Kemerdekaan: Buah Kebaikan Universal

KEMERDEKAAN yang memiliki akar kata kebebasan atau independen menjadi suatu impian bagi setiap orang, karena tak seorang pun yang mau dan rela hidupnya dibelenggu dan dikekang oleh ketidakbebasan. Apalagi jika belenggu atau tekanan itu datang dan dilancarkan secara tidak manusiawi sebagaimana dialami oleh generasi pendahulu kita di zaman kolonial dulu.

Begitu beratnya kondisi dan perlakuan yang mereka terima dan alami saat itu, terbayanglah dalam benak mereka, bagaimana jika pahitnya penderitaan itu harus pula dialami oleh anak cucu mereka, sehingga muncul keinginan dalam hati mereka, dengan berbagai daya dan upaya apa pun harus mereka tempuh agar penderitaan yang dialami saat itu jangan sampai dialami oleh anak cucu dan generasi turunan di belakang mereka.

Kalau para pejuang kemerdekaan hanya memikirkan dirinya sendiri, maka perjuangan yang dilakukan akan sekenanya saja—sekadar membebaskan dirinya dari belenggu dan tekanan, dan hal itu bagi mereka bukanlah perjuangan yang hakiki, karena masa kehidupan mereka dapat dipastikan sudah selesai saat itu pula. Akan tetapi dalam bayangan para generasi pendahulu kita, bahwa di belakang mereka masih ada generasi turunan yang masih mengharapkan keberlangsungan hidup.

Inilah yang menjadi semangat quantum yakni semangat yang melahirkan interaksi yang mengeluarkan percikan cahaya yang tidak hanya berbekas bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang di sekitarnya. Semangat itulah  yang mampu melahirkan motivasi yang tak mengenal padam di dalam dada dan sanubari generasi pendahulu kita untuk berjuang sampai titik darah penghabisan.

Keputusan untuk berjuang demi generasi penerusnya dalam konsep agama dikenal dengan tindakan yang berorientasi ihsan. Yakni tindakan yang tingkatannya lebih tinggi dari berbuat baik. Seperti konsep yang pernah disampaikan oleh Prof. Dr. Qadir Gassing, Guru Besar UIN Alauddin Makassar, beliau menjelaskan bahwa Islam memerintahkan untuk berbuat baik dan ihsan, bukan hanya kepada sesama manusia tetapi juga kepada alam lingkungan. Jika kamu menebang satu pohon kemudian menanam kembali satu pohon, itu baru berbuat baik (al-adl). Akan tetapi, jika kamu menebang satu pohon, lalu menanam dua atau lebih pohon lagi, itu namanya telah berbuat ihsan.

Dalam praktiknya memang nampak para pendahulu kita telah berbuat baik, berjuang mempertahankan dan menyelamatkan diri dari gangguan para penjajah, akan tetapi dibalik keberanian dan semangat juang mereka, sesungguhnya bukan saja telah berbuat baik, tetapi mereka pada hakikatnya telah berbuat ihsan, karena apa yang diperjuangkan berdampak bukan hanya untuk diri dan generasi pada masanya, akan tetapi untuk generasi penerusnya, yang penghujung masanya tak terukur.

Baca Juga  Marhaban Ya Ramadan

Jadi kemerdekaan yang kita peringati setiap tahun adalah bentuk penghargaan dari capaian yang diraih dari semangat ihsan para pejuang pendahulu kita, yakni berjuang dengan semangat kebaikan yang totalitas, tidak hanya berjuang untuk capaian lingkup yang sempit (diri dan familinya), bukan pula meraih capaian jangka pendek (untuk generasi pada masanya), akan tetapi capaian jangka panjang dan seluas semesta raya.

Jika kita perdalam lagi kajiannya, bahwa capaian kemerdekaan ini bisa juga dimaknai sebagai capaian yang berorientasi kebutuhan, bukan kepentingan. Yang dibutuhkan pada saat itu adalah kemerdekaan dan kedamaian abadi untuk bangsa dan generasi penerus sepanjang masa—termasuk  generasi kita dan anak cucu saat ini dan saat nanti.

Semangat ihsan atau kebaikan universal dan totalitas itulah sesungguhnya yang harus kita pahami sebagai warisan para pejuang pendahulu kita untuk dijadikan sebagai karakter dalam setiap aktivitas yang kita jalankan di mana pun, kapan pun, dan dalam profesi apa pun—dalam diksi agama dikenal dengan rahmatan lil alamin.

Hasil perjuangan yang dilakukan dengan berdarah-darah dan mewujudkan satu kondisi ideal berupa kemerdekaan merupakan penegasan diri para pejuang pendahulu kita atas semangat juang yang dikobarkan, bahwa apa yang dilakukan oleh mereka tidak untuk dirinya sendiri, terbukti bahwa kemerdekaan itu tidak dapat dinikmati secara pribadi, akan tetapi dinikmati oleh generasi sesudah mereka. 

Jadi buah dari capaian kemerdekaan bangsa hendaknya kita wujudkan dalam kebaikan universal, di mana kita senantiasa menyematkan sikap ihsan dalam setiap aktivitas yang kita jalankan, yang diwujudkan dalam kebaikan yang orientasinya bukan hanya untuk diri sendiri, tidak pula hanya berorientasi waktu sekarang, akan tetapi orientasinya dalam scope yang amat luas dan masa depan yang tak bertepi dan tak berujung.

Hal jazā`ul-iḥsāni illal-iḥsān”. Terjemahannya: Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). Demikian Tuhan meyakinkan kepada kita dalam firman-Nya di dalam surah Ar-Rahman ayat 60, bahwa kebaikan dalam bentuk apa pun akan Tuhan balas dengan kebaikan yang setara.

Baca Juga  Cermin Moral yang Tak Pernah Retak

Dapat pula kita maknai, bahwa kebaikan yang kita lakukan dalam volume yang banyak dan untuk masa yang luas dan panjang, Tuhan akan siapkan pula balasan yang yang banyak dan kenikmatan yang luas dan panjang pula. “wa aḥsinụ innallāha yuḥibbul-muḥsinīn”. Terjemahannya: Dan berbuat baiklah (berbuat ihsanlah), karena sesungguhnya Tuhan menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Baqarah 195).

Sebagai kalimat akhir, nilai kemerdekaan yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus tiap tahun yang merupakan capaian kebaikan universal dari para pendahulu kita, hendaknya kita terjemahkan dalam wujud karya dan aktivitas yang tentunya berorientasi jangka  panjang dan kemanfaatan yang luas.[]

1 komentar untuk “Kemerdekaan: Buah Kebaikan Universal”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *