
Tradisi Islam di Indonesia memang sangat kaya. Irisan-irisan dalam budaya masyarakat Nusantara banyak memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai Islam, seolah keduanya saling terkait membentuk satu budaya baru. Hal ini membentuk Islam Indonesia yang berwarna, beragam, atau multukultural seperti yang disebut smiling and colorful Islam – meminjam istilah Azyumardi Azra – untuk menggambarkan citra Islam Indonesia.
Panggung tradisi Islam Indonesia yang bertahan sampai hari ini karena adanya agenda rutinan dan menjadi agenda rutin pemerintah yaitu Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Kompetisi yang dilaksanakan secara berjenjang dari tingkat desa/kelurahan sampai tingkat nasional menjadi arena penyemaian budaya Islami di Indonesia. Dalam arena ini tentu saja ada kepentingan, pertarungan, dan pembentukan identitas yang terus menerus berkontestasi satu sama lain.
Hal itu juga yang saya rasakan ketika mengikuti agenda MTQ Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat di Kabupaten Sumbawa Barat 2024 lalu. Kabupaten ini merupakan salah satu kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Sumbawa pada tahun 2003. Kesan awal saya ketika sampai di daerah ini ialah kota modern yang sengaja dibangun dengan lanskap wilayah yang rapi dan hijau berpusat di Taliwang.
Namun, yang menarik dari pelaksanaan MTQ kali ini ialah bertepatan dengan suasana Pilkada 2024. Memang, KPU belum membuka pendaftaran calon kepala daerah secara resmi. Akan tetapi, alat-alat peraga kampanye calon kepala daerah seperti baliho dan stiker sudah terpasang di sejumlah titik utama di pusat kota. Salah satunya calon yang diisukan akan maju ialah Bupati Kabupaten Sumbawa Barat sendiri, Musyafirin.
Belakangan, walaupun kalah di Pilkada NTB 2024 berpasangan dengan Rohmi Djalilah, Musyafirin menjadi salah satu tuan rumah yang menyambut dengan hangat seluruh kafilah MTQ di daerah yang ia pimpin ini. Tak ayal, fasilitas dan hospitality yang ditawarkan selama MTQ, menurut saya sangat baik. Pada saat pawai taaruf (perkenalan) juga, kami dari kafilah-kafilah di wilayah timur Pulau Sumbawa (Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu) juga diajak secara resmi untuk bersilaturahmi dengan Musyafirin di kediaman salah seorang pejabat di Pemkab Sumbawa Barat yang kebetulan berasal dari tiga daerah tersebut.
Nuansa politik dalam perayaan tradisi keagamaan seperti MTQ memang bukanlah hal baru di Indonesia ini. Sebagai salah satu ceruk suara yang besar di Pemilu, acara-acara keagamaan yang bernuansa silaturahmi memang menjadi salah satu media kampanye dalam Pemilu. Soal berhasil atau tidaknya, itu urusan lain. Namun, yang ingin saya tegaskan di sini ialah bagaimana agama selalu embodied dengan politik. Minimalnya, agama selalu berarisan dengan kepentingan politik.
Secara simbolis pernyataan di atas juga terlihat dari susunan gedung Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat ini. Di mana, di depan gedung pemerintah/birokrasi berdiri alun-alun luas untuk masyarakat. Di depan alun-alun tersebut, berdiri megah sebuah masjid besar. Di sinilah, tampak bagaimana kota baru ini dibangun dengan mempertimbangkan sejarah ruang kota di Nusantara yang memang dikenal memiliki tiga elemen: Istana, alun-alun, dan masjid.
Selain itu, yang menarik perhatian saya ialah salah satu arena MTQ yang berlokasi di Pesantren Al-Ikhlas Taliwang didirikan oleh KH. Zulkifli Mahadli, yang merupakan mantan Bupati Kabupaten Sumbawa Barat dan juga sempat mencalonkan diri menjadi Gubernur NTB pada 2013 lalu walaupun kalah juga. Nah, di pesantren inilah saya merasakan bagaimana modernisme dan kosmopolitanisme Sumbawa Barat. Bangunan-bangunan di pesantren ini mencerminkan gabungan dari berbagai elemen-elemen peradaban dunia.
Misalnya, nama-nama untuk bangunannya seperti Auditorium Al Hamra dan Universitas Cordova. Arsitektur gedung juga mencerminkan gedung-gedung tua khas peradaban Islam masa pertengahan yang kuat dan kokoh dengan seperti menara dan benteng-benteng pertahanan. Perpaduan arsitektur yang menarik melihat Kabupaten Sumbawa sebagai salah satu kabupaten muda di NTB.
Walaupun demikian modernnya pesantren tersebut, rumah panggung dari kayu jati juga masih digunakan. Ini berarti ada semacam kesadaran dari pengurus pesantren tersebut untuk tidak menghilangkan tradisionalisme yang diwakili oleh rumah panggung tersebut dengan gegap modernisme dan fasilitas pondok yang dibangun mentereng di sejumlah titik di sepanjang area pesantren. Inilah pelajaran yang bisa diambil untuk melihat sebuah fenomena transisional tradisi Islam: tidak semua yang tradisional harus didekonstruksi, tapi mengambil manfaatnya sambil membangun juga sesuatu yang khas peradaban modern agar tetap relevan dengan zaman.
Pikiran nakal saya juga bermain, wajar jika Sumbawa Barat ini sebaik dan sebagus ini. Sebab kita tahu, salah satu tambang emas besar di Indonesia juga berlokasi di wilayah ini. Namanya pasti Anda pernah mendengarnya: Newmont Nusa Tenggara atau yang sekarang dikenal Amman Mineral Nusa Tenggara. Perusahaan tambang multinasional yang beroperasi resmi sejak tahun 2000 dengan sistem kontrak karya bersama Pemerintah Indonesia. Keberadaan Perusahaan tersebut juga sedikit banyak berkontribusi pada pembangunan kota dan geliat ekonomi di Sumbawa Barat. Untuk dampak kerusakannya, saya tidak akan menuliskannya di sini.
Tambang yang berlokasi di Batu Hijau, Sumbawa Barat ini memang tak ubahnya menjadi dua sisi mata uang. Di satu sisi, melalui mekanisme Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan ini jelas memberi dampak sosial secara ekonomi, sosial, dan budaya. Namun, di sisi lain, kerusakan lingkungan dan perluasan wilayah hutan adat juga bukan sesuatu yang sepele untuk tidak dibahas. Ya, seperti itulah, yang jelas, dana-dana perusahaan, usaha, maupun APBD juga membiayai berlangsungnya tradisi Islam.
Pembudayaan tradisi Islam di tengah-tengah masyarakat juga jelas membutuhkan biaya. Biaya yang harus dikeluarkan agar masyarakat juga menikmati sebuah warisan, lantunan, keindahan, dan karya-karya yang tersaji dalam setiap pelaksanaan MTQ di mana pun. Mungkin juga di tempat Anda sekarang.[]

Alumni Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Founder Komunitas Mbojo Itoe Boekoe




