Modul Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal Diusulkan Jadi Materi Pelajaran Mulok di Bima

BIMA — Tim Peneliti MoRA The AIR Funds UIN Mataram menggelar kegiatan Sosialisasi dan Uji Coba Modul Pengasuhan Berbasis Gender dan Kearifan Lokal untuk Pencegahan Kekerasan terhadap Anak pada Komunitas Masyarakat Suku Sasak, Samawa, dan Mbojo-Dompu di Nusa Tenggara Barat (NTB). Acara ini berlangsung di Museum Samparaja, Kota Bima, pada Ahad (6/9/2026).

Kegiatan Sosialisasi dan Uji Coba, tampak Dr. Syukri Abubakar dan Dr. Dewi Ratna Muchlisa

Kegiatan yang diikuti 20 peserta dari pelbagai elemen masyarakat—termasuk aktivis anak dan perempuan, pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA), akademisi, penyuluh agama, hingga calon pengantin (catin)—ini digelar untuk menekan angka kekerasan terhadap anak melalui pendekatan budaya dan kesetaraan.

Sesi diskusi dan simulasi dipandu langsung oleh Kepala Museum Samparaja Kota Bima, Dr. Ratna Muchlisa Mandyara, S.E., M.Hum., bersama Pengurus LPA Kota Bima, Intansari, M.Pd.

Rangkaian Research Dua Tahun

Perwakilan tim peneliti, Dr. Syukri, M.Ag., membuka acara secara resmi pada pukul 08.00 WITA. Dalam sambutannya, Syukri menjelaskan bahwa sosialisasi ini merupakan kelanjutan dari riset berdurasi dua tahun.

“Tahun pertama fokus pada pengumpulan data lapangan dan penyusunan draf modul. Di tahun kedua ini, kami melakukan sosialisasi dan uji coba modul langsung ke komunitas masyarakat NTB. Sebelumnya kegiatan serupa telah dilaksanakan di Mataram, Lombok Barat, Sumbawa, Kabupaten Sumbawa Barat, dan saat ini di Kota Bima,” ujar Syukri.

Diskusi Komprehensif dan Integrasi Nilai Lokal

Selama sehari penuh, para peserta membedah beragam persoalan krusial terkait pola asuh dan dampaknya terhadap tumbuh kembang anak. Pelatihan ini mendalami perbedaan konsep seks dan gender, stereotip gender, pemenuhan hak anak, serta perbedaan antara pengasuhan tradisional dengan transformative gender.

Peserta juga diajak mengidentifikasi kembali nilai kearifan lokal Suku Mbojo yang relevan dengan perlindungan anak, memetakan potensi bias gender, serta merumuskan strategi pengintegrasian nilai lokal tersebut ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari.

Baca Juga  Kaum Muda NU dan Keterlibatan Nyata bagi Organisasi

Salah satu peserta, Irwan, mengapresiasi materi yang dipaparkan selama pelatihan.

“Materi yang dibahas sangat informative dan aplikatif sehingga memberi wawasan baru bagi kami, terutama berkaitan perbedaan sex dan gender, model-model kekerasan terhadap anak, kearifan lokal dan langkah konkret yang harus dilakukan setelah pelatihan ini selesai,” ungkapnya, ucapnya.

Harapan Jadi Referensi dan Mulok

Peserta lainnya, Samrin, berharap luaran dari kegiatan ini bisa berdampak luas pada sistem pendidikan dan masyarakat secara umum. Ia mendorong modul ini agar diformalkan sebagai bahan ajar muatan lokal (mulok) di sekolah, rujukan bagi para penyuluh dan tokoh agama, serta pedoman praktis bagi para orang tua di Kota Bima.

Melalui uji coba ini, tim peneliti berharap para peserta tidak hanya menguasai teori, tetapi mampu menerapkan prinsip pengasuhan nirkekerasan yang selaras dengan nilai kearifan lokal secara berkelanjutan.

Untuk mengukur efektivitas kegiatan, tim peneliti menerapkan skema pre-test dan post-test mengenai pemahaman kekerasan anak dan nilai kearifan lokal. Dampak jangka panjang dari intervensi modul ini juga akan dievaluasi kembali melalui survei lanjutan dua bulan pascakegiatan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *