Bima, 16 Februari — Suasana penuh makna dan refleksi terasa dalam kegiatan Forum Rekomendasi Multistakeholder yang dirangkaikan dengan penutupan Program Desa/Kelurahan Damai We NEXUS di Hotel Marina Inn, Kota Bima, Senin (16/2). Momentum ini menjadi ruang pertemuan berbagai pihak—pemerintah, masyarakat, fasilitator, dan mitra program—untuk merefleksikan perjalanan program sekaligus merumuskan langkah keberlanjutan ke depan.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur La Rimpu, Prof. Atun Wardatun, M.A., Ph.D., dipercaya memberikan sambutan penutupan yang sarat pesan inspiratif tentang pentingnya menjaga semangat perubahan yang telah dibangun bersama selama program berlangsung. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan tidak hanya bergantung pada lembaga atau program, tetapi pada kesadaran masyarakat itu sendiri.
“Keberlanjutan itu akan terus berjalan saat ndai ma ntau rasa ro dana, yang artinya kita yang memiliki kampung dan daerah inilah yang harus terus menghidupkan aktivitas positif ini,” ungkapnya dengan penuh penekanan.
Menurut Prof. Atun, proses yang telah dilalui peserta dan fasilitator bukan sekadar kegiatan program, tetapi perjalanan pembelajaran sosial yang melahirkan kesadaran baru. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada kegiatan formal, melainkan terus dipraktikkan dalam kehidupan individu maupun sosial di tengah masyarakat.
Ia juga menyoroti adanya transformasi nyata yang dirasakan para peserta, khususnya fasilitator, baik dalam cara berpikir, sikap kepemimpinan, maupun kemampuan membangun komunikasi damai di lingkungan masing-masing. Transformasi tersebut menjadi indikator penting bahwa program tidak hanya menghasilkan output kegiatan, tetapi juga perubahan pada manusia sebagai pelaku utama pembangunan sosial.
“Kita semua sudah menciptakan sejarah. Inilah arti perjuangan, dan ini pula yang menjadi sedekah jariyah bagi kita semua,” tambahnya, menutup sambutan dengan pesan reflektif yang disambut haru oleh para peserta.
Kegiatan forum ini sekaligus menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis yang diharapkan dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam memperkuat praktik desa dan kelurahan damai di Bima. Penutupan program We NEXUS bukanlah akhir, melainkan awal dari komitmen bersama untuk terus merawat perdamaian, pemberdayaan masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor secara berkelanjutan.
Acara berlangsung dengan penuh kebersamaan, menjadi bukti bahwa kerja kolaboratif mampu melahirkan perubahan sosial yang nyata ketika dijalankan dengan kesadaran, komitmen, dan rasa memiliki terhadap daerah sendiri.

Dosen STIPAR Soromandi, Bima.





