Pelatihan ice breaking dan trauma healing yang digelar di Kalikuma Educamp, Sabtu, 19 Juni 2022. Dimulai pada pukul 09.30-15.40 WITA. Pelatihan yang melibatkan 6 desa pendampingan ini menjadi pilot project La Rimpu yaitu Desa Ngali, Renda, Kalampa, Dadibou, Nangawera, dan Wora serta didampingi fasilitator La Rimpu.
Kegiatan ini dihadiri oleh peserta sebanyak 28 orang, yang merupakan gabungan dari fasilitator dan perwakilan ibu-ibu setiap desa pendampingan. Kegiatan ini bertujuan menambah pengetahuan tentang teknik dasar dari ice breaking dan trauma healing, untuk fasilitator dan anggota binaan La Rimpu.
Terbentuknya kerja sama tim, antar fasilitator dan anggota dalam penerapan trauma healing dan ice breaking, meningkatkan kemampuan bagi fasilitator dan anggota dalam menjalin komunikasi serta menjalin hubungan yang menyenangkan dalam kegiatan organisasi, terciptanya pendekatan emosional dan kegiatan yang dapat menjangkau semua kalangaan melalui ice breaking.
Harapannya, dalam kegiatan ke depan, peserta mampu menjadi fasilitator kegiatan dengan games seru dan menarik, ibu-ibu di desa binaan bersama fasilitator saat turun ke lapangan memiliki konsep yang baik dalam menjadi ice breaker yang mencairkan suasana dan mampu menjadi pengisi kegiatan trauma healing saat turun ke masyarakat yang terkena bencana.

Adapun narasumber pada pelatihan ini yaitu dua anak muda millennials yang expert dalam bidangnya masing-masing, siapa lagi kalau bukan, Muhammad Akbar Akpaf selaku CEO & Founder Generasi Mau Belajar yang menjadi fasilitator ice breaking dan Nurhayatun Aninda Putri yang merupakan Alumni S1 Psikologi Universitas Ahmad Dahlan untuk fasilitator trauma healing. Siti Nur Alfisahr dan Miftahul Aulia memandu jalannya acara tersebut.
Baca juga: Alamtara Institute dan La Rimpu Ikut Ambil Bagian dalam Festival Teka Tambora 2022
Pelatihan ini dilakukan dengan konsep interaktif, di mana fasilitator dan peserta terjadi dialog dalam pembelajaran, yang mana pelaksanaannya akan terbagi dalam 3 sesi. Sesi pertama diisi dengan materi ice breaking dengan menjelaskan konsep dasar ice breaking, tujuan, teknik, games dan sekaligus melakukan praktik yang langsung melibatkan peserta. Tujuannya, agar peserta memiliki rasa percaya diri.
kemudian sesi kedua diisi oleh Nurhayatun Aninda Putri dengan materi trauma healing yang menjelaskan konsep trauma healing untuk korban bencana juga trauma healing pada masalah atau kasus kekerasan pada perempuan. Sesi kedua ini juga langsung melakukan praktik serta tanya jawab dengan narasumber.
Karena kegiatannya seru dan asyik, kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta dengan penuh antusias, menyerap materi dengan baik, fokus, penuh rasa kompak, dan bersuka cita.
Alhamdulillah, pada kegiatan ini La Rimpu berhasil mempertemukan 6 desa binaan sekaligus karena memang ini menjadi “moment” langka. Tidak hanya sebatas kegiatan seperti ini, agenda kerja La Rimpu masih akan terus berjalan hingga di akhir tahun 2022. Semoga semuanya berjalan lancar.

Pengurus Yayasan La Rimpu





