Untuk Umbu Landu Paranggi

Catatan yang tergores beberapa jam menjelang 10 Agustus 1993 ini merupakan hadiah yang diperuntukkan di Hari Ulang Tahun Bang Umbu Landu Paranggi yang ke-50. Tentu sifatnya sangat personal, terpicu oleh pertemuan dan hasil perbincangan serius dan “dalam” dengan beliau saat duduk berdua suatu malam dalam ruangan tertutup di Denpasar: leluasa, sangat privacy dan bebas. Bang Umbu kelahiran Sumba, pulau yang berdekatan dengan pulau Sumbawa di mana saya dilahirkan. Mesti berbeda generasi kami sama-sama merantau ke Yogya untuk melanjutkan SMA, sangat akrab dengan Jalan Malioboro, pernah menulis di media massa Yogya, menggeluti disiplin ilmu yang tak terkait sastra namun tertarik dunia sastra dan waktu itu sama-sama tinggal di Bali.

Setengah Abad Umbu Landu Paranggi: Antara Franz Kafka dan B. Traven.

Hingga hari ini keberadaan B. Traven masih dipertanyakan dan diperdebatkan. Tak sedikit penikmat karya sastra beranggapan buah tangannya demikian memukau. Ia mengisahkan kehidupan pelacur di sudut pelabuhan Hamburg tepi Sungai Elbe yang iseng-iseng mencuri paspor pelaut Amerika dan kelanjutan ceritanya berbuntut ketegangan serius. Ia pun menoreh kisah para buruh kapal yang diperjual-belikan, dan nasib sebuah kapal tua yang sengaja dilayarkan untuk ditenggelamkan demi pembobolan asuransi. Rapuhnya ikatan persahabatan para pencari emas di Amerika Latin yang saling mencurigai, bertikai dan bunuh-bunuhan ditulis dengan gaya teaterikal.

Baca juga: Perempuan Kedua

Ada spekulasi mengatakan B. Traven dilahirkan di Swedia, dan ada juga yang berpendapat dari Polandia – sempat bekerja di kapal laut, terdampar di Meksiko. Pendapat lain menyebut ia merupakan ex-anggota parlemen Jerman yang kecewa dan memilih hidup “as no body” di Amerika Latin.

Penulis lain yang jauh lebih dikenal di abad kedua puluh tak lain dari Franz Kafka. Cukup banyak catatan penting tentangnya. Ia kelahiran Praha pada 3 Juli 1883. Karya-karyanya yang ditulis pada 1899-1903 semua ia musnahkan. Tahun 1903 digarapnya novel berjudul “The Child and The City” tapi hilang tak tau rimbanya. Ia merupakan sarjana hukum namun putra pebisnis permata itu memilih bekerja di Accident Insurance.

Hari-hari yang dilalui Kafka merupakan kehidupan yang sangat murung dan muram. Ketidakharmonisan hubungan dengan ayahnya yang ia anggap “kekuasaannya” terlalu besar, mengancam dan menakutkan sehingga dirinya tumbuh menjadi pribadi yang teramat rumit dalam pergaulan, sangat pesimis, pemalu dan memandang hidup dengan mata serba gelap. Dalam usia ketiga puluh sembilan (setelah menyelesaikan sekian banyak buku), kepada salah seorang teman, antara lain ia menulis: “But what about being a writer it self? Writing is a sweet and wonderful reward, but what for?” Dan dua tahun sesudahnya pria yang sempat tinggal di Berlin ini pas sebulan sebelum genap berusia empat puluh satu tahun meninggal di Kierling, sebuah kota kecil dekat Wina akibat terdera penyakit TBC. Di ujung hidupnya ia sempat meminta sahabatnya yang bernama Max Brod agar memusnahkan seluruh karya-karyanya.

Kulihat sosok B. Traven berlari dan sembunyi dari kedai ke kedai, dari belukar ke belukar bahkan dari diri ke diri untuk menjalani, mencari, menggali dan menghidupi. Di antara hiruk-pikuk suasana terminal terdengar teriaknya: “Baca saja tulisanku. Tak pening siapa aku. Bagaimana dan apapun tentangku semua tak penting.”
Dalam kamar berlampu redup di kasur kumuh terdengar Kafka mendesak sahabatnya. “Tolong, Max! Bitte. Musnahkan seluruh tulisanku. Bagaimana caranya terserah kamu. Jangan sisakan.”

Baca juga: Cerita dari Udara

Max Brod membisu. Namun apa jadinya bila memenuhi permintaan Kafka. Dunia tak hanya kekurangan bacaan, tapi juga kehilangan orang-orang ajaib. Betapa tidak? Dalam suratnya buat Max Brod yang berstempel 5 Juli 1922 ia mengatakan: “But I my self can not go on living because I have not lived.” Dan apa makna hidup bagi Kafka? Adakah tulisan-tulisannya hanya coretan anak-anak iseng yang terpisah dari kenyataan hidup? Ataukah di bawah sadar ia membentuk kenyataan lain yang di dalamnya tak termasuk khayalak?
“Untuk apa menulis?” Jawabnya tak sesingkat pertanyaan. Beban rasa dan pikiran Kafka memang berat. Deretan persoalan yang diarungi dan menyayat hati tidaklah sederhana. Menjelang maut pun ia masih berpikir untuk berlari karena beranggapan karya-karya yang digarapnya tidak memadai.

Dengan cara masing-masing Franz Kafka dan B. Traven menghindar dari masa silam dan bersembunyi pada keakanan. Kenyataan hidup memang terlampau pahit sehingga tak berbilang batang-batang lilin menyinari walau tahu akhirnya lebur. Dikenal dan tidak, rugi-laba, sukses-gagal dan apapun bentuk pencapaian semua itu anggapan. “Value is subjective” sahut anak Inggris. Pedagang obat di India mengatakan: “Angka enam bisa jadi sembilan, atau sebaliknya – tergantung pada sisi mana kita berdiri.”
“Musnahkan karya-karyaku. Ayahku sendiri pun menganggapnya tak berguna,” desak Kafka.
”Kalian tak perlu tahu siapa diriku,” bisik B. Traven.

Di hari jadimu yang ke-50 ini dalam layar teropongku lima puluh batang lilin berderet, tegak di meja kayu tak berukir. Seperti pepohonan di tengah hutan, masing-masing hening sendirian.

Ruang dan jarak hanya di hati. Terang dan gelap ada dalam pikiran. Kita berputar pada satu lingkaran. Tak terkecuali, semua menuju satu arah. Kelahiran tak dapat ditolak. Perjalanan telah diawali. Sejarah sudah tergores. Hanya jejak tertinggal. Dan tak ada yang lebih bermakna dari satu kehidupan yang dirasa dan dipandang satu.”

Seminyak,  Agustus, 1993.
Selamat Jalan, Bang Umbu..

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.