Di era sosial media saat ini, manusia hidup bukan hanya untuk menjalani kehidupan, tetapi juga untuk “menampilkan” kehidupan. Banyak hal yang dahulu bersifat personal dan sakral, kini perlahan berubah menjadi konsumsi publik. Termasuk ibadah, seperti perjalanan haji, penyembelihan qurban, sedekah, bahkan doa-doa, terkadang lebih sibuk dipublikasikan daripada dihayati.
Dunia modern telah melahirkan budaya baru: showing off—yakni suatu hasrat untuk terlihat saleh, terlihat dermawan, terlihat religius di hadapan manusia. Padahal dalam Islam, nilai sebuah ibadah justru sering tumbuh dalam kesunyian hati, bukan dalam gemerlap pengakuan sosial.
Fenomena ini menjadi refleksi penting terutama ketika musim haji dan qurban tiba. Tidak sedikit orang yang tanpa sadar menjadikan ibadah sebagai simbol prestise sosial. Perjalanan ke Tanah Suci misalnya, sering dijadikan sebagai alat pencitraan, gelar hajji dipamerkan, sementara semangat pengorbanan dan kemanusiaan justru tertinggal jauh di belakang. Demikian pula Qurban senantiasa dipertontonkan dengan kemewahan jumlah hewan dan besarnya hewan, akan tetapi tetangga yang lapar sering luput dari perhatian.
Di sinilah kita perlu kembali bertanya: apakah ibadah masih menjadi jalan mendekat kepada Allah, atau perlahan berubah menjadi panggung pengakuan manusia? Mari kita baca dengan hati, kedalaman makna dari firman Allah di dalam al-Qur’an Surah Al-Ma’un ayat 4–6: ”Fa wailul lil-mushallîn. alladzîna hum ‘an shalâtihim sâhûn. alladzîna hum yurâ’ûn.“ Maka celakalah orang-orang yang salat, yaitu orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya.
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang orang yang meninggalkan salat, tetapi juga tentang mereka yang menjalankan ibadah demi dilihat manusia. Dalam bahasa hari ini, riya dapat menjelma menjadi budaya showing off religius—memperlihatkan kesalehan agar mendapat pujian, validasi, dan pengakuan sosial.
Haji dan qurban sesungguhnya memiliki pesan yang jauh lebih dalam daripada sekadar simbol keagamaan. Haji merupakan perjalanan menghancurkan ego. Tidak ada lagi perbedaan antara pejabat dan rakyat biasa, antara orang kaya dan miskin, antara terkenal dan tidak dikenal. Semua melebur menjadi manusia biasa yang sama-sama membutuhkan rahmat Allah. Bukankah ini pelajaran humanisme yang luar biasa?
Di hadapan Ka’bah, manusia diajarkan bahwa yang membuat seseorang mulia bukanlah apa yang dipamerkan, tetapi apa yang tersembunyi dalam hatinya.
Demikian pula qurban, ia bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan ibadah yang sarat dengan pesan kemanusiaan. Qurban mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah harus tercermin dalam kepedulian kepada sesama manusia. Ketika daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan mereka yang membutuhkan, Islam sedang membangun solidaritas sosial dan meneguhkan bahwa kebahagiaan tidak boleh hanya dinikmati oleh diri sendiri.
Jika haji mengajarkan persamaan derajat manusia di hadapan Allah, maka qurban mengajarkan pentingnya menghadirkan kasih sayang sosial di tengah kehidupan. Keduanya bertemu dalam satu pesan besar: bahwa ibadah sejati bukan hanya tentang hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memuliakan sesamanya. Inilah wajah Islam yang humanis—agama yang tidak hanya mengajak manusia sujud kepada Allah, tetapi juga menghadirkan cinta, keadilan, dan kepedulian bagi kehidupan
Namun, seluruh pesan kemanusiaan dalam haji dan qurban itu bisa kehilangan ruhnya ketika ibadah hanya berhenti pada simbol dan penampilan lahiriah. Ketika manusia lebih sibuk memperlihatkan kesalehan daripada menghadirkan ketulusan, maka ibadah berpotensi berubah menjadi panggung ego spiritual. Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa penyakit paling halus dalam ibadah adalah keinginan untuk dipuji manusia. Menurutnya, riya sering menyelinap secara diam-diam bahkan dalam amal yang paling suci. Karena itu, seseorang harus terus membersihkan niatnya agar ibadah tidak berubah menjadi alat memperbesar ego.
Pesan ini terasa sangat relevan di era digital. Hari ini, bahkan kesederhanaan pun bisa dipertontonkan. Kepedulian sosial bisa berubah menjadi konten. Tangisan spiritual bisa berubah menjadi tontonan. Manusia terkadang lebih sibuk merekam daripada merasakan. ”Innamal a’malu binniyat.” Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini seperti fondasi utama dalam seluruh ibadah Islam. Nilai amal bukan hanya pada bentuk lahiriahnya, tetapi pada keikhlasan batin yang menyertainya. Seekor hewan qurban yang sederhana tetapi prosesinya dilakukan dengan hati yang tulus bisa lebih bernilai daripada qurban besar yang dipenuhi kesombongan.
