambutannya, Direktur La Rimpu, menegaskan bahwa konflik yang terjadi di banyak wilayah di Bima sering kali melibatkan dan mengorbankan anak-anak dan remaja. Hal ini tidak bisa semata-mata dipandang murni sebagai faktor kenakalan remaja, tetapi lebih ke minimnya pengawasan dan pendampingan orang tua terhadap anak, khususnya perempuan (ibu) sebagai madrasatul ula.

Perempuan dalam hal ini memegang peranan penting dan strategis dalam menjaga kerukunan dan perdamaian dalam suatu wilayah karena sering kali konflik yang terjadi dipicu oleh perkelahian antar remaja dan anak-anak yang berasal dari pola pengasuhan yang salah dari keluarganya.

Selain itu, perempuan juga dipandang perlu untuk segera beradaptasi terhadap perubahan zaman dan memahami dinamika pergaulan remaja saat ini yang sangat mudah mengikuti berbagai macam media dan derasnya arus informasi, sehingga ibu-ibu dapat memberikan pengawasan terbaik terhadap tumbuh kembang anak dan terhidar dari pergaulan yang salah.

Sebagai seorang ibu, perempuan harus menyadari bahwa anak-anak di era milenial memiliki dinamika dan problematika tersendiri yang jauh lebih kompleks. Era milenial menghadapkan mereka dengan perkembangan informasi dan teknologi yang begitu pesat dan tidak terhindarkan, sehingga perempuan sebagai ibu dan pendidik utama bagi anak dituntut juga agar dapat memberikan pengasuhan terbaik dalam perkembangan anak dan menyaring derasnya informasi global.

Baca Juga  Menjadi Muslim Ekologis: Refleksi Spiritualitas Hari Bumi

Lebih lanjut, Direktur La Rimpu menyebutkan bahwa sering kali konflik antara orang tua dan anak dalam keluarga dipicu oleh ketidaktahuan atas kepentingan dan keinginan anak oleh orang tua ataupun sebaliknya.

Perbedaan zaman dan berbagai macam prolematika yang dihadapi oleh anak-anak dan remaja saat ini menuntut orang tua, terutama Ibu, agar dapat menjadi ibu yang “milenial” dan pendidik yang up to date terhadap apa yang diinginkan oleh anak-anaknya dan bagaimana mengkomunikasikan setiap masalah yang ada sehingga tidak menimbulkan konflik.

Baca juga: Lakukan Pendampingan Perdana, La Rimpu Ajak Perempuan Desa Roi dan Roka untuk Terlibat

Sehingga, kunci kerukunan dan perdamaian dalam sebuah wilayah adalah dimulai dari keluarga-keluarga yang harmonis, dan keluarga yang harmonis itu tentu saja dimulai dari seorang ibu yang meneduhkan (mahawo) dalam pola pengasuhan anaknya.

Oleh karena itu, La Rimpu akan memberikan pendampingan dan pembinaan yang lebih khusus  kepada perempuan binaan di Desa Roi dan Roka, salah satu isu prioritasnya adalah memberikan edukasi tentang parenting atau pola pengasuhan anak, mengingat seringnya terjadi perkelahian antar remaja dan pemuda di desa tersebut yang berujung pada permusuhan dan dendam berkepanjangan antar desa sebagaimana yang terjadi di banyak tempat di Kabupaten Bima.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *