Wahai perempuanku.
Mendekatlah ke sini.
Akan kuceritakan tentang Hypatia, perempuan cerdas dalam sejarah Alexandria,
Yang meregang nyawa, terbunuh
Karena mempertahankan cita-cita
Berdedikasi kepada pengetahuan,
Menolak berbagai lamaran,
Iapun dituduh sebagai pagan.
Wahai perempuanku,
Tidakkah kau dengar Dana Mbojo memiliki legenda sarat makna
Perempuan yang memilih membatu
Setia menunggu
Kekasih hati yang tak kunjung bertemu
Wadu ntanda Rahi menjadi prasasti teguhnya hati akan cinta sejati.
Wahai perempuanku,
Mereka mengira, ketika badanmu terhunus.
Jiwamu yang memilih untuk merdeka atas kehendak dan kesetiaan turut terhempas.
Nilai dan derajat keperempuananmu yang mereka anggap lemah dan tak berharga ikut terlibas.
SEKALI-KALI TIDAK. Karena jiwa mereka yang sebenarnya lemah. Nilai merekalah yang lebih rendah bahkan lebih hina daripada makhluk yang tidak berakal.
Banggalah dalam tidur panjangmu, wahai perempuanku.
Karena engkau telah membebaskan diri dan kehormatanmu dari jiwa pengecut berdalih cinta dan harga diri.
Doaku menyelimutimu.
Ilustrasi: bicaraperempuan.com

Ibu empat orang anak, penulis buku Bukan Satu Mata.




