Menelisik Jaringan Ulama dan Islamisasi di Indonesia Timur

Buku berjudul Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur ini awalnya kumpulan tulisan Hilful Fudhul SJ yang tersebar di beberapa media online, seperti Alif.id, Islami.co, dan Iqra’.id yang menyoroti tentang penyebaran Islam di kawasan timur Indonesia meliputi Gowa, Tallo, Maluku, Bima, Sumbawa dan Lombok. Naik cetak Oktober 2020 dan bisa diakses melalui google book.

Isi buku mencakup tiga bab utama. Bagian pertama berbicara tentang islamisasi Indonesia timur (Gowa, Tallo, Maluku, Bima, Sumbawa dan Lombok). Bagian kedua membahas jaringan ulama Indonesia timur, dan bagian ketiga memuat tradisi masyarakat Bima.  

Menurut Hilful, tulisan-tulisan tentang Islamisasi Indonesia timur masih cukup minim dan terbatas. Oleh karena itu, buku ini dipersembahkan untuk menambah literatur tentang kajian lslam Indonesia Timur. Bagi pegiat kajian Islam timur, buku ini wajib dibaca karena data-data yang disuguhkan cukup akurat, merujuk langsung pada catatan manuskrip kuno, Lontara Gowa, Lontara Wajo, Panambo Lombok dan Bo Sangaji Kai Bima.

Bagian pertama membahas islamisasi kawasan Indonesia timur. Bab ini menjelaskan bahwa proses islamisasi Indonesia timur pada akhir abad ke-15 awal abad ke-16 tidak terlepas dari pengaruh Sunan Giri. Proses islamisasi di kerajaan Maluku dan Tidore (h.28) pada awalnya dilakukan oleh ulama dari Jawa bernama Maulana Husyain, kemudian dilanjutkan oleh murid Sunan Giri (Tuhubahalul) yang pada puncaknya, Sultan Zainal Abidin (raja ke-18, sultan pertama Ternate, 1486-1500 M) nyantri di Giri untuk memperdalam ilmu agama. Dari beliau dan dilanjutkan oleh sultan-sultan berikutnya di antaranya Sultan Babullah (raja ke-24, sultan ke-7), tersebarlah Islam di Ternate dan wilayah Indonesiatimur lainnya hingga ke Bima.

Lontara Wajo mencatat Islamisasi di kerajaan Gowa Tallo pertama kali dilakukan oleh utusan dari Melayu bernama Datuk Anakoda Bonang pada masa pemerintahan raja Gowa X, yaitu Raja Tonipalangga I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung tahun 1546-1565 M, abad ke-15 (h.31). Islamisasi berikutnya dilakukan oleh Datuk Tellue, sekitar abad ke-17, yaitu Datuk ri Bandang (nama asli Abdul Makmur, gelar Khatib Tunggal), Datuk ri Tiro (nama asli Nurdin Aryani, gelar Khatib Bungsu) dan Datuk Pattimang (nama asli Datuk Sulaiman, gelar Khatib Sulung). Datuk ri Bandang sendiri menurut Panambo Lombok, sebelum menyebarkan Islam terlebih dahulu nyantri di Sunan Giri, data ini diperkuat oleh catatan Graaf dan Pigeaud. (h.28, 31).

Di pulau Lombok, daerah Bayan Lombok Utara merupakan wilayah pertama yang dijangkau oleh pendakwah Islam. Dalam catatan Panambo Lombok, pembawa Islam pertama di sana adalah Sunan Prapen putra Susuhunan Giri. Setelah sukses mengislamkan penduduk Bayan, Panambo Lombok mencatat bahwa Sunan Prapen melanjutkan perjalanan dakwah Islam ke wilayah Sumbawa hingga Bima.

Namun, informasi bahwa Sunan Prapen sampai Bima perlu ditelusuri lebih lanjut karena minimnya bukti sejarah yang mendokumentasikan hal  tersebut. Bo Sangaji Kai (kumpulan catatan kesultanan Bima) sendiri atau catatan lain tentang sejarah awal masuknya Islam di Bima, tidak mengungkapkan proses islamamisasi yang dilakukan oleh Sunan Prapen di Bima, bahkan jejaknya hingga kini masih samar. Kalaupun informasi itu benar, barangkali Sunan Prapen hanya sebentar berdakwah di Bima sehingga dampaknya tidak terlalu berpengaruh secara signifikan.

Salah satu ulama kesohor penerus islamisasi di Lombok adalah TGH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid atau biasa disapa oleh masyarakat Lombok dengan sebutan Maulana Syaikh lahir 17 Rabi’ul Awal 1315 H di kampung Bermi, Selong, Lombok Timur. Sejak kecil ia sudah dididik oleh bapaknya dengan berbagai macam pengetahuan agama, ilmu al-Qur’an, hadist, fiqh, dan lain-lain. Ia juga diasuh oleh ulama-ulama NTB yang kala itu cukup berpengaruh TGH. Syarafuddin, TGH. Muhammad Sa’id Pancor, dan TGH. Abdullah bin Amaq Dulaji Kelayu.

Ketika berumur 15 tahun ia berangkat ke Makkah untuk menuntut ilmu. Proses menuntut ilmu ini ia jalani selama 12 tahun. Guru pertama yang ia temui di Masjidil Haram adalah seorang ulama keturunan Palembang yang bernama Syaikh Marzuki. H. Mawardilah yang memperkenalkannya dengan madrasah Shaulatiyah yang saat itu dipimpin oleh Syaikh Salim Rahmatullah (h.88). Setelah kembali ke tanah air, ia mendirikan pesantren al-Mujahidin pada tahun 1934 M. Selang tiga tahun kemudian, ia mendirikan Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah (NWDI) yang kelak menjadi organisasi yang ditakuti penjajah pada masa perjuangan kemerdekaan. 

Sementara islamisasi di Bima sebagaimana tercatat dalam Bo Sangaji Kai,pendakwah awal Islam adalah utusan dari Raja Gowa Tallo yang datang ke Bima melalui pelabuhan Sape. Mereka bermaksud berdagang Ci’lo dan mendakwahkan Islam. Utusan tersebut, sampai saat ini belum diketahui nama-namanya karena tidak terdokumentasikan. Mereka berhasil mengislamkan keluarga kerajaan Bima, di antaranya La Kai berganti nama Abdul Kahir, La Mbila menjadi Jalaluddin, Ruma Jena Jara Sape menjadi Awaluddin dan Manuru Bata Wadu putra raja Dompu dengan Sirajuddin. Peristiwa ini terjadi pada Ahad, 15 Rabiul Awal 1030 H/7 Pebruari 1621 M.

Namun terdapat catatan Bo Sangaji Kai lain yang dipercaya oleh almarhumah Dr. Siti Maryam R. Salahuddin bahwa waktu kedatangan muballigh di Bima pada tahun 1018 H/1609 M. “Hijratun Nabi Saw. seribu sepuluh delapan tahun ketika itulah masuk Islam di tanah Bima oleh Datuk di Banda dan Datuk di Tiro tatkala zamannya Sultan Abdul Kahir”. Informasi ini bertepatan dengan tahun yang tertulis di langgar kuno kampung Melayu tahun 1609 M, 12 tahun sebelum pembangunan masjid di Kamina oleh La Ka’i tahun 1621 M.

Pada bab satu juga disuguhkan isi naskah kuno milik kesultanan Bima yang bercerita tentang banjir bandang yang terjadi pada masa Nabi Nuh. Menurut naskah tersebut, terdapat salah seorang umat Nabi Nuh yang terdampar hingga Bima namanya Lakare, (h. 49). Ia akhirnya tinggal di Bima dan beranak pinak. Konon dari keturunan Lakare lah asal muasal raja dan sultan Bima. Informasi naskah kuno ini perlu diteliti kembali kebenarannya apakah benar banjir bandang pada saat nabi Nuh itu sampai ke wilayah nusantara sehingga menghanyutkan Lakare di Bima.

Kisah banjir bandang nabi Nuh As. tersebut sangat menempel di hati masyarakat Bima khususnya  masyarakat pesisir pantai, terutama dikaitkan dengan tradisi “kalondo lopi”, prosesi penurunan perahu ke laut. Terdapat soji ro sangga (sesajen) yang menggambarkan upacara penolakan Kan’an untuk menaiki kapal karena dianggap dapat mendatangkan bahaya saat nelayan melaut, (h.50).

Bagian kedua buku ini, mengetengahkan beberapa sosok ulama nusantara yang memberi pengaruh besar terhadap perkembangan Islam di Indonesia timur, di antaranya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, lahir di Makkah tahun 1232 H/1816 M. Beliau merupakan mufti terakhir Makkah-Madinah pada masa pemerintahan Turki Utsmani dan beliau termasuk dari keturunan dari Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Ahli Bait Rasulullah Saw. melalui garis keturunan Sayyidina Hasan ra. (h.57).

Beliau merupakan guru dari ulama-ulama nusantara yang cukup kesohor, seperti Syaikh Nawawi al-Bantani, KH. Muhammad bin Abdullah al-Suhaimi, KH. Muhammad Soleh Darat, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Sayyid Usman bin Yahya al-Batawi, Tuan Husein Kedah, Syaikh Abdul Hamid Kudus, Syaikhona Muhammad Khalil Bangkalan, H. Utsman bin Abdullah al-Minangkabawi, dan banyak lagi murid-muridnya yang lain. Ia terkenal dengan sebutan penjaga Aswaja di tengah gempuran paham Wahabi. Beliau mengarang kitab “al-Durar al-Tsaniyyah fi ar-Radd ‘ala al-Wahhabiyyah”, (h. 60) untuk menolak paham Wahabi yang tekstual.

Salah satu masalah yang dibahas adalah mengenai ziarah kubur. Ia mengutip sebuah hadits riwayat Ibnu ‘Adiy, “barangsiapa yang melakanakan ibadah haji tetapi tidak menziarahiku, berarti ia telah berlaku kasar terhadapku”. Ahmad Zaini Dahlan berpendapat, “Ziarah ke makam nabi, sah-sah saja. Bahkan sesuatu yang disyari’atkan, diperintahkan oleh al-Qur’an dan Hadist serta ijma’ ulama dengan dalil al-Qur’an (Qs. an-Nisa’ [4]: 64) bahwa ziarah di makam nabi tidak bermasalah dan tidak bertentangan dengan dalil-dalil dalam Islam”, (hal. 61).

Menurut Hilful, ulama-ulama nusantara kesohor itu menimba ilmu di madrasah Shaulatiyah dan madrasah Darul Ulum. Madrasah Darul Ulum sendiri didirikan oleh ulama nusantara sekitar tahun 1934 M dilatarbelakangi oleh sikap pengajar di madrasah Shaulatiyah yang menyebut orang-orang nusantara bodoh dan mudah dijajah. Oleh karena itu, Syaikh Muhsin al-Musawa dan ulama nusantara lainnya berinisiatif untuk mendirikan madrasah yang diberi nama Darul Ulum. Madrasah ini diasuh oleh Syaikh Yasin bin Isa al-Fadangi, (h. 64). Ilmu-ilmu dari kedua madrasah inilah yang ditransfer oleh ulama nusantara di daerahnya masing-masing ketika mereka pulang.

Di antara ulama yang berjasa menyebarkan Islam di Indonesia timur adalah Sayyid Jalaluddin al-Aidid, guru Syaikh Yusuf al-Makassari. Beliau orang Aceh yang lahir pada tahun 1603 M. Beliau termasuk pendakwah gelombang ke dua yang datang ke Makassar (abad ke-17) setelah Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro dan Datuk Pattimang.  Beliau termasuk ulama yang cukup berpengaruh di sana karena mampu menyebarkan Islam hingga dicintai oleh masyarakat, khususnya masyarakat Cikoang, bahkan beliau dikenal dengan sebutan Sayyid Cikoang. Tradisi paling menonjol yang beliau inisiasi adalah peringatan maulid Nabi Muhammad Saw. yang lestari hingga kini.

Kehidupannya di Makassar tidak berlangsung lama karena terhambat oleh ulah penjajah Belanda yang  ingin menguasai Makassar, mengadu domba antar kerjaan di Makassar, hingga beliau ikut serta berjuang melawan Belanda, yang pada akhirnya terjadi perjanjian Bongaya antara penjajah Belanda dan Kerajaan Gowa yang merugikan pihak Makassar dan sekutu-sekutunya. Pasca perjanjian Bongaya, Sayyid Jalaluddin al-Aidid mengasingkan diri di Bima untuk melanjutkan dakwah Islam, ketika itu masa pemerintahan sultan Bima II Abil Khair Sirajuddin. Di Bima beliau mendakwahkan Islam melalui tradisi Maulid Nabi dan mengembangkan ajaran tarekat Khalwatiyah. Beliau tinggal di Bima selama 30 tahun, wafat tahun 1693 M. Terdapat dua versi mengenai tempat pemakamannya. Ada yang mengatakan di Doro Ule dan ada yang menunjuk Doro Wawo.

Penyebaran Islam di Indonesia timur juga dipengaruhi oleh peran Syaikh Abdul Ghani al-Bimawi al-Jawi. Beliau asli Bima-Dompu, lahir kira-kira paruh akhir abad ke-18 tahun 1780 M di Bima. Beliau merupakan salah seorang guru dari ulama nusantara di Makkah al-Mukarramah dan menjadi imam Masjdil Haram serta periwayat hadist. Di antara muridnya adalah Syaikh Nawawi al-Bantani dan Syaikhona Muhammad Khalil Bangkalan. Ayahnya bernama Syaikh Subuh yang terkenal dengan penulis Mushaf al-Qur’an “La Lino”. Ayahnya diangkat oleh sultan Alauddin Muhammad Syah (1731-1748 M) sebagai imam kesultanan Bima. Di antara guru-gurunya adalah Allamah Muhammad Marzuki dan Syaikh Ahmad Marzuki, pengarang kitab Aqidatul Awam.

Ketika bermukim di Dompu, beliau menurut Fahru Rizki, mendapati kondisi masyarakatnya yang kecanduan opium, sabung ayam dan berbuat kriminal. Oleh karena itu, tahun 1859 M beliau berkolaborasi dengan muridnya sultan Dompu ke-18 Sultan Salahuddin Ma Wa’a Adi untuk memberantas penyakit masyarakat tersebut hingga masyarakat tersadarkan. Beliau kembali ke Makkah dan meninggal di sana dimakamkan di Ma’la.

Di Bima, sultan ke-14 Muhammad Salahuddin(1915-1951 M) memainkan peranan penting dalam pengembangan Islam sehingga beliau dijuluki Ma Kakidi Agama, yang menegakkan agama Islam di Bima. Sedari kecil, sang sultan sudah dibekali ilmu agama seperti ilmu tauhid, al-Qur’an, hadits dan ilmu politik yang diajarkan oleh ulama-ulama lokal di istana Bima sehingga tidak heran ia juga dianggap sebagai sultan yang paham agama atau istilah Bimanya sultan Ma Wa’a Alim. Di samping belajar dengan ulama-ulama lokal, beliau juga dikirim ke Batavia dan Makkah al-Mukarramah untuk memperdalam ilmu pengetahuan sehingga ia dapat mengarang kitab yang diberi judul Nurul Mubin yang diterbitkan oleh penerbit Syamsiah Solo, (h.95).

Di samping memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, beliau juga sangat memperhatikan pendidikan masyarakat Bima. Untuk itu, beliau mengirim putra-putri Bima yang cerdas untuk menimba ilmu di berbagai wilayah nusantara bahkan hingga di Makkah al-Mukarramah. Setelah mereka menyelesaikan studi, mereka dipanggil kembali untuk menempati pos-pos penting dalam bidangnya masing-masing. Bagi yang dikirim ke sekolah atau perguruan tinggi umum, mereka ditempatkan sesuai dengan bidang keahliannya dan bagi yang menimba ilmu agama diangkat menjadi penasihat sultan dalam bidang agama dan menjadi guru agama. Demikianlah di antara usaha yang dilakukan oleh sultan Muhammad Salahuddin dalam rangka meningkatkan ilmu pengetahuan masyarakat Bima, lebih-lebih ilmu agama.

Berikutnya islamisasi di wilayah Sumbawa digawangi oleh Syaikh Zainuddin as-Sumbawi, guru Syaikhona Muhammad Khalil Bangkalan, Syaikh Ibrahim al-Khulusi as-Sumbawi maestro Kaligrafi (w. 1860 M) dan Syaikh Muhammad Ali as-Sumbawi, mufti kesultanan Sumbawa, yang menyelesaikan terjemahan kitab al-Yawaqit wal Jawahir fi ‘Uqubah Ahlil Kabair karya Syaikh Abdul Wahhab al-Sya’rani dengan menggunakan aksara Arab Melayu pada tahun1243 H/1827 M. Ketiganya memiliki peran masing-masing sesuai dengan keahliannya dalam proses islamisasi di Sumbawa. Diakui oleh Hilful bahwa informasi mengenai ulama-ulama Sumbawa ini sangat minim sehingga tidak dapat dielaborasi lebih jauh lagi, kecuali ditemukan naskah tentang beliau bertiga atau dilakukan penggalian data dengan mewawancarai keturunan beliau di Sumbawa.

Pada bagian terakhir buku ini mengetengahkan beberapa tradisi masyarakat Bima, di antaranya tradisi kalondo lopi, upacara hanta Ua Pua dan tradisi rimpu. Dibahas juga tentang makam beberapa orang sultan Bima yang berlokasi di kelurahan Tolobali, juga disinggung mengenai masjid kuno yang pernah didirikan oleh sultan pertama Bima Abdul Kahir dan beberapa kerabatnya pada tahun 1621 M yang berlokasi di Kamina Kec. Langgudu dan langgar kuno kampung melayu kota Bima yang didirikan pada tahun 1609 M.

Secara umum, buku ini berisi informasi sejarah yang cukup baik karena yang menjadi referensi adalah naskah klasik yang dimiliki oleh beberapa kesultanan di wilayah Indonesia timur. Namun setiap karya ada saja kekurangannya yang perlu diperbaiki kedepannya. Dalam pengamatan sederhana saya, pertama sampul buku seharusnya ditampilkan secara baik sehingga menjadi daya tarik bagi pembaca. Kedua, masih ditemui kesalahan yang bersifat teknis seperti pengulangan kata damai pada halaman 59 pada baris terakhir. Ketiga dan ini fatal menurut saya, adalah kesalahan penulisan nama sultan Bima I dan II ketika membahas masalah Hanta Ua Pua (h.105-108). Sultan Bima pertama adalah Abdul Kahir dan sultan Bima II adalah Abil Khair Sirajuddin atau ada yang menulis Abdul Khair Sirajuddin. Di bab itu ditulis sultan Bima I Abdul Khair dan sultan Bima II Sirajuddin  Abdul Khair. Harapannya, untuk cetakan berikutnya, kesalahan-kesalahan tersebut dapat diminimalisir. Wallahu a’lam.

Editor: Ilyas Yasin 

Ilustrasi: twitter Akal Buku

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *