Moderasi Beragama: Ketika Islam Diminta Menjadi Apa yang Sejak Awal Ia Sudah Miliki (Tanggapan untuk Prof. Dr. Abdul Wahid)

Ada keganjilan yang sejak awal mengusik nalar dan rasa-perasaan saya setiap kali frasa “moderasi beragama (Islam)” diucapkan, ditulis, dan dilembagakan. Bukan karena saya menolak hidup damai, toleran, atau berkeadaban—justru sebaliknya. Keganjilan itu muncul karena frasa tersebut menempatkan Islam pada posisi yang seolah problematik, seakan ia membutuhkan koreksi, penjinakan, atau rehabilitasi etik agar layak hidup berdampingan dalam masyarakat majemuk.

Padahal, jika kita jujur menengok jantung ajaran Islam, moderasi bukanlah agenda tambahan, melainkan fitrah ajaran itu sendiri. Islam tidak pernah lahir sebagai agama ekstrem, apalagi agresif. Al-Qur’an sejak awal memperkenalkan umat Islam sebagai ummatan wasathon—umat pertengahan. Bukan sekadar “titik tengah” dalam pengertian politis, melainkan keseimbangan ontologis: antara akal dan wahyu, antara dunia dan akhirat, antara individu dan komunitas, antara keyakinan dan kemanusiaan.

Karena itu, menyandingkan Islam dengan kata “moderasi” terasa ganjil, bahkan problematik. Seolah-olah Islam pada keadaan asalnya tidak moderat, lalu perlu dipandu agar jinak. Pertanyaannya: siapa yang sebenarnya bermasalah dengan moderasi—Islam, atau cara kita membaca dan menghidupinya?

Ketika “Moderasi” Bergeser dari Etika Menjadi Stempel

Saya sepakat dengan Prof. Abdul Wahid bahwa sasaran moderasi bukanlah agama sebagai keyakinan ontologis, bukan pula ritual, melainkan “gaya berjumpa”. Namun di lapangan, konsep ini kerap bergeser. Ia tidak lagi menjadi etika perjumpaan, melainkan alat kategorisasi: siapa yang dianggap moderat, siapa yang dicurigai tidak.

Di titik ini, moderasi berhenti sebagai kebajikan, dan berubah menjadi label kekuasaan. Ironisnya, umat Islam—yang sejak awal diajarkan adab perbedaan—justru sering menjadi objek utama dari proyek moderasi ini. Seakan-akan problem kekerasan, intoleransi, dan eksklusivisme adalah watak inheren Islam. Padahal sejarah konflik menunjukkan bahwa kekerasan lahir bukan dari kedalaman iman, melainkan dari kedangkalan nalar dan kemiskinan etika sosial. Orang yang benar-benar paham tauhid tidak sibuk memerangi perbedaan. Karena ia tahu, Allâh tidak terancam oleh pluralitas. Yang terancam justru ego manusia.

Menjadi Muslim Tidak Mungkin Tidak Moderat

Ini tesis utama saya: menjadi Muslim sejati hampir mustahil tidak moderat. Mengapa? Karena Islam membentuk kepribadian yang selalu ditarik oleh dua poros: keadilan dan rahmah. Setiap bentuk keberagamaan yang melahirkan kebencian, kekerasan, dan penghapusan martabat manusia—itu bukan Islam yang terlalu kuat, melainkan Islam yang belum-tidak selesai dipahami.

Radikalisme bukan produk kesalehan berlebih, tetapi produk keterputusan antara teks dan hikmah. Ia lahir ketika agama direduksi menjadi slogan, identitas, dan amunisi politik. Dalam bahasa lain: problemnya bukan pada Islam, melainkan pada kegagalan menjadi Muslim secara utuh.

Karena itu, jika ada yang bermasalah dengan moderasi, besar kemungkinan problem itu bukan pada Islam, melainkan pada: ✓Cara beragama yang tercerabut dari maqoshid, ✓Pendidikan agama yang menekankan sebatas hafalan tanpa kebijaksanaan, ✓Negara dan institusi yang gagal menghadirkan keadilan sosial. ✓Moderasi tidak tumbuh di ruang ketidakadilan.

Kampus dan Negara: Dari Proyek ke Keteladanan

Kritik Prof. Abdul Wahid terhadap kampus—khususnya PTKI—sangat penting. Namun izinkan saya menambahkan satu lapisan refleksi: moderasi tidak bisa diorkestrasi seperti proyek teknokratis. Ia tidak hidup dari seminar, modul, rumah moderasi, atau RPJMN semata. Moderasi hidup dari keteladanan etis: bagaimana dosen bersikap pada mahasiswa yang berbeda, bagaimana kampus merawat perbedaan internalnya, bagaimana negara berlaku adil pada semua warganya. Tanpa keadilan, moderasi hanya terdengar seperti nasihat moral kepada korban agar bersabar, sementara struktur yang melukai tetap utuh.

Di titik ini, saya justru melihat apa yang disebut Prof. Wahid sebagai inisiatif akar rumput—komunitas dialog, peer group intellectualism, resistensi kultural—sebagai bentuk moderasi paling autentik. Ia lahir tanpa slogan, tanpa anggaran, tanpa label. Ia lahir dari kebutuhan batin manusia untuk hidup bermakna bersama. Dan mungkin, justru di situlah Islam bekerja dengan cara paling sunyi.

Dari Moderasi ke Kedewasaan Beragama

Barangkali problem kita bukan kurang moderasi, tetapi kurang kedewasaan beragama. Kedewasaan yang membuat seseorang: ✓Teguh dalam iman tanpa merasa terancam oleh perbedaan, ✓Berani mengoreksi diri sebelum menyalahkan orang lain, ✓Mampu hidup berdampingan tanpa harus menyeragamkan.

Jika moderasi dimaknai sebagai upaya mengembalikan Islam kepada wajah aslinya—rohmah, adil, dan beradab—maka ia tidak perlu diperdebatkan. Tetapi jika moderasi menjadi proyek yang diam-diam menaruh kecurigaan pada Islam, maka keganjilan itu pantas dipersoalkan. Islam tidak perlu dimoderasi. Yang perlu dimoderasi adalah cara kita membawa Islam ke ruang publik—dengan ilmu, dengan akhlak, dan dengan keadilan.

Dan di titik itulah, kampus, negara, dan masyarakat diuji: apakah mereka ingin menciptakan manusia beriman yang dewasa, atau sekadar warga yang patuh pada jargon.[]


*Aldo el-Haz Kaffa (Coach Kaffa), pendiri Islamic Lombok Forum, CEO Kaffa Business Coach, penganjur Entrepreneurial Mindset Mainstreaming

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *