Mengenang Kang Jalal, Pejuang Keterbukaan

“SAYA tidak peduli dituduh Syiah” adalah pernyataan kunci Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) ketika saya melakukan wawancara panjang untuk tabloid mahasiswa “Washilah”, edisi Desember 1995.  Dia datang ke Ujung Pandang (kini Makassar) sebagai narasumber sebuah seminar tentang rekonsiliasi Sunni-Syiah di kampus saya, IAIN Alauddin.

Sebagai wartawan kampus, saya memanfaatkan kunjungannya untuk mengulik informasi seputar isu pembaruan Islam maupun kontroversi  Syiah. Maklum, meski tidak sekeras sekarang, tapi sentimen anti-Syiah juga tetap ramai diperbincangkan saat itu.

Kang Jalal menyampaikan sikap optimismenya bahwa kalangan muda kini jauh lebih terbuka dibandingkan kalangan tua. Mereka, kata dia, lebih inklusif dan membaca buku dari berbagai mazhab termasuk mazhab Syiah. Ketika saya tanya mungkinkah rekonsiliasi Sunni-Syiah nanti akan terjadi? Dia dengan mantap menjawab bahwa rekonsiliasi tersebut bahkan sudah berlangsung sepanjang masa. Buktinya Imam Abu Hanifah berguru kepada  Abu Ja’far As-Siddiq, ulama Syiah terkemuka.  

Dia juga membantah tuduhan bahwa mesjid dekat rumahnya sering dijadikan tempat pernikahan mut’ah maupun pernyataan Prof  Rasyidi di Tempo bahwa dirinya menyesali menjadi Syiah. Dalam buku-bukunya Kang Jalal banyak berbicara seputar pentingnya berpikiran terbuka. Sebaliknya sikap eksklusif dan berpecah belah akan membuat kaum muslim sulit mengejar ketertinggalannya.

Dalam wawancara dengan saya Kang Jalal menuturkan bahwa penyakit paling parah umat Islam saat ini adalah perpecahan. Mengapa kita sulit bersatu? Menurutnya disebabkan sifat tertutup dan merasa diri paling benar. “Setiap kelompok  hanya ngaji pada kelompoknya, tidak mau dengar kelompok lain, hanya baca buku kelompoknya saja.

Bahkan pada tingkat yang lebih ekstrem kalau bergaul pun mereka hanya bergaul dengan kelompoknya  dan tidak mau bergaul dengan kelompok lain. Dan kalau itu penyakitnya  maka yang lebih baik adalah keterbukaan,” ujarnya. 

Saya mengenal nama Kang Jalal tanpa sengaja. Sebagai mahasiswa dari pelosok  tentu saja saya tidak kenal nama ini. Pada 1991, saat kali pertama tiba di Makassar untuk kuliah, saya tertarik dengan  sampul buku yang tampak pudar dan berwarna kekuning-kuningan. Sampul  buku “Psikologi Komunikasi” terbitan Rosda Karya Bandung itu menampilkan beberapa potongan gambar  wajah seorang  gadis cilik dalam beragam  ekspresi.

Sebagai mahasiswa baru buku itu tentu asing. Saya hanya tertarik dengan sampulnya dan membolak-baliknya. Di sampul belakang  tertera biografi penulisnya, Drs Jalaluddin Rakhmat MSc, seorang pria agak gondrong dan berkacamata tebal.  

Belakangan saya baru tahu kalau buku ini—milik abang sepupu saya yang duduk di semester akhir Jurusan Komunikasi sebuah kampus swasta di Ujung Pandang—ternyata magnum opus-nya Kang Jalal. Buku tersebut best-seller dan buku wajib mahasiswa jurusan komunikasi. Sebuah buku yang ditulis dengan gaya khas Kang Jalal: memadukan gaya populer, bahkan jenaka, dan teknis-ilmiah.

Seperti buku atau tulisannya yang lain Kang Jalal menulis dengan renyah, kata-katanya  mengalir  nan lincah. Tetapi perkenalan ide saya dengan Kang Jalal terhubung melalui buku “Islam Alternatif” (Mizan, 1991), “Islam Aktual” (Mizan, 1992) dan jurnal “Al-Hikmah” kerjasama Yayasan Muthahhari dan Penerbit Mizan, Bandung. Buku “Islam Aktual” pun best seller. Hampir  secara kesleuruhan isi buku ini   menyerukan pentingnya umat Islam bersikap terbuka dan menghargai perbedaan.

Kepada saya, dalam wawancara itu, Kang Jalal  menjelaskan bahwa pilihan nama Yayasan Muthahhari yang dipimpinnya juga berdasarkan semangat keterbukaan itu. Meski Syiah tapi Muthahhari menurutnya berpikiran terbuka, bukan hanya terhadap pemikiran Sunni melainkan juga Barat.

Begitu pun, kendati berpendidikan pesantren tapi Muthahhari berwawasan luas. Tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman tapi juga ilmu-ilmu sosial modern seperti  psikologi, sosiologi, sejarah, filsafat. Selebihnya, Muthahhari adalah seorang  pemikir sekaligus aktivis, sosok yang langka dalam masyarakat Islam. Muthahhari menggabungkan keduanya.  

Semangat keterbukaan juga dipraktikkan Kang Jalal di SMA Plus Muthahhari, miliknya. Para  siswa tidak hanya diajarkan ilmu-ilmu umum tapi juga ilmu keislaman, termasuk  mengundang beberapa cendekian kelas dunia seperti Hamid Algar atau Sayyed Hossein Nasr.

Siswa juga  diajarkan  semua mazhab, kecuali Fiqih Syiah. “Ini mengherankan. Padahal  orang menyebut Yayasan Muthahhari yayasan Syiah tetapi  Fiqih yang kita ajarkan Fiqih  Hanafi, Maliki, Hambali dan Syafi’i hehehe,” ujarnya.

Capaian akademis Kang Jalal  juga mengagumkan. Ia menyelesaikan studi S2-nya di Iowa State University, AS, hanya dalam waktu 11 bulan dengan nilai  semua “A”. “Entah untuk tujuan apa saya takut sekali dapat nilai B,” candanya dalam suatu wawancara  Kompas.  Kang  Jalal  pun tercatat menjadi anggota Phi Capa Phi dan Sigma Delta Cay, kumpulan orang-orang berprestasi tinggi dan menakjubkan di AS.

Kang  Jalal (29 Agutus 1949-15 Februari 2021) dikenal sebagai penulis produktif , mubalig dan pembicara yang memikat. Sebagai ahli komunikasi, mantiq dan retorika gaya menulis dan bicaranya sama hebatnya. Gaya bertuturnya ringan, sederhana dan kocak. Di tangannya teori-teori rumit dapat disederhanakan sedemikian rupa sehingga mudah dipahami kalangan awam sekalipun. Selain ilmu komunikasi yang  menjadi kompetensi formalnya,

Kang Jalal dikenal sebagai cendekiawan muslim terkemuka. Ia juga seorang pembaru Islam. Namanya sejajar dengan  KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Munawwir Syadzali, Nurcholish Madjid (Cak Nur), M Dawam Rahardjo, M Amien Rais, Ahmad Wahib, Djohan Effendi dan lainnya.

Lahir dari keluarga pesantren, Kang Jalal menguasai ilmu-ilmu keislaman tradisional cukup baik (Al-Quran, Hadis, Tafsir, Tasauf, Fiqih, Ushul Fiqih, sejarah Islam, Teologi). Penguasaannya terhadap kitab-kitab Islam klasik sama baiknya dengan kemampuannya memamah buku-buku Barat.

Dia menguasai beberapa bahasa asing. Selain Arab, Inggris juga Parsi secara aktif. Tak heran, selain sebagai dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi, Unpad, Bandung Kang Jalal juga memiliki Yayasan Muthahari yang menaungi beberapa lembaga pendidikan  Islam di kota kelahirannya, Bandung.

Selama di Ujung Pandang saya sempat menghadiri beberapa seminarnya Kang Jalal. Lalu, saat menempuh S2 di Bandung (2008-2010) juga beberapa kali menjadi jamaah pengajiannya di Mesjid Al-Munawwarah di kompleks Yayasan Muthahhari, jalan Kampus, Babakan Sari Kecamatan Kiara Condong, Bandung.  

Jaraknya tidak terlalu jauh dari kos saya di Jalan Ibrahim Adji, Kiara Condong. Bersama seorang teman, setiap Ahad pagi saya selalu mengikuti pengajian yang diisi secara bergantian oleh Kang Jalal dan puteranya Miftah Fauzi. Topiknya seputar  soal tadzkiyatun nafs (penyucian jiwa), tema-tema tasawuf yang menjadi konsen Kang Jalal.

Jujur, sebenarnya saya punya ‘misi’ lain mengikuti pengajian ini. Yakni hendak menelisik beberapa tuduhan terkait Kang Jalal dan Syiah. Tapi apa lacur, waktu pertama bergabung dengan jamaah di mesjid ini saya kaget sekali. Mayoritas ibu-ibu dan remaja putri.

Semula saya menduga mereka adalah para perempuan bercadar, kostum hitam-hitam seperti perempuan Iran yang sering saya lihat di TV, atau minimal berjubah besar layaknya  perempuan jamaah haraqah. Faktanya  jamaah pengajian Kang Jalal adalah ibu-ibu urban berpenampilan biasa. Mereka memakai jilbab biasa bahkan diantaranya memakai rok dan celana jeans.

Fenomena itu  membuat saya makin percaya bahwa Syiah Indonesia bukanlah Syiah gerakan yang potensial melakukan pemberontakan sebagaimana ketakutan dan hasutan beberapa kalangan. Syiah Indonesia, seperti dikemukakan Kang Jalal dalam wawancara dengan saya, lebih merupakan Syiah-pemikiran daripada Syiah-gerakan. Selamat jalan Kang Jalal. Semoga dapat berhimpun dengan para ahlul bait.[]

Ilustrasi: twitter.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *