Bulan Maulid telah Usai Kawan: Nabi saw Mewariskan Living Morality

Ada perbedaan besar antara mengetahui akhlak dan menjadi manusia berakhlak, kita bisa menghafal definisi kejujuran, menjelaskan makna amanah, mengutip ayat tentang kasih sayang, bahkan berbicara panjang lebar tentang kesabaran, tetapi semua itu belum tentu membuat akhlak benar-benar hidup dalam diri kita. Akhlak dapat menjadi pengetahuan di kepala, tetapi belum tentu menjadi cahaya di dalam perilaku. Di sinilah sosok Muhammad SAW menemukan relevansinya sepanjang zaman.

Beliau tidak datang untuk mewariskan kepada umat manusia sekadar definisi tentang akhlak, akan tetapi beliau datang untuk menghidupkan akhlak itu dalam kehidupan nyata. Beliau bukan hanya mengajarkan apa itu jujur, tetapi beliau menjadi manusia yang paling dipercaya karena kejujurannya. Beliau bukan hanya menjelaskan tentang kasih sayang, tetapi beliau menghadirkan kasih sayang bahkan kepada mereka yang menyakitinya.

Karena itu, kalau akhlak hanya disebut sebagai moral teaching, maka Rasulullah SAW lebih dari itu, yakni living morality—moralitas yang hidup, baik dalam berjalan, berbicara, memaafkan, menolong, menangis, memimpin, bahkan dalam menghadapi musuh.

Al-Qur’an sendiri memberikan kesaksian yang sangat kuat terkait praktek beliau: “Wa innaka la‘alā khuluqin ‘aẓīm”. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam [68]: 4).

Coba kita perhatikan diksi yang digunakan Al-Qur’an, tidak mengatakan bahwa Muhammad SAW hanya mengajarkan akhlak yang agung, melainkan beliau berada di atas akhlak yang agung.

Akhlak itu bukan teori yang berada di luar dirinya, tetapi akhlak telah menjadi bahkan menyatu dengan dirinya. Kita sering memahami akhlak sebagai kumpulan norma: jujur, sabar, santun, rendah hati, amanah, dermawan, dan pemaaf. Semua itu benar, akan tetapi Rasulullah SAW menunjukkan sesuatu yang lebih dalam, bahwa akhlak itu harus keluar dari ruang definisi dan masuk ke ruang kehidupan.

Jujur misalnya, sebelum kenabian Muhammad SAW, oleh masyarakat Makkah telah mengenal Muhammad sebagai al-Amīn, orang yang dapat dipercaya. Ini sangat menarik, bahwa gelar itu tidak diberikan karena beliau menulis buku tentang amanah, akan tetapi karena masyarakat mengalami sendiri praktek kejujuran dan amanah beliau.

Bahkan ketika sebagian orang Quraisy menjadi musuhnya dan merencanakan pembunuhan terhadapnya, masih terdapat barang-barang titipan mereka pada Muhammad SAW. Makanya tatkala beliau akan melaksanakan perjalanan hijrah, Rasulullah SAW meminta Ali bin Abi Thalib untuk mengembalikan barang-barang titipan tersebut kepada pemiliknya. Orang-orang Quraisy tersebut memusuhinya, tetapi amanah tetap amanah. Inilah living morality, akhlak tidak berubah hanya karena orang lain berubah kepada kita.

Kisah Rasulullah SAW di Thaif adalah salah satu gambaran paling indah tentang akhlak yang hidup. Beliau datang ke Thaif dengan harapan dakwah diterima, namun yang terjadi justru sebaliknya, beliau ditolak, dicaci, bahkan dilempari batu hingga tubuhnya terluka. Dalam kondisi demikian, datang tawaran dari malaikat untuk menghancurkan mereka.  Secara manusiawi, sangat mudah mengatakan: “Lakukan.” Tetapi Rasulullah SAW memilih jalan yang berbeda. Beliau tidak meminta kehancuran mereka, dengan harapan justru agar dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah. Di situlah kita melihat perbedaan antara moralitas yang dihafalkan dan moralitas yang hidup.

Orang dapat berbicara tentang memaafkan ketika tidak sedang disakiti, tetapi Rasulullah SAW menunjukkan makna memaafkan ketika hatinya sedang terluka. Orang dapat berbicara tentang kasih sayang ketika diperlakukan baik, tetapi Rasulullah SAW menunjukkan kasih sayang ketika diperlakukan buruk. Jadi akhlak yang hidup justru terlihat ketika situasi memberikan alasan kepada kita untuk menjadi sebaliknya.

Baca Juga  Menjaga Bunga Indah dalam Kebun Kehidupan

Ujian akhlak yang lebih besar sebenarnya bukan ketika seseorang lemah, tetapi ketika ia memiliki kekuasaan. Contohnya, ketika Rasulullah SAW memasuki Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah, beliau berada pada posisi yang sangat kuat kala itu. Orang-orang yang dahulu mengusir, menyiksa, memerangi, bahkan merencanakan pembunuhan terhadap kaum Muslimin, saat itu sedang berada dalam posisi tidak berdaya. Jika itu terjadi pada manusia biasa, mungkin pembalasan dianggap wajar, tetapi Rasulullah SAW justru memilih mengampuni.

Inilah salah satu makna terdalam dari akhlak, bahwa kekuatan tidak membuat seseorang menjadi kejam, tetapi justru memberinya kemampuan untuk memilih kasih sayang. Al-Qur’an menggambarkan karakter Rasulullah SAW dengan kalimat yang sangat indah: “Fabimā raḥmatin minallāhi linta lahum”. Maka berkat rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).

Ayat ini kemudian dilanjutkan bahwa jika Rasulullah SAW bersikap keras dan berhati kasar, niscaya manusia akan menjauh darinya. Artinya, kepemimpinan Rasulullah SAW bukan hanya dibangun dengan argumentasi, strategi, dan kekuasaan, akan tetapi dibangun dengan kelembutan hati.

Ketika Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW, jawaban beliau sangat terkenal: “Kāna khuluquhu al-Qur’ān”. Akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Jawaban ini luar biasa kedalaman maknanya. Aisyah tidak mengatakan, “Beliau adalah orang yang mengetahui Al-Qur’an.” Tidak pula sekadar mengatakan, “Beliau sering membaca Al-Qur’an.” Tetapi akhlaknya adalah Al-Qur’an. Seolah-olah Aisyah ingin mengatakan: jika engkau ingin melihat bagaimana Al-Qur’an berjalan di bumi, lihatlah Muhammad SAW.

Jika Al-Qur’an berbicara tentang rahmah, lihat bagaimana beliau menyayangi. Jika Al-Qur’an berbicara tentang sabar, lihat bagaimana beliau menghadapi penderitaan. Jika Al-Qur’an berbicara tentang keadilan, lihat bagaimana beliau memperlakukan manusia. Jika Al-Qur’an berbicara tentang memaafkan, lihat bagaimana beliau memperlakukan orang-orang yang menyakitinya. Dengan demikian, Rasulullah SAW sesungguhnya tafsir hidup dari Al-Qur’an.

Filsuf dan pemikir pendidikan John Dewey pernah menekankan bahwa pendidikan bukan semata-mata persiapan untuk kehidupan; pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Dalam konteks akhlak, gagasan tersebut menemukan resonansinya yang sangat kuat: akhlak bukan sekadar sesuatu yang diajarkan untuk kehidupan; akhlak harus menjadi cara kita menjalani kehidupan.

Sementara itu Mahatma Gandhi pernah mengingatkan bahwa agama seharusnya tidak hanya menjadi sesuatu yang dibicarakan, tetapi sesuatu yang dijalankan dalam kehidupan.

Pendapat kedua tokoh di atas dapat membantu kita memahami teladan Rasulullah SAW, bahwa nilai menjadi bermakna ketika menjelma menjadi tindakan.

Kita boleh memiliki seribu definisi tentang kejujuran. Tetapi satu tindakan jujur dalam situasi sulit jauh lebih bermakna daripada seribu definisi. Kita boleh berbicara panjang lebar tentang kesabaran, tetapi kemampuan menahan amarah ketika dihina adalah bentuk kesabaran yang nyata. Kita boleh mengutip puluhan ayat tentang kasih sayang, tetapi ketika seseorang yang berbeda dengan kita tetap kita hormati, di situlah kasih sayang menjadi hidup.

Baca Juga  Makanlah dari Makanan yang Dekat: Ketika Keserakahan Menumpulkan Nurani

Nabi SAW juga bersabda: “Innamā bu‘itstu li-utammima makārima al-akhlāq”. Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Hadis ini memperlihatkan bahwa misi kenabian memiliki dimensi moral yang sangat kuat, bukan hanya mengubah apa yang manusia percaya, tetapi juga mengubah bagaimana manusia memperlakukan kehidupan.

Iman yang benar seharusnya melahirkan akhlak, ibadah yang benar seharusnya melahirkan kelembutan, ilmu yang benar seharusnya melahirkan kerendahan hati, kekuasaan yang benar seharusnya melahirkan keadilan, kekayaan yang benar seharusnya melahirkan kepedulian, dan pendidikan yang benar seharusnya melahirkan manusia yang semakin manusiawi.

Karena itu, ukuran keberagamaan seseorang tidak cukup hanya dilihat dari seberapa banyak ia mengetahui agama, tetapi juga seberapa banyak kebaikan yang dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya karena kehadirannya.

Hari ini kita mungkin hidup dalam zaman yang sangat kaya pengetahuan, kita bisa mengakses ribuan ceramah, membaca jutaan halaman buku, menghafal banyak ayat dan hadis, bahkan menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk memperoleh pengetahuan agama dalam hitungan detik, akan tetapi ada satu pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh teknologi: “Apakah semua pengetahuan itu telah mengubah akhlak manusia?”.

Kita mungkin tahu bahwa Rasulullah SAW pemaaf, tetapi apakah kita mudah memaafkan?. Kita tahu beliau rendah hati, tetapi apakah jabatan membuat kita semakin rendah hati?. Kita tahu beliau amanah, tetapi apakah ketika tidak ada yang mengawasi, kita tetap menjaga amanah?. Kita tahu beliau penyayang, tetapi apakah keluarga, bawahan, pegawai, tetangga, dan orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita merasakan kasih sayang itu?.

Akhlak yang hidup bukan akhlak yang hanya terlihat ketika kita berada di masjid, di podium, di ruang kuliah, atau di depan kamera. Akhlak yang hidup justru terlihat ketika kita berada di ruang yang tidak memberikan tepuk tangan, kita jujur dan amanah ketika berada di tempat yang sepi, kita tidak menindas ketika memiliki kekuasaan, kita memilih memaafkan ketika memiliki kesempatan membalas, kita tetap menghormati ketika berbeda pendapat, dan kita tidak merendahkan ketika memiliki kelebihan. Itulah akhlak yang hidup.

Sebagai catatan pinggir,  bahwa Rasulullah SAW tidak meninggalkan kita sekadar kumpulan definisi moral, akan tetapi meninggalkan sebuah kehidupan yang menjadi contoh bagaimana nilai-nilai langit dapat menjelma menjadi perilaku manusia di bumi, beliau adalah pesan ilahi yang berjalan, beliau adalah Al-Qur’an yang hidup dalam tindakan. Beliau menunjukkan bahwa kejujuran dapat berjalan di pasar, kasih sayang dapat hadir dalam keluarga, keadilan dapat hadir dalam kepemimpinan, kesabaran dapat hadir dalam penderitaan, dan pengampunan dapat hadir bahkan setelah kemenangan.

Akhlak beliau harus hidup di dalam diri kita, sebab ketika akhlak Nabi hidup dalam diri manusia, maka rahmat Islam tidak hanya dibicarakan—tetapi dirasakan.[]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *