Intersubjektivitas: Pendekatan Alternatif dalam Studi Agama

STUDI Islam merupakan bagian dari sebuah kajian keislaman dengan wilayah telaah materi ajaran agama dan fenomena kehidupan beragama. Pendekatan yang dilakukan biasanya melalui berbagai disiplin keilmuan. Kalangan pengkaji agama-agama mencoba mendekati persoalan kehidupan beragama masyarakat dalam bingkai yang dapat dicermati dan diamati secara lebih jelas melalui pertimbangan atas fenomena dan makna dalam ajaran-ajaran keagamaan. Dalam studi agama-agama, para pengkajinya menggunakan pendekatan dokrtinal-normatif, sosiologis-teologis, historis-empiris (Najana, Abdurrahman, 1981:57-70). Atau dengan pendekatan fenomenologi seperti yang telah diperkenalkan oleh Edmund Husser, Martin Heidegger, Richard C. Martin.

Pada kesempatan ini, penulis berusaha untuk berdialog secara intim dengan salah satu makalah yang ditulis oleh Richard C. Martin dalam Islam and Religions Studies, An Introductory Essay. Dalam tulisannya, Richard C. Martin menyatakan bahwa ada kontradiksi antara pendekatan “subyektivisme” yang dipengaruhi oleh pemahaman normatif suatu agama (dalam melihat agama-agama lain), vis a vis “obyektifisme ilmiah” yang menghendaki sikap tidak memihak dalam melihat agama-agama (Najana, Abdurrahman, 1981:236). Selain itu, Martin juga menyayangkan melihat persoalan-persoalan fundamental mengenai disiplin studi agama Islam ini menempati jalur tersendiri yang seakan-akan terpisah dari disiplin kajian agama-agama pada umumnya (Najana, Abdurrahman, 1981:3-4)

Dengan mengutip Wilfred Cantwell Smith, Martin mengemukakan sebuah pendekatan yang biasa digunakan oleh para pengkaji agama-agama, yakni dalam mengkaji hubungan antar umat beragama dan studi-studi lintas-kultural. Pendekatan tersebut dikenal dengan pendekatan personalist atau dialogic (Tamara, 1996). Pendekatan ini menghendaki sikap netral tanpa disertai dengan asumsi-asumsi penuh kecurigaan dalam memandang umat agama lain (Martin: 9). Selain itu, dalam konteks studi agama, muncul apa yang dikenal dengan pendekatan phenomenology of religion (Lorens, 1996:234-239).

Pendekaan ini mencoba memahami agama melalui manisfes-manisfesnya dalam seluruh budaya masyarakat—yakni penggalian terhadap nilai-nilai dan ajaran agama-agama sebagai esensi yang ada dibalik fenomena agama-agama yang hidup dalam masyarakat dan dilakukan secara lebih hati-hati (Martin: 7). Jenis pendekatan inilah yang sesungguhnya ingin ditawarkan Martin. Pendekatan fenomenologi yang dimaksud adalah bagaimana para pengkaji agama dapat menggunakan pendekatan yang lebih empiris dan rasional. Sebuah pendekatan yang bersifat menjelaskan dan berupaya memahami makna keberagamaan manusia.

Dalam pendekatan phenomenology of religion, Martin menyebutnya dengan metode verstehen—yakni sebuah pendekatan yang berorientasi pada asumsi-asumsi dari kehidupan dalam konteks kemasyarakatan dan kesejarahannya. Dalam pengertian bahwa manusia merupakan bagian dari keseluruhan masyarakat dan sejarah yang harus dipahami makna-makna kehidupannya sebagai ekspresi kehidupan keberagamaannya. Karena kehidupan manusia memiliki makna-makna tersembunyi dan mengandung misteri, yang harus diungkap. Makna keberagamaan manusia itu menampakkan dalam simpul-simpul budaya dan ia sesungguhnya dapat dianalisa dan dipahami (Martin: 8). Demikian dalam tulisannya, Martin memperkenalkan jenis pendekatan phenomenology dalam studi agama-agama melalui metode verstehen yang melihat bagaimana memahami agama sebagai gejala budaya yang hidup di dalam masyarakat.

Meskipun pendekatan fenomenologi memiliki beberapa kelebihan, namun terasa sangat sulit bagi peneliti memahami esensi dari pengalaman keagamaan meskipun telah termanifestasi. Selain itu, persoalan deskriptif murni yang diklaim oleh para fenomenolog—juga merupakan sesuatu hal yang sangat mustahil seorang fenomenolog tidak memiliki kepentingan dan maksud-maksud tertentu. Bahkan dalam tulisannya Richard C. Martin telah menyadari bahwa terjadi kontradiksi antara subyektif dengan obyektif ilmiah dalam melihat agama lain. Dengan kata lain ketika melihat agama lain—dalam hal ini adalah seorang peneliti, sedikit tidak dipengaruhi oleh keyakinan, ideologi, ilmu atau nilai-nilai yang telah terinternalisasi dalam dirinya.

Dalam dunia penelitian, pendekatan verstehen berusaha agar objek “berbicara mengenai dirinya sendiri” dan peneliti sebisa mungkin memposisikan diri untuk diam kemudian merekam apa yang dirasakan, dipikirkan, dipahami dan diungkapkan oleh sang objek. Tugas utama fenomenologi menurut Husserl adalah menjalin keterkaitan antara manusia dengan realitas dan realitas membutuhkan manusia karena manusia adalah tempat realitas mewujudkan diri. Menurut ungkapan Martin Heidegger seorang fenomenolog, yang dikutip Moh. Natsir Mahmud: “das wesen des Sein das Mennschenwesen braucht” yang berarti, sifat dari realitas itu membutuhkan manusia (Heidegger, 1962:79 ). Realitas atau nomena membutuhkan tempat tinggal (unterkunft) sebagai ruang untuk berada dan ruang itu adalah pikiran manusia itu sendiri.

Persoalan yang muncul kemudian adalah faktor simpati—yang digunakan oleh para fenomenolog untuk merasakan objek. Hal ini agak sulit semisalnya jika konsep fenomenologi digunakan dalam penelitian tasawuf—atau dalam kajian-kajian feminisme. Dalam penelitian tasawuf, hemat penulis bahwa seorang fenomenolog tidak bisa mendeskripsikan secara alami pengalaman-pengalaman spiritual yang dirasakan oleh sang objek.

Hal itu disebabkan karena peneliti bukan seorang sufi—yang bisa merasakan penghayatan kejiwaan sang objek (sufi), semisal saat merasakan fana sebagai suatu kebenaran. Sedangkan dalam kajian-kajian feminisme, masalah muncul ketika peneliti adalah seorang laki-laki—yang berusaha memahami objek (perempuan) dengan pikiran dan perasaan ke-lelakian-nya. Sebagaimanapun hebatnya seorang peneliti, ia tetap tidak akan mampu bisa merasakan sepenuhnya apa yang dirasakan oleh sang objek.

Dalam hal ini, penulis memberikan satu tawaran berupa reflektif alternatif—yakni apa yang disebut dengan intersubjektifitas. Dalam pendekatan ini, objek tidak diposisikan sebagai objek, melainkan sebagai subjek. Reflektif intersubjetivitas merupakan salah satu konsep kajian sosio-filosofis yang membahas tentang relasi antara manusia dengan manusia dengan menekankan nilai kesadaran subjektif pada setiap individu.

Konsep intersubjektifitas, subjek harus dihadapkan dengan subjek sehingga terjadinya penyatuan. Relasi dalam konsep intersubjektivitas ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan—dimana relasi yang dimaksud sebagaimana yang katakan di atas, adalah relasi antara manusia dengan manusia (subjectsubject relation) bukan relasi antara manusia dengan benda (subjectobject relation). Prinsip dasar pendekatan ini adalah bahwa manusia harus memiliki kesadaran subjek (manusia) bukan kesadaran objek (benda) sehingga antara kedua belak pihak sejajar dalam nilai kemanusiaan.

Reflektif intersubjektifitas, sekilas mirip dengan pendekatan autoetnografi—dimana dalam penelitian yang menggunakan pendekatan autoetnografi peneliti memfokuskan kisah hidup penulis sendiri sesuai dengan tema yang diangkat. Penulisan autoetnografi memberi penekanan dalam proses penelitian (graphy) pada budaya (ethno), dan pada diri (auto). Sedangkan reflektif intersubjektifitas yang dimaksud oleh penulis, adalah metode yang memposisikan objek penelitian sebagai subjek. Tentu berbeda dengan pendekatan autoetnografi yang melakukan penelitian terhadap dirinya sendiri. Faktor kesamaan antara keduanya adalah sama-sama fokus pada wilayah subjek. Namun dalam reflektif intersubjektifitas, peneliti tidak meneliti tentang diri sendiri, malainkan menempatan objek sebagai subjek sehingga terjadi penyatuan.[]

Ilustrasi: Republika.co.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *