Ecobodyisme Sebagai Cara Memahami Hidup

Ecobodyisme adalah konsep yang hadir dalam memahami kehidupan yang kompleks dengan taraf keterbatasan manusia, bahwa kesadaran diri, tubuh dan alam utuh tanpa penyatuan. Konsep ini memberikan keterangan tegas bahwa manusia memiliki kesadaran, namun kesadaran Itulah yang menjadi batasan mereka memahami. Sebab sejak awal manusia tidak pernah eksis sama sekali, maka dengan cara pandang ecobodyisme inilah, konsep antroposentrisme digugat gagasannya.

Ketika berbicara mengenai eksistensi diri, maka satu hal kunci bahwa kita tidak pernah bisa mengendalikan orang lain, meskipun keberadaan kita dari orang lain juga. Tetapi, kita bisa menyadari bahwa kita tidak pernah sendiri, orang lain, atau setidak-tidaknya orang tua atau keluarga atau pasangan yang akan bersama kita. Tetapi, tidak sepenuhnya orang-orang itu mengenal kita seutuhnya.

Konsep ecobodyisme menerangkan kita adalah mahkluk sosial, sehingga kita saling membutuhkan satu sama lain, namun bukan berarti orang lain menjadi penentu kehidupan kita. Konsep ini menawarkan cara pandang individu memutuskan hidup bersama orang lain, sebab kitalah yang bertanggungjawab atas kehidupan ini sendiri. Memang meskipun banyak ikatan, tetapi ikatan itu tidak alamiah, ia lahir dari segala bentuk konstruksi, dan setiap pandangan dan bentuk ikatan itu beragam nantinya; seperti keluarga, sekolah, masyarakat, bahkan negara.

Setiap individu memiliki tujuan, dan setiap tujuan adalah mencerminkan apa yang diinginkannya, tetapi bukan berarti ketika menginginkan sesuatu, itulah kebenaran. Manusia terus menerus mencari, mereka menemukan, lalu kemudian terus menggali. Sebab kesadaran menjadi kunci bahwa apapun yang diputuskan adalah tanggung jawab kesadaran, bukan kebenaran. Sehingga banyak hal relatif di kehidupan ini, namun begitulah mekanisme alamiah yang bekerja, sebagai manusia salah satu di dalam nya.

Kemudian, ketika berbicara perihal manusia dengan alam, kita mencoba duduk pada ruang paling ribut, bahwa manusia adalah salah satunya, bukan satu-satunya. Argumen paling dasar menunjukan bahwa manusia mengalami evolusi, paling sederhana di tunjukkan dari perubahan manusia perlahan-lahan yang awalnya bayi menuju remaja sampai tua dan meninggal dunia. Jika dilihat lebih kompleks lagi, kehidupan manusia juga bukan pada dasarnya murni tiba-tiba manusia, melainkan hasil dari kehidupan lainnya yang berevolusi dalam waktu yang sangat panjang.

Umur kehidupan sudah jutaan atau bahkan miliaran tahun jika dihitung dengan kalkulasi kehidupan mikro purba. Kita manusia adalah bagian dari kehidupan yang salah satunya, hanya saja kita berkesempatan dalam waktu beberapa ratus tahun bisa eksis dan menjadi dominan atau bahkan menjadi sosok mahkluk sekuat sekarang dengan mendirikan peradaban.

Namun hakikatnya, manusia adalah salah satu kehidupan bumi ini, manusia pernah tidak ada, kemudian ada, dan suatu saat tidak ada. Sehingga manusia dalam konsepsi kehidupan ini hanyalah salah satunya. Maka tidak layak bagi manusia menyombongkan keberadaan jika manusia pada akhirnya mati, apapun bentuk konstruksi hanyalah kesepakatan, apa yang telah ditemukan sebagai kebenaran hanyalah berlaku pada konstruksi manusia saja, sedangkan bagi yang lain; hewan, tumbuhan atau bahkan kehidupan mikro sekalipun tidak pernah bisa menemukan jawaban kebenaran yang sama. Manusia mencari dan membentuk kebenaran atas kehidupan ini, dan itulah yang disepakati, bukan sesungguhnya kebenaran itu sendiri.

Baca Juga  Quo Vadis Islam Modernis?

Jika dipandang secara seksama. Kita menemukan jawaban atas eksistensi diri dan bagaimana memosisikan pada alam merupakan bagian yang sangat kompleks. Kita bahkan tidak pernah tahu apa yang sebelum big bang, namun kita mencoba meramu jawaban dari yang spekulatif sampai yang irasional. Matematika adalah rumusan manusia mencoba membaca dan memahami kehidupan yang kompleks ini. Namun satu hal pasti, manusia tidak akan pernah memahaminya, sebab manusia hanyalah species yang muncul kemarin, bahkan jika dihitung dengan waktu kehidupan di bumi ini eksis. Manusia hanya muncul baru satu detik saja, namun kesombongan manusia tidak ada yang mengalahkan, begitu arogan, mencoba memenuhi keinginan sehingga mengambil hak orang lain. Manusia merusak untuk dirinya, dan selalu ada ruang nilai masing-masing menjadi pembenaran.

Kita melihat ini memang sangat buruk, terkhusus bagaimana manusia begitu antroposentris. Sehingga konsep ecobodyisme menjadi tawaran untuk itu, sadar akan eksistensi bahwasanya kita manusia sebagai salah satu kehidupan. Manusia bisa bertahan karena memang tidak bisa dihindari dari kemampuan hidup, dengan kesadaran berpikir dan hidup bekerja sama secara kolektif. Namun, manusia bukan mahkluk abadi, mereka bisa mati.

Begitupun manusia bukan mahkluk super, mereka tidak kuat jika merasakan musibah besar, katakan saja tsunami, gunung meletus bahkan meteor jatuh. Manusia seperti hewan lainnya, tidaklah sekuat bisa hidup abadi. Manusia bisa eksis di dunia bagian dari misteri alam, dan hari ini, dengan kesombongan tidak terbendung, manusia menunjuk jari ke langit, kemudian mengklaim merekalah wujud kebenaran dari apa yang mereka bawakan.

Begitu egois dan arogansi manusia, sehingga merusak demi kehidupan diri mereka saja. Namun membunuh kehidupan lain dengan begitu membabibuta, manusia dengan segala bentuk antroposentris membunuh yang lain selain manusia, bahkan sesama manusia pun melukai untuk mencapai kepentingan. Maka ecobodyisme adalah tawaran untuk hal itu, mencoba sadar, tahu diri dan tahu posisi. Bahwa;

  1. Manusia tidak pernah istimewa di dunia ini, bukti bahwa manusia tidak pernah ada sebelum nya, kemudian ada, dan suatu saat akan mati. Cara berpikir ini menerangkan bahwa kesombongan manusia itu berjangka waktu saja.
  2. Ecobodyisme menerangkan kesadaran utama manusia adalah kesadaran akan diri ini yang tidak pernah menyatukan apapun, manusia hadir memang bukan kehendak dirinya, entah itu disebabkan oleh alam atau Tuhan, tetapi intinya manusia tidak pernah bisa mengontrol kehidupan ini seutuhnya.
  3. Cara berpikir ecobodyisme menawarkan melihat dunia lebih kompleks, sehingga manusia harus mengakui ketidaktahuan dan keterbatasan diri.
  4. Ecobodyisme menerangkan bahwa kita adalah salah satu dari sekian misteri itu sendiri. Sehingga meskipun kita berpikir dan berkesadaran. Bahkan tentang sesama manusia pun tidak pernah bisa diketahui.
  5. Manusia tidak pernah sama sekali menjaga alam, manusia maupun termasuk hewan lain merusak alam, sebab hukum kausalitas bekerja: kehidupan akan terjadi dan berlanjut jika ada yang dikorbankan. Maka ecobodyisme menerangkan cara berpikir mengedepankan kebutuhan daripada keinginan. Sehingga memang manusia akan membunuh atau merusak, namun jangan sampai sikap merusak itu memunculkan arogansi, artinya mengedepankan sisi arogansi yang bisa dilihat ciri khasnya melakukan akumulasi beragam komoditi untuk kepuasan diri. Sehingga kerusakan dilakukan dengan membabibuta.
Baca Juga  Harmoni Keyakinan di Tengah Perbedaan: Refleksi Ekofenomenologis atas Sejarah dan Kesadaran Keberagamaan

Cara pandang ecobodyisme cukup kuat untuk menghadapi dunia yang amat antroposentris ini, setidaknya menjadi lebih tahu bahwa kita sebagai manusia meletakan posisi dimana. Siapapun mahkluk hidup itu, mereka tidak pernah bisa sendiri, termasuk manusia. Meski manusia sudah mendirikan peradaban nya, tetapi manusia masih ketergantungan dengan alam dan kehidupan yang lain. Yang membuat manusia mengalami krisis eksistensi disebabkan merasakan adanya kepemilikan dan bersikap arogansi terhadap sesuatu yang sudah kita perjuangkan.

Kemudian, kejahatan manusia atas merusak alam memang merupakan bentuk nyata arogansi, sebab bukan lagi kebutuhan rasa cukup di prioritas, tetapi beragam bentuk validasi, keserakahan untuk menang, maupun posisi menguasai untuk mengendalikan seseorang adalah bentuk antroposentris yang ekstrem. Untuk itulah, ecobodyisme jadi tawaran untuk menjadi manusia, bahwa tidak ada manusia istimewa, semua sama saja, hewan, tumbuhan dan manusia sama saja di bumi. Kesadaran manusia Menjadi lebih bukan berarti mereka istimewa, hanya saja, manusia punya cara hidup nya sendiri dan itu juga berlalu bagi kehidupan lainnya.

Kesadaran ecobodyisme juga mengajarkan bahwa tubuh manusia bukan entitas terpisah dari alam. Tubuh adalah bagian dari semesta itu sendiri. Apa yang dimakan manusia berasal dari tanah, air, tumbuhan, dan kehidupan lain. Nafas manusia bergantung pada pohon dan atmosfer. Bahkan unsur-unsur kimia dalam tubuh manusia berasal dari ledakan kosmik miliaran tahun lalu. Dengan kata lain, manusia sesungguhnya adalah semesta yang sedang mengalami dirinya sendiri dalam bentuk kesadaran biologis. Namun ironi terbesar manusia modern adalah merasa paling terpisah dari alam, padahal seluruh keberadaannya bergantung pada alam itu sendiri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *