Jalan Sunyi Membangun Pariwisata Bima yang Berakar dan Berdaya

Pariwisata Bima tidak dapat dibangun hanya dengan logika pasar atau sekadar mengejar jumlah kunjungan wisatawan. Ia adalah ruang hidup yang kompleks tempat bertemunya nilai budaya, kekuatan sosial masyarakat, potensi alam, dan dinamika ekonomi lokal. Dalam konteks ini, pembangunan pariwisata di Bima harus dipahami sebagai proses sosial yang berakar pada nilai-nilai lokal sekaligus adaptif terhadap perubahan global. Penelitian tentang manajemen destinasi berbasis kearifan lokal menunjukkan bahwa kekuatan utama Bima terletak pada keberagaman budaya dan alam serta posisi strategisnya sebagai penghubung kawasan wisata nasional seperti Labuan Bajo, Lombok, dan Bali (Feriyadin, Marswandi, et al., 2024; Feriyadin, 2023).

Namun, potensi ini tidak akan berarti tanpa pendekatan pengelolaan yang mampu menjembatani antara nilai lokal dan praktik modern. Di sinilah konsep Maja Labo Dahu menjadi sangat relevan bukan hanya sebagai identitas budaya, tetapi sebagai fondasi etika dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan. Tulisan ini berupaya membedah secara mendalam bagaimana pariwisata Bima dapat dikembangkan secara rigoris melalui integrasi nilai lokal, penguatan peran pemuda, serta inovasi produk wisata berbasis pengalaman.

Jika ditelusuri lebih dalam, pembangunan pariwisata Bima menghadapi dua tantangan utama: pertama, kecenderungan pembangunan yang masih berorientasi fisik dan seremonial; kedua, lemahnya integrasi nilai dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan destinasi.

Pariwisata yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh daya tarik (attraction), tetapi juga oleh sistem pengelolaan (management system) yang mampu menciptakan harmoni antara manusia, lingkungan, dan nilai spiritual. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis Maja Labo Dahu mampu menjadi model alternatif dalam pengelolaan destinasi karena mengandung nilai keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam (Feriyadin, Marswandi, et al., 2024).

Dalam praktiknya, nilai ini dapat diterjemahkan menjadi etika pelayanan wisata misalnya kejujuran pedagang, keramahan masyarakat, serta kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Hal ini sejalan dengan konsep ethical capital dalam pariwisata halal, di mana kekuatan utama destinasi bukan hanya pada atribut fisik, tetapi pada nilai yang hidup dalam masyarakat seperti dedikasi sosial, pemahaman nilai agama, dan kepatuhan moral (Pratama et al., 2026).

Namun, nilai saja tidak cukup. Pembangunan pariwisata membutuhkan aktor penggerak, dan dalam konteks Bima, pemuda memegang peran strategis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemuda memiliki kontribusi signifikan dalam membangun citra destinasi melalui pelayanan, inovasi, dan keterlibatan dalam organisasi wisata seperti Pokdarwis (Busaini et al., 2020).

Bahkan, dalam konteks desa wisata, kekuatan utama keberlanjutan terletak pada modal sosial pemuda seperti kepercayaan, kolaborasi, dan jaringan sosial yang kuat (Feriyadin et al., 2022). Sayangnya, realitas di lapangan menunjukkan bahwa partisipasi pemuda sering kali belum optimal, terutama pada tahap perencanaan dan pengambilan keputusan (Feriyadin et al., 2021). Ini menjadi paradoks: di satu sisi pemuda adalah motor penggerak, tetapi di sisi lain belum sepenuhnya diberi ruang. Oleh karena itu, strategi pembangunan pariwisata Bima harus secara sadar membuka ruang partisipatif bagi generasi muda bukan hanya sebagai pelaksana, tetapi sebagai perancang masa depan destinasi.

Baca Juga  Membaca Teori Konflik dalam Kacamata Johan Galtung

Contoh konkret dapat dilihat pada pengembangan river tubing di Desa Kawinda To’i. Aktivitas wisata minat khusus ini tidak hanya menawarkan pengalaman petualangan, tetapi juga menjadi ruang pemberdayaan pemuda sebagai inovator dan pengelola utama (Feriyadin, Anisa, et al., 2024). Dengan memanfaatkan potensi alam seperti aliran sungai yang aman dan panorama yang asri, pemuda setempat mampu menciptakan produk wisata yang bernilai ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Ini menunjukkan bahwa ketika pemuda diberi ruang dan dukungan, mereka mampu mengubah potensi lokal menjadi daya tarik wisata yang kompetitif. Hal serupa juga terlihat dalam pengembangan Tradisi Raju di Desa Mbawa, di mana pemuda berperan aktif dalam pelestarian budaya, meskipun masih menghadapi tantangan dalam aspek manajerial dan literasi pariwisata (Feriyadin et al., 2025). Dari dua contoh ini, dapat ditarik benang merah bahwa keberhasilan pariwisata Bima tidak hanya bergantung pada potensi, tetapi pada kualitas pengelolaan berbasis komunitas.

Lebih jauh, pembangunan pariwisata Bima juga harus mengedepankan perencanaan yang komprehensif dan terintegrasi. Pariwisata adalah sektor yang kompleks karena melibatkan berbagai aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan sehingga memerlukan perencanaan yang matang dan berbasis data (Andriani et al., 2022). Dalam konteks ini, pendekatan community-based tourism menjadi sangat relevan, karena menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan.

Artinya, setiap program pengembangan wisata harus berangkat dari kebutuhan, potensi, dan nilai yang hidup dalam masyarakat. Tanpa itu, pariwisata hanya akan menjadi proyek sesaat yang tidak berkelanjutan. Selain itu, pengelolaan operasional layanan wisata juga harus diperhatikan, karena kualitas pengalaman wisatawan sangat ditentukan oleh pelayanan yang mereka terima mulai dari interaksi dengan masyarakat hingga fasilitas yang tersedia (Aisyah et al., 2022).

Maka dari itu, membangun pariwisata Bima sejatinya bukan tentang menciptakan destinasi yang “ramai”, tetapi tentang membangun ekosistem yang “hidup”. Ekosistem yang mampu menjaga keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan lingkungan, serta memberikan ruang bagi masyarakat untuk tumbuh dan berkembang. Maja Labo Dahu bukan sekadar slogan, tetapi fondasi nilai yang dapat mengarahkan pembangunan pariwisata menuju arah yang lebih beretika dan berkelanjutan.

Pemuda bukan sekadar pelengkap, tetapi aktor utama yang harus diberdayakan melalui pendidikan, pelatihan, dan ruang partisipasi. Inovasi seperti river tubing dan pengembangan tradisi lokal menunjukkan bahwa masa depan pariwisata Bima terletak pada kemampuan mengolah potensi lokal menjadi pengalaman yang autentik dan bermakna.

Baca Juga  Awas Buaya

Referensi

Aisyah, H., Dewi Andriani, L. K. O., Anisa, Syahadat, R. M., Ramadhani, I., Mokodompit, E. A., Feriyadin, Afrilian, P., Satmoko, N. D., Hayati, R., Satriawati, Z., & Musafir. (2022). Manajemen Operasi Layanan Kepariwisataan. Widina Media Utama.

Andriani, D., Adelia, S., Juliansyah, R., Wiratanaya, G. N., Sari, D. P., Pidada, I. B. A., Purwaningrum, H., Hatibie, I. K., Putri, Z. E., Haryanto, E., Feriyadin, Satmoko, N. D., Lumanauw, N., Afrilian, P., & Hanim, W. (2022). Perencaan Pariwisata. In Widina Bhakti Persada Bandung (1st ed.). Widina Bhakti Persada Bandung.

Busaini, B., Rinuastuti, B. H., Feriyadin, F., Wijanarko, A., Assidiq, K. A., Hadinata, L. A., & Rahmaningsih, S. (2020). Peran Pemuda Dalam Membangun Citra Pariwisata Halal Di Desa Setanggor. Jmm Unram – Master of Management Journal, 9(3), 295–304. https://doi.org/10.29303/jmm.v9i3.574

Feriyadin. (2023). Maja Labo Dahu: A Local Wisdom for Sustainable Tourism Destination Management. 1st International Conference on Economy, Management, and Business (IC-EMBus), 1, 608–622.

Feriyadin, Anisa, Kausar, N., & Wahyudin, M. A. (2024). Development of River Tubing as A Special Interset Tourism in Kawinda To’i Tourism Village: A Youth Perspective. Sadar Wisata: Jurnal Pariwisata, 7(2), 112–125. https://doi.org/10.32528/sw.v7i2.2500

Feriyadin, Anisa, Najamudin, Apriani, A. N., & Marwan. (2025). Studi Partisipasi Pemuda Desa Mbawa dalam Pengembangan Tradisi Raju sebagai Atraksi Wisata. Jurnal Industri Pariwisata, 8(1), 25–34.

Feriyadin, F., Anisa, A., & Furkan, F. (2022). Youth Social Capital for the Sustainability of Halal Tourism in Setanggor Village. International Journal of Geotourism Science and Development, 2(1), 19–28. https://doi.org/10.58856/ijgsd.v2i1.15

Feriyadin, F., Saufi, A., & Rinuastuti, B. H. (2021). Pengembangan Pariwisata Halal Desa Setanggor. Jmm Unram – Master of Management Journal, 10(1A), 1–12. https://doi.org/10.29303/jmm.v10i1a.628

Feriyadin, Marswandi, E. D. P., Pratama, A. A., & Ulya, B. N. (2024). Manajemen Destinasi Wisata Berbasis Kearifan Lokal Maja Labo Dahu untuk Keberlanjutan Pariwisata Kota Bima. Journal of Tourism and Creativity, 8(1), 51–65.

Pratama, A. A., Feriyadin, Ulya, B. N., & Maswandi, E. D. P. (2026). Ethical Capital as a Value Proposition in Halal Tourism Entrepreneurship: Evidence from Lombok, Indonesia. Pinisi Business Administration Review, 8(1), 77–84.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *