Di Mana Letak Budaya Mbojo Sekarang?

Ujung timur Pulau Sumbawa, terdapat dua daerah dengan kekuatan budaya yang begitu terikat dengan masyarakat sehingga disebut sebagai dana ma mbari. Kota Bima dan Kabupaten Bima hidup dalam pusaran perubahan yang begitu signifikan. Jalan aspal, jaringan internet, dan ekonomi pasar datang untuk memberi janji kemajuan.

Janji-janji kemajuan ini juga membawa kegelisahan yang pelan-pelan melumatkan fondasi moral masyarakat. Arus-arus yang begitu kencang perlahan mengubah sudut pandang masyarakat Bima, sehingga Budaya Mbojo hanya berdiri sebagai rumah tua yang kokoh, tetapi dinding-dindingnya mulai retak oleh modernitas.

Slogan Maja Labo Dahu dibentuk bukan hanya sekedar slogan semata, melainkan sebagai prinsip yang kokoh yang harus dipegang teguh oleh masyarakat Bima. Maja Labo Dahu atau diartikan sebagai “Malu dan Takut” berbuat salah menjadi benteng utama perilaku masyarakat Bima.

Dalam kehidupan masyarakat tradisional, tindakan-tindakan kriminal, seperti mencuri, menipu, dan melakukan tindakan kekerasan terhadap sesama manusia dipandang mencoreng nama baik keluarga bahkan kampung. Bersama dengan Renta Ba Rabo yang selalu menekan terhadap solidaritas sosial menjadi landasan yang memiliki kontrol sosial yang melekat dalam hati.

Sesuai dengan judul tulisan ini, “Di Mana Letak Budaya Mbojo Sekarang?. Seperti yang kita ketahui bersama, situasi di Kota Bima dan Kabupaten Bima makin hari semakin parah dalam tindakan-tindakan kriminal. Perang antar kampung, kasus pemanahan, perkelahian antar remaja menunjukkan bahwa Budaya Mbojo mulai terkikis dan hanya nama yang tertera saja.

Nilai-nilai yang sudah lama ditanam oleh leluhur dengan penuh kesakralan menjadi hal yang biasa saja sekarang. Masalah-masalah yang kerap kali terjadi menjadi alasan utama adanya pertanyaan di mana letak Budaya Mbojo saat ini. Budaya Mbojo hanya eksis ketika ada festival-festival tertentu saja, tetapi tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tulisan ini tidak bermaksud menggurui, sepertinya kita semua paham bahwa saat ini Budaya Mbojo hanya menjadi simbol. Leluhur membentuk nilai budaya tersebut bukan hanya untuk sebagai penghias tradisi semata, melainkan untuk menahan manusia untuk tidak bertindak dengan kekerasan, kebohongan, dan pengkhianatan. Nilai ini diperkuat dengan melebarnya ajaran Islam sejak masa Kesultanan Bima, ketika terjadi akulturasi antara budaya dan agama dapat membentuk akhlak secara kolektif.

Baca Juga  Membenci Jokowi, Menolak Anies: Potret Kebingungan Kelas Menengah Indonesia

Apa yang terjadi pada masyarakat kita, budaya dilecehkan dengan tindakan-tindakan yang tidak mencerminkan nilai leluhur, bahkan melecehkan nilai Islam yang sudah lama melekat pada masyarakat Bima. Fenomena ini menunjukkan krisis moral kolektif dalam masyarakat.

Penelitian pada tesis saya menunjukkan bagaimana eksistensi Budaya Mbojo dalam menyelesaikan konflik di Kota Bima. Pada tulisan ini saya tidak akan membahas tesis saya secara signifikan. Namun, yang menarik adalah bahwa pada tesis tersebut membahas bagaimana masyarakat Bima mendefinisikan “solidaritas” pada definisi yang salah.

 Renta Ba Rabo merupakan nilai yang menekankan agar masyarakat Bima bertindak solid. Dewasa ini masyarakat Bima justru salah mengartikan kata solidaritas. Solidaritas seolah-olah berdampingan dengan tindakan kekerasan. Sebagai contoh; si A menjadi korban kekerasan oleh si B, dan kelompok si A tidak menerima tindakan tersebut – yang akhirnya balas dendam hingga terjadi konflik dalam skala yang besar. Lalu apa sebenarnya makna Renta Ba Rabo, kalau saat ini masyarakat Bima menjadikan solidaritas sebagai alasan utama untuk melakukan tindakan balas dendam dan kekerasan. Tindakan semacam ini menunjukkan betapa impulsifnya masyarakat Bima.

Melemahnya norma sosial berdampak pada meningkatnya kriminalitas. Ijinkan saya mengutip istilah dari Durkheim, ia menyebut masalah ini sebagai anomie. Anomie terjadi karena nilai-nilai lama melemah yang mengakibatkan masyarakat kehilangan pedoman moral. Pada pernyataan ini dapat dipahami bahwa nilai leluhur menjadi pedoman utama dalam membentuk masyarakat yang bermoral.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Bima secara tidak langsung hidup dalam ruang lingkup pemikiran Lewis A. Coser dengan gagasannya bahwa konflik tidak hanya bersifat destruktif semata, tetapi justru melahirkan ikatan yang semakin kuat pada kelompok. Jujur, saya pribadi tidak akan pernah setuju dengan pemikiran ini. Mengapa? Karena pada Budaya Mbojo terdapat Mbolo ro Dampa yang dapat dijadikan alat untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang damai tanpa ada keberpihakan pada salah satu pihak.

Baca Juga  Konflik Palestina-Israel, Dialog Agama dan Citra Yahudi

Dengan terus-menerus terjadinya konflik dan tindakan kriminalitas lainnya di Kota Bima dan Kabupaten Bima menandakan bukan hanya persoalan hukum semata, melainkan sebagai tanda melemahnya nilai Budaya Mbojo yang sejak dulu menjadi penopang hidup. Sebagai tindakan solutif budaya-budaya tersebut harus dihidupkan kembali pada dana ma mbari, bukan hanya mengandalkan hukuman formal saja sebagai penopang. Dengan menghidupkan kembali Budaya Mbojo pada lingkungan keluarga, sekolah, kepemimpinan, hingga kebijakan publik menjadi cara yang bijak agar eksistensi budaya kembali pada habitatnya.

Pada akhirnya modernitas bukan bagian utama yang menyebabkan terkikisnya Budaya Mbojo, tetapi justru masalah internal dari masyarakat Bima itu sendiri. Kemajuan peradaban tidak harus mengikis budaya, justru peradaban selalu membutuhkan budaya sebagai kompas moral. Dengan demikian, pondasi budaya harus kembali diperkuat agar masyarakat Bima menjadi masyarakat yang perlahan mengubah SDM menjadi lebih baik dan bijaksana lagi dalam merespon masalah-masalah yang kerap kali terjadi di Kota Bima ataupun Kabupaten Bima.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *