Wadu Pa’a: Abadikan Potensi Abadi yang Diabaikan

“Bima Di Simpang Jalan.” Meminjam judul buku Kepala Museum Asi Mbojo, Dae Alan Malingi. Sangat tepat menggambarkan kondisi Bima saat ini. Terutama tempat-tempat bersejarah seperti Wadu Pa’a di Desa Kananta, Kecamatan Soromandi, Kabupaten Bima.

Saat ditemui di kantornya, Dae Alan Malingi mengatakan, “rekonstruksi 3 pembentuk sejarah kesemuanya ada di Wadu Pa’a: ada ditutur rakyat turun-temurun, ada di naskah, dan artefaknya masih ada sampai sekarang”.

Jika ada yang pernah berkunjung ke Wadu Pa’a di pesisir pantai Teluk Bima bagian barat, pasti menemukan banyak kejanggalan. Betapa menyedihkan kondisi situs purbakala itu tanpa ada greget sedikitpun. Tidak ada fasilitas apa pun kecuali hanya tugu legitimasi Pemerintah Provinsi dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Penanda lokasi selain GPS di smartphone di tempat itu hanya pasangan batu 1,5 x 1,5 meter yang dicat putih, kontras dan congkak dengan nuansa alam.

Baca juga: Perpustakaan Kalikuma, Edu-Ekowisata dan Jihad Literasi

Jika memang menerapkan konsep wisata virgin destination. Tidak demikian adanya seperti kondisi Wadu Pa’a saat ini. Dibiarkan terbengkalai begitu saja. Walau begitu, Lombok yang dikenal sebagai destinasi wisatanya virgin, tetap ada penataan yang menunjang fasilitas penting untuk memelihara objek tersebut.

Gapura di pintu masuk telah tumbang, lapuk karena dibuat hanya dari anyaman bambu seadanya. Sumur penampungan air sudah ditimbun karena mata air tidak mengalir lagi seperti satu dekade silam. Ada fasilitas toilet, tapi temboknya sudah tumbang dan klosetnya tertutup oleh dedaunan kering. Akses jalan tanah menuju Wadu Pa’a dari jalan aspal ditumbuhi semak, sehingga sulit dikenali jalan menuju lokasi.

Di lokasi memang ada satu paruga (berugaq: sasak) kecil yang setengah lantainya bolong. Juga ada beberapa perahu yang terparkir sepanjang hari. Kadang hilir mudik membawa penduduk ke Kota Bima atau ke tempat lain. Akses berwisata ke Wadu Pa’a yang paling sering dipakai memang jalur perairan ketimbang melewati daratan. Mengingat jauh dan kurang kondusifnya jalur darat jika ditempuh dari Kota Bima.

Baca Juga  Menemukan Diri dalam Dunia yang Hidup: Telaah Ekofenomenologis atas Tubuh, Kesadaran, dan Ritme Kosmos

Tata kelola yang berkewajiban membenahi situs purbakala itu sebenarnya berlapis. Dari tingkat desa, kabupaten, provinsi bahkan pemerintah pusat. Jangankan pemerintah pusat, bekas kehadiran organiasi-organisasi resmi seperti pokdarwis, karang taruna dan program dana desa, bahkan program promosi wisata juga tidak ditemukan jejak digitalnya.

Dalam Kepres 22 tahun 2011 tertulis, “badan promosi wisata wajib melakukan koordinasi dengan Kementerian yang tugas dan tanggungjawabnya di bidang kepariwisataan, instansi pemerintah pusat, dan daerah serta badan promosi wisata daerah.”

“Jikalau Wadu Pa’a diakui sebagai situs purbakala sebagaimana Candi Borobudur dan tempat serupa, lantas kenapa belum ada gaung, ya sekadar gaung untuk promosi?” terang Dion Damansari, Ketua Komunitas Konservasi Nusa Tenggara Lestari. Saat kami temui di lokasi, Dion dan kawan-kawan lepas melakukan aksi memungut sampah di pesisir pantai Wadu Pa’a dan menebar benih bunga air mata pengantin untuk vegetasi lebah.

Lokasi Wadu Paa yang berada “di pesisir teluk di dalam teluk” memungkinkan untuk konsep-konsep wisata tertentu. Semisal camping ground untuk berbagai kalangan. Perlu penataan dan hadirnya pihak terkait di tempat tersebut menjalankan program mereka. Pihak promosi wisata eloknya berusaha lebih ekstra untuk mem-publish Wadu Pa’a dengan jangakauan media.

Baca juga: Wisata Halal: Memenuhi Gaya Hidup Kelas Menengah Muslim

Antusias masyarakat untuk berwisata ke tempat seperti ini sudah mulai terlihat. Seperti dijelaskan Sekretaris Daerah Provinsi NTB, Lalu Gita Ariadi, “Berwisata itu tidak musti ke tempat-tempat biasa seperti pantai, gunung, mall dan sebagainya, bahkan kawasan hutan juga bisa jadi tempat wisata”.

Seorang budayawan NTB, Gus Paox Iben memberikan stressing, “Kalau Komarudin di Brebes itu mampu mengukir batu di sungai Pamali seorang diri, kenapa tidak ada yang mampu menambah wahana serupa di Wadu Pa’a?”

Lebih lanjut, Gus Iben memberikan pandangan untuk pembenahan kawasan wisata Wadu Pa’a, dengan adanya pahatan atau ukiran batu yang sifatnya baru. Itu bisa menjadi wahana tambahan dan bisa lebih banyak menarik wisatawan. Toh Indonesia tidak kekurangan peseni rupa, melihat kemajuan teknologi saat ini. dan banyaknya pihak yang berkewajiban untuk membangun.

Baca Juga  Islam Kaafah: Antara Keterbukaan yang Beradab dan Kekacauan Epistemik (Tanggapan Kritis atas Salman Akif Faylasuf)

Sama hal seandainya batu payung di pesisir pantai Lombok selatan yang runtuh itu. Harusnya sesegera mungkin dibuatkan replika atau dibangun ulang sesaat setelah rusak oleh alam. Batu payung itu memang pernah jadi lokasi syuting iklan level internasional. Sehingga disayangkan jika tidak segera dibangun ulang replikanya atau bentuk batu serupa. Pemangku kewajiban untuk itu kurang peka akan hal semacam ini. Lanjut Gus Paox Iben.

Setidaknya tempat ini dibuatkan video profile secara profesional. Sehingga dengan adanya video yang digarap secara professional hingga segmen para influencer. Mahasiswa dan peneliti dari luar terpanggil untuk melakukan riset arkeolog.

Budayawan Nusantara dan Negara lain bisa melakukan kontemplasi sejarah. Bahkan orang biasa, bisa berwisata alam “di teluk dalam teluk” yang menakjubkan ini. Karena Wadu Pa’a ini kekayaan sejarah selevel internasional. Semua pihak bantu memviralkan potensi abadi Wadu Pa’a yang terbengkalai ini.[]

Ilustrasi: Roamindonesia.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *