Dialektika sebagai Penyambung Peradaban

PERISTIWA bedah buku puisi Pertemuan Kecil karya penulis menjadi ruang penting bagi refleksi kebudayaan. Bukan sekadar forum literasi, acara ini menyingkap lapisan makna yang lebih dalam tentang bagaimana sebuah karya seni hidup, mati, dan dihidupkan kembali melalui pembacaan, penafsiran, dan transformasi. Guru Besar Univeritas Islam Negeri (UIN) Mataram, Prof. Dr. Abdul Wahid, yang juga dikenal dengan nama medsosnya Aba Du Wahid, menyebut peristiwa ini sebagai sebuah “pertemuan besar” dari proses dialektika.


Dialektika, dalam pengertian filsafat maupun kebudayaan, adalah proses pertukaran ide, pembacaan ulang, hingga penyambungan makna dari satu entitas ke entitas lain. Dialektika tidak pernah berhenti; ia senantiasa bergerak, melahirkan kembali kehidupan dalam karya yang sebelumnya dianggap “selesai”. Dalam konteks ini, puisi, lukisan, musik, maupun olah gerak bukanlah akhir, melainkan bagian dari rangkaian panjang perjalanan makna.

Bagi Prof. Abdul Wahid, momen pertama yang menandai dialektika itu hadir ketika ia menyaksikan musikalisasi puisi “Secret Garden” (berangkat dari karya lukis Mantra Ardhana) oleh Ary Julyant. Pada awalnya, ada keraguan. Ia tidak percaya bahwa di balik sikap rendah hati, tawadhu, dan ketidak-inginan penyair untuk disingkap, ternyata tersimpan sesuatu yang besar. Namun, keraguan itu justru menjadi pintu awal dialektika: dari rasa tidak percaya, kemudian bergerak menuju keyakinan.

Keyakinan itu lahir ketika ia menyadari betapa kuatnya proses kreasi dalam karya-karya penulis. Dari perspektif kajian kebudayaan, ada adagium yang sering dikutip: penyair itu mati, pelukis itu mati, pengarang itu mati. Maksudnya, karya seni pada dirinya sendiri hanyalah teks yang pasif. Yang membuatnya hidup kembali adalah pembaca—orang yang menafsirkan, meresapi, dan memberi makna baru.

Maka, menurut Prof. Wahid, penulis adalah pembaca ulung. Ia bukan hanya menyalin atau mengulang, melainkan menyambung kehidupan karya orang lain dengan kreativitasnya sendiri. Dari sebuah lukisan lahirlah puisi; dari puisi lahir musikalisasi; dari musikalisasi lahir olah gerak. Inilah lingkaran dialektika, di mana seni tidak pernah berhenti di satu bentuk saja, melainkan terus melahirkan makna baru.

Dalam refleksi lebih jauh, Prof. Wahid mengaitkan proses ini dengan pesan spiritual. Ia mengingat kembali kutipan Surat An-Naba ayat 38 yang sempat disinggung pembicara sebelumnya, Majas Pribadi Om Prie. Ayat itu menyebut: “Yauma yaqumur-ruhu walmala ikatu saffal la yatakallahuma illa man azina lahur-rahmanu wa qala sawaba.”

Makna ayat tersebut kemudian ia tarik ke dalam konteks pembacaan seni. Yauma yaqumur-ruhu—hari ketika ruh berdiri—ibarat hari ketika karya seni menampakkan jiwanya. Sebuah lukisan, misalnya, seolah membentangkan ruh kepada penikmatnya. Ruh itu adalah semangat, keabadian, sesuatu yang melampaui wujud fisik karya itu sendiri.

Baca Juga  Program Desa Binaan La Rimpu Roi-Roka Resmi Di-Launching

Walmala ikatu saffan—para malaikat berbaris rapi—dilihat sebagai simbol inspirasi yang bersayap, yang membawa pengetahuan baru. Setiap karya seni, bila dibaca dengan hati yang jernih, akan melahirkan ilham. Dan la yatakallamuna illa man azina lahur-rahmanu—tidak ada yang berbicara kecuali yang diizinkan Allah—menjadi peringatan bahwa hakikat karya seni, bila ia benar-benar berbicara, hanya akan menyampaikan kebenaran.

Dengan pendekatan spiritual ini, Prof. Wahid menegaskan bahwa dialektika bukan hanya proses intelektual, tetapi juga ruhaniyah. Karya seni hidup kembali karena ada izin Tuhan, karena ruh kebenaran menitis ke dalamnya melalui pembacaan yang penuh kesungguhan.

Dialektika sebagai Penyambung Peradaban

Menurut Prof. Wahid, apa yang terjadi dalam bedah buku Pertemuan Kecil adalah contoh nyata bagaimana dialektika bekerja. Setiap pembacaan ulang menjadikan karya tidak pernah mati. Ia menegaskan: “Dialektika adalah penyambung peradaban. Peradaban akan mati, kebenaran akan mati, jika tidak ada pembacaan-pembacaan dialektis seperti yang dilakukan penulis.”

Karya seni pada hakikatnya adalah jembatan peradaban. Lukisan bukan hanya goresan, puisi bukan hanya rangkaian kata, musik bukan hanya nada. Semuanya adalah teks budaya yang harus terus ditafsirkan. Bila berhenti ditafsirkan, ia akan mati, membeku, hilang dalam waktu.

Tetapi bila terus hidup melalui dialektika, ia akan selalu menemukan relevansi baru, menyambungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Peristiwa malam itu memberikan sejumlah contoh konkret bagaimana dialektika bekerja:

Olah Gerak “Gempa Lombok: Ingatan Melawan Lupa” karya Zaeni Mohammad.
Prosesnya dimulai dari lukisan, lalu dibaca ulang menjadi puisi, kemudian dimusikalisasi oleh Soni Hendrawan, hingga akhirnya dipentaskan dalam bentuk olah gerak. Satu karya mengalami tiga kali metamorfosis makna, membuktikan bahwa seni selalu hidup kembali dalam bentuk baru.
Baca Juga  Cerita dari Udara


Foto “Majestic”
yang dijadikan puisi, dibacakan oleh Hurri Nugroho, lalu dimusikalisasi oleh Ary Juliyant Ary Darjanto featuring Arif Prasojo. Foto yang diam menjadi kata, kata menjadi musik, dan musik menjadi pengalaman kolektif.

Lukisan “Secret Garden” karya Mantra Ardhana, yang kemudian dijadikan puisi, dibaca oleh Sri Latifa, lalu dimusikalisasi oleh Ary Juliyant. Setiap tahap memberikan tafsir baru, memperluas makna, dan melahirkan pengalaman estetik yang lebih kaya.

Ketiga contoh ini menunjukkan bagaimana sebuah karya tidak berhenti pada pencipta awalnya. Ia selalu menemukan kehidupan baru melalui pembacaan orang lain.

Proses dialektika seperti yang digambarkan Prof. Abdul Wahid pada akhirnya menunjukkan bahwa seni adalah ruang penyambung ruh peradaban. Dalam dunia yang terus berubah, karya seni menjadi pengingat bahwa kebenaran dan nilai-nilai luhur hanya akan bertahan jika terus ditafsirkan ulang.

Dialektika bukan sekadar metode berpikir, melainkan cara manusia menjaga warisan, menyuburkan kreativitas, dan menyalakan kembali api pengetahuan. Apa yang dilakukan penulis dengan Pertemuan Kecil adalah contoh bagaimana seorang penyair berfungsi sebagai “pembaca ulung”—menghidupkan kembali karya seni rupa, lalu memberinya nafas baru dalam bentuk puisi dan kreasi kolaboratif.

Esensi dari proses dialektika adalah kehidupan yang terus berlanjut. Dari keraguan lahir keyakinan. Dari lukisan lahir puisi. Dari puisi lahir musik. Dari musik lahir olah gerak. Begitulah siklus kebudayaan bekerja: ia tidak pernah berhenti, tetapi senantiasa bergerak, menyambung satu generasi ke generasi berikutnya.

Seperti diungkap Prof. Abdul Wahid, dialektika adalah penyambung peradaban. Tanpa dialektika, karya seni hanya akan menjadi benda mati. Dengan dialektika, ia menjadi ruang hidup yang melahirkan inspirasi, pengetahuan, bahkan kebenaran.

Peristiwa bedah buku Pertemuan Kecil membuktikan satu hal: bahwa seni bukanlah milik tunggal penciptanya, melainkan milik kolektif yang terus dibaca, dihidupkan, dan ditransformasikan. Dan di situlah letak keabadian seni—dalam dialektika yang tak pernah henti.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *