Nurani yang Lumpuh: Ketika Manusia Kehilangan Wajah Tuhan


Ke mana pun kamu menghadap, di sana ada wajah Tuhan. Ungkapan ini merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah.” Tentu, “wajah Tuhan” dalam ayat tersebut tidak dapat dipahami sebagaimana wajah manusia. Tuhan tidak menyerupai makhluk. Bahasa Al-Qur’an hadir dengan bahasa yang dapat dipahami manusia, menggunakan simbol dan ungkapan yang dekat dengan pengalaman manusia. Salah satunya adalah kata “wajah”.

Mengapa “wajah”? Karena dalam pengalaman manusia, wajah merupakan bagian yang paling mudah dikenali ketika seseorang berjumpa dengan sesamanya. Wajah menjadi identitas, cermin kehadiran, bahkan pintu pertama untuk membaca perasaan dan keadaan seseorang. Di wajah pula terdapat berbagai indra yang sangat penting: mata, hidung, dan mulut, sementara pendengaran berada di sekitar wajah. Melalui perangkat indrawi itu manusia membaca dunia, berkomunikasi, dan mengenali keberadaan di luar dirinya.

Namun, manusia tidak hanya memiliki indra jasmani. Ada satu perangkat yang jauh lebih halus dan menentukan arah kehidupannya, yaitu nurani. Jika mata memungkinkan manusia melihat yang tampak, maka nurani memungkinkan manusia menangkap sesuatu yang tidak selalu tampak. Jika telinga mendengar suara yang datang dari luar, maka nurani mendengar suara yang datang dari kedalaman diri. Nurani adalah salah satu fasilitas paling istimewa yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia.

Manusia yang mampu memfungsikan nuraninya akan lebih mudah merasakan kedekatan Tuhan. Ia tidak hanya melihat benda sebagai benda, tetapi mampu membaca tanda-tanda yang berada di balik benda. Ia tidak berhenti pada peristiwa, tetapi mencoba menangkap pesan yang terkandung di dalamnya. Baginya, alam semesta bukan sekadar kumpulan benda yang berjalan secara mekanis, melainkan hamparan ayat-ayat Tuhan yang senantiasa mengajak manusia untuk membaca dan merenung.

Di sinilah makna “ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah” menjadi sangat dalam. Wajah Tuhan tidak berarti Tuhan dapat dilihat secara kasat mata, tetapi tanda-tanda kekuasaan, kebesaran, kasih sayang, dan kehadiran-Nya dapat dirasakan oleh hati yang hidup. Orang yang memiliki kepekaan spiritual akan melihat bahwa di balik setiap kejadian terdapat kehendak dan kebijaksanaan Tuhan. Ia mampu membaca yang tersirat di balik yang tersurat.

Tetapi persoalannya, manusia modern justru sedang mengalami krisis kepekaan semacam itu. Ia hidup di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi semakin jauh dari dirinya sendiri. Ia mampu menjelajah ruang angkasa, tetapi kesulitan menjelajahi ruang batinnya. Ia mampu berkomunikasi dengan manusia di belahan bumi lain hanya dalam hitungan detik, tetapi sering gagal berdialog dengan dirinya sendiri. Ia memiliki begitu banyak informasi, tetapi kehilangan arah tentang untuk apa pengetahuan itu digunakan.

Inilah bentuk keterasingan manusia modern yang paling mengkhawatirkan: keterasingan dari nuraninya sendiri.

Modernisme yang dibangun semata-mata di atas rasionalitas, materialisme, dan kemajuan teknologi dapat membuat manusia lupa bahwa dirinya bukan sekadar makhluk biologis dan ekonomi. Manusia bukan hanya tubuh yang membutuhkan makanan, rumah, kendaraan, pekerjaan, dan berbagai fasilitas kehidupan. Manusia juga memiliki dimensi batin yang membutuhkan makna, ketenangan, cinta, pengabdian, dan hubungan dengan Yang Transenden.

Ketika dimensi batin itu diabaikan, manusia dapat mengalami apa yang disebut sebagai tuna moral: kehilangan kemampuan membedakan mana yang patut dan mana yang tidak patut, mana yang benar dan mana yang salah. Nurani perlahan-lahan menjadi tumpul. Suara kebenaran yang semestinya terdengar dari dalam dirinya kalah oleh suara kepentingan, ambisi, gengsi, dan kenikmatan material.

Pada titik tertentu, manusia yang semula ditempatkan Allah dalam posisi ahsani taqwim, sebaik-baik bentuk dan martabat, justru dapat terjerumus ke dalam kondisi asfala safilin, serendah-rendahnya keadaan. Kemajuan yang seharusnya mengangkat martabat manusia justru dapat menjadi jalan kejatuhan apabila tidak disertai kedalaman spiritual.

Manusia akhirnya memiliki banyak hal, tetapi kehilangan dirinya sendiri.

Ia memiliki rumah, tetapi tidak menemukan ketenangan. Ia memiliki kendaraan, tetapi tidak tahu ke mana harus pergi. Ia memiliki teknologi komunikasi, tetapi kehilangan komunikasi dengan hati. Ia memiliki banyak teman di dunia maya, tetapi merasa kesepian di dunia nyata. Ia memiliki banyak pengetahuan, tetapi tidak selalu memiliki kebijaksanaan. Ia mampu mengetahui hampir segala sesuatu tentang dunia, tetapi tidak mengenal dirinya sendiri.

Di sinilah materialisme menjadi persoalan serius. Ketika segala sesuatu diukur dengan manfaat, keuntungan, harga, dan kepemilikan, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat nilai yang tidak dapat dihitung dengan angka. Cinta, kejujuran, keikhlasan, pengorbanan, ketulusan, dan ketakwaan tidak selalu menghasilkan keuntungan material. Namun justru nilai-nilai itulah yang membuat manusia tetap menjadi manusia.

Al-Qur’an memberikan kritik yang sangat tajam terhadap manusia yang tidak menggunakan potensi batinnya: “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami…” (lahum qulubun la yafqahuna biha). Mereka mempunyai hati, tetapi hati itu tidak berfungsi. Mereka memiliki mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat kebenaran. Mereka memiliki telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar nasihat. Secara biologis mereka hidup, tetapi secara spiritual mereka kehilangan kehidupan.

Manusia seperti itu dapat disebut sebagai manusia nir-nurani: manusia yang masih memiliki hati secara biologis, tetapi tidak lagi menjadikan hati sebagai kompas moral dan spiritual.

Ada sebuah kisah sufi yang menarik tentang dua ekor ikan yang sedang berenang di laut. Suatu ketika, keduanya mendengar manusia berkata, “Betapa indahnya lautan ini.” Mendengar perkataan itu, kedua ikan tersebut kemudian berenang ke sana kemari mencari “lautan yang indah”. Mereka terus mencari, tetapi tidak pernah menemukannya. Ke mana pun mereka pergi, yang mereka temukan hanyalah air.

Kisah ini tentu bukan cerita tentang kebodohan ikan. Ia merupakan metafora tentang manusia yang sering mencari sesuatu yang sebenarnya sudah sangat dekat dengan dirinya. Ikan berada di dalam lautan, tetapi tidak menyadari lautan. Demikian pula manusia. Ia hidup dalam kepungan tanda-tanda kebesaran Tuhan, tetapi sering tidak menyadari kehadiran-Nya.

Mengapa ikan tidak mampu menyadari lautan? Karena ia tidak memiliki kemampuan untuk melakukan transendensi diri. Ia tidak mampu mengambil jarak dari dirinya, kemudian melihat dirinya sebagai objek untuk direnungkan. Manusia berbeda. Manusia memiliki kemampuan untuk mengambil jarak dari dirinya sendiri, merenungi keberadaannya, mempertanyakan asal-usulnya, tujuan hidupnya, dan ke mana akhirnya ia akan kembali.

Kemampuan mengambil jarak dari diri inilah yang membuat manusia mampu melakukan refleksi. Manusia dapat bertanya: Siapa saya? Dari mana saya berasal? Untuk apa saya hidup? Ke mana saya akan pergi? Apa yang harus saya lakukan selama hidup?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin sederhana, tetapi justru di sanalah pintu spiritualitas terbuka.

Manusia yang tidak pernah bertanya tentang dirinya akan mudah kehilangan arah. Ia akan menjalani kehidupan sekadar mengikuti arus. Ia bekerja karena semua orang bekerja. Ia mengejar kekayaan karena semua orang mengejar kekayaan. Ia mengejar popularitas karena popularitas dianggap sebagai ukuran keberhasilan. Ia membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena ingin diakui. Akhirnya, hidup berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.

Padahal, kehidupan bukan sekadar tentang seberapa banyak yang dapat kita kumpulkan, tetapi juga tentang seberapa dalam kita mampu memahami makna keberadaan kita.

 Nurani adalah ruang batin tempat manusia dapat bertemu dengan kebenaran. Ia bukan pengganti wahyu, tetapi menjadi salah satu instrumen batin yang membuat manusia mampu menerima, memahami, dan menghayati pesan wahyu. Karena itu, nurani perlu dirawat. Ia dapat menjadi terang, tetapi juga dapat tertutup oleh dosa, kesombongan, kepentingan, kebencian, dan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia.

Nurani yang terus-menerus diabaikan akhirnya akan menjadi tumpul. Dan nurani yang tumpul tidak lagi merasa gelisah ketika melakukan kesalahan. Kebohongan yang pada awalnya terasa berat lama-kelamaan menjadi biasa. Kezaliman yang dahulu membuat hati bergetar akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang lumrah. Ketidakadilan yang dahulu mengusik hati akhirnya hanya menjadi tontonan.

Yang paling berbahaya bukan ketika manusia melakukan kesalahan, tetapi ketika manusia tidak lagi merasa bersalah setelah melakukan kesalahan. Di situlah sesungguhnya kelumpuhan nurani terjadi.

Karena itu, manusia modern membutuhkan bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan spiritual. Ia membutuhkan bukan hanya kemampuan menguasai dunia, tetapi kemampuan menguasai dirinya sendiri. Sebab seseorang yang mampu menaklukkan dunia tetapi gagal menaklukkan hawa nafsunya, pada hakikatnya belum menjadi pemenang.

Mungkin persoalan terbesar manusia hari ini bukan karena Tuhan semakin jauh, tetapi karena manusia semakin kehilangan kemampuan untuk merasakan kedekatan-Nya. Tuhan tetap dekat, tanda-tanda-Nya tetap terbentang, alam tetap berbicara, kehidupan tetap memberikan pelajaran, dan hati tetap menyimpan suara kebenaran. Hanya saja, manusia terlalu sibuk dengan kebisingan dunia sehingga tidak lagi mampu mendengar suara yang paling dekat dengan dirinya.

Maka, barangkali yang perlu kita lakukan bukan mencari Tuhan ke mana-mana, tetapi menghidupkan kembali nurani yang telah lama kita matikan.

Sebab boleh jadi, wajah Tuhan sebenarnya tidak pernah hilang dari kehidupan kita. Yang hilang adalah kemampuan kita untuk melihatnya. Dan ketika nurani kembali hidup, dunia tidak lagi sekadar dipandang sebagai benda-benda yang harus dimiliki, tetapi sebagai tanda-tanda yang harus dibaca. Manusia tidak lagi sekadar menjalani hidup, tetapi mulai memahami pesan di balik kehidupan. Di situlah manusia kembali menemukan dirinya, menemukan arah hidupnya, dan pada akhirnya menemukan bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar jauh.[]

  

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *