Memainkan tempo dan mencoba mengulur-ulur waktu, menjelaskan dengan analogi, diselingi pantun, atau membuat jokes segar adalah beberapa diantara strategi mengajar yang saya lakukan saat menghadapi situasi dilematis seperti di atas.
Saya juga biasa memulai pembelajaran dengan melempar beberapa pertanyaan awal untuk memastikan pemahaman konsep mahasiswa sebagaimana uraian sederhana di bawah ini.
Bagi saya memahami beberapa konsep kunci ini sangat penting karena seringkali mahasiswa sering mendengar, bahkan mengucapkan satu kata atau istilah tapi mereka tidak memahami asal-usul maupun maknanya.
Bagi para suhu tentu tidak dianjurkan membaca tulisan ini sebab materi ini benar-benar dasar dan sederhana. Jadi, tolong jangan dibully ya hehehe.
Seperti pengalaman saya saat harus menjadi ‘pemain pengganti’, terpaksa menggantikan pemateri yang berhalangan pada Seminar dan Lokakarya Metodologi Penelitian dalam Rangka Percepatan Penyelesaian Tugas Akhir Mahasiswa STKIP Yapis Dompu, di Gedung PKK Dompu, Kamis 30/10/2025.
PENELITIAN, CINTA DAN KESETIAAN
Saya kebagian sesi ketiga jelang istirahat siang pukul 11.00 Wita. Ruang agak panas dan sesak oleh 203 mahasiswa semester VII.
Saya melihat mahasiswa gelisah dan kipas-kipas meski ada beberapa kipas angin dalam ruangan.
Saya mengawali materi dengan teknik mengulur waktu “Baik saudara-saudara sekalian, saya tidak akan bicara lama di sini karena saya tahu anda tidak suka dengan pembicaraan yang terlalu lama. Apalagi yang bicara juga kurang seksi hehehe.”
Mereka kaget dan tertawa. “Saya tahu anda juga mulai lapar dan capek karena sudah duduk sejak pagi di sini. Jadi saya tidak akan memaksa anda duduk berlama-lama karena percuma juga ngomong terlalu lama di hadapan orang yang sudah mulai lapar. Lagian, cinta sejati itu memahami bukan memaksa cie…cie”. Mereka kembali tertawa.
“Baik. Apakah kita bisa memulai agar cepat selesai dan kita move on dari ruangan ini?” tanya saya. “Iya, Pak. Silakan dimulai hehehe…,” sahut mereka dengan wajah antusias dan tersenyum.
Saya melempar pertanyaan apakah mereka tahu perbedaan seminar dan workshop? Hening. Setiap terjadi peristiwa bencana lama, kata saya, terdapat sebuah tim atau regu yang sangat popular. Namanya SAR.
Tahukah anda singkatan SAR itu? Seorang mahasiswi Prodi Bahasa Inggris menjawab dengan tepat. “Search and Rescue, Pak!”katanya. Yap! Mencari dan menyelamatkan. Tugas tim SAR adalah berupaya mencari dan menolong korban.
Kata “penelitian” berasal dari bahasa Inggris “research” terdiri atas kata “re” (kembali; re-uni, re-view, re-generasi, re-play dan sejenisnya) dan “search” (mencari; menemukan).
Jika tim SAR bertugas mencari atau menemukan korban maka tugas atau tujuan penelitian adalah mencari/menemukan kembali kebenaran.
Frasa “menemukan kembali kebenaran” secara implisit mengandung makna bahwa tidak semua yang terlihat benar otomatis benar adanya. Seringkali hal-hal di permukaan terlihat benar belum tentu benar.
Seseorang yang bernama “Muhammad Saleh” belum tentu saleh. Bahkan cowok bernama “Wahyu Setiawan” sekalipun belum tentu benar-benar mendapat wahyu apalagi setia hehehe. Atau cewek bernama “Nurjannah” (cahaya surga) tidak otomatis bakal masuk surga atau mampu menghadirkan suasana surgawi bagi orang-orang di sekitarnya.
Mengapa? Ya karena kesalehan dan masuk surga–sebagaimana halnya cinta dan kesetiaan, atau karier dan masa depan–adalah sesuatu yang harus diperjuangkan bukan diberi atau turun dari langit. Kerja-kerja penelitian juga begitu: butuh perjuangan dan ketekunan.
Karena itu tugas penelitian/riset adalah mengungkap fakta yang sebenarnya. Sesuai namanya “penelitian” berasal dari kata “teliti” yang mengharuskan peneliti harus bekerja secara teliti.
DUA ANEKDOT
Contoh lain tentang pentingnya “ketelitian” ini barangkali terwakili oleh dua anekdot di bawah ini.
Anekdot pertama: seorang pasutri yang sudah menikah puluhan tahun selalu bepergian secara bersama-sama dengan mobil mereka.
Suatu hari mereka pergi berbelanja ke pasar. Setelah mobil berhenti suami segera turun dan membukakan pintu mobil buat istrinya. Seorang pria tak jauh dari situ memperhatikan dan kagum dengan sikap sang suami.
Lalu ia mendekat dan bertanya kepada sang istri sesaat setelah suaminya pergi karena ada keperluan. Terjadi dialog:
“Maaf bu, saya kagum sekali dengan sikap suami ibu tadi yang membukakan pintu mobil buat ibu.”
“Oh…iya, suami saya memang selalu begitu. Dia membukakan pintu mobil buat saya.”
“Wah luar biasa sekali. Mulia sekali bapak memperlakukan ibu. Boleh tahu sudah berapa lama kalian menikah?”
“Oh kami sudah menikah 35 tahun.”
“Berarti sudah lama suami melakukan kebiasaan baik ini ya bu?”
“Yah nggak juga. Baru tiga tahun terakhir ini”
“Lho kenapa gak minta dari dulu aja bu?”
“Yah karena kebetulan pintu mobil kami baru tiga tahun terakhir ini nggak bisa buka dari dalam hehehe.”
Anekdot kedua: Seorang pasutri pengantin baru dan baru menikah beberapa bulan. Lalu karena takdir Allah si istri wafat. Tentu saja suaminya sangat sedih dan terpukul.
Sejak istrinya meninggal suami rajin sekali berziarah ke makam istrinya. Dia berziarah dua kali sehari pagi dan sore sambil membawa bunga dan air dalam ceret untuk menyiram kuburan sang istri. Kuburan berada di seberang sungai kecil dan harus melewati perkampungan warga.
Nah, banyak ibu-ibu yang salut dan iba tiap kali melihat si suami berziarah.
“Waduh…kasian sekali ya suaminya. Baru menikah sudah ditinggal mati istrinya,” komentar seorang ibu.
“Iya. Dia sayang banget sama istrinya. Buktinya ia selalu menziarahi makam almarhumah,” balas ibu yang lain.
“Pengen banget punya menantu kayak gitu, begitu sayang sama istrinya meski sudah wafat,” timpal yang lainnya.
Tetapi tahukah bahwa yang membuat si suami rajin berziarah rupanya bukan karena sayang dengan mendiang istri melainkan karena ia teringat dengan wasiat sang istri jelang wafat.
“Kalo nanti aku meninggal gak masalah abang menikah lagi. Asalkan…..”
“Asalkan apa, Dik?”
“Abang hanya boleh menikah setelah tumbuh rerumputan hijau di atas kuburanku hehehe.”
Jadi, sekali lagi tujuan penelitian adalah untuk memeriksa fakta-fakta atau kebenaran apakah sesuai atau tidak. Sebab kebenaran itu bisa berlapis-lapis.
Kita tidak bisa langsung mempercayai tanpa memeriksa atau mengujinya dahulu. Seseorang yang sedang demam tinggi misalnya akan menyatakan bahwa badannya dingin sehingga ia menggigil dan minta dibungkus selimut.
Padahal suhu badannya justru panas. Begitu pun si sakit ketika disodori permen akan bilang bahwa permen tersebut rasanya pahit, padahal bagi orang normal justru manis.
RISET DAN JUBAH HITAM
Tidak hanya dalam dunia akademik dan penelitian, dalam mukaddimah khutbah Jumat pun kita biasa mendengar para khatib selalu mengingatkan jamaah agar “bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa” (ittaqullah haqqa tuqatihi).
Pesan ini mengandung pengertian bahwa “takwa” pun bisa macam-macam: ada takwa yang palsu atau pura-pura takwa dan ada takwa yang sebenarnya.
Umat beragama diingatkan agar memiliki sifat dan karakter takwa yang sebenarnya, bukan takwa yang manipulatif. Orang-orang beriman agar memiliki sifat takwa yang hakiki: ikhlas, rendah hati, qana’ah, sabar dll.
Dalam tradisi dunia akademik bersikap teliti dalam mencari dan menemukan kebenaran itulah kemudian disimbolkan dengan jubah wisuda berwarna hitam.
Hitam adalah simbol dari ketidaktahuan, kebodohan, dan kegelapan (“cinta hitam”, ” politisi hitam”, “pengusaha hitam” dll). Sedangkan ilmu adalah cahaya. “Al-ilmu nurun al-jahlu dhalamun”: ilmu itu cahaya sedangkan kebodohan itu kegelapan.
Oh ya kata “guru” sendiri berasal dari bahasa Sansekerta “gu” artinya gelap dan “ru” berarti menerangi. Guru artinya penerang kegelapan.
Dalam bahasa lokal Dompu Bima kita dianjurkan menjauhi sifat “rindi ra santuda” (makna harfiah rindi=gelap; santuda=tersesat). Tentu saja “rindi ra santuda” tidak semata dalam konteks iliterasi atau tidak bisa baca tulis tapi juga bersikap emosional, reaktif, mudah marah, baper dan seterusnya.
Mengapa? Karena dalam kondisi marah dan mudah tersinggung kita sulit berpikir rasional dan jernih. Hanya dalam air yang tenang dan jernih yang bisa memantulkan bayangan secara utuh.
Itu pula sebabnya, para psikolog mengingatkan bagi para jomblo jika anda masih sakit hati karena diputusin sebaiknya jangan buru-buru mencari pengganti karena berpotensi mengambil keputusan yang salah hehehe.
Jadi jubah hitam wisuda adalah perlambang dan penegasan terhadap keberhasilan seseorang menyingkap rahasia ilmu pengetahuan.
Dengan demikian seorang sarjana berarti ia harus bersikap hati-hati terhadap sebuah kabar, berita atau informasi.
Ia harus mengecek sebuah informasi melalui verifikasi atau falsifikasi dan tidak boleh terjebak dalam hoaks atau informasi palsu.[]

Akademisi, mantan wartawan kampus, dan pengagum Gandhi, “Plain Living High Thinking”.




