Sesuai namanya workshop dimaksudkan agar seseorang melakukan “shop” (berbelanja) pengetahuan terlebih dahulu baru kemudian “work” (bekerja).
Sayangnya istilah “shopping”– sebagaimana “healing–terlanjur identik belanja di supermarket, mall, pusat perbelanjaan dan semacamnya.
Padahal seminar, diskusi, studi banding, pelatihan, membaca, belajar dan sejenisnya tidak lain merupakan aktivitas “shopping” pengetahuan yang nanti akan digunakan saat bekerja.
Ibarat berbelanja ke pasar membeli berbagai bahan dapur, lalu pulang ke rumah, mengolahnya, memasak dan menyajikannya untuk dimakan.
Tetapi dalam konteks kehidupan rumah tangga workshop punya makna berbeda. Tugas suami adalah “work” sedangkan tugas istri adalah “shop” hehehehe.
JUDUL DAN JODOH
Memilih judul penelitian adalah salah satu kesulitan yang sering dihadapi mahasiswa. Ini wajar saja. Untuk memecahkan masalah ini secara kelakar saya menyatakan bahwa sebetulnya memilih judul itu sama saja dengan memilih jodoh. Mereka ngakak hehehe.
Saya mencoba melempar pertanyaan kepada salah satu peserta. Seorang gadis berkacamata yang duduk di barisan ketiga. “Spill dong kriteria cowok menurut Kakak?”. Dia menggeleng. Malu. “Saya belum punya pacar, Pak” jawabnya tersipu.
“Masih jomblo ya Kak?” Dia mengangguk menahan tawa. “Tapi baiklah,” kata saya “meski pun Kakak masih jomblo, tapi setidaknya punya kriteria dong cowok idamannya kelak,” kata saya sambil menyodorkan mik. Tapi anaknya masih malu.
Akhirnya saya bilang “Kalau saya jadi cewek seperti kalian maka kriteria cowok menurut saya adalah tajir, royal, saleh, sarjana, ada kesamaan chemistry dan pengertian.
Percuma punya cowok tajir tapi pelit karena perempuan tidak hanya butuh kasih sayang tapi juga butuh kasih uang,” ujar saya disambut geerrr….
Memilih judul pun sama, ada kriterianya antara lain: unik, yang paling kita kuasai, bisa digarap dan tersedia rujukannya. Untuk apa judul keren tapi tidak bisa digarap. Padahal skripsi yang baik itu yang selesai hehehe.
Ada juga mahasiswa, ketika ditanya mengapa memilih lokasi penelitian di sekolah tertentu, memberi alasan rancu bahkan lucu: karena dekat rumah.
Keterbatasan waktu dan jarak memang sebaiknya dipertimbangkan ketika memutuskan memilih lokasi penelitian, tetapi jelas alasan ini kurang logis atau setidaknya tidak boleh dijadikan alasan utama.
Alasan utamanya ya tetap harus logis atau ada hal unik dan menarik diteliti. Lagi pula “lokasi” penelitian di sini tidak semata mengacu pada tempat tapi pada aspek unik, menarik dan esensial tadi.
Ibarat kesengsem berat pada seseorang, tentu alasannya bukan karena ia “cowok” atau karena ia “cewek”. Sebab yang namanya cewek ya pasti tertarik pada cowok; begitu pula sebaliknya.
Di sini tentu harus dicari alasan yang lebih mendasar dan terukur. Alasan misalnya “karena cowok itu baik” pun memerlukan penjabaran yang lebih operasional sebab kata “baik” itu masih abstrak sehingga harus dijabarkan lagi misalnya saleh, senang menolong, perhatian, rendah hati, murah senyum dll.
Demikian pula kata “cantik” juga ada kriterianya: kulit putih, hidung mancung, lesung pipi, bodi ramping, bibir tipis dll.
KECURIGAAN BUKAN KETIDAKTAHUAN
Hal lain yang sering ditemukan adalah ada banyak mahasiswa yang menyangka bahwa penelitian itu seolah berangkat dari ketidaktahun.
Ibarat saat mengisi BBM pom petugasnya bilang “Kita mulai dari nol ya, Pak/bu?.” Padahal penelitian itu mirip seperti keputusan menikahi seseorang: sejatinya kita sudah punya data atau informasi awal mengenai seseorang yang hendak kita nikahi: sifatnya, hobinya, kebiasaannya dll.
Tentu terlalu berisiko jika seseorang menikahi orang lain yang tidak diketahuinya.
Begitu pun aktivitas penelitian–ia bukan berangkat dari melainkan penelitian justru dilakukan untuk membuktikan benar tidaknya “kecurigaan” di atas.
Data dan informasi yang dikumpulkan kemudian diolah dan ditulis laporan penelitiannya. Pada tiap jenjang pendidikan tinggi tentu berbeda-beda target yang diharapkan.
Dulu dosen saya waktu di CRCS UGM Prof Irwan Abdullah menjelaskan bahwa “skripsi” itu berasal dari kata “deskripsi.”
Artinya kemampuan minimal yang harus dimiliki mahasiswa jenjang strata satu (S1) adalah jika ia sudah mampu mendeskripsikan secara runtut dan sistematis objek yang ditelitinya berarti sudah bagus. Komposisi kandungan skripsi 20:80 (20% pendapat sendiri 80% pendapat orang lain/ahli).
Sementara tesis berasal dari kata “hipotesis” dimana tingkatannya lebih tinggi dari skripsi, yakni tesis (S2) diarahkan pada kemampuan untuk menguji hipotesis.
Komposisi tesis terdiri atas 50:50 (50% pendapat sendiri 50% pendapat ahli). Sedangkan pada jenjang S3 komposisinya kebalikan dari skripsi yakni 80:20 (80% pendapat sendiri 20% pendapat ahli).
Besarnya persentase pendapat sendiri merupakan konsekuensi dari tuntutan adanya unsur kebaruan dalam isi disertasi selain harus mengandung nilai-nilai filosofis/kedalaman sebagaimana nama Phd (philosophie doctor).
Penamaan Bab 2 pada masing-masing strata juga berbeda. Pada skripsi Bab 2 biasanya dinamakan “Tinjauan Pustaka”; pada tesis “Kajian Pustaka” sedangkan disertasi “Kritik Pustaka.”
Ketiga istilah di atas–tinjauan, kajian, dan kritik–tentu punya makna, tingkat kedalaman dan implikasi yang berbeda-beda.
PENUTUP: ANCAMAN PLAGIASI
Kejujuran adalah salah satu nilai penting dalam kerja-kerja akademik seperti penelitian ini.
Para akademisi harus bersikap jujur dalam menulis atau membuat karya-karyanya. Sedangkan berbohong adalah dosa tak terampuni hehehe.
Ada anekdot tentang perbedaan antara akademisi dan politisi: akademisi boleh salah tapi tidak boleh berbohong. Sedangkan politisi boleh berbohong tapi tidak boleh salah hehehe.
Keharusan akademisi menjunjung tinggi kejujuran tercermin dari pengakuan tentang “keterbatasan penelitian”, margin of error atau istilah lain.
Bahkan akademisi dilarang memplagiasi karyanya sendiri (self plagiarism). Di tengah gempuran kemajuan teknologi digital seperti AI (Artificial Intelegent) saat ini maka ancaman plagiasi semakin nyata.[]

Akademisi, mantan wartawan kampus, dan pengagum Gandhi, “Plain Living High Thinking”.




