Ketika Gunung Mulai Berbicara: Membaca Krisis Ekologi dalam Perspektif Ekoteologi

Ada saat-saat ketika alam seolah berhenti menjadi pemandangan dan mulai berubah menjadi pesan. Gunung yang selama ini kita lihat sebagai siluet indah dari kejauhan tiba-tiba mengepulkan asap, langit yang biasanya biru tiba-tiba berubah kelabu oleh abu vulkanik, suara gemuruh mulai terdengar dari kejauhan, jalan-jalan dan penerbangan dibatasi dan malah terganggu, dan masyarakat pun diminta harus menjauh dari kawasan sekitar bencana. Gunung seakan-akan berbicara, dan apakah manusia masih mau mendengar?

Pertanyaan itu terasa semakin kuat ketika beberapa gunung api di Indonesia menunjukkan aktivitasnya. Gunung Anak Krakatau misalnya, mengalami episode erupsi yang menerus selama sekitar 25 jam sejak 4 September 2026. Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas vulkaniknya masih terus dipantau dan statusnya tetap Level Siaga. Badan Geologi juga mencatat bahwa kemungkinan letusan dalam periode berikutnya masih tinggi.

Secara ilmiah, kita tentu tidak boleh gegabah menyimpulkan bahwa letusan gunung merupakan akibat langsung dari dosa manusia atau kerusakan lingkungan. Gunung api memiliki dinamika geologisnya sendiri—magma bergerak, tekanan meningkat, rekahan terbentuk, dan bumi menjalankan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah. Tetapi dari perspektif ekoteologi, kita boleh mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: Apa yang seharusnya kita renungkan ketika alam memperlihatkan kekuatannya?

Di sinilah sebuah lagu lama dari Ebiet G. Ade terasa seperti menemukan kehidupan baru. Dalam lirik lagu yang berjudul “Berita kepada Kawan”, ada kegelisahan tentang alam yang seolah-olah telah bosan melihat tingkah manusia dan mulai enggan bersahabat dengan kita. Lagu itu bukan laporan ilmiah tentang gunung api. Ia adalah suara moral, yang mengajak manusia bercermin, bahwa alam bukan sekadar latar kehidupan

Kita sering menempatkan alam sebagai sesuatu yang berada “di luar” diri kita—hutan sebagai sumber kayu, tanah sebagai aset, laut sebagai sumber ekonomi, gunung sebagai objek wisata, dan sungai sebagai saluran air. Padahal kita sendiri adalah bagian dari seluruh jaringan kehidupan itu.

Dalam tradisi pemikiran ekologi Barat, Arne Naess, seorang filsuf asal Norwegia melalui gagasan deep ecology mengkritik pandangan yang hanya melihat alam berdasarkan manfaatnya bagi manusia. Alam memiliki nilai intrinsik—nilai pada dirinya sendiri. Pohon misalnya, tidak harus berguna bagi manusia untuk memiliki hak hidup. Burung tidak harus bernilai ekonomi untuk layak terbang. Sungai tidak harus menghasilkan uang untuk pantas tetap jernih. Gunung tidak harus menjadi destinasi wisata untuk memiliki makna. Ekoteologi membawa kesadaran ini lebih jauh, bahwa alam bukan hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga dimensi spiritual.

Karena itu ketika kita merusak alam, sesungguhnya persoalannya bukan hanya tentang kerusakan lingkungan, akan tetapi ada sesuatu yang lebih dalam, bahwa kita sedang mengalami keretakan hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Pemikir ekoteologi Amerika, Thomas Berry, pernah melihat bumi bukan sekadar sebagai kumpulan sumber daya, tetapi sebagai “sebuah komunitas kehidupan yang memiliki sejarah kosmik”. Manusia bukan penguasa yang berdiri di luar komunitas itu, akan tetapi bagian dari kisah panjang alam semesta. Pandangan Berry ini cukup menggugah kita untuk mengubah pertanyaan. Bukan lagi “Apa yang dapat kita ambil dari bumi?” akan tetapi “Bagaimana kita dapat hidup bersama bumi?”

Perubahan pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat revolusioner, sebab selama berabad-abad manusia membangun peradaban dengan logika penguasaan—Kita mengambil lebih banyak, memproduksi lebih banyak, mengonsumsi lebih banyak, dan membangun lebih banyak. Namun kita lupa bahwa bumi memiliki batas. Dan ketika manusia lupa bahwa bumi memiliki batas, disitulah keserakahan perlahan berubah menjadi krisis.

Baca Juga  Menjadi Perpanjangan Tangan Tuhan

Dalam perspektif Islam, persoalan tersebut menemukan resonansi yang kuat dalam firman Allah: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum [30]: 41).

Ayat ini bukan berarti bahwa setiap gempa, banjir, kekeringan atau letusan gunung otomatis merupakan hukuman atas dosa manusia, pembacaan semacam itu terlalu sederhana, kondisi tersebut sesungguhnya memberi kita sebuah cermin etis, bahwa ada kerusakan yang benar-benar lahir dari tangan manusia—Hutan misalnya ditebang tanpa kendali, sungai dicemari tanpa rasa bersalah, laut dipenuhi sampah tanpa rasa iba, tanah dieksploitasi tanpa pemulihan, dan keanekaragaman hayati dihancurkan tanpa belas kasihan. Kemudian kita terkejut ketika ekosistem kehilangan keseimbangannya.

Ada satu konsep Qur’ani yang sangat penting untuk dibaca dan direnungkan dalam konteks ekoteologi, yakni “mīzān”—keseimbangan. Sebagaimana firman Allah: “Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu.” (QS. Ar-Rahman [55]: 7–8). Ayat ini luar biasa, alam diciptakan dalam keseimbangan, dan manusia diperingatkan agar jangan merusaknya.

Dalam bahasa ekologi kontemporer, kita berbicara tentang ecological balance, daya dukung lingkungan, keberlanjutan, dan batas-batas planet, namun al-Qur’an telah mengajarkan satu prinsip yang jauh lebih mendasar, “jangan merusak mīzān”. Maka krisis ekologis pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga persoalan etika. Bukan hanya bagaimana kita menemukan energi baru, tetapi bagaimana kita belajar menahan keserakahan. Bukan hanya bagaimana kita membersihkan sungai, tetapi bagaimana kita berhenti menjadikannya tempat pembuangan. Bukan hanya bagaimana kita menanami kembali hutan, tetapi bagaimana kita mengubah mentalitas yang memandang pohon hanya sebagai komoditas.

Ada kritik yang menarik terhadap krisis ekologis yang datang dari pemikir Barat yang justru banyak berbicara tentang agama, yakni Lynn White Jr., dalam esainya yang terkenal The Historical Roots of Our Ecologic Crisis, mengkritik cara tertentu dalam memahami tradisi Kristen yang telah menempatkan manusia sebagai pusat dan penguasa ciptaan, sehingga alam dipandang sebagai sesuatu yang boleh ditaklukkan dan dimanfaatkan. Terlepas dari Tesis Lynn White, gagasan ini penting sebagai bahan refleksi, bahwa agama tidak boleh ditafsirkan sebagai legitimasi untuk mengeksploitasi alam.

Dalam Islam, konsep “khalifah” seharusnya tidak dibaca sebagai surat izin untuk menguasai bumi sesuka hati, akan tetapi khalifah itu adalah amanah. Sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30). Ayat ini menegaskan bahwa khalifah bukan pemilik absolut, khalifah adalah penjaga, oleh karena itu semakin besar kekuasaan manusia atas alam, semakin besar pula tanggung jawab moralnya.

Gunung tidak berbicara dengan bahasa manusia. Ia berbicara melalui asap, melalui lava, melalui gemuruh, melalui abu yang jatuh, dan melalui ketakutan yang tiba-tiba menyadarkan manusia bahwa ternyata kita tidak sepenuhnya berkuasa atas bumi. Di sinilah kedewasaan ekologis diperlukan, jangan mengubah bencana menjadi mitos dan jangan pula mengubahnya menjadi sekadar angka statistik.

Baca Juga  Ketika Kata Tak Lagi Bertemu Makna: Refleksi Al-Qur'an Surah Lukman Ayat 18

Bagaimana jika kita memperlakukan bumi bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai rumah kehidupan (Oikos) yang harus dihormati?. Dalam Islam, untuk menyadarkan manusia, Al-Qur’an memberikan bahasa yang sangat indah, bahwa “alam adalah ayat”. Artinya, Gunung adalah ayat, laut adalah ayat, langit adalah ayat, hujan adalah ayat, dan pepohonan adalah ayat. Kemudian manusia diminta membaca ayat atau tanda-tanda itu, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi… terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 190).

Maka gunung yang meletus bukan hanya objek yang harus diamati oleh vulkanolog, tetapi juga bisa menjadi teks spiritual yang mengajak kita membaca diri kita sendiri—siapa  kita di hadapan alam, sejauh mana kita memahami keterbatasan diri, dan bagaimana kita menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi. Artinya manusia bukan penguasa mutlak atas bumi, namun bagian dari kehidupan yang dipercayakan untuk menjaga bumi.

Barangkali lirik lagu Ebiet G Ade tentang “alam yang mulai enggan bersahabat dengan manusia” adalah sebuah metafora yang sangat kuat untuk saat ini, sebab yang sesungguhnya mengkhawatirkan bukan ketika gunung meletus, akan tetapi ketika hati manusia tidak lagi terusik oleh kerusakan alam. Bukan ketika sungai tercemar, tetapi ketika kita menganggap pencemaran sebagai hal biasa. Bukan ketika hutan hilang, tetapi ketika kita tidak lagi merasa kehilangan paru-paru bumi. Bukan ketika satwa punah, tetapi ketika kepunahan itu tidak lagi membuat kita sedih. Bukan pula ketika bumi memanas, tetapi ketika kita masih merasa bahwa semua itu bukan urusan kita. Inilah yang oleh banyak pemikir ekologi dipahami sebagai krisis kesadaran. Dan mungkin di sinilah ekoteologi menemukan tugas terbesarnya—mengembalikan jiwa manusia kepada bumi.

Seyyed Hossein Nasr, pemikir Muslim yang hidup dan berkarya dalam lingkungan intelektual Barat, memberikan pandangan yang menarik, bahwa “akar krisis ekologis modern tidak hanya terletak pada teknologi, industri, atau pertumbuhan ekonomi, namun ada problem yang lebih dalam, yakni hilangnya pandangan sakral terhadap alam”. Ingatlah bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral, sementara Tuhan memiliki tanda-tanda-Nya, dan kemudian manusia memiliki hati untuk merenungkannya.

Sebagai catatan pinggir, bahwa saat ini yang sedang kita perlukan bukan alam yang kembali bersahabat dengan manusia. Kitalah yang harus belajar kembali bersahabat dengan alam, karena kita ibaratnya datang baru sebentar, sementara bumi telah ada jauh sebelum kita. Dan alam—dengan segala gunung, hutan, sungai, laut dan makhluk yang hidup di dalamnya—akan tetap menjadi saksi setelah kita pergi nanti. Karena itu, ketika gunung mulai berbicara, semoga manusia masih mau mendengar. Bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan akal, hati, iman, dan tanggung jawab. Dan sebelum alam benar-benar kehilangan kesabarannya, semoga kita belajar memahami satu pesan sederhana, “Menjaga bumi bukan sekadar menyelamatkan alam, melainkan bagian dari menjaga amanah Tuhan”.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *