Pergulatan Batin Seorang Mahasiswa

Dalam  perspektif pendidikan kemiskinan ekonomi yang dialami seseorang, sebagaimana halnya kemapanan ekonomi, sama-sama berpotensi memberikan dua kemungkinan: musibah atau berkah. Jika direspons secara negatif maka kondisi ekonomi yang serba terbatas dapat menjadi penghalang  karena akan memaksa seseorang mengubur semua impiannya lantaran jalan di depannya terlihat  serba terjal bahkan  mustahil. Sebaliknya seseorang yang terlahir dari keluarga kaya, maka keberlimpahan ekonomi  dapat membuatnya terlena dan kehilangan semangat berjuang. Ada banyak anak yang ditakdirkan terlahir dari keluarga ‘mata air’ (baca: kaya) tapi kehidupannya berakhir tragis dan menyedihkan. Si anak gagal membangun kejayaan sebagaimana orangtuanya.

Sementara di sisi lain tidak sedikit juga anak-anak dari keluarga ‘air mata’ (baca: miskin) yang meraih kesuksesan di masa dewasa karena telah ditempa berbagai pengalaman hidup yang pahit dan sulit. Dalam hal ini keberhasilan dan kegagalan dalam takdir yang berbeda tersebut ditentukan oleh cara pandang yang dipilih: positif atau negatif.

Novel “Kamu Bukan Misiku” yang ditulis Muhammad Akbar dengan nama pena  M Akbar D’Bird’S ini menggambarkan pergulatan batin seorang mahasiswa yang terlahir dari keluarga tidak mampu tersebut. Sebagaimana terlihat dari riwayat hidup penulisnya (hlm.146), dapat dikatakan novel ini merupakan novel biografi tentang kehidupan dan pengalaman  kehidupan penulisnya selama menjadi mahasiswa di STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah) Sunan Giri Bima—melalui tokoh Ibra. Meski begitu sebagai sebuah karya fiksi  novel ini tidak sepenuhnya nyata. Di sana sini tentu ada hal-hal yang sudah dipoles oleh penulisnya untuk memberikan efek dramatik.

Tokoh Ibra sudah kehilangan ayahnya sejak kecil. Ia tinggal dengan ibunya seorang perempuan desa di wilayah paling timur Pulau Sumbawa, Sape (Lambu). Dalam kondisi ekonomi keluarga yang sulit, tanpa sosok ayah maupun berstatus sebagai anak laki-laki tertua membuat Ibra tumbuh jadi anak yang pendiam dan tak banyak bicara. Ketika tamat SMA dan hendak memutuskan kuliah, Ibra tidak berani memasang target muluk-muluk. Jika teman-temannya saling berburu kampus-kampus top di  Bima, bahkan memilih kuliah keluar daerah, Ibra memantapkan hati berlabuh di STIT Sunan Giri Bima, sebuah kampus Islam swasta kecil tapi tertua di daerahnya. Kampus kecil yang dahulunya pernah berjaya tetapi kini kian redup. Kampus kecil dalam arti sesungguhnya baik areal kampus maupun jumlah mahasiswanya yang tergolong kecil. Tetapi dari kampus kecil inilah Ibra merenda mimpi-mimpi besarnya. 

Baca Juga  Daur Ulang Penindasan: Pantulan Orwell

Pada semester awal ia bergabung dan aktif  dalam salah satu organisasi kemahasiswaan ekstrakampus.  Kesibukannya di organisasi, memimpin rapat, menggalang massa dan turun melakukan aksi menyebabkan prestasi akademisnya anjlok. Kuliahnya terbengkalai dan terabaikan. Sesuatu yang kemudian  membuatnya bertanya apa sebetulnya yang dia cari di dunia perguruan tinggi. Dia lalu menyadari dan secara perlahan mulai mengurangi keterlibatannya di dunia pergerakan karena hal tersebut bukan misinya (hlm. 15).  Pada awal kuliah Ibra juga terkagum-kagum dengan cara mengajar dosennya yang menarik karena mampu menjelaskan hal-hal rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami. Ia pun sempat bercita-cita menjadi dosen, tetapi ia juga menyadari bahwa misinya lebih dari sekadar dosen yang diidolakan oleh para mahasiswanya (hlm.10).

Terdiri atas atas  tujuh bagian novel ini ditulis dengan bahasa yang mengalir, renyah dan mendayu-dayu. Alur cerita mulai  menarik sejak Bagian 2 “Terjebak dalam Rasa”, Bagian 3 “Pengkhianatan dan Kebenaran” dan Bagian 4 “Keputusan Terakhir.” Dapat dikatakan klimaks cerita ada pada tiga bagian tersebut yang diawali dengan cinta rumit Ibra dengan empat  teman perempuan di kampusnya: Nur, Misan, Aida, dan Antika. Meski berpenampilan kalem tetapi Ibra cukup berwibawa selama memimpin organisasi di kampusnya—BEM dan Laskar Bima Craft (LBC)—sehingga beberapa teman perempuan di sekitar Ibra memiliki perasaan khusus. Ada yang berupaya memberi perhatian lebih bahkan mengekspresikan perasaan tapi Ibra mencoba mengendalikan diri agar tidak terjebak.

Sebagai sosok pemuda Ibra juga merasakan getaran-getaran halus, tetapi tiap kali perasaan itu datang ia selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia punya misi yang lain (hlm.42, 72, 76, 80). Ia tidak mau menjalani hubungan serius dengan seorang perempuan karena ada konsekuensi yang harus ditanggungnya. Ia belum siap menerima risiko tersebut. Baginya cinta bukan sekadar soal perasaan melainkan juga soal kesiapan (hlm. 35). Pada bagian akhir novel ini Ibra menegaskan komitmennya bahwa misinya tidak boleh terhenti hanya karena seseorang (hlm. 143).  

Penulis novel ini  adalah dosen muda sekaligus pendatang baru di dunia fiksi, tetapi novel ini menunjukkan talentanya. Akbar  cukup berhasil membangun alur cerita serta dialog-dialog yang tidak kekanak-kanakan terutama pada tokoh utamanya. Ia cukup sabar membangun dialog tokoh dalam ceritanya, meski  bagi sebagian pembaca (perempuan) mungkin sedikit kesal dengan karakter tokoh Ibra yang peragu dan tidak terbuka memberikan jawaban terhadap beberapa perempuan yang mendekatinya. Tetapi sekaligus ini juga keberhasilan penulis karena berhasil mengaduk-aduk emosi serta membawa pembacanya masuk ke dalam ide cerita.

Baca Juga  Ihwal Relasi Agama dan Sains

Sayangnya Bagian 5 seharusnya dapat dipecah jadi dua bagian secara terpisah terutama pengalaman Ibra melakukan kunjungan akademik ke sejumlah kampus di tiga negara ASEAN (Malaysia, Singapura dan Thailand). Akibatnya, bagian ini terkesan terlalu dipaksakan hingga membengkak menjadi 17 halaman—paling panjang dibandingkan enam bagian lainnya. Terutama bagi pembaca pemula jumlah halaman ini mungkin terasa melelahkan. Tetapi ini mungkin dapat dimaklumi karena, sebagaimana pengakuan penulisnya pada riwayat hidup,  novel ini ditulis dalam waktu tiga hari—saking semangatnya.  Begitu pun penulis kurang detil menggambarkan ketinggian pesawat ketika kali pertama tokoh Ibra naik pesawat terbang (hlm. 98). Demikian pula penulis absen menampilkan kemelut maupun kekeliruan pandangan aktivis mahasiswa terhadap kiprah LBC pada periode awal kehadiran UKM tersebut.  

Terlepas dari sedikit kesalahan teknis yang mengganggu misalnya penulisan MoU (hlm. 123) maupun tata letak (hlm. 125), namun secara keseluruhan novel ini menarik dibaca dan sangat relevan dengan konteks kehidupan mahasiswa hari ini, yakni bagaimana menyeimbangkan aktivitas di organisasi dan akademik. Meski Ibra akhirnya memilih untuk tidak memilih salah satu dari empat perempuan muda yang mendekatinya tapi ia tidak menyesali keputusannya. Sebab, baginya, tidak ada pertemanan yang sia-sia (hlm. 97).  

Judul Novel: Kamu Bukan Misiku | Penulis: M Akbar D’Bird’S | Tebal: 147 halaman | Ukuran buku: 12×18 | Cetakan pertama: Mei 2025 | Penerbit: Goresan Pena, Kuningan, Jawa Barat | ISBN: 978-623-367-993-0

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *