BEBERAPA hari yang lalu, teman karib baru pulang dari Jogja, dia nampak lelah bin letih. Saya berharap dia membawa buah tangan khas Jogja yang bisa dikunyah, namun setelah memporak-porandakan isi tasnya, tidak ada tanda-tanda sesuatu yang bisa digigit, hanya tumpukan baju kotor, dan satu buku dengan soft cover warna kuning telur. Mata saya langsung mengarah pada benda itu, saya ambil dan saya buka bungkusnya (plastik tipis bening) dengan pelan nan lembut, maklum barang bagus, harus hati-hati.
Dua Suara Tuhan, judul buku itu, buah pikir Prof Abdul Wahid. Saya menahan diri untuk tidak merapalnya dulu, maklum sudah terlanjur mendaras buku gubahan Khalid Muslih dkk, Worldview Islam dan belum tuntas. Ingin coba menjadi pembaca yang poligami, saya khawatir belum mampu adil kemudian mengabaikan buku yang lain, dan hal yang lebih ditakutkan adalah, sikap poligami ketika mengeja buku ikut-ikut tertular dalam membangun biduk rumah tangga.
Literasi Pandemi ke Pandemi Literasi
Setelah membuka lebih dalam, rupanya Dua Suara Tuhan dicetak pertama kali pada 2020. Jamak diketahui, 2020 menjadi alaf yang mencekam, di mana seluruh jagat digebuk oleh corona. Pagebluk Covid-19 sedang ganas-ganasnya waktu itu. Aktivitas manusia dari segala sisi tiarap dan ambyar.
Manusia tak bisa berselancar lebih jauh, makhluk yang disebut sebagai sapiens itu hanya bisa bergerak sampai depan pagar rumahnya, karena jika melewati ‘batas suci’ itu, raja corona dan kroni-kroninya siap memangsa.
Baca juga: Literasi di Mata Ketua Mahkamah Konstitusi
Namun dibalik pandemi global yang mendera, tubuh yang tertawan di dalam rumah, pelarangan aktivitas di ranah publik dan pusparagam aktivitas lainnya, ada beberapa aktivitas yang tak bisa ditawan oleh corona, salah satunya literasi ‒baca-tulis.
Aktivitas baca-tulis tak melibatkan banyak orang, justru harus dalam keheningan dan (kadang) perlu menyendiri menjauhi keramaian ‒era Covid sangat menggambarkan dua keadaan tersebut‒sehingga aman dan tidak ada nyawa yang terancam.
Inilah juga yang menjadi alasan mengapa aktivitas literasi di era corona ‒menurut saya‒ lebih enak dilakoni, karena kita punya lebih banyak waktu luang (bukan berarti saya berharap corona kembali mengganas di ibu pertiwi, nehi!) dan tidak ada yang mengganggu. Daftar bacaan yang dulunya belum tuntas, ketika corona hadir bisa diselesaikan.
Pun banyak berseliweran esai dan opini di jagat maya era corona. Gerakan baca-tulis era corona begitu moncer, apalagi yang membahas tentang pandemi, hampir menghiasi seluruh media online. Kemudian beberapa tulisan itu diramu dan dipadu menjadi buku yang amat renyah dan asik dibaca.
Salah tiganya adalah Kawan Rebahan: Eksistensialisme, Tubuh, dan Covid-19 (gubahan Bahrul Amsal), Sains “Religius” Agama “Saintifik” (anggitan Bung Haidar Bagir dan Gus Ulil), dan terakhir, adalah buku yang saya sebutkan sebelumnya, Dua Suara Tuhan, dan kemungkinan ada beberapa buku (produk covid) lainnya, namun saya hanya menyebutkan yang ada di lemari. Buku, opini, esai, artikel yang lahir karena dan di era corona, (mengutip frasanya Kak Sulhan Yusuf) diistilahkan dengan literasi pandemi.
Baca juga: Bercadar: Agensi, Literasi, dan Narasi Kebangsaan
Semoga dengan hadirnya buku-buku di era pandemi covid-19 (literasi pandemi), menyulut lahirnya pandemi baru, yaitu pandemi literasi sebagai estafet dari literasi pandemi. Setelah pandemi covid mereda (untuk tidak mengatakannya hilang dari edaran), hadir gerakan literasi ‒baca-tulis‒ sebagai new pandemic yang menyebar ke penjuru negeri, pelosok desa dan rumah-rumah penduduk. Menjangkiti setiap warga negara, tua, muda, dan anak-anak. Sekarang kita sudah di awal 2023, mari refleksikan literasi pandemi era Corona di tahun yang muda belia ini dengan menggalakkan pandemi literasi di era kekinian dan kedisinian.
Kenapa Harus Menggalakkan Pandemi Literasi?
Pemerintah menargetkan negara Indonesia yang sama-sama kita cintai ini pada satu abad usianya (tahun 2045) akan menjadi negara maju. Salah satu langkah jitu mencapai cita-cita luhur itu dengan menguatkan dan memperbaiki science and knowledge bangsa. Sains dan pengetahuan sangat berkelindan erat dengan gerakan literasi ‒membaca dan menulis.
Itulah sebabnya negeri-negeri Arab yang dulunya hanya gurun pasir, masyarakatnya pengembala, bertransformasi menjadi negeri yang berperadaban, berkemajuan, melahirkan banyak tokoh dan para ulama yang namanya harum hingga kini, karena mereka menguatkan literasi melalui agama pengetahuan (Islam) yang dibawa oleh Kanjeng Nabi dengan wahyu pertama, iqra’ (bacalah).
Lantas siapa yang menjadi motor penggerak? Prof Hamid Fahmi Zarkasyi dalam beberapa forum intelektual yang beliau isi, selalu mewacanakan “ada empat unsur yang harus saling bersinergi supaya literasi di suatu negeri kuat dan hidup. Pertama, penguasa, sebagai pembuat kebijakan. Kedua, pengusaha atau agniyaa’, karena untuk menerbitkan buku, riset perlu dana banyak. Ketiga, kesadaran masyarakat, dan yang terakhir. Keempat, adalah media massa. Media harus menampilkan tontonan yang berisi tuntunan, bukan sinetron-sinetron yang memancing birahi.
Pantas negeri-negeri Islam menjadi jawara di masa dulu, karena masyarakatnya begitu kuat meresapi makna iqra’ itu, kemudian juga didukung oleh para penguasa yang begitu cinta literasi. Dan sudah sepatutnya kita sebagai generasi muda muslim, perlu membangkitkan ghirah membaca dan menuntut ilmu seperti pemuda-pemuda Islam dahulu kala.
Kapan kita mulai? Sekarang. Ketika Anda tuntas membaca tulisan ini. Gerakkan diri Anda dan ajak teman sejawat, karib kerabat, sanak saudara untuk mulai mendaras dan mencintai buku, karena Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi omong kosong: ingin berakhir angan.
jika kita terus mengarusutamakan gawai dan sosmed, menomorsekiankan literasi dan ilmu dalam laku-lakon kehidupan. Pengembangan dan pengadaan perpustakaan di sekolah dan desa menjadi langkah dini yang bisa diambil oleh pemerintah untuk melejitkan literasi negeri.
Akhirul kalam, kami dedahkan potongan dawuh dari Kanjeng Nabi “waman araada huma fa’alaihi bi al ‘ilmi” maknanya, “ dan siapa yang inginkan kejayaan, kemasyhuran, dan kebahagiaan pada keduanya (dunia dan akhirat) haruslah dengan ilmu”. Dan sungguh tiada ilmu tanpa membaca dan menulis.[]
Ilustrasi: pinterest.

Mahasiswa Jurusan Sastra Asia Barat Universitas Hasanuddin dan Direktur Eksekutif Rektor Tahfidz Qur’an





