Bagai Menyorotkan Lampu ke Cermin

MEDIA pernah memviralkan hasil penelitian Masaru Emoto, seorang berkebangsaan Jepang yang terkenal dengan hasil eksperimen air yang menyebutkan bahwa kesadaran manusia dapat mempengaruhi struktur molekul air. Klaimnya ini menjadi viral dan kemudian menarik perhatian banyak orang.

Emoto saat itu melakukan serangkaian percobaan di mana air disimpan dalam berbagai botol yang masing-masing diberi label dengan pesan yang berbeda. Pesannya berkisar dari positif dan perhatian (terima kasih, cinta) hingga negatif (aku benci kamu, aku ingin membunuhmu), dan kemudian tetesan air dari botol-botol tersebut ditempatkan pada satu irisan dan dibekukan untuk membentuk kristal seperti kepingan salju.

Temuannya sangat mencengangkan. Kristal yang terbentuk pada pesan positif ternyata lebih geometris dan estetis, dibandingkan dengan kristal yang dibentuk oleh air dengan pesan negatif memiliki bentuk yang kacau dan tidak seragam.

Ada juga tangkapan gambar kristal air yang belum dibacakan doa dan sesudah dibacakan doa.  Tenyata bentuk kristal airnya jauh lebih bagus yang dibacakan doa ketimbang yang tidak.

Sekilas tentang kisah molekul air dari eksperimen Emoto di atas mengusik pemikiran kita untuk membaca diri kita, di mana kandungan air didalam tubuh diketahui sekitar 60% – 70% dari berat tubuh manusia. Artinya tubuh kita ini didominasi oleh air.

Jika kita menggeret eksperimen Masaru Emoto itu untuk memberikan perlakuan pada tubuh kita yang memiliki kandungan air yang dominan, bisa saja kondisi tubuh kita akan mengalami apa yang ditemukan dalam eksperimen air di atas.

Bila kita ingin seluruh anggota tubuh kita sehat dengan molekul yang membentuk kristal yang indah didalamnya, coba kita mulai memperdengarkan bacaan-bacaan yang indah ke seluruh tubuh; apa yang keluar dari mulut ini betul-betul kita dominasi suara-suara positif, seperti bacaan al-qur’an, bacaan-bacaan doa, kalimat-kalimat yang santun, kalimat-kalimat pujian, dan kalimat-kalimat yang lembut. Tentunya kalimat itu harus terdengar minimal oleh seluruh anggota tubuh, sehingga molekul-molekul yang ada di dalam tubuh ini mengeluarkan kristal-kristal yang indah dan manfaat bagi tubuh.

Demikian pula bisikan-bisikan hati dan pikiran, kita mencoba berpikiran yang positif dan membisikkan hal-hal yang baik, menghindari buruk sangka, menghindari dendam, menghindari gibah, menghindari intimidasi dalam pikiran, menghindari rasa tidak nyaman dengan orang lain, menjaga hati jangan sampai ada rasa memusuhi orang lain, berupaya untuk tidak melihat sebelah mata terhadap orang lain, menjaga jangan sampai mengata-ngatai orang di dalam hati dengan hal-hal yang tidak semestinya. Dengan perlakuan seperti ini, maka tubuh kita tidak menangkap signal-signal negatif dari bisikan hati dan pikiran kita, yang bisa jadi dengan perlakuan seperti itu akan mengeluarkan aura positif dari sekujur tubuh.

Kita optimis dengan mengacu pada hasil eksperimen di atas, dan menerapkan perlakuan kepada tubuh kita seperti yang diberikan kepada air terutama perlakuan dan kalimat postif, tidak menutup kemungkinan tubuh kita akan mengeluarkan kristal-kristal indah dan menyehatkan, karena didalam tubuh ini dominan terisi dengan air.

Ini sejalan dengan konsep agama yang melarang kita untuk buruk sangka—di samping berdampak kepada hubungan kemanusiaan, buruk sangka akan berdampak pula pada kesehatan hati dan pikiran. Agama melarang kita ghibah, menggunjing, dan menyebar fitnah—di samping berefek pada membunuh karakter orang, juga berefek pada ketenangan diri. Agama juga melarang kita berkata-kata yang keras dan kasar, karena akan berefek pada ketersinggungan orang dan ketidaknyamanan di dalam hati dan pikiran sendiri. Kata pujangga, “Jangan pernah membanting pintu, siapa tahu kamu akan kembali.”

Sementara orang bijak mengatakan, bahwa perbuatan yang kita lakukan tak ubahnya bagaikan menyorotkan lampu senter ke permukaan cermin, bukan benda yang di belakang cermin yang akan terkena cahaya senter, tetapi cahaya senter akan memantul balik ke arah kita. Itulah gambaran bahwa apapun bentuk perlakuan kita, itulah yang akan kita rasakan.

Dengan memahami eksperimen Masaru Emoto dikaitkan dengan tubuh kita yang dominan mengandung air, sangat sejalan dengan beberapa ketentuan agama yang melarang kita melakukan hal-hal negatif. Jika ingin tubuh kita sehat, maka usahakan memberikannya asupan yang baik dan benar sepanjang waktu (siang dan malam), baik dari suara kita, prilaku, kata hati, atau pikiran kita.

Tuhan juga telah mengingatkan melalui firman-Nya di surah ke 17 ayat 7, “ In ahsantum ahsantum li anfusikum wa in asa’tum falahaa.”, Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.

Untuk mengaplikasi hasil eksperimen Masaru Emoto terhadap tubuh melalui pelaksanaan tuntunan agama, dibutuhkan kesadaran diri masing-masing. Banyak orang yang mengerti dan paham tentang konsep dan teori, tetapi tidak berbanding lurus dengan kesadaran aplikatif. Tuhan sangat senang kepada seorang hamba yang mengimani-Nya dengan prilaku nyata yang lahir dari kesadaran diri.   

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *