MTs Alamtara Islamic School melaksanakan Rapat Evaluasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) pada Selasa, 6 Oktober 2026, bersama Ketua Yayasan, dan Pembina Yayasan. Rapat ini menjadi ruang refleksi terhadap proses pendidikan selama tiga bulan terakhir sekaligus forum untuk membaca kembali perkembangan siswa, efektivitas pembelajaran, tantangan yang dihadapi guru, serta langkah perbaikan yang perlu dilakukan secara bersama-sama.
Evaluasi tidak ditempatkan semata-mata sebagai kegiatan administratif untuk menilai apakah pembelajaran telah berjalan sesuai rencana. Lebih dari itu, rapat diarahkan untuk menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: apa yang telah tumbuh pada diri siswa, apa yang masih menjadi hambatan, dan apa yang harus diperbaiki oleh guru serta lembaga agar proses pendidikan bergerak ke arah yang lebih baik? Dengan pendekatan tersebut, setiap guru diberikan kesempatan menyampaikan pengalaman nyata selama mendampingi siswa, termasuk keberhasilan, kesulitan, metode yang efektif, serta hal-hal yang masih membutuhkan perhatian.
Dalam refleksi pembelajaran Akidah, Mr. Habibi menyampaikan bahwa materi yang sebelumnya telah dituntaskan oleh Mr. Nurdin dilanjutkan dengan materi mengenai sifat-sifat Allah. Secara teoritis, siswa mulai mampu mengenali sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah. Namun, kemampuan memahami materi belum selalu berjalan seiring dengan kesiapan siswa untuk mengikuti pembelajaran secara konsisten. Beberapa siswa masih mudah kehilangan perhatian, tidur, atau lebih tertarik pada suasana bercanda dibandingkan materi pembelajaran. Di sisi lain, siswa sebenarnya memiliki kemampuan menjelaskan ketika diberikan ruang yang tepat. Karena itu, pembelajaran perlu terus diawali dengan refleksi terhadap materi sebelumnya sebelum memasuki materi baru. Guru juga berusaha menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi memanfaatkan lingkungan sekitar untuk membantu siswa memahami hubungan antara dalil naqli dan dalil aqli. Bagi Mr. Habibi, tantangan tersebut menegaskan pentingnya ketulusan, kesabaran, dan kehadiran hati guru dalam mendampingi siswa tanpa membangun jarak antara guru dan peserta didik.
Pada mata pelajaran IPA, Ms. Putri melihat adanya perkembangan pemahaman siswa melalui penggunaan metode yang lebih kontekstual. Video pembelajaran, kegiatan lapangan, dan pengalaman langsung membantu siswa memahami materi yang sulit dijelaskan hanya melalui teori. Meski demikian, kemampuan memahami konsep dasar masih beragam. Beberapa siswa masih mengalami kesulitan pada materi seperti tingkatan taksonomi dan membedakan karakteristik tumbuhan monokotil. Perbedaan pengalaman belajar siswa juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Materi IPA yang dikaitkan langsung dengan lingkungan sekitar cenderung lebih mudah dipahami, sedangkan materi yang bersifat abstrak dan teoritis masih memerlukan penguatan. Karena itu, pembelajaran perlu terus diarahkan agar konsep ilmiah tidak berhenti pada hafalan, tetapi dibedah dan dihubungkan dengan pengalaman hidup siswa sehari-hari. Laboratorium juga dinilai menjadi ruang yang dapat meningkatkan kenyamanan, rasa ingin tahu, dan antusiasme siswa dalam belajar.
Pada Matematika, Mr. Adhim melaporkan bahwa pembelajaran berlangsung cukup baik. Sejumlah siswa mulai aktif menjawab pertanyaan dan mengangkat tangan ketika diberikan kesempatan. Namun, tantangan terbesar masih berkaitan dengan konsentrasi, terutama ketika sebagian siswa laki-laki lebih tertarik bermain atau melakukan aktivitas lain di luar fokus pembelajaran. Strategi yang menggabungkan penjelasan teori dengan latihan soal dinilai cukup disenangi siswa. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah menghubungkan konsep abstrak dengan pengalaman konkret, misalnya menjelaskan bilangan bulat dan bilangan rasional melalui analogi potongan pizza. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa konsep matematika akan lebih mudah diterima ketika siswa dapat melihat hubungan antara simbol dan pengalaman yang mereka kenal.
Dalam Seni Budaya dan Keterampilan (SBK), Ms. Mila menjelaskan adanya perubahan yang cukup terlihat dalam perkembangan kreativitas siswa. Pada tahap awal, siswa masih banyak menggambar berdasarkan imajinasi tanpa struktur yang jelas. Setelah memperoleh materi seni secara lebih terarah, mereka mulai mampu menyusun ornamen daerah dan mengenali unsur budaya yang sebelumnya tidak mereka ketahui. Salah satu siswa bahkan menyampaikan bahwa setelah belajar di Alamtara, ia baru mengetahui bahwa nanas memiliki penyebutan dalam bahasa Bima dan mengenal berbagai motif daerah. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran seni dapat menjadi pintu masuk bagi penguatan identitas lokal. Keterhubungan antara pembelajaran di kelas dengan kegiatan ekstrakurikuler juga dinilai membantu mempercepat pemahaman. Ke depan, seni tidak hanya diarahkan pada gambar dan ornamen umum, tetapi juga dapat dikembangkan melalui seni Islam seperti kaligrafi, iluminasi Al-Qur’an, ornamen masjid, serta karya visual yang dapat diproduksi, dipamerkan, dan bahkan diikutsertakan dalam berbagai kompetisi.
Pada pembelajaran TIK, Mr. Julkifli menjelaskan bahwa materi berpikir komputasional, khususnya algoritma, mulai diperkenalkan melalui kegiatan sehari-hari. Aktivitas seperti bangun tidur, memasak, dan menjalankan rutinitas tertentu digunakan sebagai contoh bahwa algoritma sesungguhnya dekat dengan kehidupan siswa. Pendekatan tersebut membantu siswa memahami bahwa algoritma bukan sekadar istilah teknologi, melainkan cara berpikir mengenai urutan, prosedur, dan penyelesaian masalah. Namun, terdapat siswa yang lebih tertarik pada praktik menggunakan laptop dibandingkan pembahasan teori. Karena itu, kebutuhan terhadap perangkat praktik menjadi salah satu perhatian penting. Saat ini praktik masih dilakukan secara bergantian sehingga perlu penguatan fasilitas secara bertahap. Selain itu, Mr. Jul menilai bahwa pengelolaan kelas perlu diperkuat melalui pelatihan manajemen kelas agar pembelajaran TIK dapat berlangsung lebih efektif.
Dalam Bahasa Arab, Ms. Mifta melihat adanya peningkatan kemampuan siswa dalam menyusun satu hingga dua kalimat sederhana. Penggunaan metode bernyanyi terbukti membantu siswa mengingat kosakata dengan lebih mudah, sementara media sederhana seperti kartu atau kertas kosakata yang ditempel di dinding kelas membantu membangun lingkungan bahasa. Namun, kemampuan awal siswa sangat beragam. Siswa yang sebelumnya belum pernah belajar Bahasa Arab membutuhkan strategi yang lebih bertahap dan konkret. Karena itu, target pembelajaran tidak cukup berhenti pada kemampuan menghafal kosakata seperti kitabun, tetapi harus diarahkan pada kemampuan menggunakan kosakata tersebut dalam kalimat dan komunikasi sederhana. Pengembangan kegiatan seperti KTD, mading, dan penambahan kosakata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari upaya membangun kebiasaan berbahasa.
Sementara itu, pembelajaran Bahasa Inggris menunjukkan kebutuhan terhadap pendekatan diferensiasi. Mr. Rangga menjelaskan bahwa kemampuan siswa berada pada tingkat yang berbeda, mulai dari baik hingga masih rendah. Semangat belajar secara umum cukup tinggi, tetapi hasil evaluasi menunjukkan bahwa motivasi tidak selalu berbanding lurus dengan penguasaan materi. Siswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi juga dapat kehilangan minat ketika pembelajaran bergerak terlalu lambat. Oleh karena itu, pemetaan kemampuan siswa menjadi penting agar setiap anak memperoleh tantangan yang sesuai. Salah satu strategi yang akan diperkuat adalah peer teaching, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa yang lebih menguasai materi untuk membantu temannya yang masih mengalami kesulitan. Pendekatan ini diharapkan dapat mencegah adanya pelabelan atau stratifikasi kemampuan sekaligus membangun budaya belajar bersama.
Pada PJOK, Ms. Lena menyampaikan bahwa siswa memiliki potensi dalam pembelajaran bola basket, tetapi beberapa keterampilan dasar seperti passing dan dribbling masih perlu diulang. Penguasaan keterampilan motorik tidak dapat dicapai hanya melalui penjelasan, melainkan membutuhkan waktu praktik dan pengulangan. Tantangan lain berkaitan dengan kesiapan siswa membawa perlengkapan olahraga serta kepatuhan terhadap prosedur pembelajaran. Karena itu, diperlukan rutinitas yang konsisten, termasuk penggunaan aba-aba atau peluit dan kesempatan berlatih di luar jam pembelajaran. Guru juga perlu memiliki kemampuan membaca bagian materi yang belum dikuasai siswa sehingga pengulangan tidak dianggap sebagai kemunduran, melainkan bagian dari proses penguasaan keterampilan.
Dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Mr. Salahudin menjelaskan penggunaan metode menonton, mencatat informasi penting seperti tahun, tokoh, dan peristiwa, kemudian dilanjutkan dengan kuis. Metode tersebut mampu memunculkan siswa yang kompetitif dan memiliki inisiatif. Perbedaan latar belakang pendidikan sebelumnya juga terlihat dalam kemampuan siswa, khususnya antara lulusan SD dan MI. Menariknya, siswa menunjukkan antusiasme ketika materi SKI dikaitkan dengan pengalaman dan lingkungan budaya mereka sendiri. Tradisi seperti peta kapanca, mbolo weki, boho ra’a, serta berbagai kebiasaan masyarakat Bima dapat menjadi pintu masuk untuk menghubungkan materi sejarah, budaya, dan kehidupan sehari-hari. Pembelajaran kemudian tidak hanya menjadi proses mengingat peristiwa masa lalu, tetapi juga membantu siswa memahami identitas budaya mereka.
Pada Bahasa Indonesia dan Literasi, Ms. Ainun menyampaikan bahwa kemampuan membaca, berbicara, dan menulis mulai berkembang melalui materi deskripsi dan prosedur. Siswa menunjukkan minat yang lebih tinggi ketika tugas dikaitkan dengan wisata alam dan kehidupan di Bima. Pada materi puisi rakyat, misalnya, siswa mulai menghasilkan karya pantun, sementara gurindam dan syair masih menjadi tantangan yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut. Dalam praktik menulis, siswa diberikan kesempatan melakukan pengamatan langsung, menuliskan hasilnya, kemudian memperoleh koreksi dari guru. Pendekatan tersebut memungkinkan proses belajar berlangsung dari pengalaman menuju teks. Imajinasi siswa tidak perlu dibatasi, tetapi diarahkan agar menghasilkan karya yang memiliki struktur dan tujuan. Potensi ini juga membuka peluang kolaborasi lintas mata pelajaran dengan seni dan TIK.
Pembelajaran Public Speaking yang disampaikan Ms. Mira juga menunjukkan pentingnya pengalaman langsung. Siswa mulai mengenal dasar-dasar berbicara di depan publik, termasuk gesture, eye contact, keberanian tampil, serta kemampuan memilih bentuk penampilan sesuai minat masing-masing, seperti menjadi pembawa acara atau menyampaikan pidato. Tantangan yang masih muncul adalah perubahan suasana hati, konsentrasi, dan rasa gugup ketika menjadi pusat perhatian. Karena itu, pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui teori, tetapi melalui praktik, rekaman, umpan balik, dan pendampingan individual. Siswa yang belum percaya diri diberikan kesempatan tampil secara bertahap dalam lingkungan yang membuat mereka merasa aman. Strategi tersebut menempatkan keberanian sebagai keterampilan yang dibangun melalui pengalaman, bukan tuntutan yang muncul secara instan.
Dari berbagai laporan guru tersebut, terlihat satu pola yang sama: siswa belajar lebih baik ketika materi memiliki hubungan dengan pengalaman nyata, lingkungan, minat, dan kehidupan mereka sendiri. Video, laboratorium, praktik olahraga, seni, bahasa, budaya Bima, teknologi, permainan, hingga kegiatan sehari-hari dapat menjadi jembatan untuk membawa konsep akademik menjadi lebih konkret. Pada saat yang sama, evaluasi menunjukkan bahwa kemampuan siswa sangat beragam. Karena itu, pendekatan pembelajaran yang seragam untuk semua siswa perlu secara bertahap digantikan dengan pembelajaran yang lebih adaptif, diferensiatif, kontekstual, dan berbasis pengalaman.
Rapat juga memberikan perhatian serius terhadap komunikasi internal antara guru, sekolah, dan yayasan. Ibu Pembina Prof. Atun Wardatun menegaskan bahwa berbagai kebijakan dan keputusan yayasan bukan sesuatu yang bersifat final tanpa ruang masukan. Lembaga membutuhkan komunikasi dua arah yang sehat agar kebijakan dapat terus disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan MTs Alamtara Islamic School. Karena itu, perlu dibangun mekanisme komunikasi yang lebih terstruktur, termasuk ruang penyampaian masukan atau aduan yang memungkinkan guru menyampaikan persoalan secara aman. Tujuannya bukan mencari kesalahan, melainkan membuka ruang perbaikan sebelum persoalan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Pembina Yayasan, Prof. Abdul Wahid, menegaskan bahwa MTs Alamtara Islamic School saat ini berada pada fase menanam untuk kemudian memanen. Sekolah tidak sedang mengejar hasil instan, tetapi membangun fondasi sistem yang kuat. Karena itu, setiap guru diharapkan tidak hanya menjalankan tugas mengajar, tetapi ikut memberikan gagasan bagi pengembangan lembaga. Media sosial sekolah juga menjadi bagian dari perhatian. Aktivitas dan capaian sekolah perlu lebih banyak didokumentasikan dan dipublikasikan, termasuk melalui kontribusi para guru, sehingga masyarakat dapat melihat proses pendidikan yang berlangsung di Alamtara secara lebih nyata.
Dalam evaluasi terhadap pembelajaran, Pembina Yayasan juga mendorong guru untuk tidak berhenti pada angka hasil belajar. Ketika seorang siswa memperoleh nilai nol, pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar mengapa nilainya rendah, tetapi apa yang menyebabkan kondisi tersebut terjadi dan intervensi apa yang dapat dilakukan? Pendekatan semacam ini mengubah evaluasi dari sekadar penilaian menjadi proses diagnosis. Guru perlu membaca faktor kemampuan awal, minat, metode, konsentrasi, lingkungan belajar, serta bentuk evaluasi yang digunakan sebelum mengambil keputusan pembelajaran berikutnya.
Semangat kolaborasi juga diarahkan pada pengembangan bahan ajar berbasis muatan lokal. Kolaborasi antara Ms. Ainun dalam pengembangan narasi, Ms. Mila dalam ilustrasi, dan Mr. Jul dalam penguatan media digital dapat dikembangkan menjadi produk pembelajaran yang lebih terstruktur. Bahan bacaan mengenai Bima, budaya lokal, lingkungan, sejarah, dan kehidupan masyarakat dapat menjadi sumber belajar yang dekat dengan siswa sekaligus memperkuat identitas sekolah. Dalam jangka panjang, karya-karya tersebut berpotensi dikembangkan menjadi kumpulan bahan bacaan atau bahkan pusat sumber belajar muatan lokal yang dapat digunakan oleh siswa dan masyarakat.
Pada pembelajaran keagamaan, Mr. Feri juga mendapatkan arahan agar proses pembelajaran tidak terlalu bertumpu pada hafalan. Hafalan tetap penting, tetapi perlu dicari cara agar siswa memahami makna, konteks, dan penggunaan materi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kemampuan menghafal doa dapat diperkuat melalui pembiasaan doa setelah salat dan kegiatan keseharian. Siswa yang memiliki kemampuan hafalan lebih rendah perlu memperoleh pendekatan yang berbeda agar tetap berkembang tanpa merasa tertinggal.
Seluruh pembahasan akhirnya mengarah pada satu kesadaran penting: evaluasi guru bukanlah evaluasi terhadap siapa yang berhasil dan siapa yang gagal, tetapi evaluasi terhadap bagaimana sistem pendidikan dapat terus diperbaiki. Guru perlu mengevaluasi metode mengajar, siswa perlu dibantu memahami cara belajarnya, dan lembaga perlu memastikan sistem pendukungnya bekerja. Dengan cara pandang tersebut, keberhasilan sekolah tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari tumbuhnya karakter, keberanian, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, kecakapan berpikir, identitas budaya, keterampilan sosial, dan kemampuan siswa menerapkan pengetahuan dalam kehidupan.
Seluruh GTK diajak melihat kembali pertanyaan yang lebih besar oleh Prof. Abdul Wahid, sebelum memasuki periode kerja berikutnya: “Where will we be in the next three to five years?” Pertanyaan tersebut menjadi ajakan untuk tidak bekerja hanya berdasarkan rutinitas hari ini, tetapi membangun arah jangka panjang. Setiap guru perlu memahami kontribusinya terhadap masa depan sekolah, sementara yayasan dan pimpinan sekolah berkewajiban menyediakan sistem yang memungkinkan setiap orang berkembang.
Dengan demikian, Rapat Evaluasi GTK MTs Alamtara Islamic School pada 6 Oktober 2026 menjadi lebih dari sekadar pertemuan evaluasi tiga bulan. Rapat ini menjadi momentum untuk menyatukan refleksi, memperbaiki komunikasi, memperkuat pembelajaran, mengembangkan kolaborasi, dan menegaskan kembali arah pertumbuhan lembaga. Alamtara ingin tumbuh bersama: guru belajar, siswa berkembang, sistem diperbaiki, dan seluruh unsur sekolah bergerak dalam satu arah. Karena pendidikan yang kuat tidak dibangun dalam satu pertemuan, tetapi melalui keberanian untuk terus mengevaluasi, memperbaiki, dan belajar bersama.

Dosen STIPAR Soromandi, Bima.






