Fakultas Dakwah &.., How Islamic/Communication Studies Can You Go?

FAKULTAS DAKWAH adalah institusi, wadah, untuk mengusung “kepentingan khusus” dalam studi agama/Islam (Religious/Islamic Studies). Kepentingan itu tidak lain pengembangan masyarakat beragama agama Islam (muslim societies) melalui cara kerja ilmu. Dalam kata lain, sisi terpatri dari studi Islam adalah misi meningkatkan kualitas umat dalam hal pemahaman dan pengamalan agamanya. Intinya, bagaimana menjadikan umat Islami secara personal maupun kolektif berdaya.

Karena itulah, ilmu-ilmu (dalam artian orang Indonesia) yang dikembangkan, diajarkan, dan diinternalisasikan di Fakultas Dakwah di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) pada umumnya, bukanlah “science” tetapi “studies”. Science (sains) itu “ilmu demi ilmu” yang bebas nilai dan kepentingan, mengabdi kepada objektifitas dalam dirinya, dan paradigmanya positivistik. Sementara itu, studies bermakna kajian, yakni pengolahan, memahami, reproduksi makna, dan pemanfaatan hasil kerja sains (teori) untuk ditransformasikan menjadi praksis.

Kata kunci dalam studies/kajian adalah perubahan (change), pengubahan (changing), dan ubahlah (change!). Kalau social studies itu memahami dan “mengubah” masyarakat; cultural studies itu memahami dan mengubah praktik budaya; maka religious/islamic studies itu memahami dan mengubah kondisi masyarakat beragama. Yang dipahami dan diubah dari “studies-studies” itu adalah struktur objektif yang mengungkung individu dan masyarakat, aktor, atau umat yang membuat diri mereka tidak berdaya secara individual dan berdayaguna bagi orang lain dan lingkungan.

Menjadi jelas, bahwa aspek akademik Fakultas Dakwah (dan tambahan ilmu yang memboncenginya) adalah bagian “Islamic studies”, bukan “study of/on/about Islam. Karenanya, Fakultas Dakwah, dalam batang tubuh keilmuannya terdapat karakter-karakter eklektik, induktif, praksis, dan emansipatoris.

Eklektik, interdisipliner: mengambil bahan baku dari berbagai asumsi/preposisi/konsep/teori yang ada dalam ilmu-ilmu sosial (social science) seperti sosiologi, psikologi, antropologi, ekonomi, dan politik, bahkan dari ilmu-ilmu empirik (natural sciences) serta turunannya teknologi, atau dari studies-studies lain yang sudah berkembang seperti social studies, cultural studies, communication studies, dan tentu saja islamic studies – untuk diramu kembali menjadi sebuah racikan khusus “dakwah studies” (studies dengan ….es jelas menunjukkan sifat pluralitas bahan baku keilmuan itu).

Baca Juga  Kemerdekaan Umat Beragama dalam Islam

Induktif, bottom up: bangunan akademiknya disusun berdasarkan aspek-aspek historis, realitas, kebutuhan, untuk pengandaian tentang kondisi yang diinginkan (rekayasa) dari masyarakat yang ada dalam jangkauan tanggungjawab sosial. Bukan deduktif, top down, dari atas dengan mengambil begitu saja “ilmu-ilmu” yang berserakan berdasarkan selera pasar, trend, dan subjektivitas pengelola (faculty). Karena itu, aspek-aspek dimaksud tadi harus diidentifikasi dan didefinisikan secara akurat dalam rangka membangun formulasi akademik yang tepat dan tidak a-historis.

Orientasi praktis: setiap studies pasti berorientasi praktis – itulah karakter yang membedakannya dengan sciences. Begitu juga “dakwah studies”. Orientasi praktis ini tercermin dari dua hal: pertama, struktur akademik dan kompetensi lulusan (saling berkaitan); kedua, pilihan paradigma/pendekatan/metode terutama dalam aspek pengajaran/penelitian/pengabdian. Kedua hal ini bisa ditemu-kenali dan dipilih dari sekian banyak praktik baik (best practices) yang telah dikembangkan di berbagai tempat.

Emansipatoris, down to earth: keberpihakan kepada kepentingan umat dan masyarakat menjadi niscaya agar Fakultas tidak tumbuh dalam menara gading. Karena itu, aspek pengembangan dan pemberdayaan umat serta rekayasa sosial menjadi lebih utama daripada mengikuti kecenderungan atau pasar. Kurikulum atau keluaran/alumni yang marketable bukan dalam pengertian mengikuti kecenderungan “pasar-kapitalistik,” tetapi berkhidmat kepada tantangan prioritas umat-masyarakat.

Fokus Kedalam, Menjangkau Keluar

Implementasi praktis dari paradigma dan platform sebagaimana tercermin di atas, ranah/basis-nya ada di program studi/jurusan/ dan unit-unit pendukung (lab/center). Unit-unit inilah yang utama diberdayakan dalam bentuk desain postur kurikulum, manajemen sumberdaya, jejaring, serta ‘efek sosial’ dan citra publiknya.

Dengan paradigma seperti di atas, maka kira-kita struktur akademiknya: materi-materi agama Islam 25 persen, teori-teori (baca: analisis) sosial, budaya, psikologi, politik, dan sejarah 25 persen, communication studies atau kajian media 20 persen, bahasa & teknologi informasi) berkisar 15 persen, dan sisanya 15 persen adalah subjek pendukung kompetensi (leadership, entrepreneurship, public speaking, dan critical/creative thinking, di dalamnya ada falsafah).

Baca Juga  Fetisisme Religius Modern: Saat Tuhan Dijadikan Komoditas Spiritual

Dengan postur seperti ini, maka Fakultas Dakwah akan “easy going” mengayuh dalam dua horison, fokus ke dalam (focusing inward) dan menjangkau keluar (opening outward). Yang pertama memenuhi kebutuhan akan postur keilmuan yang tetap kental mutiara keislamannya, sementara yang kedua adalah merespon tuntutan akan adaptasi metode dan cara kerja baru dalam produksi pengetahuan dan pemecahan masalah.

Kini paradigma integrasi-interkoneksi sedang melanda keilmuan Islam di PTKI. Tapi itu dilakukan dengan falsafah dan analisis sosial masyarakat Muslim. Jika tidak, atau dilakukan serampangan, maka keilmuan dan kompetensi agama hilang, kompetensi komunikasi tidak diraih.

Maka, sebagai pengkhidmatan utamanya dalam rekayasa sosial umat Islam, Fakultas Dakwah dalam dirinya memiliki kemampuan untuk menginstalasi elemen dan nilai unggul dari model “research university” atau “community college”. Demikian juga konsep dan praktik baik mengenai “community leader” atau “dakwah organik” bisa diserap.

Pada akhirnya, elan vital sebuah ilmu/kajian sebagai kritik dan akomodasi nilai-nilai baru, harus diraih. Dengan demikian, tugas menggiring ilmu kepada kehidupan, tidak lagi menjadi slogan belaka. Mereka yang keluar dari model keilmuan seperti ini pastilah otoritas yang terintegrasi dalam proses mobilitas dan transformasi sosial, budaya, ekonomi, dan politik.[]

*Catatan apresiasi untuk Forum Dekan Dakwah dan Komunikasi UIN, IAIN, dan STAIN se-Indonesia di Lombok, 9-12 Agustus 2023.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *