Merantau untuk Membangun Negeri: Kearifan Hidup Diaspora Bima-Dompu

SAMA halnya Minang, Madura, Bugis-Makassar, dll, suku Bima yang bersemayam di ujung timur Pulau Sumbawa – Nusa Tenggara Barat (NTB) juga suka merantau. Orang Bima maupun Dompu tergolong entitas kultur serumpun yang masih menganut tradisi rantau dan bermigrasi. Sekalipun tergolong etnis kecil, tapi eksistensi mereka tercatat dalam sejarah pergulatan Nusantara, dulu hingga kini.

Wilayah dan jumlah penduduk Bima-Dompu memang tidaklah seluas dan sebanyak Minang, Madura, Bugis-Makassar, apalagi disandingkan dengan Jawa. Tentu orang-orang yang biasa disapa “Dou Mbojo” itu tak banyak. Justru karena sedikit dan kecil itu, Bima-Dompu punya ciri khas tersendiri, tangguh dan berdaya saing.

Orang Bima-Dompu mampu mewarnai pentas nasional bahkan dunia. Sebut saja Syaikh Abdul Gani al-Bimawi (mahaguru ulama Nusantara), KH. Usman Abidin (Mantan Rois Syuriah PBNU), M. Thoyib Abdullah (Anggota DPR dari Partai Masyumi), Mochtar Zakaria (mantan Walikota Jakarta Selatan), Feisal Tamin (mantan Menteri era Megawati), Harun Al-Rasyid (mantan Walikota Jakarta Selatan, pernah jadi Wakil Gubernur DKI, Gubernur NTB), Burhanuddin (mantan Walikota Jakarta Barat, pernah jadi Bupati Kepulauan Seribu), Burhan Djabir Magenda (Guru Besar FISIP UI), Afan Gaffar (Guru Besar FISIP UGM, pernah jadi anggota KPU Pusat), Farouk Muhammad (mantan Wakil Ketua DPD RI), Abdul Gani Abdullah (Dirjen Kemenkumham RI), Syamsuddin Haris (Profesor Riset Politik LIPI, anggota Dewan Pengawas KPK), Marwan Saridjo (Mantan Sekjen Departemen Agama RI), Hamdan Zoelva (mantan Ketua MK), Anwar Usman (Ketua MK).

Baca juga:

Diaspora Bima-Dompu bisa diartikan sebagai Dou Mbojo yang tinggal di tanah rantau, baik WNI maupun WNA yang memiliki orangtua, atau leluhur dari Bima-Dompu. Mereka tidak sekadar numpang tinggal, tapi juga memberikan kontribusi dan mengabdi bagi lingkungan sekitarnya. Misalnya di Jakarta, etnik Bima cukup mewarnai bahkan membangun ibukota melalui otoritas dan kapasitas yang dimilikinya.

Ada orang Bima yang menjabat sebagai pegawai biasa, kepala dinas, sekretaris kota, wakil walikota, bahkan ada yang pernah jadi walikota hingga wakil gubernur DKI Jakarta. Di kalangan budayawan dan pengamat sosial politik, dulu terdapat istilah “babi kuning”, akronim dari “Batak-Bima-Kuningan”, kelompok etnis yang dulunya dianggap menguasai lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Jauh melintasi ruang dan zaman, WNI tersohor yang kendati dilahirkan dan dibesarkan di luar, tapi berdarah Bima di antaranya Benny Moerdani, termasuk Pangeran Diponegoro. Ada juga WNA yang punya leluhur Mbojo, antara lain Najib Tun Abdul Razak (PM Malaysia ke-6) melalui putri Sultan Bima bernama Siti Aminah, Ibu dari Karaeng Aji (Muhammad Nazaruddin Karaeng Agang Jene’) – klan Raja Gowa (Sultan Abdul Djalil), lantas Karaeng Aji merantau ke negeri Pahang, menikahi puteri setempat, memiliki banyak keturunan di Malaysia, di antaranya: Najib Tun Abdul Razak.

Ada pula Piet Retief (tokoh politik Afrika Selatan) – disebut sebagai keturunan eks-Raja Tambora II. Bahkan Massimo Corey Luongo (pesepakbola timnas Australia), ibunya bernama Ira (putri dari Sultan Dompu, AA Sirajuddin), dan ayahnya Mario Luongo dari Italia.

Jejak cemerlang generasi emas Dou Mbojo tersebut adalah manifestasi dari pengamalan falsafah hidup yang terpatri dalam budaya adiluhung Mbojo. Mutiara kearifan lokal itu bisa menjadi bekal (isi loko) bagi diaspora Bima-Dompu. Setidak-tidaknya, ada lima falsafah hidup yang dijiwai oleh Dou Mbojo, antara lain:

 

  • Maja Labo Dahu

Falsafah ini adalah pilar utama bagi Dou Mbojo yang memilih jadi perantau dengan menjunjung tinggi harga diri. Perantau ulung mesti membatinkan ikrar untuk menuntaskan cita, berdaya cipta dan membangun reputasi di perantauan. Perantau Mbojo seyogyanya menginternalisasikan budaya malu (maja) ke dalam jiwa-raganya. Malu kalau gagal, dan pantang pulang sebelum sukses. Diaspora Bima-Dompu juga ditekankan memiliki rasa takut (dahu) dengan menjauhi perilaku yang melampaui batas, dan menghindari pantangan-pantangan yang kontraproduktif (tiwara onena). Kini, semboyan “Maja Labo Dahu” menjadi moto Kabupaten/Kota Bima.

 

  • Kalembo Ade, Kapoda Ade, Kabae Ade

“Kalembo Ade” adalah ungkapan berdimensi esoterik yang bermakna: terima kasih, sabar, penghormatan, penghargaan, bahasa cinta, dan saling menguatkan satu sama lain. Ketika memutuskan merantau, maka tekad harus membaja, tidak layu sebelum berkembang. Dalam tradisi merantau itu, tersimpan cita-cita luhur yang membutuhkan keteguhan hati (kapoda ade). Di sinilah perlunya keyakinan, kerja keras, ikhtiar dan mengaktivasi semua sumberdaya dan mengaktualkan potensi secara optimal. Lebih dari itu, ikhtiar pun wajib disertai dengan doa (kabae ade), sebagai sumber energi jiwa, juga menjadi pengontrol diri (kawara weki).

 

  • Karawipu ra Turu Kai, Aina Turu Karawi

Perantau Mbojo sebisa mungkin menggambarkan sketsa negeri yang dituju, apa yang akan dikerjakan, diproyeksikan dan bagaimana menggapainya. Semua hal itu membutuhkan peta jalan dan bintang pemandu. Manakala diberi amanah dalam suatu aktivitas, maka sedapat mungkin dimanfaatkan dengan penuh dedikasi dan integritas (karawipu ra turu kai). Falsafah ini mengajarkan kepada perantau agar bersenyawa dengan bumi rantauan yang akan dipijak. Tidak sembrono dan asal-asalan berkelana (turu karawi).

 

  • Nggahi Rawi Pahu, Aina Nggahi Wari Pahu

Dalam bergelut di tanah rantau, perantau Bima-Dompu tidak boleh sekadar mengumbar kata-kata, tapi harus dibuktikan (kapahu). Kalau sudah berkata, harus membuahkan hasil (nggahi rawi pahu). Bukan sebaliknya, kata tidak sesuai bukti (nggahi wari pahu). Falsafah ini meneguhkan masyarakat Bima-Dompu agar senantiasa membuktikan kata yang terucap dan menepati janji. Kini, semboyan “Nggahi Rawi Pahu” menjadi moto Kabupaten Dompu.

 

  • Kasama Weki, Mori Sama

Falsafah ini sejatinya menebalkan sebuah titah agar perantau Bima-Dompu tidak sombong, semau gue (ka anca weki), tidak boleh individualistik (rewo kese), dan harus menjunjung tinggi rasa kebersamaan (kasama weki). Perantau Bima-Dompu diharapkan cakap bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, mengedepankan etos toleran terhadap kemajemukan sosio-kultur, lalu membaur menjadi bagian dari masyarakat setempat (mori sama). Falsafah Mbojo ini tercermin dalam rapalan spiritual: ibuku bumi, bapakku langit (Inaku Dana, Amaku Langi). Hal itu paralel dengan pepatah Melayu: di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.[]

Ilustrasi: fokkaindonesia.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *