“Faizah… kami turut berbelasungkawa atas syahidnya sang Imam. Beliau sosok yang tak goyah; dan teguh berdiri dengan segenap jiwa dan raga melawan negara-negara penindas hingga akhir hayatnya. Kini Iran-mu menjadi kiblat bagi banyak negara untuk satu pelajaran berharga, ‘kedaulatan tidak diberikan, namun dipertahankan.’ Keteguhan inilah yang membuat para pemimpin negaramu tidak hanya mengajarkan ‘geopolitik’ namun ‘teologi yang membebaskan’ sebagai spirit perlawanan.”
—Wangsyah, Letters to Faizah, (2026)
Maret 2026 menjadi saksi bagaimana peta kekuatan dunia bergeser secara menggemparkan dalam guncangan tektonik yang tak terelakkan. Situasi semakin memanas semenjak gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei yang mengundang ledakan simpatik warga dunia. Berita kepergian sang imam yang memenuhi beranda media sosial dunia akhir-akhir ini menunjukkan bukan Iran saja yang merasa kehilangan, tetapi setiap orang yang muak atas penindasan global.
Mungkin si Duck (AS) unto si Neten (Israel) menyangka gugurnya ayatollah Ali Khamenei akan membuat nyali kalian ciut, namun itu bukan Iran-Persia yang dikisahkan oleh sejarah dunia; atau Teheran yang kerap kau kisahkan padaku dengan bangga karena memiliki nafas perlawanan yang tak pernah padam serta menjadi satu-satunya negara Islam yang berani berkata “tidak” kepada bangsa yang mendaku sebagai superpower. Sang imam, sebelum gugur dengan teguh berkata: “Kami tidak akan lari; kami akan dikubur di tanah ini […] kami tidak takut kepada siapapun kecuali Tuhan […] dan tidak ada super power selain Tuhan.” Pernyataan theopolitics ini mencerminkan kematangan tauhid seorang pemimpin, di mana kedaulatan telah “mengurat-nadi” melampaui segala ketegangan dan menjadi benteng ideologi yang mustahil kelabui oleh satu “setanpun”.
Integritas tauhid negaramu membuat transisi kekuasaan tetap terjaga; bahkan tiga bulan sebelum gugurnya sang Imam, transisi telah dikunci rapat di lingkaran pemimpin tertinggi (circle of the supreme leader). Kabarnya, putra sang imam, Mojtaba Khamenei akan berdiri di garis depan kepemimpinan didampingi Ali Larijani yang secara teknis mengomandoi simfoni perang dengan ketajaman yang dingin. Strategi ini menunjukkan rantai komando Iran tetap berjalan nyaris tanpa celah, sembari menyiapkan perisai untuk skenario yang akan menjadi penyesalan seumur hidup bagi si Duck dan si Neten.
Faizah, keberpihakan-ku terhadap Iran bukan karena “ke-FOMO-an yang simpatik” terhadap situasi negaramu belakang ini, namun karena akar memori yang telah kita tanam sebelumnya. Barangkali kamu masih ingat obrolan kita menjelang malam di pesisir pantai Trengganu tiga tahun silam. Kataku, “selain dirimu, banyak yang kusukai dari Iran: Kebab, Delima Persia, beras yang selalu kau bawakan untukku dengan penuh perhatian, syair-syair sufi, dan yang terakhir adalah Ayatollah Ruhollah Khomeini. “What about the figure of Imam Khomeini?” tanyamu dengan raut penasaran saat ombak mulai pasang.
Kataku, sembari mengutip Gülen (pemimpin gerakan transnasional Hizmet, Turki); “Ayatollah Ruhollah Khomeini adalah sang revolusioner berjiwa kesatrian (al-fatah) yang memadukan etos Futuwwah dan spirit Malamatiyah dalam kepemimpinannya. Kamu bayangkan saja, sebagai pemimpin yang meruntuhkan monarki, Khomeini tak pernah memiliki rekening bank seumur hidupnya. Ia tidak pernah melirik kemegahan istana yang ditinggalkan raja yang digulingkan dan memilih menetap di rumah sederhana dengan karpet tua dari awal hingga akhir hayatnya.” “Yah.. political asceticism (zuhud yang politis),” responmu datar.
Aku yakin kamu tidak mungkin lupa obrolan itu, karena beberapa hari kemudian aku menulis khusus obrolan kita sore itu dan beberapa hari setelahnya, tulisan [surat] itu aku serahkan padamu di pelataran kampus. Di bagian akhir surat itu, aku juga menyadur Sapardi bahwa aku sedang berusaha belajar etos hidup Khomeini sekarang; “mencintai kesederhanaan; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu; atau dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikan tiada di tengah dunia yang dingin.
Spirit kesederhanaan Ayatollah Ruhollah Khomeini itulah yang kemudian menjadi ruh bagi Ayatollah Ali Khamenei dalam membangun kemandirian militer yang kini meruntuhkan mitos Air Superiority Barat. Meski kalian kalian dikeroyok di berbagai sisi, namun nyatanya saat ini hegemoni Amerika dan Israel berada di titik nadir, dipaksa gagap oleh intensitas tempur yang melampaui Operasi Desert Storm 1991 melalui kombinasi maut teknologi rudal hipersonik dan perang asimetris. Benturan ini bukan sekadar konflik regional, tetapi keruntuhan perlahan supremasi udara konvensional yang selama ini diagungkan tanpa tandingan di dunia.
Ketangguhan itu mewujud nyata saat rudal Fattah-2 dan Kheibar Shekan terbukti mampu menjebol seluruh lapis sistem Hanud Israel; Iron Dome, Arrow-3, hingga David’s Sling dengan presisi yang mematikan. Dampaknya, pusat komando Kirya dan infrastruktur intelijen Glilot mengalami kerusakan struktural berat yang melumpuhkan koordinasi, sementara markas rahasia Mossad di Manama rata oleh drone kamikaze. Operasi ini menegaskan tidak adanya lagi zona aman bagi pangkalan Barat sekaligus menandai pergerseran era dominasi tunggal negara adidaya di masa mendatang.
Akar Intelektual Iran: Etos Kemandirian Berpikir dan Bertindak
Etos militer yang presisi dibangun dengan kemandirian intelektualitas yang menghujam di akar rumput masyarakat Iran. Jika tak salah ingat, kita pernah membahas mengenai minat baca dan Iran adalah yang tertinggi kedua di dunia. Sejauh yang aku ketahui; tentangmu, dan juga tentang Iranmu, memang tidak se-fomo negaraku yang satu kampungnya adalah content creator. Bahkan selama mengenalmu, kita lebih intens berbalas pesan melalui Email dan Telegram saja. Mungkin kemandirian berpikir inilah, yang hari ini menjelma menjadi kekuatan negaramu untuk merobohkan arogansi Barat. Kalian tidak mudah untuk didikte, apalagi oleh negara yang baru lahir kemarin sore. Dunia telah mencatat kalian adalah pewaris langsung Kekaisaran Persia, yang satu-satunya terbesar dalam sejarah yang pernah menguasai sebagian besar dunia kuno; dari Timur Tengah hingga Mesir—sebelum resmi mengganti “nama internasional” menjadi Iran pada 1935.
Ingatanku kembali melayang pada suatu pesta buku di perpustakaan Universiti Sultan Zainal Abidin yang selalu didominasi oleh Iranian student. Terakhir kamu dan aku diberi penghargaan sebagai peminjam buku terbanyak berupa uang RM 300 beserta sertifikat, yang kemudian kita habiskan untuk merayakan kemenangan literasi itu di pantai belakang kampus selama dua hari penuh. Jangan bilang kamu lupa akan momen itu, karena sepanjang malam kita ngobrol dan berdiskusi di depan perapian, menguliti makna dari setiap lembar halaman yang pernah kita lahap bersama. Aku masih ingat, satu pertanyaan yang terlontar darimu saat itu, “kau tau, apa bedanya membaca dan berpikir?” tanyamu dengan tatapan tajam.
Lalu aku menjawab dengan sedikit godaan, “membaca dan berpikir itu seperti menatapmu sambil menangkap pesan yang tersirat dari keindahan matamu”. Kau tersenyum mengejek sambil bilang; “okay, poet laureate,” si paling pujangga! “Jadi, apa jawabanya?” tanyaku cepat-cepat. “Kamu terlalu maniak membaca…itu baik. Namun aku tidak dapat menangkap mana pikiran otentik-mu di tengah banyaknya tokoh yang kamu kutip […] Wangsyah, membaca hanya memberikan pengetahuan bagi pikiran, namun berpikirlah yang membuat kita benar-benar memiliki apa yang kita baca.” Aku tertegun sekaligus tertampar. “Wow. Look at u being all deep… iyah deh si paling filosof,” responku menyindir di antara deru angin malam pantai Terengganu.
Faizah, apa pun ingatanku padamu, etos intelektualitas Iran yang mendorong lahirnya kemandirian berpikir dan bertindak berakar dari sejarah ilmu pengetahuan dunia yang tak dapat dinafikan. Barangkali fakta ini juga-lah yang bikin si Duck “kesetanan”, karena kalian tidak mudah untuk dikendalikan. Sementara si Neten, kabarnya kini meradang karena pangkalan udara Nevatim dan Tel Nof lumpuh total. Tanpa landasan pacu yang rata akibat hantaman salvo rudal masif, kini jet F-35 kebanggaan Israel hanya menjadi target diam yang tak berdaya di darat, tak lebih dari besi tua yang menunggu ajal. Kehancuran ini membuktikan “Iran telah melampaui kecanggihan alat yang mereka miliki.”
Di saat Teheran menunjukkan kematangan nalar tempurnya di Israel, di Kuwait justru terjadi insiden memalukan yang memperlihatkan kerapuhan sistemik AS. Tiga unit F-15 jatuh oleh peluru kawan sendiri (friendly fire) karena radar pertahanan Patriot mengalami gangguan masif akibat “racun elektronik” yang mengakibatkan kegagalan identifikasi (IFF) fatal. Kejadian ini menjadi peringatan keras bahwa ketergantungan pada sistem “kotak hitam” asing adalah bentuk ketidakmampuan berpikir mandiri yang berujung pada bunuh diri taktis. Kabar ini tidak ramai diberitakan, atau kemungkinan sengaja diredam karena terlalu memalukan.
Ngomongin ketergantungan buta pada sistem asing yang berujung konyol itu, aku jadi ingat lagi pada satu momen di pantai Tok Jembal ketika kamu kesal dengan para pengunjung pantai yang telah seminggu penuh kita bersihkan. “Lihat mereka!” sembari menunjuk pengunjung pantai yang membawa minuman kemasan supermarket. Kau heran mengapa mereka mengabaikan air kelapa segar yang dijual murah depan mata dan justru meninggalkan sampah plastik begitu saja tanpa beban. “Itu tipekal representasi masyarakat dengan gaya hidup tanpa kedaulatan diri,” Katamu sinis.
Engkau semakin geram melihat mereka membawa makanan cepat saji, padahal di sepanjang jalan tersedia banyak ikan segar tangkapan nelayan yang jauh lebih “bermartabat” untuk disantap. Aku pun mencoba menengahi omelanmu, “di negeriku, kondisinya jauh lebih miris; ikan dan lobster besar air tawar hasil tangkapan malah ditukar dengan mie instan dan biskuit ke tenaga kesehatan yang bertugas melakukan penyuluhan gizi masyarakat terbelakang.” “Pola ketergantungan semacam itulah yang aku maksudkan sebagai cerminan dari bangsa yang kehilangan kedaulatan berpikirnya […] kita lebih memilih produk industri ketimbang kekayaan tanah sendiri,” katamu menghela nafas miris.
Beberapa menit kemudian suara ponselmu berdering. “My dad video call,” katamu. “Okay, take your time!” jawabku singkat. Sesaat kemudian, kamu menghampiriku dan mengenalkanku kepada ayahmu. Obrolan berlangsung seru; karena ayahmu ternyata seorang dosen University of Tehran, kampus yang banyak bersentuhan dengan para penulis favoritku: mulai dari Hossein Nasr, Mehdi Yazdi, hingga Sachiko Murata bersama sang suami, William Chittick. Topiknya pun ngalor ngidul yang mengalir, loncat kesana-kemari; dari membicarakan lingkungan kampus Teheran hingga menyentuh soal ketegangan antara Iran-Israel yang mulai membara pasca pecahnya konflik Gaza 7 Oktober 2023.
Ayahmu menyangkal sikap simpatik-ku atas situasi geopolitik ketika itu, “its okey. Perang tidak benar-benar berakhir dan manusia selalu dalam situasi konfliktual. Jadi, kita tidak perlu kaget dengan situasi sekarang […] lagipula politik dan perang telah ada sejak awal konflik antara Homo sapiens dan Neanderthal […] dunia tidak banyak berubah, kecuali semakin canggihnya mesin perang dan media untuk bergelut. Ketajaman nalar kita dalam memandang sejarah persaingan spesies inilah yang membuat setiap diskusi kita menjadi begitu berharga di tengah keriuhan dunia yang serba dangkal.”
Bersambung…. [2]
Catatan:
Bagian 2 berisi balasan surat dari Faizah di Teheran pada 10 Maret 2026.Mahasiswa Studi Agama-agama, Eksponen Kalikuma Mataram: Penyuka Musik dan Buku
Get rewarded for every recommendation—join our affiliate network!