ANDA yang intens bergaul dengan orang Bima pasti sering mendengar ungkapan “Kalembo Ade!” Kata magik itu terkadang diucapkan secara ringkas “Lembo Ade”. Dalam Bahasa Bima, ‘lembo’ berarti luas atau lapang, “ade” berarti hati. Jadi, Lembo Ade berarti hati yang luas, dada yang lapang. Sementara awalan “ka” bermakna seruan atau perintah atau aktivasi. Jadi “Kalembo Ade” bermakna seruan untuk melapangkan dada, atau mengaktivasi cara pandang yang luas akan dunia atau pengalaman tentangnya.
Mula-mula kata ini adalah bisikan lirih kepada diri sendiri untuk merayu jiwa yang sedang tertekuk oleh kemusykilan-kemusykilan. “Kalembo(pu) ade(mu)!” begitu bisik hati seorang pengembara yang kelaparan dan kehausan, dengan itu aose akan segera terbit di hadapannya meskipun itu bianglala belaka. Tetapi setelah itu kaki dan persendiannya tergerak untuk bangkit dan berjalan. (Ka)lembo Ade menjadi optimisme dan doa yang setara munajat gubahan para kekasih Tuhan.
Orang Bima tidak memiliki modus kebahasaan yang berbelit-belit dan panjang seumpama madah (pepujian) atau ritsa (ratapan) atau kesyukuran/terima kasih seperti yang disediakan oleh sistem kebudayaan lain – yang berbait-bait. Meski hal ini kadang disalahartikan sebagai kepelitan atau kemiskinan linguistik, percayalah: ini bentuk “keserba-maknaan” suatu bahasa yang justru menjadi pengandaian dari banyak filosof.
Bahasa boleh saja sederhana ungkapan dan strukturnya, tetapi maknanya bisa sebegitu canggihnya. Bahasa tidaklah stabil, atau terpaku pada makna baku yang tertentu – apalagi kalau tertentu itu ditentukan oleh pihak tertentu untuk kepentingan tertentu (tentunya kuasa), ujar Derrida.
Di dalam kesederhanaan bahasa – dan pengguna bahasa itu – ada kompleksitas atau kecanggihan kultur, ada berlapis konteks meski mungkin penuh kontradisksi, labil, dan ambigu. Jika bahasa dipaksa harus jelas dan tertentu struktur dan maknanya, mesti presisi dan fiks, itu semata-mata pandangan lapuk, kata Wittgenstein. Bahasa tidak bekerja dengan cara tunggal, karena tercetus dan digunakan pada basis kultur-struktur yang beragam.
Begitulah cara memaknai kata “Kalembo Ade”. Begitu pula cara menafsirkan dan menggauli penggunanya: lihatlah kepada bagaimana kata itu dipergunakan dalam keseharian orang Bima.
Orang Bima berterima kasih dengan kata “Kalembo Ade”, berharap kebaikan yang telah dikucurkan seseorang berasal dari hati yang paling dalam. Atau jika saja kebaikan yang diberikan seseorang itu harus melalui upaya yang keras dan perjuangan dari si pemberi, maka itu ungkapan penyesalan dan permohonan maaf dari penerima yang telah menyusahkan.
Ketika “Kalembo Ade” dilontarkan kepada subjek di luar diri sendiri, itu doa bagi keberkahan, juga ekspresi empatik yang mendalam dan tanda kehadiran yang hangat. Ketika tamu pergi, diucapkan kepadanya “(Ka)Lembo Ade” bermakna permohonan maaf atas sambutan yang mungkin kurang patut sekaligus terima kasih telah hadir membawa kehangatan silaturrahmi.
Jika Anda menemui orang Bima sedang murka atau bersedih hati, ucapkan kata itu secara lembut, sertamerta sirnalah gundah gulana dan angkara murka. Jikalau angkara murka itu dialamatkan kepada penguasa, lalu kata itu diucapkan kepada rakyatnya yang marah, luluhlah hati rakyat itu. Jika saja kata itu sudah tercetus ketika Tuhan memerintah Musa dan Harun untuk mendatangi Firaun dengan kata-kata lembut, maka “Kalembo Ade” itulah pilihan diksinya yang lebih menggetarkan dan meninggalkan pesan yang tandas.
Permainan Bahasa dan Transendensi
Begitulah “Kalembo Ade” menjadi bagian dari permainan bahasa (language games) orang Bima: simpel! Namun, kata-kata itu bukan sekedar permainan bahasa dan makna, itu juga seumpama foto/potret bagi realitas manusianya: manusia yang simpel, hangat, empatik, dan manusiawi. Itu juga struktur dunia batin manusia Bima yang menolak untuk kalah dalam kondisi apapun.
Kata-kata menjemput maknanya sendiri yang sarat humanisasi melalui konteks, budaya, kearifan, bukan melalui logika formal dan kaku. Bahasa mereka fleksibel namun tandas. Itu didayagunakan dalam menyikapi absurditas dunia, cara mengalahkan realitas objektif yang seringkali memaksa dan merundung. Dan mereka menyorong bahasa itu kepada bejana transendensi, agar berlumeran rohani.
Orang Bima telah mencelupkan diri ke dalam bejana transendensi itu, melalui proses pertemuan kebudayaan dengan tradisi-tradisi luhur sejak leluhur-leluhur mereka. Agama dan budaya yang mereka anut begitu romantik, dengan nuansa sufisme yang kental. Dalam pada itu, konsepsi tentang hati (ade) adalah inti kesadaran batin/rohani, transformasi belaka dari tradisi sufisme Persia, Arab, India, dan Melayu lainnya. Konsepsi batini tentang hati dari al-Ghazali, Ibnu Arabi, Rumi, dan Fadlullah Burhanpuri tampak mematri di relung kebudayaan Bima.
Ade adalah konsep begitu sentral dalam kebudayaan Bima. Rindu (lingi ade), cinta (meci ba ade), kelembutan (ngame ade), senang (neo ade), bersemangat (fonti ade), dan sebagainya adalah sifat-sifat jamaliyah (indah, fascinosum). Karakter jalaliyah (keras, tremendum) pun bertautan dengan hati: Ngare Ade, Fa’a Ade, Kaco’o Ade, Tawari Ade, Iha Ade, Tuna Ade (berkaitan dengan benci). Ada juga yang netral: Sinci Ade (menyesal), Mbali Mbua Ade (ragu-ragu), Sadou Ade (gamang), Busi Ade (kehilangan semangat); dan masih banyak lagi.
Betapa kompleks kait-kelindan anasir hati dengan kehidupan sehari-hari orang Bima. Namun, dalam silang sengkarut itu justru terdapat rongga-rongga yang menyediakan saluran urai bagi berbagai persoalan keseharian melalui pendekatan yang berkemanusiaan, berbasis hati dan nurani. Bukan struktural dan linear semata-mata.
Itulah mengapa orang Bima tampak menyabari realitas objektif. Mereka tahan banting, petarung, dengan daya resiliensi yang tinggi. Pada saat yang sama mereka mudah diberitahu, gampang diajak, cepat bergerak, asyik digauli dan menggauli. Jika ada penyimpangan dan anomali, itu bagian dari gejala sosial-budaya kontemporer belaka.[]
(Bagian dari Kata Pengantar untuk buku Lembo Ade ? terbitan Wahid Foundation (Maret 2026)

Pegiat literasi dan peminat sufisme lokal