”Lay yanâlallâha luḫûmuhâ wa lâ dimâ’uhâ wa lâkiy yanâluhut-taqwâ mingkum, kadzâlika sakhkharahâ lakum litukabbirullâha ‘alâ mâ hadâkum, wa basysyiril-muḫsinîn.” Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian. (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini sangat menyentuh. Allah tidak membutuhkan daging qurban manusia, yang Allah lihat adalah kualitas kemanusiaan yang lahir dari ibadah tersebut. Apakah qurban membuat seseorang lebih peduli kepada kaum miskin? Apakah haji membuat seseorang lebih rendah hati? Apakah ibadah melahirkan cinta kepada sesama?
Sebab inti dari seluruh ritual dalam Islam sesungguhnya adalah pembentukan manusia yang berakhlak. Namun sayangnya, di tengah budaya konsumtif dan pencitraan modern, ibadah sering terjebak dalam simbolisme.
Orang berlomba memperlihatkan apa yang ia lakukan, tetapi lupa memperbaiki hati dan sikapnya. Akibatnya, kesalehan tampak ramai di ruang publik, tetapi empati sosial justru semakin sunyi.
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menyampaikan bahwa agama harus membela kemanusiaan. Spirit keberagamaan bukan terletak pada simbol yang megah, tetapi pada keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam konteks haji dan qurban, pesan ini sangat kuat—ibadah harus melahirkan kasih sayang sosial, bukan kesombongan spiritual. Qurban, misalnya, bukan hanya ritual menyembelih hewan, namun ia adalah latihan menyembelih egoisme.
Dulu Nabi Ibrahim diuji bukan karena Allah membutuhkan pengorbanan anaknya, tetapi karena manusia sering terlalu terikat pada apa yang dicintainya. Qurban mengajarkan bahwa manusia mulia adalah manusia yang mampu berbagi, mampu melepaskan keserakahan, dan mampu mendahulukan kepentingan orang lain.
Dalam masyarakat modern, qurban seharusnya tidak hanya dipahami sebagai ibadah tahunan, tetapi sebagai pendidikan sosial. Ketika daging qurban dibagikan kepada masyarakat, sesungguhnya Islam sedang membangun solidaritas sosial dan mengikis jurang ketimpangan.
”Khairunnas anfauhum linnas.” Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ahmad)
Hadis ini memperlihatkan bahwa ukuran kemuliaan dalam Islam bukan sekadar banyaknya ritual, tetapi seberapa besar manfaat yang dirasakan orang lain dari kehadiran kita.
Oleh karena itu, orang yang benar-benar memahami makna haji tidak akan pulang dengan hati yang sombong. Ia justru menjadi lebih lembut. Lebih mudah menghargai orang lain. Lebih ringan membantu sesama. Sebab di Tanah Suci ia telah belajar bahwa semua manusia sama-sama rapuh di hadapan Tuhan.
Begitu pula orang yang memahami qurban tidak akan sibuk menghitung seberapa besar hewan yang ia sembelih untuk dipuji manusia. Ia justru sibuk bertanya: sudahkah aku menyembelih keserakahan dalam diriku? Sudahkah aku menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain?
Jalaluddin Rumi pernah berkata, “Ketika ego menghilang, jiwa mulai melihat.” Kalimat ini terasa sangat dalam jika dikaitkan dengan konteks ibadah. Selama manusia masih sibuk mempertontonkan dirinya, ia sulit menangkap makna spiritual yang sejati. Sebaliknya, ketika ego mulai runtuh, manusia akan lebih mudah merasakan penderitaan orang lain dan menemukan kasih sayang yang tulus.
Inilah humanisme yang diajarkan Islam. Humanisme yang tidak memisahkan hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia. Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin besar pula rasa cintanya kepada sesama.
Karena itu, menolak showing off dalam ibadah bukan berarti menolak syiar atau menolak untuk berbagi inspirasi. Yang ditolak adalah ketika ibadah berubah menjadi alat pencarian pujian dan pengakuan sosial, yakni ketika manusia lebih sibuk membangun citra saleh daripada membangun hati yang saleh.
Sebagai catatan pinggir, bahwa di tengah dunia yang semakin haus validasi, mungkin salah satu bentuk ibadah paling mulia hari ini adalah tetap tulus meski tidak dilihat manusia. Tetap berbagi meski tidak dipuji. Tetap berbuat baik meski tidak diposting. Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukan bagaimana manusia melihat ibadah kita, tetapi bagaimana Allah melihat niat dan hati kita.[]

Dosen UIN Mataram





