Seni dan Sastra: Modal Gerakan Perubahan (1)

Idza qallal ma’ruf sharamunkaran waidza sya’al munkaru shara ma’rufan(apabila ma’ruf telah kurang diamalkan maka dia menjadi munkar dan apabila munkar telah tersebar maka dia menjadi ma’ruf)

Bukan karena perjuanganlah kita menjadi seniman, tetapi karena kita seniman maka kita menjadi pejuang. Kalau seni yang indah tidak mengungkapkan gagasan moral, gagasan yang menyatukan orang, itu bukanlah seni, hanya hiburan. Orang perlu dihibur untuk menjauhkan kekecewaan dalam kehidupan. Pada masa Shakespeare, tujuan hidup warga negara biasa, buat semua orang kecuali bangsawan, bukanlah meningkatkan harkat hidup, tapi mempertahankan harkat yang sudah ada.

Kadang-kadang kita lebih gampang muncul dari kesalahan daripada dari kebingungan. Hanya dengan jalan membaca roman orang dapat memperoleh pengalaman-pengalaman lain dan hanya dengan membaca sajak orang dapat mengenal berbagai perasaan murni yang ada pada manusia tetapi yang sering disembunyikan. Seni dan sastra pada khususnya puisi memang bukan hanya sebagai pemompa semangat. Kadang bisa pula berperan sebagai ruang refleksi.

Ruang di mana kita dapat melihat kenyataan dalam getar jarak dan rasa. Puisi mengajarkan kita tentang makna  bercermin diri tidak ada yang tersakiti maupun menyakiti sebab kita memerankan diri kita sendiri untuk sama-sama menertawakan diri kita sendiri dalam dunia semu maupun dunia nyata. Saat tersentuh perasaan kita pada ketidakadilan puisi bisa membawa luka itu. Ketika penindasan berlangsung tanpa pemberitaan novel mampu menghidupkannya.

Itu sebabnya para pemimpin koruptor sangat benci pada teater, puisi dan novel. Banyak penguasa tak menyukai efek itu. Berulang kali karya seni dan sastra dianggap sebuah pembangkangan dan sumber perlawanan bahkan pada masa kediktatoran oleh para pemimpin dunia banyak karya seni dan sastra dihilangkan dari peredaran. Ada berapa banyak para penyair dan seniman diculik ataupun dibunuh sampai hari ini tidak ditemukan jasadnya. 

Sebut saja salah satu penyair Wiji Thukul diculik dan dihilangkan karena ke kritisannya dan dianggap subversi. Karya seni dan sastra yang seharusnya merupakan cerminan bagi kita akan menjadi berbahaya bagi pembaca atau penikmat yang melakukan sebuah ketidakadilan dan tidak amanah pada jabatannya. Bagaimana syair-syair puisi, novel, teater,  lukisan maupun roman efeknya lebih menghantam daripada sebuah aksi ataupun demonstrasi.

Pada mulanya sebuah sistem pemerintahan yang buruk akan melahirkan sebuah gerakan dari elemen masyarakat untuk menuntut sebuah perubahan pada sistem itu. Korupsi dan budaya malu sudah tidak ada melahirkan sebuah tindakan kesewenang-wenangan baik itu berupa kebijakan maupun tindakan melahirkan sebuah persoalan. Lukisan yang suram itu membawa risiko dan bencana. Sebut saja penyair sekelas Rendra dan Taufik Ismail mengungkapkan keresahannya dalam bentuk puisi atau sajak. Mereka menginginkan di balik puisi itu ada sebuah gerakan perubahan.

Kalaupun bukan mereka yang melakukan perubahan itu paling tidak mereka adalah pemantik dari sebuah gerakan perubahan tersebut. Rendra dengan sajak Sebatang Lisong-nya,Taufik Ismail dengan puisi Aku malu menjadi manusia Indonesia dan Wiji Thukul dengan gagah memahat kata-kata tentang ketidakadilan pada saat itu:

Jalan raya dilebarkan/kami terusir/mendirikan kampung/digusur/kami pindah-pindah/menempel ditembok-tembok/dicabut/terbuang/kami rumput/butuh tanah/dengar!/ayo gabung ke kami/biar mimpi jadi presiden!

Puisi ini bukan hanya mengoreksi kebijakan pembangunan tapi meniupkan kecaman keras atas praktik penggusuran yang terjadi di kota-kota besar. Bahkan puisi ini masih bisa menggambarkan pada praktik pembangunan di daerah saat ini bagaimana kebijakan di daerah menjadikan alam,  gunung, pantai dan laut sebagai konsep pembangunan moderen yang mengesampingkan keseimbangan alam. Tidak salah alam pun marah atas keserakahan manusia yang berlindung atas nama pembangunan. 

Tak hanya persoalan pembangunan akan tetapi persoalan pendidikan tidak luput dari seni dan sastra. Buku kumpulan Puisi Guru itu Melawan karya Eka Ilham. Saya coba menerjemahkan sebuah peristiwa apa yang saya lihat, bagaimana guru ini bukan hanya dihadapkan pada persoalan profesi akan tetapi berbicara tentang kesejahteraan guru, sarana dan prasarana, korupsi dan budaya pungli bahwasannya banyak persoalan yang kadang kala kita acuh tak acuh dan menganggap itu sebuah kebiasaan.

Kata Eko Prasetyo dari SMI Yogyakarta, bahwa “Di Bantul Yogyakarta tingkat perceraian sangat tinggi itu adalah dari kalangan guru yang bersertifikasi.” Ada apa dengan persoalan ini tingkat kesejahteraan tinggi akan tetapi banyak persoalan. Kesejahteraan tidak menjamin kebahagiaan bagi para guru bersertifikasi apalagi bagi guru-guru terpencil yang kebanyakan disebut guru sukarela atau lebih tepatnya guru relawan.

Ada sebuah ketidakadilan pada para guru-guru terpencil ini. Mereka hidup dalam keterbatasan. Gaji terbatas tanggung jawab tanpa batas. Mereka hidup di gunung-gunung dan pelosok daerah yang terpencil. Bergelut dengan lumpur di musim hujan, jalanan yang rusak, gedung sekolah yang sebentar lagi mau ambruk menunggu waktunya, WC tidak ada. Bantuan ruang kelas belajar dan perpustakaan atau sarana dan prasarana tidak ter-cover oleh dana APBD atau APBN.

Tetapi sekolah yang tidak lengkap sarana dan prasarana serta berada di lokasi terpencil justru banyak melahirkan banyak prestasi di tengah keterbatasan. Begitu pun gurunya menjadikan profesi guru adalah sebuah pengabdian, mereka tidak pernah menyerah di tengah keterbatasannya. Sebaliknya sekolah yang mentereng tidak menjamin kualitas siswanya berprestasi di tengah berlimpahannya fasilitas di sekolah moderen itu. Kualitas untuk bertahan dari segala rintangan lebih dapat dilalui oleh generasi yang berjuang untuk mimpi-mimpinya.

Generasi kota mudah putus asa karena memang mereka dididik oleh kemanjaan, efeknya mereka tidak bisa bertahan menghadapi problem kehidupannya. Potret pendidikan seperti di atas lebih renyah dituangkan dalam sebuah kumpulan puisi Guru Itu Melawan oleh Eka Ilham, Ketua SGI Bima yang terbit pada tahun 2016. Inilah kekuatan karya memang bentuk adalah indah, jika mengandung gagasan di dalamnya, apa gunanya dahi yang cantik, jika tidak ada otak di baliknya? Karya seni dan sastra diperankan untuk mengatakan dan menyatakan sesuatu.

Karya seni bukan hanya jembatan realitas melainkan suara pemberontakan. Pada karya sastra bukan hanya fiksi tapi juga mampu merekam fakta dan data. Karya sastra hampir-hampir tak banyak diminati. Kegiatan seni terjatuh dalam aktivitas yang menghibur atau mulai diadili oleh keyakinan. Hingga muncul anggapan seni tak punya faedah sama sekali  dalam pembangunan. Kita benar-benar berada dalam masa gelap karena tak mengetahui kalau sastra dan agama itu erat hubungannya. Dalam bahasa sederhananya semua sastra yang baik itu selalu religius.

Memang banyak diskusi di lingkungan kampus dan sekolah tetapi kebanyakan mendiskusikan tentang sinetron-sinetron yang lagi naik daun pada saat ini. Topik kisahnya berkisar antar soal-soal keseharian dengan kemasan bahasa yang populer dan berkisar antara pilihan untuk mencintai, kehilangan kekasih hingga merajut hubungan yang lama dipendam. Tak banyak karya seni dan sastra mengungkit kesadaran atas ketimpangan, jerit ketidakadilan dan kisah manusia yang berjuang dengan nilai-nilai universal.

Sastra malah melucuti semangat persaudaraan sesama manusia dan lebih meneguhkan identitas agama dan ras. Itu sebabnya menulis bukan hanya bertamasya, bukan bagian kegiatan yang menginspirasi, mengubah dan membangun proyek alternatif. Menulis didangkalkan pada keterampilan dan menulis kerap kali jadi sarana untuk menyebarkan hoaks, pandangan dan permusuhan. Padahal Putu Wijaya dengan meyakinkan berkata mengarang adalah berjuang:

…Mengarang pun menjadi seperti ibadah. Mengarang adalah bekerja…seperti petani yang mencangkul sawah dan merasa dirinya berguna, walaupun hasilnya tak cukup buat makan, saya terhibur dalam mengarang karena punya fungsi. Merasa punya arti minimal di dalam kehidupan, tidak sekedar penumpang gelap. Dengan mengarang saya berpikir, mencari, berdoa, berzikir dan melihat ketidakberdayaan saya di samping-Nya yang tak terbayangkan bahkan juga tak tersentuh walau telah saya coba gapai. Terlepas dari hasilnya, mengarang menjadi sebuah peristiwa pembelajaran karena dengan begitu saya lebih mengenal diri saya sendiri, tahu dimana kekuatan dan kelemahan saya, sehingga lebih tahu batas jelajah wilayah saya.

Ilustrasi: Pelayananpublik.id

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *