Membaca Kans Bang Zul dan Tradisi Capres Tokoh NTB

Beberapa hari yang lalu, dari seorang teman saya melihat sebuah pamflet menarik. Pamflet dengan dominasi warna merah tersebut menampilkan dua orang tokoh sebagai ‘calon presiden’ 2024 itu, lengkap dengan profil mentereng hasil godokan kampus yang pasti terakreditasi A.

Keduanya saling berjabat tangan, ingin meyakinkan publik bahwa mereka sehati, seide dan seperjuangan. Jelas saja, dalam profil singkat itu, tertulis juga jejak aktivisme kemahasiswaannya. Jelas pesannya: keduanya tokoh yang selalu membela kepentingan rakyat, bahkan sejak buaian sampai liang lahat. Upss, sejak mahasiswanya sampai sekarang.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas keduanya secara spesifik. Atau mungkin di kesempatan lain saja. Kali ini
khususan ila sayidi Zulkieflimansyah, yang namanya masuk dalam bursa calon presiden. 

Sebagai warga NTB yang baik dan tidak sombong, saya sebenarnya tidak heran mendengar kabar ini. Toh, Bang Zul juga tidak menolak jika dicalonkan menjadi presiden.
Baca

juga:
Menilik Narasi Gerakan Politik Islam Indonesia

“Kita juga pernah jadi Ketua Senat UI, jadi gubernur juga. Jadi bukan hal yang mewah-mewah juga. Saya tiga periode di DPR dan dikenal banyak orang. Orang NTB jadi capres dan cawapres itu bukan hal yang terlampau mewah juga, buat kita itu biasa saja,” terang Bang Zul sebagaimana ditulis SuaraNTB.com (22/4/2021).

Isu semacam ini bagi saya adalah kelanjutan dari kaset panjang calon presiden dari NTB beberapa tahun lalu. Selain orang Jawa yang selalu menjadi presiden, ada juga orang NTB yang selalu masuk dalam bursa capres-cawapres.

Jika Anda masih ingat, setahun yang lalu nama TGB Zainul Majdi, menjadi salah satu calon terkuat untuk mendampingi Pak Jokowi. Bagaimana tidak, Jokowi saat itu dihadapkan pada isu anti agama, PKI, hingga ateisme yang masif. Mau tidak mau, Jokowi harus mengambil wakilnya dari kalangan agamawan, untuk menarik simpati.

Sebagai ahli tafsir, hafiz, lulusan Al Azhar Mesir, Mantan Gubernur NTB dua periode, menjadi ketua Nahdlatul Wathan, hingga elektabilitas yang menasional, rasa-rasanya TGB pas sekali untuk dijadikan calon wakil presiden.

Tapi apa dinyana, TGB Zainul Majdi tidak dipilih, sebagai menteripun tidak. Padahal pamflet dan fliyer hingga hati orang NTB dan Islam sudah riang gembira, melihat negaranya akan dipimpin seorang ahli agama itu.

Hamdan Zoelva juga begitu, sebagai Mantan Ketua MK tak sulit bagi Hamdan mendapat mandat dari 50 raja se-Nusantara. Wow, ini raja loh teman, yang titahnya harus dilaksanakan. Tapi saya lupa, ternyata kita sudah merdeka, 75 tahun lagi. Titahnya udah nggak segereget dulu. Plus, kita sudah reformasi, yang salah satu kereta itu, juga didorong oleh Hamdan Zoelva sendiri lewat Partai Bulan Bintang. Ketua Umum Sarekat Islam saat ini, organisasi yang dulu menggembleng Soekarno hingga Semaoen itu saja tidak mampu jadi calon presiden. Bagaimana yang lainnya?

Warga NTB itu memang tak kenal menyerah. Maklum, terik matahari, kerikil dan batu menjadi sahabatnya.

Din Syamsuddin menjadi salah satu tokoh yang mengamalkan pribahasa itu. Di setiap perhelatan lima tahunan itu, nama beliau selalu masuk radar. Sebagai Mantan Ketua PP Muhammadiyah dua periode, memang tak sulit ia mendapat dukungan kalangan Islam, terakhir PPP, memasukkan namanya dalam salah satu calon presidennya.

Apakah Pak Din berhasil menjadi calon presiden? Tidak juga. Warga NTB kembali kecewa, bah cinta bertepuk sebelah tangan.


Baca juga:
Jalan untuk Politisi Non Partai

Nah agar kita makin terlatih kecewa dan siap menerima keadaan pahit tak ada salahnya jika kita melihat kans Bang Zul, Gubernur  NTB yang lagi naik daun sekarang ini.

Sejauh ini, elektabilitas Bang Zul belum pernah sekalipun masuk dalam lima besar calon presiden. Entah itu survei dari Saiful Mujani Research Center, Indikator Politik-nya Burhanuddin Muhtadi bahkan Charta Politika besutan Yuniarto Wijaya. Paling banter, nama-nama berkutat pada Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil dan dibumbui ‘jara tua‘ Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Data tersebut jelas menjadi pukulan berat bagi Bang Zul untuk meraih mimpinya. Jika dikatakan, Bahwa ia banyak dikenal, patut kita pertanyakan, perkenalan bagaimana yang dimaksud. Ini level nasional kawan, bukan pemilihan ketua RT yang bisa kita tandai rumah per rumah terus kita dikte untuk memilih calon tertentu.

Kelihatannya modal NTB sebagai trademark pariwisata Indonesia dengan MotoGPnya ternyata belum berbanding lurus dengan peningkatan elektabilitas gubernurnya di kancah nasional.

Namun, Bang Zul masih punya harapan. Dengan terus mengekspoitasi isu pariwisata dan investasi besar-besaran di NTB, kiranya bisa menjadi list tambahan untuk prestasi Bang Zul di hadapan publik luas. Itu butuh waktu dan kesabaran. Bukan saja hanya modal silaturahmi sana-sini ke luar daerah.

Dari sisi partai politik, kita bisa komparasikan posisi Bang Zul dengan tiga nama yang gagal di atas.

Hanya Bang Zul  yang saat ini menjadi ‘orang’ di DPP PKS. Kendati juga dulu TGB sempat menjadi pengurus Partai Demokrat, namun tren penurunan suara Demokrat sedang anjlok-anjloknya. Sedang, dua nama lagi memang tidak memiliki basis partai politik yang kuat. Hanya bermodal figur dan ketokohan saja, tentu tidak cukup Fergusoo.

Konflik internal Partai PKS yang melahirkan Partai Gelora menjadi pukulan telak bagi para kader dan simpatisan di akar rumput. Walau dalam sejarahnya, PKS di tahun 2014 mampu mendulang suara saat dihantam badai yang hampir sama. Tapi ingat siapa Presiden PKS waktu itu? Anis Matta teman, yang kini menjadi lawan utama PKS dengan mendirikan Partai Gelora itu bersama Fahri Hamzah, tokoh NTB juga.

Baca juga:
Cara Tolak Bala dalam Politik

Eits, hampir lupa. Jangan sombong dulu dan di atas angin dulu. Jika Anda sadar, PKS adalah partai yang punya tradisi mencalonkan kadernya sebagai capres tapi selalu gagal. Anda tentu ingat gerilyanya Anis Matta, Sohibul Iman, Ahmad Heryawan, Salim Segaf untuk mendulang kepercayaan publik. Tapi nihil. PKS tetap tidak mampu mencalonkan kadernya.

Apakah itu juga berlaku pada Bang Zul saat ini? Saya ingin mengatakan ‘iya’. Dengan tradisi politik PKS yang setiap tahun begitu dan sekarang harus berkoalisi dengan partai lain. Tentu ini sangat berat bagi PKS dalam mencalonkan Bang Zul sendiri.

Apakah saya pesimis? tentu saya dalam isu ini sangat pesimis. Dan saya biarkan anda saja yang optimis dan menelan kekecewaan demi kekecewaan dari kelakuan dan niat baik tokoh-tokoh kita ini.

Ilustrasi: Facebook Bang Zulkieflimansyah

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *