Fikih Dialogis

KETIKA Nabi Muhammad saw sedang bersama-sama dengan para sahabatnya, tiba-tiba didatangi oleh seorang tamu yang tak dikenal oleh para sahabat Nabi. Tapi Nabi mengetahui bahwa tamu itu adalah malaikat Jibril yang menyamar sebagai manusia. Sang tamu langsung menghadap kepada Nabi, bertanya tentang beberapa hal yang berkaitan dengan dasar-dasar keberagamaan misalnya tentang iman, Islam, ihsan, dan kapan hari kiamat.

Terjadi suatu dialog antara Jibril dan Muhammad saw, Jibril bertanya dan Muhammad saw menjawab. Pertanyaan Jibril dan jawaban Muhammad saw, itulah yang menjadi dasar para ulama dalam menetapkan rukun Islam dan rukun iman serta rukun ihsan. Ketiga pilar agama ini menjadi pokok atau dasar-dasar dalam beragama.

Dari keempat pertanyaan yang diajukan oleh Jibril yaitu iman, Islam, ihsan dan kapan hari kiamat, tiga yang dijawab oleh Nabi yaitu iman, Islam dan ihsan dan satu dikembalikan kepada Jibril yaitu hari kiamat. Dengan dasar ini menjadi acuan oleh para sahabat, tabiin, para ulama.

Bahwa, salah satu metode dalam belajar tentang agama adalah lewat metode dialogis dan metode ini banyak dipraktikkan oleh Nabi kepada para sahabat, demikian juga para sahabat kadang bertanya kepada Nabi tentang berbagai persoalan-persoalan kehidupan yang mereka hadapi.

Metode tanya jawab atau dialog menjadi satu metode yang diterapkan oleh Nabi dalam mengajarkan kepada para sahabatnya tentang solusi dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Banyak riwayat tentang bagaiman Nabi bertanya kepada para sahabatnya, dan pertanyaan itu dijawab kembali oleh Nabi. Itu adalah etika yang digunakan oleh Nabi untuk mengajar keilmuan kepada para sahabatnya.

Di antara model pertanyaan yang diajukan oleh Nabi kepada para sahabatnya adalah “siapakah orang atau manusia yang paling baik?”, model-model pertanyaan seperti ini banyak dilakukan oleh Nabi dan sudah memahami bahwa para sahabat akan mengembalikan jawabannya kepada Nabi. Itu juga menjadi etika dari para sahabat, yang tidak mungkin menjawab suatu pertanyaan tentang persoalan kehidupan sosial keagamaan sementara ada Nabi bersama dengan mereka.

Baca Juga  Belajar Politik Indonesia dari Sinetron Para Pencari Tuhan

Ketika para sahabat menerima pertanyaan dari Nabi, langsung sahabat menjawab, Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Sebenarnya sahabat bisa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Nabi, namun etika para sahabat sangat menghargai Nabi, dan juga tingkat keilmuan dari para sahabat jauh di bawah Nabi. Kadang juga Nabi memberikan informasi kepada para sahabat bahwa, akan ada sebentar yang datang ke sini, dia seorang calon penghuni surga.

Di sini, Nabi memberikan informasi kepada para sahabatnya tentang jalan menuju surga, dan para sahabat sendiri yang berusaha untuk bertanya kepada orang yang ditunjuk oleh Nabi sebagai calon penghuni surga. Sehingga terjadi dialog tentang amal yang dikerjakan oleh orang yang ditunjuk oleh Nabi dengan sahabat yang sangat ingin mengetahui amalan orang itu.

Banyak metode Nabi dalam menyebarkan keilmuan kepada para sahabat, bentuk dialogis sebagaimana yang ditunjukkan di atas, kadang juga memberikan pertanyaan kepada para sahabat dalam bentuk pertanyaan tapi jawaban langsung diberikan oleh Nabi, seperti pernyataan Nabi, “maukah aku tunjukkan kepada kamu tentang sesuatu hal…?”, lalu dijawab oleh para sahabat, “mau ya Rasulallah”, itu adalah bentuk pembelajaran Nabi, yang juga berbentuk dialogis antara Nabi dan sahabatnya.

Betapa para sahabat sangat menikmati proses transfer keilmuan dari Nabi, dengan metode dialogis yang disampaikan oleh Nabi dalam berbagai bentuk dialogis. Metode keilmuan yang dipraktikkan oleh Nabi bersama dengan para sahabatnya adalah bentuk metode yang terbaik dalam proses transfer keilmuan yang dilakukan oleh Nabi.

Metode inilah yang dipraktekkan oleh Nabi bersama malaikat Jibril  sewaktu Jibril mendatangi Nabi yang sementara berkumpul dengan para sahabatnya. Metode dialog lebih kuat dibandingkan dengan metode monolog, karena adanya interaksi bersama antara Nabi dan sahabatnya.

Baca Juga  Pemikiran TGH. Munajib Khalid tentang Literasi dan Pendidikan Pondok Pesantren

Demikian juga dengan para sahabat, mencoba untuk tetap mempraktikkan “fikih dialogis” di masa atau di zaman pemerintahan para sahabat. Para sahabat sangat demokratis ketika akan memutuskan sesuatu hal yang berkaitan dengan kepentingan umat.

Pengangkatan para Khalifah pasca Nabi tidak terlepas dari dialog di antara mereka. Pergantian kekhalifahan mulai dari Abu Bakar sampai ke zaman Ali bin Abi Thalib berjalan dalam suasana musyawarah dengan pendekatan fikih dialogis.

Demikian juga zaman sesudah sahabat sampai ke zaman imam mazhab, betapa fikih dialogis sangat masif  dikembangkan oleh para imam madzhab. Betapa tolerannya di antara mereka dalam memberikan pendapat, perbedaan pendapat di antara para imam madzhab betul-betul adalah rahmat, termasuk para pengikut mereka.

Para generasi hari ini hendaklah merujuk ke bentuk-bentuk fikih dialogis yang telah ditinggalkan oleh Nabi, yang dilanjutkan oleh para sahabat, kemudian dikembangkan lebih jauh lagi para ulama generasi berikutnya, sekalipun melahirkan berbagai mazhab tetapi pengikut dari mereka tetap mengedepankan fikih dialogis, dan saling menghargai pendapat mereka masing-masing.[]

Ilustrasi: globalkepri

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *