Sosialisasi Inspiratif MTs Alamtara Islamic School di SDN 74 Songgela Kota Bima

Kota Bima, Sabtu (18/04/2026) — Suasana hangat penuh antusiasme menyelimuti SDN 74 Songgela Kota Bima saat menerima kunjungan sosialisasi dari MTs Alamtara Islamic School, sebuah momentum bermakna yang tidak sekadar memperkenalkan pilihan pendidikan lanjutan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi siswa kelas VI untuk mengenal konsep pendidikan berbasis nilai, pembentukan karakter, dan pendekatan alam sebagai bekal dalam melangkah menuju jenjang berikutnya.

Sejak awal kedatangan, rombongan MTs Alamtara Islamic School disambut hangat oleh para guru dan siswa SDN 74 Songgela Kota Bima, menciptakan suasana penuh keakraban dan haru. Kepala sekolah bahkan secara khusus menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran AIS sebagai alternatif pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga menegaskan pentingnya pembentukan moral dan karakter. Di tengah kegelisahan akan semakin lunturnya adab dan akhlak generasi muda, kehadiran AIS dirasakan sebagai harapan baru, sebuah angin segar yang membawa optimisme dalam membangun generasi yang lebih berintegritas, beretika, dan berdaya di masa depan.

Kegiatan sosialisasi dipandu oleh dua perwakilan AIS, yakni Ustazah Ruwaidah, S.Ag dan Ustaz Feriyadin, M.M yang langsung mencairkan suasana melalui sesi interaktif dan penuh keceriaan. Ustaz Feriyadin membuka kegiatan dengan ice breaking berupa permainan edukatif yang mengundang tawa dan antusiasme siswa. Suasana kelas berubah menjadi hidup, penuh semangat, dan kedekatan emosional pun mulai terbangun.

Selanjutnya, Ustazah Ruwaidah mengambil peran dalam memperkenalkan profil sekolah MTs Alamtara Islamic School. Ia menjelaskan bahwa AIS merupakan sekolah berbasis alam, yang namanya terinspirasi dari ayat awal dalam Surah Al-Fil, yakni kata “Alam-tara” yang bermakna “Tidakkah kamu memperhatikan…”. Filosofi ini menjadi landasan pendidikan AIS dalam mengajak siswa untuk berpikir, merenung, dan memahami kehidupan secara lebih luas.

Baca Juga  Siap Menerima Peserta Didik Baru, Yayasan Alamtara Litera Indonesia Resmi Luncurkan Alamtara Islamic School

Sebagai bagian dari penguatan spiritual, Ustazah Ruwaidah, S.Ag mengajak salah satu siswa untuk membacakan Surah Al-Fil. Seorang siswa bernama Muhammad dengan penuh percaya diri melantunkan ayat suci tersebut dengan suara merdu. Seketika, suasana kelas menjadi hening dan khidmat, menghadirkan momen reflektif yang menyentuh hati.

Ruwaidah Anwar, S.Ag sedang menjelaskan tentang Alamtara Islamic School

Dalam pemaparannya, Ustadzah Ida juga menjelaskan berbagai program unggulan AIS, mulai dari penguatan nilai-nilai Islam, pengembangan kemampuan global melalui bahasa internasional, hingga penanaman kearifan lokal seperti nilai nggusu waru (Maja Labo Dahu, Bae Ade, Mbani Labo Disa, Lemboade, Nggahi Rawi Pahu, Taho Hidi, Wara di Woha Dou, Ntau ro Wara) yang bahkan tampak tertulis di dinding kelas di lingkungan sekolah setempat.

Antusiasme siswa semakin terlihat ketika salah satu siswa, Imam, mengenali lokasi sekolah AIS. Dengan penuh semangat ia berkata, “Oh sekolah yang di depan Kolam Bima Tirta itu, bagus sekali tempatnya, langsung dekat pantai! Kami sering lewat di sana, saya tahu lokasinya ustadzah!” Ucapan tersebut langsung disambut riuh oleh teman-temannya, menambah semarak suasana kelas.

Tidak hanya siswa kelas VI, beberapa adik kelas pun tampak mengintip dari jendela dan pintu kelas, penasaran dengan kegiatan yang berlangsung. Tawa yang pecah, semangat yang mengalir, serta rasa ingin tahu yang tumbuh bersama, berpadu menjadi energi positif yang hidup dan memenuhi ruang kelas.

Menjelang akhir kegiatan, Ustadz Feri memberikan pesan motivasi yang menyentuh hati siswa. Ia mengajak para siswa untuk tetap percaya diri dan memiliki semangat tinggi dalam meraih cita-cita, tanpa memandang latar belakang ekonomi. “Jangan pernah ragu dengan diri sendiri. Jika punya niat dan semangat, semua mimpi bisa dicapai. Mari bergabung bersama kami untuk belajar dan tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat,” pesannya penuh harap.

Baca Juga  Yayasan Alamtara Litera Indonesia Gelar Festival Sekolah Damai

Momen penutup menjadi bagian paling emosional. Siswa-siswi berbondong-bondong menyalami, bahkan memeluk Ustadzah dan Ustadz AIS dengan penuh haru. Tak sedikit yang berharap agar mereka dapat kembali berkunjung. Keakraban yang terbangun dalam waktu singkat itu menjadi bukti bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga tentang sentuhan hati dan nilai kemanusiaan.

Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang sosialisasi, tetapi juga ruang inspirasi yang meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh warga sekolah. Sebuah langkah kecil yang menanamkan harapan besar bagi lahirnya generasi berakhlak, berdaya, dan berkarakter di masa depan.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *