Menghitung Diri pada Pesta Demokrasi

PESTA DEMOKRASI adalah menghitung suara yang semakna dengan menghitung diri. Suara bagi para kontestan pemilu mencerminkan eksistensi diri dalam pandangan orang lain. Seberapa baik, seberapa sopan, seberapa peduli, dan pada akhirnya seberapa terkenal kita, sebegitulah jumlah suara yang memihak pada kita. 

Jadi suara pemilih adalah eksistensi diri di tengah kerumunan manusia. Apa yang dipajang tentang potret diri di lorong-lorong jalan menjadi potret yang berdiri sebagai simbol yang menegaskan bahwa kita perlu untuk dikenal, tentunya dengan berbagai citra kemanusiaan yang sistemik.

Kini pesta sudah berakhir. Kesempatan untuk memperbaiki citra sudah usai, waktu sudah berganti, tergulung, dan sudah meninggalkan kita, tidak ada gunanya mengandai-andai, tidak ada gunanya asa dan pikiran memutar waktu ke belakang, tidak ada gunanya menyalahkan orang lain, tidak ada gunanya mengkhayal, tidak ada manfaatnya meruncingkan pensil untuk mencatat ide-ide yang terlupakan.

Pepatah Arab cukup indah untuk direnungkan yang mendidik kita agar selamat dari kebiasaan mengandai-andai; “Qad jaffal qalam“. Tinta sudah mengering. Kata filosof Romawi: “Even god can not change the past”. Bahkan Tuhan pun tidak bisa mengubah masa lalu.

Saatnya untuk harus bertawakkal kepada yang di atas, berlapang dada bagi yang merasa gagal dan berlindung dari melampaui batas bagi yang merasa sukses. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. Demikian Tuhan meramahi hamba-Nya dalam kalam yang difirmankan pada Surah  Al Hadid ayat ke- 23.

Sikap bijaksana menjadi pilihan terbaik dan manusiawi di saat keadaan dan situasi harus merongrong harga diri dan nilai-nilai kedewasaan kita. Pesta demokrasi tidak ubahnya perlombaan, ada yang harus unggul dan ada yang harus kalah.

Bagi saudara kita yang mendulang suara besar, ingatlah bahwa tugas yang akan diemban adalah amanah besar, kalau pun para pemilih lupa dengan janji-janji yang diikrarkan dengan penuh percaya diri dan mungkin dibarengi sumpah yang menguatkan janji itu, ketahuilah bahwa Tuhan tidak pernah lupa, Tuhan tidak pernah tidur, dan saatnya nanti Tuhan pasti akan menyoal janji-janji itu lewat caranya sendiri untuk mengembalikan kita pada posisi yang semestinya. Tuhan sangat sayang pada semua hamba-Nya, Dia punya cara khusus untuk mengembalikan kita pada psosisi yang benar, hanya saja kita sering pura-pura tidak menyadarinya.

Penting untuk diingat bahwa mungkin diantara untaian janji-janji yang ditulis dalam visi kemenangan maupun yang diungkap melalui lisan adalah bagian dari yang Tuhan rencanakan untuk keselamatan dan kesuksesan mengemban amanah, maka tunaikanlah amanah dengan benar, karena anda terpilih untuk mengembannya saat ini. Ingatlah saat-saat di mana anda sangat menginginkan amanah itu memihak ke pundah anda, ribuan cara dan strategi telah anda susun dengan skala-skala yang matang, maka jangan dustai hatinurani anda untuk mengubah haluan dari skala-skala yang sudah anda jadikan sebagai rumusan niat tulus.     

Bagi saudara kita yang mendulang suara kecil yang menyebabkan mereka merasa gagal melangkah, yakinlah ada hikmah dan keputusan lain yang sudah disiapkan Tuhan yang jauh lebih manfaat dan lebih maslahat buat menatap masa depan saat ini. “Faidza faragta fanshab waila robbika farghab“. Jika tangga yang satu sudah terlewat dari langkah kaki pertama, maka gapailah tangga kedua, ketiga, dan seterusnya. Orang yang beragama apalagi disertakan dengan keimanan dan komitmen yang kuat, putus asa dan menyalahkan keadaan bukanlah cara yang mulia dan terhormat.

Kekalahan dan Kemenangan sebagai hasil akhir dari proses pemilihan umum bukan hanya karena jumlah suara kita yang besar atau kecil, akan tetapi ada intervensi Tuhan yang tidak bisa kita dustai, bahwa siapa yang menjadi pemimpin saat ini telah terdokumen didalam catatan emas yang dipahat dengan hati-hati dan teliti oleh Tuhan, lalu disimpan pada loker yang amat sangat rahasia dan tidak terjamah rayap dan tidak pula terlihat oleh virus sekalipun yakni loker penyimpanan yang diberi nama penanda “Lauh al Mahfudzh”. Di sinilah Tuhan tetapkan dan letakkan apa yang terjadi saat ini.

Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebaikan. Demikian isi catatan yang dipahat pada lembaran surat Ali Imran di ayat ke-26 yang Tuhan tempel pada simpul perjalanan panjang hamba-Nya yang akan diterima tepat pada waktunya dan Tuhan tidak mengenal kata terlambat untuk memberikannya.[]

                                                                                                                      Ilustrasi: megapolitan.kompas.com
                                                

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *