Perihal identitas, sering kali tidaklah tunggal. Tidak pernah bisa kita mengafiliasi identitas seseorang dengan afiliasi tertentu. Begitu juga faktor yang membentuk identitas itu. Beragam, kompleks, dinamis, dan sering kali merupakan gabungan antar beberapa entitas yang mengonstruksinya menjadi mapan.
Salah satu etnis di Bima ialah tionghoa. Sejak kapan persisnya etnis ini datang dan hidup di Bima tidak terlalu jelas sumbernya. Namun, etos dagang komunitas Tionghoa di Indonesia telah banyak ditulis oleh para sejarawan. Mereka hidup dan berasimilasi dengan warga lokal tidak bisa dilepaskan dari daya hidup dan visi sosialnya untuk terus bertahan membentuk dan memperluas komunitasnya tidak bisa dianggap sepele. Juga, beberapa hal mereka kerap dianggap ekslusif, tentu saja.
Bahkan, salah satu yang membentuk ekonomi Indonesia ialah komunitas ini. Etos dagangnya luar biasa. Mereka terbiasa mandiri. Sesekali memang membutuhkan back up, tapi itu sedikit saja. Mereka jarang masuk dalam birokrasi. Mungkin bukan dunianya. Kalau politik, sudah banyak, apalagi di daerah-daerah yang mayoritas memang beretnis Tionghoa. Ahok nama beken dari Basuki Tjahaja Purnama ialah nama yang saat ini paling dikenal publik Indonesia untuk menggambarkan komunitas Tionghoa di politik Indonesia.
Bima dan Komunitas Tionghoa
Seperti umumnya komunitas Tionghoa di Indonesia, wilayah pasar dan bisnis adalah lokus yang sering ditempati oleh komunitas ini. Tak terkecuali di Bima. Komunitas Tionghoa membangun toko dan berjualan apa saja. Umumnya barang pecah belah, elektronik, hingga perhiasan. Selanjutnya mereka melakukan ekspansi bisnis di bidang transportasi, perkapalan, perhotelan, dan infrastruktur. Jelas, melalui etos dan jaringan bisnis ini mereka membangun ekonominya. Tidak sedikit juga karena manajemen yang buruk, konflik, hingga komunikasi menyebabkan bisnis komunitas ini terhambat dan perlahan runtuh.
Hingga saat ini, komunitas Tionghoa di Bima pada sisi-sisi tertentu memainkan peran-peran sosial-politik yang bisa dikatakan signifikan. Di samping, mereka juga menginstal identitas ke-Bima-an sebagai bentuk komunikasi yang mereka lakukan dengan masyarakat lokal untuk mengelola kesan agar diterima oleh warga lokal (Kadri dan Wahid, 2021). Dengan menginstal identitas pribumi ini, potensi resistensi dari warga lokal dapat dikurangi, sehingga bisnis dan jaringan usaha yang sebelumnya telah dibangun dapat berkembang dengan baik.
Selain itu, dalam beberapa kesempatan, warga Tionghoa juga melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan budaya Bima. Misalnya, seperti budaya rimpu, pacuan kuda, hingga acara-acara kehidupan warga lokal. Inilah yang membuat kesan baik sehingga warga Tionghoa diterima oleh masyarakat Bima. Namun, yang menarik untuk ditilik lebih jauh ialah keterlibatan etnis Tionghoa dalam politik lokal. Memang, sejauh penelusuran saya, belum ada politisi-politisi Tionghoa yang menduduki jabatan-jabatan di legislatif maupun di eksekutif. Akan tetapi, itu tidak menjamin bahwa mereka tidak terlibat dalam proses politik di Bima.
Setiap Pilkada berlangsung, dukungan dari komunitas Tionghoa adalah yang ditunggu-tunggu oleh setiap calon. Hal ini, berkaitan dengan jumlah dukungan komunitas Tionghoa dan sumber daya ekonomi-sosial yang bisa dimobilisasi untuk memenangkan kandidat tertentu yang didukung. Walaupun, mereka juga mempertimbangkan keuntungan, kemenangan, dan jaminan bisnis yang akan menggurita setelah kandidat yang didukung keluar sebagai pemenang.
Di Pilkada Kota Bima 2024 lalu juga demikian. Dukungan warga Tionghoa menjadi salah satu angin segar yang dinilai membawa angin segar dalam proses pemenangan kadidat. Terutama, bagaimana sumber daya dikelola dan dimanfaatkan dengan baik untuk menarik simpati warga dan masyarakat. Tentu saja juga, dalam alam demokrasi liberal Indonesia, dengan biaya mahal ini, uang menjadi salah satu faktor kunci yang dapat meraup suara pemilih. Oleh karena itu, dukungan dari warga Tionghoa salah satu yang ditunggu-tunggu oleh kandidat.
Lebih jauh, jika faktor-faktor ini persisten terjadi dan demokrasi Indonesia tetap berbiaya mahal, bukan tanpa alasan juga warga Tionghoa akan berhasil dalam politik lokal sebagai politisi yang handal, Mereka dapat menduduki kursi-kursi di legislatif dan eksekutif. Itu bukan sesuatu yang mustahil dalam konteks politik Bima, bukan?
Tionghoa Muslim
Konversi agama warga Tionghoa dari agama sebelumnya ke agama Islam juga banyak terjadi di Bima. Mereka yang memilih Islam kebanyakan karena menikah dengan penduduk lokal yang beragama Islam. Tentu saja, mau tidak mau mereka dengan kesadaran penuh akan menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslim yang baik. Mereka juga kerap mengikuti perayaan-perayaan muslim seperti slametan, tahlilan, dan mereka berusaha untuk melaksakan ibadah haji.
Komitmen keislaman Tionghoa muslim ini memang tidak bisa diragukan. Mereka berhasil menginstal identitas mereka menjadi muslim Bima yang baik. Walaupun tetap mereka tidak bisa menghilangkan identitas asal-usul mereka sebagai Tionghoa. Multiple identity bukanlah suatu masalah untuk tidak mengintegrasikan diri sebagai muslim Bima sekaligus Tionghoa muslim.
Pergaulan mereka dengan komunitas asalnya sesama warga Tionghoa berlangsung intens seperti sebelum-sebelumnya. Mereka tetap bergaul dalam bisnis, keseharian, dan juga kekeluargaan. Hal ini juga karena adanya perayaan imlek. Imlek menjadi salah satu modus kebersamaan warga Tionghoa untuk bertemu dan berkumpul kembali. Tidak terkecuali yang sudah berpindah keyakinan. Yang penting Tionghoa.
Biasanya, imlek dirayakan di tempat salah satu anggota keluarga warga Tionghoa. Mereka umumnya berkumpul, masak-masak, atau bercerita satu sama lain. Di sinilah kebersamaan ini dijalin semakin intens dan kuat. Tidak ada syak wasangka, saling curiga, atau mengucilkan satu sama lain karena sudah berpindah keyakinan. Mereka juga tetap membiarkan anggota keluarganya yang muslim untuk sholat jika waktu telah tiba, meskipun dalam suasana imlek.
Begitu juga, pada saat menghadiri upacara kematian keluarganya yang muslim. Warga Tionghoa tidak segan-segan untuk membantu dan mengurus juga saudaranya yang meninggal tersebut. Sebaliknya, keluarganya yang muslim juga membiarkan keluarga Tionghoanya untuk menabur bunga atau mendoakan jenazah saudaranya yang muslim. Inilah modus-modus kebersamaan komunitas Tionghoa yang terjadi di Bima (mungkin) juga di tempat-tempat lain. Sebaliknya, Tionghoa muslim juga ketika anggota keluarganya dari Tionghoa meninggal dunia, mereka juga saling mengurus jenazah dan prosesi kematiannya dan mendoakannya juga.[]
Bacaan:
Kadri dan Abdul Wahid, “Install Identitas Pribumi dalam Praktik Komunikasi Etnik Tionghoa di Bima, Indonesia”. Jurnal Kajian Komunikasi, Vol. 9, No. 1, 2021.

Alumni Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Founder Komunitas Mbojo Itoe Boekoe





