Artis Hijrah, Perbaikan Sesama, dan Momentum Tahun Baru Islam

Perilaku keagamaan adalah bidang yang paling banyak mengalami dinamika. Modernitas dan globalisasi membentuk masyarakat termasuk artis di dalamnya, gamang akan identitas keagamaannya. Hijrah adalah “term” yang dianggap menjadi jalan keluar dari kegersangan hidup dan kehausan akan ilmu serta perilaku Keagamaan Islam

Fenomena artis hijrah dengan batasan artis yang sangat dikenal (selebritis), setidaknya dalam dua dasawarsa terakhir di Indonesia, merupakan gejala baik yang  harus diapresiasi dan harus disambut dengan optimis, tentu dengan segala dinamikanya. Hal ini membuktikan bahwa kesadaran beragama adalah milik semua orang, tak terkecuali artis. Tantangan dunia keartisan memiliki keunikannya tersendiri, selain kompetensi bidang seni, mereka juga dituntut untuk “update” dengan perkembangan dunia fashion (busana) seiring dengan mudahnya akses informasi dan komunikasi yang menawarkan berlimpahnya pilihan.

Kehidupan dan penampilan glamor adalah sesuatu yang masih sulit dipisahkan dari dunia keartisan kita, tidak mengherankan kemudian tarik menarik antara realitas dunia hiburan, industri media dengan keinginan hijrah seringkali menjadi problem tersendiri bagi para artis kita. Sejumlah nama artis yang tadinya identik “seksi” kemudian “hijrah” mengenakan hijab ikut “ta’lim”  dengan komunitas sesama artisnya, tak berapa lama kemudian “seksi kembali” dengan berbagai latar belakang dan motivasinya. Bahkan problematika ini pula yang memunculkan istilah “jilboobs” sebuah cerminan bahwa fungsi jilbab tidak dipahami dengan benar, fungsi menutup auratnya terabaikan, berubah menjadi estetika busana dan gaya hidup belaka.

Artis hijrah

Secara bahasa, hijrah berarti berpindah atau meninggalkan, dalam konteks agama Islam, hijrah merujuk pada perpindahan Nabi Muhammad saw. dan para sahabat dan pengikut beliau dari Mekah ke Yatsrib (Madinah), yang diperingati ummat Islam setiap 1 Muharram, sekaligus sebagai penanggal dan penanda bulan perdana dalam kalender Islam.

Hijrah terkandung makna berpindah dari salah menuju benar, dari  buruk menuju baik, dari instabilitas menuju stabilitas, dari kegalauan menuju ketenteraman, dari gelap menuju cahaya. Jika memakai instrumen ini, dunia keartisan kita  identik dengan kemapanan pada ranah ekonomi,  sebagian besar diantara mereka hidup berkecukupan bahkan sebagiannya lagi hidup berlimpah dengan berbagai kemewahan, namun kegelamoran, dan kemewahan tersebut ternyata tidak serta merta menghadirkan stabilitas dari sisi “batiniyah” hal ini tergambar dari masih banyak artis kita yang mengalami keretakan rumah tangga, terlibat narkoba dan jaringannya hingga  rehabilitasi dan masuk penjara, gangguan kejiwaan,  bahkan sampai jatuh kepada depresi hingga bunuh diri.

Pertanyaan yang paling mendasar tentunya adalah, apakah popularitas yang selama ini dianggap menjadi garansi terhadap mudahnya mencari penghidupan, tidak cakup mampu untuk menyuburkan jiwa mereka dari kekeringan emosi dan kemiskinan spritual? jawaban akuratnya tentu Kembali kepada sang artis itu sendiri.

Di tengah problematika tersebut adalah beberapa sosok artis yang mampu menjadi figur pemantik sekaligus role model bagi hijrahnya para artis. Sebutnya saja misalnya, Oki Setiana Dewi, yang mulai dikenal ketika sukses memainkan peran Anna Althafunnisa di film “Ketika Cinta Bertasbih” yang diadaptasi dari novel terlaris karya penulis terkenal Habiburrahman el Shirazy. Kemudian dengan kesadaran pentingnya  memperdalam ilmu agama bahkan terbang hingga ke yang dianggap sumber ilmu keislaman yaitu Mesir dengan Al-Azhar Universitynya,  bahkan membawa anak-anaknya. Sosok ini secara sederhana dapat mewakili peta jalan keinginan kuat artis untuk hijrah.

Baca Juga  Menyoal tentang Manusia dan Kekuasaan

Motivasi berhijrah tidak datang dalam ruang hampa, begitu banyak pemantik, yang berbeda antar satu individu dengan yang lain, dalam kasus Oki (panggilan Akrab Oki Setiana Dewi) misalnya bermula dari orangtua yang sakit. Penyakit kulit yang sangat langka, kulitnya melepuh seperti habis terbakar. Jika bajunya diangkat kulitnya ikut terangkat. Itu yang membuat titik balik sang artis, Ibu dan keluarganya  berpikir apa yang dicari di dunia ini, Jika Allah yang memberi penyakit, Allah pula yang menyembuhkan. Allah memberikan ujian, Allah pula yang memberi solusi. Itulah yang memantapkan hijrah  Oki dan keluarganya. Tentu motivasi hijrahnya sejumlah artis seperti Dhini Aminarti, Zazkia Sungkar, Fenita Arie, Ari untung, Irwansyah, Dude Herlino atau mungkin bahkan mantan Putri Indonesia yang juga mantan politisi seperti Angelina Sondakh dan banyak lainnya, sekali lagi tidak sepenuhnya sama antara satu artis dengan artis  lainnya.

Dalam Perspektif modern, hijrah sering kali diasosiasikan dengan perubahan gaya hidup, seperti memakai hijab hingga cadar bagi wanita, berjenggot, memakai  celana cingkrang, bagi yang laki, meninggalkan perilaku konsumtif hingga haram seperti minuman keras (beralkohol) atau bahkan menghindari dunia hiburan yang dianggap tidak Islami dan syarat godaan

Sosial media merupakan bagian penting yang memudahkan artis untuk berhijrah walaupun tampak pragmatis, namun mereka dengan sangat mudah mendapatkan akses pengajian-pengajian dari ustaz-ustaz yang mereka gandrungi baik melalu kanal youtube, facebook, twitter dan sosial media lainnya, hal ini mendorong gelombang hijrah para artis tampak semakin masif.

Keinginan para artis untuk menjadi  pribadi yang lebih religius juga mendapatkan momentumnya sejak bermunculannya majelis-majelis ta’lim, ruang kajian, bahkan tak sedikit bertempat di hotel yang diinisiasi oleh sesama artis, bahkan ustadnya pun beragaya artis memakai topi dan aksesoris lainnya, ditambah lagi beberapa acara yang mendukung “hajatan” tersebut seperti Hijrah Fest (festival hijrah) merupakan contoh kegiatan annual (tahunan) yang dilaksanakan komunitas artis, bahkan meluas ke hampir semua propinsi di Indonesia.  Lomba-lomba yang berlabel Islami seperti Lomba modeling hijab, busana muslim, dan lain sebagainya, membuat iklim berhijrah para artis semakin kondusif. 

Dalam Perspektif modern, hijrah sering kali diasosiasikan dengan perubahan gaya hidup, seperti memakai hijab hingga cadar bagi wanita, berjenggot, memakai  celana cingkrang, bagi yang laki, meninggalkan perilaku konsumtif hingga haram seperti minuman keras (beralkohol) atau bahkan menghindari dunia hiburan yang dianggap tidak Islami dan syarat godaan. Tentu hal ini tidak salah sama sekali, namun jika berhenti kepada formalisme ini maka proses transformasi spiritual yang membutuhkan waktu dan kesadaran penuh tidak akan terjadi.

Hal ini menunjukkan bahwa fenomena hijrah di kalangan artis bisa murni merupakan kebangkitan spiritual yang tulus atau sekedar dipengaruhi oleh faktor tertentu seperti tekanan individu dan sosial seperti perceraian dan terlibat kasus hukum, atau mengejar citra positif di mata publik

Trend artis mendalami agama khususnya agama Islam adalah  sebagai cara untuk menemukan tujuan hidup yang lebih bermakna. Walaupun dengan berbagai gejala hingga fakta sebagian masyarakat apriori terhadap perilaku ini, sebagian mereka menganggap bahwa artis hanya mengikuti tren tanpa pemahaman mendalam tentang esensi  yang dicarinya . Hal ini menunjukkan bahwa fenomena hijrah di kalangan artis bisa murni merupakan kebangkitan spiritual yang tulus atau sekedar dipengaruhi oleh faktor tertentu seperti tekanan individu dan sosial seperti perceraian dan terlibat kasus hukum, atau mengejar citra positif di mata publik, lagi-lagi kalau ini “nawaitunya” hal ini menegaskan akan industri oriented” sang artis yaitu kepentingan popularitas yang potensial mendatangkan keuntungan. No Viral no Pupular (Tidak viral tidak Populer).

Baca Juga  Matinya Imajinasi dalam Beragama

Gerakan masif hijrah yang dilakukan oleh berbagai kalangan termasuk artis dan selebritis yang tidak dibarengi dengan literasi agama Islam yang memadai dari sumber otoritatif, tak pelak  menyebabkan terjadinya distorsi makna hijrah, yang ditandai  kerentanan terhadap komodifikasi agama secara tidak proporsional. Media mempermudah penyebaran fenomena ini, akhirnya membentuk sebuah komunitas baru seperti Kajian-kajian yang tumbuh menjamur di perkotaan, dimana mayoritas artis berada.

 Lebih jauh munculnya kecenderungan eksklusivisme kelompok sosial modern, misalnya kelompok artis yang mulai mengidentifikasikan diri sebagai kelompok pendakwah, kelompok pengkaji, kelompok mengaji al-Qur’an, kelompok tahfiz, kelompok hijaber, bahkan kelompok artis muslimah yang siap dipoligami dengan alasan syar’i dan lain sebagainya. Tentu tren ini   akan mengokohkan eksistensi para artis  di ruang-ruang publik, di mana audiens mereka yang mayoritas beragama islam. Ada peluang di satu sisi dan ada tantangan di sisi yang berbeda, tinggal bagaimana para artis tersebut tidak terjebak ke dalam formalisme agama tanpa substansi makna yang kuat.

Pendekatan istiqamah (konsisten dalam beramal saleh) yang dapat dipraktikkan oleh semua kita termasuk artis, dalam meniti jalan hijrahnya adalah salah satu kiat dimana Ahabbu A’mali ilallahi adwamuha wa in qola (kebaikan yang paling dicintai Allah adalah yang berkesinambungan  meski sedikit.” (HR Muslim). Keinginan hijrah artis tidak boleh didasarkan hanya pragmatisme belaka hingga melakukan perubahan secara sporadis dan tak terukur, namun kesadaran yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam untuk dengan cara periodik menambah literasi keagamaan islam dan pelan-pelan namun pasti, dari hal-hal  kecil memunculkan kebaikan permanen yang berarti bagi artis hijrah, dan semakin lebih berarti setiap tahun baru Islam menjelang.[]

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *