CARA KAMI MENGAJARKAN MISTISISME

Awal Perjalanan dan Minat Spiritual

Minat terhadap dunia spiritual Islam mulai tumbuh sejak memasuki tahun ketiga sebagai mahasiswa Ushuluddin—yang bukan dari kalangan pesantren, melainkan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan teknik arsitektur yang sejujurnya lebih tertarik pada lukisan “abstrak-filosofis” daripada gambar dengan “akurasi-matematis”. Kecenderungan terhadap hal-hal abstrak inilah—yang barangkali mendorong secara lebih akrab dengan dunia spiritual; yakni sebuah realitas yang hadir menukik ke batin daripada indera serta selalu menuntut penghayatan mendalam.

Faktor lain dari ketertarikan terhadap spiritual Islam berakar dari nenek saya; [almarhumah] Siti Maryam; seorang “guru sufi” di salah satu kampung kecil bernama Simpasai-Monta [Bima]. Dari beliau saya diperkenalkan dengan Fitua; kesufian ala “ilmu Bima”—yang menekankan pengenalan diri sebagai pintu untuk mengenal [t]uhan: “pata wa’u weki ndai, ampo ma pata Ruma” [kenali diri, barulah mengenal Tuhan]. Fitua mengajarkan bahwa pengalaman spiritual bukan hanya soal mempelajari sifat Tuhan, tetapi menyadari Yang Memiliki Sifat itu sendiri—makrifah al-nafs; yang menuntut keheningan batin, kesabaran, dan keterbukaan terhadap realitas yang melampaui diri.

baca juga: Metafor Model Relasi Gender dalam Spiritual Bima: Analisis Hermeneutika Paul Ricoeur

Faktor selanjutnya adalah pertemuan dengan Prof. Abdul Wahid—yang “menyeret” saya lebih jauh dan mendalam. Beliaulah orang pertama yang memperkenalkan wacana spiritual Islam (sufism) dalam pengalaman ruang akademik—terutama ketika beliau mengampu mata kuliah Mistisisme dan Gerakan Tarekat. Pertemuan dengan beliau sangat predeterminstik; penuh ketiba-tibaan yang menakjubkan. Dari tahun 2015 hingga 2017 beliau adalah dosen [kami] di jurusan Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama di Universitas Islam Negeri Pulau Seribu Masjid; sekaligus mentor pada lembaga dan komunitas yang didirikan bersama sang Istri, Prof. Atun Wardatun.

Menjelang akhir semester bachelor degree, saya diberi kesempatan dan dilibatkan untuk membersamai adik tingkat dalam mendiskusikan materi perkuliahan Mistisisme dan Gerakan Tarekat, termasuk mata kuliah beliau yang lainnya yakni Islam dan Budaya Lokal. Tanpa bermaksud memistifikasi, pengalaman intelektual dengan Prof. Abdul Wahid membuka ruang baru untuk memahami mistisisme secara akademik sekaligus praktis. Dari dulu hingga sekarang, kelas beliau tetap dialektis, santai, namun reflektif, yang menjadikan setiap pertemuan hidup. Mahasiswa diajak menelusuri teks di perpustakaan, melakukan presentasi tokoh-tokoh mistikus, dan melatih refleksi batin secara langsung.

Keterlibatan yang intens, menjadikan saya sebagai asisten pengajar beliau dari 2019 hingga sekarang. Semua ini memperkuat hubungan antara pengalaman spiritual lokal dan pemikiran akademik global, sekaligus menyalakan antusiasme yang tak pernah pudar. Hasilnya berupa buku berjudul “Percik Sains dan Agama” (2021) yang merupakan catatan dari beberapa semester di dua tahun pertama yang isinya adalah kritik terhadap “kepongahan” kalangan saintisme sembari menawarkan mistisisme sebagai ilmu pengetahuan yang dapat dijastifikasi kebenarannya (context of justification) secara objektif.

Pengalaman ini menjadi fondasi reflektif sekaligus akademik yang mendorong untuk melanjutkan studi program double master di Jogja dan Malaysia dengan konsentrasi Mysticism and Sufism dan Religious Studies dengan tujuan memperdalam penghayatan mistisisme lintas tradisi tanpa meninggalkan akar lokal spiritual Islam Fitua Bima. Melalui semangat glocal-organic intellectum, saya merefleksikan kembali semester demi semester perkuliahan “kami” secara mengalir dari pengalaman batin, ruang kelas, perpustakaan, hingga pengajaran dan refleksi, yang sambil lalu menyatukan perspektif mistisisme melalui praktik, bahasa, tradisi, dan filsafat, tanpa kehilangan keaslian pengalaman spiritual yang menjadi inti setiap pengkajian.

Setting Ruang dan Suasana Kelas

Saya ingat pagi itu, Senin 09 September 2024, Mataram diselimuti kemarau panjang. Pukul lima pagi, saya mengirim pesan untuk mengikuti kelasnya, seperti kebiasaan saya selama sembilan tahun terakhir. Hubungan saya dengan beliau bukan hanya formal murid-dosen; ada rasa hormat dan kagum yang muncul secara alami. Gaya beliau unik. Memakai celana jeans coklat, sepatu dan tas kulit, kacamata hitam yang menjadi ciri khasnya. Beliau memulai kelas dengan melepaskan blazer dan menggantungnya, lalu melempar pertanyaan sederhana: “Anda sekalian pernah mendengar istilah mistik…. mistisisme, atau tarekat?”

Mahasiswa menjawab dengan beragam argumen, dari yang sederhana hingga yang ngejelimet. Semua jawaban dicatat, dipetakan, dan dicari titik temunya. Tidak ada satu pun mahasiswa yang di kesampingkan. Semua berhak ngomongin apa saja! Pertanyaan itu bukan sekadar soal definisi. Kami membuka pintu diskusi tentang pengalaman manusia terhadap yang transenden—pengalaman yang tidak hanya dapat dilihat, disentuh, atau diukur, namun dapat dirasakan, dihayati, dan bahkan “dibahasakan” melalui praktik spiritual. Mistisisme bukan hanya konsep teoritis, melainkan juga pengalaman hidup yang membentuk cara manusia memahami dirinya, Tuhan, masyarakat dan juga alam.

Ruang kelas sendiri sengaja kami atur agar santai namun serius. Mahasiswa duduk melingkar, memungkinkan interaksi yang setara. Boleh syuruput kopi dan ngunyah snack sepanjang tidak mengganggu konsentrasi diskusi. Nyaris seperti nongki yang “ngobrolin pemikiran sufi.” Kami melontarkan pertanyaan setapak demi setapak, membimbing mahasiswa menelusuri lapisan-lapisan pengalaman spiritual dan kemudian menyimak setiap jawaban dengan serius, mencatat, dan memetakan titik-titik temuan, sehingga tidak ada satu suara pun yang terabaikan.

Seperti biasa, Prof. Wahid menanggapi pertanyaan mahasiswa dengan jawaban reflektif melalui metode storytelling dengan menghubungkan pengalaman pribadi dengan teori klasik mistisisme lintas agama sembari memancing mahasiswa untuk “memperkarakan” dimensi historitas agama. Hasilnya: kelas tidak sekadar transfer pengetahuan, namun menjadi ruang lingkar-reflektif: tempat bertebarannya anak-anak pikiran liar dari mahasiswa yang sedang mencari bentuk. Tugas kami hanya satu: menjadi “bidan” yang membantu proses persalinan pengetahuan.

“Membahasakan” Mistisisme

Kami mulai menuntun diskusi dengan gagasan bahwa “bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi medium untuk mengekspresikan pengalaman mistik; tempat bersemayamnya Realitas.” Jika dilacak secara psiko-analisis, bahasa berakar dari dorongan mendasar yang bersifat instingtif—yaitu hasrat untuk memahami dan meniru kehidupan. Sembari mengutip Ricoeur, kami menjelaskan bahwa bahasa melalui analisis hermeneutik, manusia dapat menelusuri lapisan-lapisan kesadaran terdalam—dari arkeologi subjektif hingga pengalaman spiritual eskatologis yang melampaui kendali manusia. Pada tahap inilah mahasiswa disodorkan dengan pertanyaan: “Jika bahasa muncul dari hasrat terdalam, bagaimana kita dapat menggunakannya untuk memahami pengalaman ilahi yang tak terbatas?”

Di sini, saya turut memberi kontribusi dengan menghadirkan beberapa penjelasan dari Annemaria Schimmel tentang via purgative, via iluminativa dan via mistica. Ketiganya menekankan bagaimana simbol dan estetika dalam tradisi Islam menjadi medium mistik, dan Rudolf Otto yang memperkenalkan konsep numinous; pengalaman yang menggetarkan sekaligus mempesona. Otto menulis: “…The Mysterium Tremendum et Fascinan.” Tuhan (Mystery) itu ‘mengagumkan’ (tremendum) sekaligus ‘mempesona’ (fascinosum).” The Mysterium Tremendum et Fascinan—sembari mengaitkannya dengan konsep dualitas ketuhanan dalam wacana tradisi spiritual Islam pada aspek Jalali dan Jamali atau dualitas YinYang dalam tradisi spiritual Taoisme.

Baca Juga  Pancasila Sebagai Civil Religious: Paradigma Alternatif Menuju Indonesia Harmoni (1)

Prof. Wahid menambahkan bahwa maksud Otto adalah bahwa pengalaman spiritual memiliki dualitas yang sulit dijabarkan dengan bahasa biasa. Sembari mengutip Percik Sains dan Agama, Prof. Wahid mengaitkan dualitas tersebut dengan aspek “ketakterhinggaan” (mysticism of infinity) yang tak dapat dijangkau, dan aspek “kepribadian” (mysticism of personality) yang memungkinkan manusia merasakan jejak Tuhan dalam ciptaan. Dari sini, beliau mengajukan pertanyaan reflektif kepada kelas: “Jika pengalaman Tuhan sebagian tak terucapkan, bagaimana kita tetap bisa membahasakan dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari?”

Saya kemudian masuk untuk memberikan penekanan batas bahasa dalam menjelaskan pengalaman mistik sembari mengutip Wittgenstein: “Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt,” — bahwa batas bahasa bukan berarti batas pikiran. Bahasa hanya mampu menggambarkan realitas yang dapat diformulasikan, tetapi pengalaman mistik dapat “ditunjuk” dan dialami secara langsung tanpa perlu diartikulasikan. Pertanyaan: “jika bahasa terbatas, bagaimana kita tetap bisa menjadikan pengalaman mistik relevan bagi pemahaman dan tindakan sehari-hari?”

Dalam sesi ini, kami bersama-sama menelusuri bagaimana bahasa sebagai tindakan (illocutionary acts) bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi menciptakan relasi intersubjektif; menyatukan pengalaman dan refleksi manusia. Prof. Wahid menekankan, bahwa melalui simbol, cerita, dan praktik budaya, manusia dapat menginternalisasi pengalaman mistik tanpa harus membatasi Tuhan dalam kata-kata. Di sinilah saya melihat kecakapan intelektual dari Prof. Wahid dalam membantu mahasiswa, termasuk saya dalam memahami teori-teori orientalis sekaligus menjembatani pengalaman akademik dengan praktik spiritual yang hidup.

Kelas berjalan dengan alur dialogis: satu pertanyaan membuka diskusi, mahasiswa menanggapi, dan kami merespons, menambahkan perspektif historis atau filosofis, dan akhirnya setiap kutipan atau gagasan selalu diakhiri dengan pertanyaan reflektif atau pernyataan yang memancing renungan lebih lanjut. Atmosfer ini membuat pengalaman belajar menjadi hidup, menantang, sekaligus mendalam—bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi pengalaman spiritual yang dapat perbincangkan.

Mistisisme dalam Konteks Agama dan Budaya

Setelah membuka kelas dengan pertanyaan tentang istilah mistisisme, Prof. Wahid mengajak mahasiswa menelusuri pengalaman spiritual manusia secara lebih luas ke dalam konteks cultural studies, terutama melalui analisis terhadap bahasa, simbol, dan praktik. Ia menekankan bahwa mistisisme tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terkait dengan konteks sosial dan budaya. Dengan argumentasi yang mantap dan nada artikulatif yang khas, Prof. Wahid menyampaikan, “agama dan budaya adalah ritual dan perilaku sosial yang terpola…”Kalimat ini masih senantiasa menggema dalam ingatan saya.

Kutipan tersebut menjadi titik pijak bagi diskusi di beberapa kelas. Prof. Wahid menjelaskan bahwa pengalaman spiritual seseorang selalu dibingkai oleh pola budaya dan sejarah. Pada tahap ini konsep historitas dan normativitas dari sang guru, Prof. Amin Abdullah diterjemahkan dengan sangat apik oleh beliau. Ritual, tradisi, dan praktik sosial bukan sekadar formalitas, melainkan medium bagi manusia mengekspresikan relasi dengan yang transenden. Dari sini, mahasiswa mulai memahami bahwa mistisisme memiliki dimensi sosial sekaligus personal; menghubungkan pengalaman imanen individu dengan struktur budaya yang ada.

Baca juga: Sufisme Bima: Tradisi Spiritual Islam Fitua (Sebuah Pengantar)

Kami kemudian memperluas pembahasan lintas agama. Dalam tradisi Kristen, mistisisme dikenal sebagai agama Cinta, yang menekankan pengalaman iman melalui kasih dan kontemplasi. Sementara dalam Hindu-Bhudha, konsep Moksa menandai pencapaian kesadaran spiritual dan pelepasan dari ikatan dunia. Dalam Yahudi, meski mistisisme tidak terlalu menonjol, tetap terdapat tradisi kontemplatif yang membentuk praktik spiritual komunitas. Sembari mengutip Annemaria Schimmel saya menyampaikan bahwa “sufism must be a foreign plant in the sandy desert of Islam” dan karena itu mistisisme Islam berkembang dalam interaksi kompleks dengan pelbagai tradisi global dan unsur lokal yang memungkinkannya melahirkan praktik spiritual yang khas.

Dalam penjelasan tentang praktik mistik, Prof. Wahid memperkenalkan kepada mahasiswa konsep  uzlah; yakni menepi atau berkhalwat, sambil lalu mencontohkan pengalaman Nabi Muhammad di Gua Hira sebelum menerima wahyu, yang menurutnya menjadi embrio penting dalam tradisi mistisisme Islam. “Tradisi khalwat adalah embrio dalam mistisisme… orang butuh suasana mudik dari hingar bingar kehidupan.” Kutipan ini menegaskan bahwa pengalaman mistik tidak muncul secara otomatis, melainkan melalui kondisi reflektif yang memungkinkan manusia menghadapi pengalaman transenden dengan kesadaran penuh.

Saya kemudian mengajak mahasiswa untuk menelusuri makna kutipan Prof Wahid, tentang bagaimana menepi secara simbolis dapat diterapkan dalam kehidupan modern gen Z dan sekaligus memahamkan mereka bahwa mistisisme selalu melibatkan ruang batin yang khusus. Pada bagian ini saya menyederhanakan bahwa konsep uzlah menjadi healing, zuhud dan asketis menjadi slow living yang dalam arti tidak “meninggalkan” namun “melampaui” dengan menyodorkan contoh sederhana. Jika uzlah dan zuhud dimaknai melampaui dunia, maka gadged yang seringkali dianggap sebagai “dunia dalam genggaman” harus dilampaui.  

Prof. Wahid juga tidak lupa menyinggung konsep tajalliy; bahwa Tuhan meresap ke dalam sekaligus meresap ke luar, bersifat imanen sekaligus transenden. Dalam hal ini, Tuhan hadir dalam diri manusia sekaligus melampaui seluruh kosmos yang melahirkan pengalaman spiritual yang menyatukan aspek internal dan eksternal. Beliau menekankan: “Tajalliy: Tuhan itu meresap ke dalam sekaligus Transendent meresap ke luarTuhan itu ittihad (menyatu).”

Tanpa melebih-lebihkan, Prof. Wahid di beberapa kelas ilmu budaya dan Mistisisme benar-benar tampil sebagai intelectual sekaligus “ulama.” Kesan itu saya tangkap terutama ketika beliau menjelaskan konsep fuad (jiwa), qalbu (hati), dan bassor (mata hati) yang menjadi instrumen internal untuk menyadari kehadiran Tuhan. Menurut saya, beliau tidak sedang menjelaskan teori namun menceritakan pengalaman mistiknya sendiri. Dan tentu saja, pada bagian ini memunculkan pertanyaan reflektif bagi mahasiswa: bagaimana pengalaman imanensi dapat diterjemahkan ke praktik spiritual sehari-hari tanpa kehilangan rasionalitas dan konteks budaya?

Selanjutnya, Prof. Wahid menekankan bahwa mistisisme Islam muncul dari akar internal ajaran Al-Qur’an dan Hadis, tetapi juga terhubung dengan tradisi dan budaya sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa kehidupan masyarakat Arab pada masa Nabi memiliki dinamika antara hedonisme dan spiritualitas, namun masih tersisa kelompok-kelompok reflektif yang mempertahankan nilai-nilai tradisi lama. Pada wilayah ini beliau sangat mahir dan detail menjelaskan aspek kesejarahan agama-agama “Abrahamik.” Menurutnya, nabi Muhammad hadir bukan untuk menciptakan agama baru, tetapi untuk “menyempurnakan” tradisi yang ada, sehingga mistisisme Islam muncul sebagai integrasi pengalaman transenden, tradisi lokal, dan refleksi personal.

Baca Juga  Membaca "Teks" Metafor Model Relasi Gender dalam Spiritual Bima: Analisis Hermeneutika Paul Ricoeur

Diskusi kelas selalu diakhiri dengan pertanyaan reflektif dari beliau: “bagaimana pengalaman mistik dapat diterjemahkan ke bahasa kita sehari-hari? bagaimana kita bisa mengenali tanda-tanda ilahi tanpa kehilangan konteks sosial dan budaya?” Pertanyaan ini menuntun mahasiswa untuk mengaitkan wacana akademik dengan praktik spiritual nyata, sehingga mistisisme tidak hanya teoritis, tetapi pengalaman hidup yang terintegrasi dalam budaya dan historis. Dengan pendekatan ini, kelas Prof. Abdul Wahid menekankan bahwa mistisisme dalam Islam maupun lintas agama—dipahami sebagai pengalaman yang berpaut pada budaya, bahasa, dan praktik sosial, sekaligus membuka ruang bagi refleksi personal dan dialog antar mahasiswa dalam membangun pemahaman yang menyeluruh dan hidup.

Pendalaman Mistisisme: from Kelas to Perpustakaan

Setelah beberapa pertemuan pengenalan, kami memberikan jeda yang sengaja dirancang untuk pendalaman praktis. Pada pertemuan ketiga dan keempat, suasana kelas berubah; lingkaran diskusi digantikan dengan melangkah ke luar menuju perpustakaan; ke lorong-lorong rak buku untuk menelusuri jejak tokoh-tokoh mistikus dalam tradisi Islam.

Sebagai asisten pengajar, saya mendampingi mereka. Setiap mahasiswa diberikan kesempatan untuk memilih satu tokoh, kemudian menelusuri biografi, gagasan mistisisme, praktik spiritual, dan konteks historitas. Sebelum menjajaki rak demi rak, kami membekali mahasiswa dengan sedikit nasehat: “memahami mistisisme bukan sekadar membaca teori. Kalian harus merasakan jejaknya, menghubungkan kata dengan praktik, dan menyejajarkan pengalaman spiritual dengan kehidupan sehari-hari.”

Di antara rak-rak buku itu, mahasiswa mencatat istilah-istilah penting: uzlah, khalwat, tajalliy, tazkiyah al-nafs, tauhid wujudiyah, mahabba illahi, isyraqiyyah, emanasi, hullulIttihad, martabat tujuh, dst. Mereka saling bertukar pandangan, membandingkan konsep, dan menyadari bagaimana mistisisme lahir dari persimpangan pengalaman, tradisi, dan budaya. Setiap catatan bukan sekadar teks, melainkan jembatan yang menghubungkan bahasa dengan pengalaman, teori dengan praktik. Saya melihat mereka belajar menempatkan tokoh dalam kerangka sejarah dan sosial; memahami bahwa spiritualitas tidak pernah terlepas dari konteks manusia dan budaya.

Kami meberikan instruksi bahwa dua minggu ke depan setiap mahasiswa akan mempresentasikan temuan mereka. Presentasi itu bukan sekadar laporan akademis, melainkan dialog aktif—pengalaman dan interpretasi yang mengalir, memetakan bahasa, budaya, dan spiritualitas secara utuh. Tugas ini mengajarkan kesabaran intelektual, disiplin, refleksi, dan rasa hormat terhadap tradisi intelektual, sekaligus menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Dalam jeda ini, perpustakaan menjadi ruang yang menampung keingintahuan dan ketekunan. Mahasiswa belajar menembus lapisan sejarah, menyentuh inti pengalaman mistik, dan merangkai kata-kata menjadi pemahaman yang hidup. Saya menyaksikan transformasi itu—dari teori menuju praktik, dari bacaan menjadi pengalaman, dari kata menjadi penghayatan—sebuah perjalanan yang menyiapkan mereka untuk dialog spiritual dan intelektual yang lebih mendalam di pertemuan minggu-minggu berikutnya.

UTS – UAS yang Reflektif: Mengalami dan “Membahasakan” Mistisisme

Setelah beberapa pertemuan yang sarat dengan diskusi, eksplorasi teks di perpustakaan, dan pengalaman reflektif, kelas mulai memasuki tahap di mana teori dan pengalaman batin mulai bertemu. Mahasiswa tidak lagi sekadar membaca tentang mistisisme, tetapi ditantang untuk mengalami sendiri kehadiran Tuhan dalam diri mereka, menelusuri jejak-jejak spiritual yang selama ini mungkin hanya terasa samar.

Dalam konteks ujian tengah semester (UTS), mereka diajak untuk merenungi: bagaimana Tuhan hadir dalam diri mereka? Bentuk apa yang ditunjukkan oleh kehadiran itu, dan berapa lama ia terasa? Ketika kehadiran itu belum dirasakan, bagaimana mereka memanggil atau menghadirkannya? Saat kehadiran itu berlangsung, apakah mereka merasakan damai, getaran halus, atau mungkin hening yang membingungkan namun penuh makna? Dan ketika momen itu berakhir, apakah yang tersisa hanyalah kenangan kosong, atau justru perasaan rindu, lega, atau semacam keteguhan baru yang menata hati?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hanya latihan introspeksi, tetapi juga sarana untuk menghubungkan pengalaman personal dengan konsep-konsep mistisisme Islam yang telah dibahas selama satu semester. Mahasiswa didorong untuk melihat pengalaman mereka melalui lensa uzlah, khalwat, tajalliy, tazkiyah al-nafs, tauhid wujudiyah, mahabba illahi, isyraqiyyah, emanasi, hullulIttihad, martabat tujuh, dst.—sebagai konsep yang memberikan peta-batiniah untuk memahami dinamika spiritual. Dengan begitu, pengalaman itu tidak hanya menjadi fenomena individual, tetapi juga bisa dibaca secara filosofis dan sosiologis: bagaimana manusia berinteraksi dengan yang transenden, dan bagaimana pengalaman itu membentuk cara pandang terhadap dunia sosial.

Menjelang ujian akhir (UAS), pengalaman ini lebih menukik lagi. Mahasiswa diminta untuk mengaitkan pengalaman pribadi dengan teori mistisisme secara reflektif, menulis esai yang menggabungkan narasi batin mereka dengan konsep-konsep besar dalam mistisisme Islam. Di sinilah batas antara teori dan pengalaman mulai melarut; mahasiswa belajar bahwa mistisisme bukan sekadar teori yang dibaca di buku, tetapi sesuatu yang dirasakan, dialami, dan dibahasakan. Tulisan mereka pun menjadi jembatan antara batin yang personal dan wacana akademik yang universal.

Sebagai bagian penutup, mereka diminta menghadirkan ungkapan puitis atau reflektif—dari kutipan tokoh sufi, atau cetusan pribadi yang menangkap intensitas pengalaman mistik yang mereka alami. Seperti halnya cahaya yang datang dan pergi dalam penggalan lagu letto, mistikus cinta, Satu, atau Larut dari Dewa 19 serta beberapa lagu dari album Taubat Ebiet G Ade menjadi semacam pengalaman spiritual yang meninggalkan jejak yang tidak selalu bisa dijabarkan, namun memberi ruang bagi pemahaman, penghayatan, dan perenungan yang lebih dalam.

Dalam proses ini, ruang kelas, perpustakaan, dan setiap interaksi diskursif menjadi semacam rekreaksi-spiritual-batiniyah, di mana mahasiswa tidak hanya belajar tentang mistisisme, tetapi mengalaminya secara langsung; menyadari bahwa Tuhan hadir dalam berbagai bentuk; di dalam dan di luar diri, dan pengalaman itu sendiri adalah guru yang paling tak ternilai.

Dengan demikian, UTS – UAS bukan sekadar mekanisme penilaian, tetapi menjadi ritualistik akademik yang sangat spiritualis—yakni sebuah perjalanan (the journey of spiritual) untuk membahasakan mistisisme, mengartikulasikan pengalaman batin, dan meresapi keterkaitan antara iman, budaya, dan kehidupan sehari-hari. Proses ini membuktikan bahwa mistisisme tidak hanya hadir dalam teks klasik atau teori filsafat, tetapi juga hidup dalam kesadaran mahasiswa; menuntun mereka untuk menyatu dengan pengalaman yang melampaui kata-kata, namun dapat diungkapkan melalui refleksi dan kejujuran perenungan yang dituangkan dalam bentuk essay. Begitulah cara kami mengajarkan mistisisme []

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *